Share

Ngobrol Berdua

last update Last Updated: 2025-11-04 14:52:16

Aldean menghela napas dalam, mencoba menghapus bayangan malam itu dari pikirannya. Tapi semakin ia berusaha melupakannya, semakin pikirannya terjebak. Karena kini, gadis yang pernah berbagi malam panas bersamanya, tengah berdiri di hadapannya, menunduk kikuk dengan senyum gugup.

Kayra tertawa kecil di samping ayahnya, sama sekali tak menyadari betapa tegangnya suasana antara ayah dan sahabatnya.

Sementara Celine hanya bisa tersenyum kaku, menunduk, berharap lantai di bawahnya terbuka dan menelannya hidup-hidup.

“Papa, ayo makan malam sekarang!” seru Kayra riang, memecah suasana yang sejak tadi menegang. “Aku udah minta Mbok Sumi masakin menu favorit Papa, loh.”

Tanpa menunggu jawaban, Kayra langsung menggandeng tangan Celine dan menariknya dengan semangat.

“Ayo, Cel!” katanya ceria.

Celine hanya mampu mengangguk pelan, setengah napasnya seolah tertinggal di ruang itu.

Aldean menatap keduanya sebentar, lalu ikut melangkah. “Baiklah. Ayo kita makan.”

Nada suaranya datar, tapi bagi Celine… setiap kata terdengar berat, menusuk dada.

Ruang makan tampak megah di bawah cahaya lampu gantung kristal. Meja panjang sudah tertata rapi. Kayra duduk di sisi kanan ayahnya, sementara Celine... sialnya, harus duduk tepat di seberang Aldean. Posisi yang membuatnya tak bisa menghindar.

Udara di ruangan terasa lebih berat dari biasanya.

Aldean duduk tenang di kursinya. Sekilas, ia melirik ke arah Celine. Hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat gadis itu menegakkan punggung dan berpura-pura sibuk dengan sendoknya.

Percakapan ringan mengalir antara Kayra dan ayahnya. Tentang perjalanan bisnis, perusahaan, hingga kabar kampus. Tapi bagi Celine, setiap detik di meja itu terasa seperti duduk di kursi panas.

Hening sejenak, lalu Kayra menatap Celine dengan tatapan berbinar. “Oh iya, Cel! Nginep di sini aja malam ini, ya?”

Celine spontan menoleh, hampir tersedak air minumnya. “Hah? Nggak usah deh, Kay. Aku harus pulang. Papa-Mama pasti nyariin aku.”

“Ah, paling juga enggak, kayak biasanya,” sanggah Kayra cepat. “Kita udah lama nggak nginep bareng. Aku pengen cerita banyak banget malam ini!”

Celine tersenyum kikuk, mencoba menolak halus. “Lain kali, ya. Aku takut ganggu Om Dean juga.”

Namun Kayra malah menatap ayahnya dengan ekspresi manja. “Papa nggak keberatan, kan, Pa?”

Aldean yang sejak tadi diam, perlahan menatap Celine. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu di balik nada suaranya saat menjawab, “Nggak apa-apa. Rumah ini cukup besar untuk satu tamu tambahan.”

Celine membeku sejenak. Ia tahu itu cuma jawaban sopan, tapi entah kenapa, suaranya terdengar terlalu dalam.

“Ya kan? Papa aja setuju!” Kayra menepuk tangan sahabatnya. “Udah, Cel, nggak boleh nolak. Aku udah kangen banget curhat bareng kamu!”

Celine mencoba bertahan dengan alasan terakhir. “Tapi aku nggak bawa baju ganti—”

“Tenang aja! Aku masih punya piyama baru yang belum kupakai.” Kayra tersenyum lebar. “Sekarang nggak ada alasan lagi buat nolak!”

Celine akhirnya tertawa kecil, antara malu dan pasrah. “Ya udah deh... cuma malam ini aja, ya.”

“Yeees!” Kayra bersorak senang. “Kita bakal begadang kayak dulu lagi!”

Aldean hanya menatap mereka dari seberang meja, diam. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tapi matanya… tetap memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan. Campuran antara penyesalan, penasaran, dan sesuatu yang belum selesai.

Celine menangkap tatapan itu sekilas sebelum buru-buru menunduk, pura-pura sibuk dengan makanan di piringnya. Namun debar di dadanya tak bisa ia hentikan.

Dan di tengah tawa riang Kayra, hanya mereka berdua yang tahu, malam ini akan menjadi malam panjang yang tak mudah dilalui.

.

.

Dini hari, Celine terbangun dengan tenggorokan kering. Gelas di meja kamar sudah kosong sejak tadi. Dengan langkah hati-hati agar tak membangunkan Kayra, ia bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.

Begitu sampai di dapur, ia membuka kulkas, mengambil air dingin, lalu melirik ke arah lemari dapur. Pandangannya naik ke rak paling atas, dan ia menghela napas kecil.

“Serius, siapa sih yang naro gelas setinggi itu?” keluhnya pelan.

