MasukCeline tidak bergerak. Ia bahkan tidak yakin masih bernapas.
Yang ada di depannya terasa seperti kesalahan paling gila yang pernah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. “Celine, kenalin, ini Papa aku!” Kalimat ceria Kayra bagaikan petir yang menyambar tepat di ubun-ubun Celine. Bagaimana tidak…? Pria yang tidur dengannya semalam kini berdiri di hadapannya sebagai papa sahabatnya sendiri. “Papa…?” Pandangan Celine masih membeku pada sosok yang seharian ini menghantui pikirannya. Namun Celine mengernyit bingung. Jadi… bukannya tidur dengan pria bayaran, Celine berakhir dengan pria yang ternyata ayah sahabatnya? “Jadi… namamu Celine,” ucap pria itu akhirnya. Ia mengulurkan tangan santai. Namun sudut bibirnya terangkat samar, seolah berkata tanpa suara. ‘Aku tahu siapa kamu.’ “O-Om…” Pria itu hanya menaikkan satu alis, sudut bibirnya terangkat tipis. “Aldean. Tapi panggil aja Om Dean.” Nama itu menancap kuat di telinga Celine. Aldean… Pria yang sudah membuatnya kehilangan kendali di kamar hotel, pria yang ia kira adalah pria bayaran. Dan pria ini berdiri di hadapannya dengan rahasia gila di antaranya. Celine pun menyambut uluran tangan itu dengan tangan gemetar. “O-Om Dean... iya, aku Celine.” Kulit mereka bersentuhan. Sekilas saja, tapi cukup untuk meledakkan seluruh kenangan malam itu yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Celine tak habis pikir, bisa-bisanya pria itu terlihat setenang itu sekarang. Apakah dia sudah lupa apa yang terjadi di antara mereka? Tapi tatapan Aldean yang tak kunjung beralih padanya membuat semua dugaan di kepala Celine terasa tak masuk akal. Ia yakin pria itu pasti mengenalinya. Pria itu terus diam menatapnya, bahkan tak mau melepaskan tangannya. “Papa!” Suara lembut itu membuat pria itu tersentak dari lamunannya. Aldean menoleh dengan cepat seraya melepaskan tangan Celine. Di sampingnya Kayra menatap dengan dahi berkerut. “Papa kok ngelamun? Kenapa, Pa?” Aldean berdeham pelan sebelum tersenyum tipis. Matanya sekilas melirik ke arah Celine. Hanya sepersekian detik tapi cukup untuk membuat dada Celine mengencang. “Papa cuma… sedikit capek aja, Nak,” jawab Aldean datar. Kayra menatap ayahnya, seolah belum puas dengan jawaban itu. “Padahal waktu Papa pulang tadi pagi, Papa kelihatan seger banget tuh!” Celine seketika membelalakkan matanya. Ia langsung bergerak panik karena sahabatnya itu malah memancing ayahnya sendiri. Dan saat melihat Aldean yang sempat tertegun, Celine tahu dia harus bertindak cepat sebelum sahabatnya makin menyudutkan pria itu. “Eh, Kay! Gimana kalo kita makan sekarang aja? ” sela Celine cepat. “Kamu nggak kasihan apa sama Papa kamu? Om Dean pasti udah laper banget!” “Eh? Cel tunggu dulu, Papa kan belum—” “Udah, yuk!” Celine setengah menyeret tubuh Kayra, menjauh secepat mungkin dari hadapan Aldean. Ia sedikit meringis saat mendengar suara Langkah pelan yang mengikuti di belakang. Malam itu ia hanya berharap bahwa rahasia kelamnya dengan ayah sahabatnya sendiri tidak akan terbongkar. Namun sepertinya semesta seolah tak memihaknya. Tiba-tiba saja Aldean menyamai langkahnya. Lalu ia menunduk sedikit ke arah Celine, lalu berbisik di telinganya dengan suara yang sangat rendah, “Kamu tahu kan, siapa aku?” Deg! Ucapan Aldean barusan jatuh di telinga Celine, dan jantungnya seperti tersengat listrik. Apa-apaan pria ini! Berani-beraninya dia bicara seperti itu… di depan Kayra?! Untung saja Kayra tidak mendengar dengan jelas. Kalau sampai sahabatnya itu tahu, Celine bisa tamat di tempat. Tanpa pikir panjang, Celine langsung melangkah cepat, hampir