Home / Romansa / Ah! Sentuh Aku Lagi, Om / Ternyata Pria Itu Adalah...

Share

Ternyata Pria Itu Adalah...

last update Last Updated: 2025-11-04 14:51:14

“Cel, kenalin, ini Papa aku.” Nada ceria Kayra mengalir ringan, tanpa beban sedikit pun.

Namun bagi Celine, kalimat itu bagai petir yang menyambar di siang bolong.

“Apa?!” serunya refleks, suaranya bergetar. “Papa kamu?”

Pandangan Celine membeku.

Sosok pria di depannya berdiri tegap dengan aura yang begitu akrab di ingatannya. Wajahnya tampan dan berwibawa, sorot matanya tajam, serta ketenangan yang nyaris mustahil dilupakan.

Pria itu—pria yang seminggu lalu menghabiskan malam bersamanya di kamar hotel. Pria yang ia kira seorang gigolo, pesanan bodohnya di tengah mabuk dan patah hati.

Kini, pria yang sama berdiri di hadapannya, berbalut kemeja elegan, dan dipanggil dengan sebutan “Papa” oleh sahabatnya, membuat otaknya langsung blank total.

Jantung Celine berdebar semakin keras, seolah menghantam rusuknya berkali-kali. Darahnya seakan berhenti mengalir, berganti hawa panas yang menjalar dari leher hingga ujung jari.

‘Mampus aku… ini mimpi, kan? Tolong bilang ini cuma mimpi,’ batinnya kacau, panik.

Tatapannya melirik Kayra yang tersenyum cerah, sama sekali tak sadar badai tengah mengamuk di dada sahabatnya.

Sementara pria itu—yang kini ia ketahui berstatus ayah sahabatnya—menatapnya balik dengan tatapan tenang. Terlalu tenang, sampai rasanya seperti menelanjangi pikirannya tanpa menyentuh.

‘Ya Tuhan… kenapa harus dia? Kenapa harus Papanya Kayra?!’ Tubuh Celine kaku. Bibirnya berusaha tersenyum sopan, tapi yang keluar hanya gumaman tak jelas.

Sumpah, Celine ingin lenyap dari muka bumi saat itu juga.

Menelan ludah pelan, ia mencoba menata napas, tapi tatapan pria itu sama sekali tak memberinya ruang. Tajam, tenang, dan mendalam—tatapan yang membawa kuasa tanpa perlu suara.

‘Kira-kira dia ingat aku nggak, ya? Aish… semoga aja enggak!’ batinnya sekali lagi, semakin panik.

Pria itu masih menatapnya, datar tapi menusuk. Sudut bibirnya terangkat samar, seolah berkata tanpa suara.

‘Aku tahu siapa kamu.’

“Jadi… namamu Celine,” ucap pria itu pelan. Suaranya berat dan berwibawa, tak keras tapi penuh tekanan yang menggetarkan dada.

Ia mengulurkan tangan santai, tetap dengan wibawa seorang pria yang tahu betul siapa dirinya.

“O-Om…” suara Celine tercekat.

Pria itu hanya menaikkan satu alis, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Panggil aja Om Dean,” ujarnya datar.

Nama itu menancap kuat di telinga Celine.

Aldean Devantara.

Pria yang seminggu lalu membuatnya kehilangan kendali di kamar hotel, dan kini memegang rahasia tergila dalam hidupnya.

“O-Om Dean... iya, aku Celine,” katanya gugup, menyambut uluran itu dengan tangan gemetar.

Kulit mereka bersentuhan. Sekilas saja, tapi cukup untuk meledakkan seluruh kenangan malam itu yang berusaha ia kubur dalam-dalam.

‘Kenapa dia bisa setenang itu? Apa dia beneran nggak ingat? Atau cuma pura-pura?’ pikir Celine panik.

Aldean memang terlihat santai, nyaris tak memperlihatkan emosi. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bergolak hebat. Rasa tidak percaya dan sesal menyeruak, tapi ia menahannya rapat-rapat, terutama di hadapan putrinya. Ia tak ingin rahasia malam itu sampai terungkap, bukan hanya demi menjaga citranya di mata Kayra, tapi juga untuk melindungi harga diri Celine di hadapan sahabatnya.

Bayangan malam itu kembali menghantui pikirannya, samar tapi menusuk hati. Aroma parfum manis, tatapan berani, dan hangat kulit seorang gadis yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Satu malam. Satu kesalahan yang tak bisa dihapus.

Jemarinya mengepal erat di sisi tubuh, menahan beban yang terus menekan dadanya. Takdir benar-benar mempermainkannya, karena gadis itu—gadis yang membuatnya terjerumus ke dalam kesalahan paling gila dalam hidupnya—ternyata adalah sahabat baik putrinya sendiri.

Ia menarik napas panjang, tapi tetap saja dadanya terasa sesak. Seharusnya ia menolak malam itu, tapi entah kenapa ia tak mampu. Dan bahkan kini, setiap detailnya masih menempel jelas di kepalanya.

Untuk pertama kalinya, Aldean sadar… ada kesalahan yang bahkan waktu pun tak mampu menghapus, dan ia tak tahu harus bagaimana untuk memperbaikinya.

“Pa… Papa…”

Suara lembut itu membuat Aldean tersentak dari lamunannya. Ia menoleh cepat.

Kayra berdiri di sampingnya, menatap dengan dahi berkerut. “Papa, kok ngelamun? Dari tadi aku panggil gak nyaut. Ada apa, Pa?”

Aldean berdeham pelan, berusaha menyembunyikan gejolak yang belum sepenuhnya reda. Ia tersenyum tipis, matanya sekilas melirik ke arah Celine, dan di saat yang bersamaan, Celine juga menatapnya. Tatapan itu hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat dada keduanya sama-sama mengencang.

“Papa cuma… sedikit capek aja, Nak,” jawab Aldean datar.

Kayra menatapnya, seolah belum puas dengan jawaban itu.

“Capeknya gara-gara kerjaan, atau gara-gara sesuatu yang lain?” tanyanya polos, tapi kalimat itu cukup membuat jantung Celine nyaris berhenti.

Suasana seketika hening.

Aldean menatap putrinya sambil menahan senyum, lalu menepuk kepalanya lembut.

“Papa nggak kenapa-kenapa,” katanya pelan. “Udah jangan dibahas lagi. Papa beneran cuma kecapean aja, kok.”

Kayra mendengus kecil, tapi akhirnya mengangguk.

Di sisi lain, Celine tetap diam, menunduk, pura-pura sibuk dengan jemarinya padahal jantungnya berdetak sekeras itu.

Dan di tengah keheningan, Aldean sadar, waktu boleh terus berjalan, tapi rasa bersalah itu tidak. Ia tetap terperangkap di detik ketika semuanya seharusnya tidak terjadi.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Aku Tahu...

    Aldean terdiam.Ia beranjak dari kursi dan duduk di tepi ranjang Kayra, tidak mendekat terlalu jauh, menjaga jarak yang aman, seolah tahu satu sentuhan saja bisa meruntuhkan pertahanan putrinya.“Kay, Papa nggak pernah milih Celine buat nyakitin kamu,” kata Aldean akhirnya, suaranya rendah dan jujur.“Papa juga nggak pernah bangun pagi sambil mikir… siapa yang bisa Papa ambil dari hidup Kayra hari ini.”Kayra menggigit bibirnya.“Tapi Papa tetap ngelakuinnya,” balasnya lirih.“Iya,” Aldean mengangguk pelan. “Dan itu kesalahan Papa yang nggak akan Papa bela.”Ia menatap putrinya lama, dengan tatapan seorang ayah yang sudah terlalu lama menahan banyak hal sendirian.“Tapi Papa juga manusia, Kay. Papa hidup sendirian bertahun-tahun. Ngejalanin peran ayah, ibu, kepala keluarga—semuanya sendirian.”Kayra menatap lantai.“Celine datang bukan buat ngisi kekosongan,” lanjut Aldean. “Tapi buat nemenin Papa berdiri di tengah hidup yang udah Papa bangun buat kamu.”Kayra tertawa kecil, getir. “T

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kebenaran Tentang Malam Kelam Itu

    Surya berdiri di balkon ruang tengah vila, menatap ke arah pantai.Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang tak pernah benar-benar mampu menghapus bau darah dari ingatannya. Ia terpaku, menatap lautan dengan sorot mata gelap dan dalam, persis seperti malam itu.Bukan karena cinta. Bukan pula karena sisa perasaan. Selama ini Surya menjaga Amira bukan karena itu, melainkan karena satu alasan sederhana: dia tak ingin masuk penjara bersama wanita itu.Ingatannya tentang kejadian itu masih terlalu jelas: wajah Amira yang pucat, tubuhnya yang gemetar, tangan yang berlumur darah, dan Sinta yang tergeletak tak bernyawa di lantai.Malam itu, Amira menangis histeris, penuh ketakutan. Bukan karena kehilangan, melainkan karena sadar… satu pukulannya telah mengubah segalanya.Surya menghembuskan napas pelan.“Kamu yang memukul Sinta, Amira,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada bayangan masa lalu. “Kamu penyebab semua kekacauan ini.”Tangannya mengepal di sisi tubuh. Ia bisa saja per

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kamu Bukan Korban, Kamu Pelaku...