terburu-buru, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Aldean. Di belakangnya, Kayra mengernyit bingung. “Cel? Kamu kenapa—” Namun Celine sudah lebih dulu masuk ke ruang makan. Aldean hanya menatap punggung Celine yang menjauh, lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Pelan, tenang, tapi jelas penuh arti. Kayra melirik papanya sekilas. “Papa ngapain sih, senyum-senyum sendiri?” Aldean hanya mengangkat bahu ringan. “Nggak apa-apa.” Nada suaranya terlalu santai, seolah baru saja tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. Kayra mendengus pelan. “Papa aneh.” Di sisi lain, Celine sudah duduk di kursi makan. Tangannya terkepal di bawah meja, dadanya naik turun pelan, masih belum stabil. Wajahnya terasa panas. “Gila…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. “Gila bener papanya Kayra ini. Dia tuh sadar nggak sih, barusan ngomong apa…” Ia menggeleng kecil, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Jantungnya kembali berdebar ugal-ugalan, seperti ingin melompat keluar dari dada. “Dan kenapa… kenapa dia bisa setenang itu sih? Nih orang bukan cuma bikin aku salah paham… tapi juga bikin aku gila beneran…” *****Keheningan menyelimuti ruangan itu, namun gaung pengakuan Surya masih terus memukul dinding kesadaran Celine, membuat tubuhnya membeku di tempatnya berdiri. Napasnya kembang-kempis, sementara jemari lentiknya yang gemetar hebat meremas selembar kertas kusam dalam genggamannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, menetes membasahi pipinya.Melihat istrinya yang tampak begitu rapuh dan terguncang, Aldean tak membuang waktu satu detik pun. Pria itu segera mengikis jarak, merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukan hangat. Ia melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuh Celine, menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya yang berdetak tenang dan menenangkan.“Mas...” suara Celine pecah di balik dada Aldean, terisak pelan dengan nada parau. “Jadi... Papa kandungku masih hidup? Dia disingkirkan... cuma karena dia miskin dan demi menutupi aib keluarga?”Aldean memejamkan mata rapat-rapat, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin membiarkan satu titik pun
Dua orang Petugas Pengawal Tahanan berseragam rapi melangkah masuk, mengawal Surya dengan kedua tangan yang terborgol di depan. Pria paruh baya itu sebelumnya telah memohon pada petugas agar diberi waktu satu menit saja untuk bicara pada Celine sebelum dipindahkan ke sel tahanan sementara.“Permisi...” ujar salah satu petugas sopan. “Ada yang ingin bertemu dengan Nona Celine sebentar.”Petugas itu memberi isyarat. Surya mengangguk pelan, lalu melangkah ragu mendekati Celine dan Aldean yang berdiri berdampingan. Dua petugas pengawal tetap berada di belakangnya, memastikan jarak aman.Melihat kehadiran Surya, raut wajah Aldean seketika berubah dingin dan protektif. Pria itu langsung meletakkan satu tangannya di pinggang Celine, membentengi posisi istrinya.“Mau apa lagi kamu?” tegur Aldean tajam dan menekan.Surya tidak menatap Aldean. Matanya yang sembap dan memerah berfokus penuh pada Celine. Dengan tangan terborgol yang bergetar hebat, Surya merogoh saku rompi tahanannya, lalu mengel
Tangan kanan Kayra meremas ujung roknya sendiri, matanya menatap kosong ke lantai dingin ruang sidang. Bayangan Amira yang terseret keluar dengan kursi roda dan terisak histeris mendadak berputar di kepalanya."Seumur hidup" Kata itu terus bergema memekakkan telinganya. Bagaimanapun jahatnya racun yang pernah disebar wanita itu, ada bagian kecil di hati Kayra yang meringis membayangkan ibu kandungnya harus membusuk di dalam bui sampai akhir hayat, tanpa pernah menghirup udara bebas lagi.Melihat perubahan raut wajah putrinya yang mendadak muram, Aldean yang sejak tadi fokus pada Celine langsung menoleh. Sepasang mata elangnya meneliti wajah Kayra dengan penuh kecemasan.“Kay?” panggil Aldean rendah, memecah lamunan anak gadisnya.Kayra tersentak kecil, mendongak kaget saat mendapati Papanya sedang menatapnya dengan intens. Celine pun ikut memiringkan tubuh, menyapu raut wajah Kayra dengan tatapan lembut yang berbalut rasa khawatir.“Kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit?” tanya Aldean memp
“Maaf?”Celine terkekeh sumbang—sebuah tawa hambar berbalut air mata yang akhirnya menetes di pipinya.“Kata maaf dari Papa nggak akan pernah bisa mengembalikan Mama. Kata maaf dari Papa nggak bisa menghapus setiap luka dan rasa sakit yang harus aku tanggung selama bertahun-tahun gara-gara kebejatan Papa!”Celine menyapu air matanya dengan kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Surya dengan tatapan paling tegas yang pernah ia miliki.“Pintu maafku terlalu mahal untuk pria yang sudah menghancurkan hidupku dan merenggut Mamaku,” ucap Celine dingin, tanpa setitik pun keraguan.Mendengar itu, Surya seketika terkulai lemas di kursinya. Kepala pria paruh baya itu tertunduk makin dalam, bahunya bergetar hebat diiringi isakan penyesalan yang tertahan.Celine segera membalikkan badan dengan anggun, memunggungi pria tua yang kini hancur oleh dosanya sendiri. Ia melangkah mantap menuju pintu keluar, tidak sudi membuang waktunya walau hanya satu detik lagi di ruangan dingin tersebut
Langkah kaki Celine bergema anggun di sepanjang koridor Pengadilan Negeri. Evan berjalan satu langkah di depannya, berperan sebagai pemandu jalan sekaligus perisai pembuka pintu. Di belakang Celine, Aldean dan Kayra mengiringi dengan jarak yang cukup menjaga ketenangan Celine, namun tetap memberikan kehangatan perlindungan dari balik punggungnya.Begitu tiba di depan pintu kayu cokelat gelap dengan papan bertuliskan Ruang Tunggu Khusus 2, Evan menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah Celine, mengangguk sopan, lalu mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya terbuka.“Silakan, Nona Celine,” ucap Evan tenang.Celine menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat bibir. Ia membetulkan letak blazer-nya, menegakkan bahu, lalu melangkah melewati ambang pintu dengan kepala tegak dan pandangan tertengadah.BAM.Pintu kayu di belakangnya tertutup rapat, menyisakan keheningan mencekam yang mendadak menyelimuti ruangan bersuhu dingin tersebut.Di sudut ruangan, seorang
Di dalam ruangan yang tertutup rapat itu, Amira masih meraung dan terisak-isak sendirian. Wanita berrompi oranye itu sama sekali tidak menyangka bahwa rencananya gagal total. Ia yang awalnya begitu percaya diri ingin bertemu Kayra demi meracuni kembali pikiran sang anak—memanfaatkannya agar membelanya di persidangan—kini hanya bisa menelan kepahitan.Alih-alih mendapatkan simpati, kebohongan dan rahasia berdarah yang ia sembunyikan justru terkuliti habis oleh anaknya sendiri. Pertemuan yang ia kira bakal jadi kartu as-nya justru mendorong Amira makin dalam ke dasar jurang kehancuran yang paling kelam.Sementara itu, di luar ruangan, atmosfer terasa jauh lebih lega. Udara dingin koridor pengadilan seolah menyapu bersih hawa beracun yang baru saja mereka tinggalkan di dalam.Celine mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Sepasang matanya masih berkaca-kaca, namun ada kelegaan luar biasa yang terpancar di paras cantiknya.Aldean memiringkan tubuhnya, pertama-tama