    Plak.Suara tamparan itu memantul di dinding vila, memecah sunyi pulau yang selama ini menyimpan terlalu banyak rahasia.Tubuh wanita itu terhuyung sebelum akhirnya tersungkur ke lantai marmer. Rambutnya berantakan, menutupi separuh wajah yang memerah. Napasnya tersengal, antara sakit dan takut.Surya berdiri di hadapannya. Bathrobe masih melekat di tubuhnya, sisa air menetes dari ujung rambutnya. Dada pria itu naik-turun, bukan karena emosi meledak, melainkan karena amarah yang terlalu terkontrol.“Aku sudah bilang apa?” ucap Surya rendah. Dingin. “Jangan bikin ulah.”Ia menunduk, mencengkeram dagu wanita itu, memaksanya menatap lurus.“Aku sudah janji akan melepas ikatanmu selama kamu nurut,” katanya pelan. Jarinya mengencang.“Tapi baru aku tinggal mandi sebentar,” lanjutnya lirih, berbahaya, “kamu sudah berani ambil ponselku.”Wanita itu menggeleng cepat. Air mata mulai menggenang.Surya melirik layar ponsel di tangannya. Riwayat panggilan masih terbuka.Nomor tak dikenal.Tatapan

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Nomor Tak Dikenal

    Pelukan Aldean mengencang di tubuh Celine. Tangannya menahan punggung gadis itu, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, semuanya akan runtuh bersamaan.Celine tak menangis keras, hanya bahunya yang naik turun pelan. Isak itu terperangkap di dadanya, terasa begitu menyakitkan karena tak menemukan jalan keluar.“Aku egois ya, Om?” ucap Celine akhirnya, lirih, hampir tak terdengar.“Enggak,” jawab Aldean pelan. “Kita cuma terjebak di situasi yang salah.”Celine menggeleng. Senyum tipis muncul di wajahnya, rapuh.“Aku baru aja… kehilangan sahabat aku, Om.”Kalimat itu keluar tanpa tangis. Dan justru karena itulah, rasanya lebih perih.Aldean melepaskan pelukannya dan menuntun Celine duduk di sofa. Ia kemudian berlutut di hadapannya, menangkup kedua tangan Celine yang terasa dingin di telapak tangannya.“Kayra lagi sakit,” ucapnya rendah. “Dan luka orang yang sakit… sering kali melukai orang yang paling dekat.”“Aku tahu,” bisik Celine. “Makanya aku nggak bisa marah.”Air mata Celine akhi

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Maaf Kay...

    Aldean terdiam sejenak.Bukan karena ragu, tapi karena ia memilih kata dengan hati-hati. Tangannya meraih jemari Celine, menggenggamnya erat, seolah itu satu-satunya penopang di tengah badai.“Enggak, Kay,” ucapnya akhirnya. Suaranya datar dan tenang.“Apa?” Kayra menatap ayahnya tak percaya.“Papa nggak akan putus sama Celine. Mau bagaimana pun dan sampai kapan pun. Nggak akan pernah, Nak.”Tak ada penekanan. Tak ada emosi berlebihan. Justru ketenangan itu yang menghantam Kayra paling keras.“Apa Papa denger yang aku bilang barusan?” suara Kayra bergetar. “Aku malu, Pa. Aku sakit. Aku—”“Papa denger semuanya,” potong Aldean pelan. “Dan Papa paham apa yang kamu rasain.”Ia mendekat setengah langkah, masih menggenggam tangan Celine.“Tapi Papa juga nggak bisa bohong sama diri Papa sendiri. Celine bukan mainan. Bukan kesalahan sesaat. Dia seseorang yang Papa pilih. Papa nyaman sama dia.”Kalimat itu membuat wajah Kayra memucat.“Pa…” suaranya melemah. “Papa lebih milih dia?”Aldean mena

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Reaksi Kayra

    Detik berikutnya, seluruh tubuh Kayra menegang.“Pa…?” suaranya nyaris tak terdengar. “Papa ngapain di sini?”Aldean berdiri tepat di belakang Celine. Tatapannya langsung bertemu mata putrinya. Tak ada kepanikan di sana, hanya tarikan napas pelan, seolah ia sudah lama menyiapkan diri untuk momen ini.“Kita masuk dulu, Sayang,” ucapnya tenang. “Biar nggak di depan pintu.”“Enggak,” Kayra menyela cepat. Nada suaranya bergetar, tapi penuh tekanan. “Aku mau jawabannya sekarang.”Matanya beralih ke Celine. Ia menatap sahabatnya dengan tajam, sekaligus penuh luka. “Cel… Papaku ngapain di sini?”Lalu ia kembali menatap Aldean, sorot matanya mengeras. “Sejak kapan Papa datang ke apartemen sahabat aku?”Napasnya tertahan. “Aku juga dengar tadi Papa panggil dia mesra banget. Apa maksud semua ini, Pa?”Hening.Keheningan itu justru menekan dada Kayra lebih keras dari jawaban apa pun. Ia terkekeh lirih, tawa yang sama sekali tak mengandung kebahagiaan.“Jadi ini, ya,” katanya pelan. “Peremp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status