Ia berjinjit, berusaha meraih gelas itu. Ujung jarinya nyaris menyentuh dasar gelas, tapi tetap tak terjangkau. Saat ia hendak mencoba lagi, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari belakangnya.

Gelas itu diambil dengan mudah. Suara berat yang amat dikenalnya terdengar dekat, terlalu dekat.

“Ini yang kamu cari?”

Deg.

Celine menegang. Tubuhnya langsung membeku saat mendengar suara itu terlalu dekat di telinganya. Ia menoleh perlahan.

“O-Om Dean…” suaranya serak.

Aldean berdiri hanya sejengkal di belakangnya, mengenakan kaus hitam polos dan celana panjang santai.

“Maaf,” katanya datar, menyerahkan gelas itu. “Aku nggak bermaksud bikin kaget. Aku lihat kamu kesulitan tadi.”

“Oh… i-iya. M-makasih, Om.”

Celine menerima gelas itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Ia buru-buru menuang air, lalu meneguknya dengan cepat, berusaha menutupi kegugupan yang semakin menjadi-jadi. Setelah itu, ia menunduk sopan.

“Aku… balik ke kamar dulu ya, Om,” ucapnya cepat, berusaha kabur dari situasi aneh itu. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Aldean lagi.

“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Aldean dengan nada tenang, tapi cukup untuk membuat langkah Celine terhenti. Gadis itu terdiam, menatap lantai, dadanya berdebar dua kali lebih cepat.

Celine ingin bilang tidak. Tapi ada sesuatu dalam cara pria itu memandangnya—tenang, tapi penuh kendali, membuatnya tak bisa menolak.

“...Sebentar aja,” tambah Aldean, kali ini lebih lembut, hampir seperti bujukan.

Celine menelan ludah, lalu mengangguk pelan.

Aldean menarik kursi tinggi di depan pantry, duduk tenang sambil menatap gadis itu yang masih berdiri kaku.

“Duduklah,” ujarnya singkat.

Celine menurut, duduk di seberang. Tangannya memainkan ujung baju tidur, matanya tak berani menatap.

Keheningan menggantung sesaat.

Aldean bersandar, tatapannya lurus menembus diam di antara mereka.

“Cel, wanita malam itu... kamu, kan?”

Celine langsung terpaku. Napasnya tertahan, wajahnya memanas.

“A-aku…” suaranya patah, tak ada kata keluar.

Tatapan Aldean tak berubah, tetap tajam tapi tidak menghakimi. Ia hanya menunggu.

Akhirnya Celine menunduk, suaranya nyaris tak terdengar.

“Om… aku nggak tahu harus bilang apa.”

“Kenapa kamu lakukan itu?” suaranya berat, dalam, seperti seorang ayah yang sedang menegur anaknya.

“Aku… waktu itu lagi kacau.” Celine berusaha berbicara, tapi suaranya bergetar. “Pacarku selingkuh. Aku marah, aku sakit hati, dan aku cuma pengen ngebuktiin kalau aku bisa tanpa dia.”

Aldean mendengus kecil. “Dan caranya dengan menyewa gigolo?”

Celine menegakkan kepala cepat, wajahnya merah padam. “Aku nggak mikir panjang waktu itu! Aku cuma pengen... lari dari semuanya.”

“Lari?” Aldean semakin menatap tajam. “Yang kamu lakukan bukan lari, Cel. Itu nyemplung ke jurang. Kamu bahkan nggak tahu siapa laki-laki yang kamu ajak malam itu. Bisa aja kamu disakiti. Atau nggak pulang dalam keadaan selamat.”

Celine menunduk kembali, kedua tangannya menggenggam erat. “Aku tau aku salah, Om…”

“Bagus kalau tahu,” sahut Aldean cepat, suaranya tajam tapi tenang. “Tapi tahu aja nggak cukup. Kalau kamu masih berpikir harga dirimu bisa ditebus pakai hal kayak gitu, kamu belum belajar apa pun.”

Celine menggigit bibir. Kata-kata itu menamparnya keras. Tapi di sisi lain, ada sesuatu di dalam dadanya yang justru bergetar aneh mendengar nada tegas pria itu.

Setelah jeda panjang, ia akhirnya berani mengangkat kepala.

“Tapi… malam itu Om juga nggak nolak aku, kan?” ucapnya pelan, penuh tantangan.

Aldean menatapnya datar kali ini. “Benar,” katanya tenang. “Aku nggak nolak. Tapi jangan salah artikan, Cel. Aku laki-laki normal. Dan laki-laki normal mana yang bisa nolak saat ada wanita cantik datang, menggoda, dan menawarkan dirinya sendiri?”

Celine terdiam. Ada bagian dari dirinya yang ingin marah dan membantah, tapi di sisi lain hatinya terasa aneh, seperti tersindir sekaligus malu oleh kejujuran pria itu.

Hening beberapa detik, hingga tiba-tiba—

Tak!

Sebuah jitakan mendarat di dahinya.

“Aww! Sakit, Om!” Celine refleks mengusap keningnya, bibirnya cemberut. “Kenapa sih jitak aku?”

“Biar otakmu nyambung lagi. Dan balik waras,” sahut Aldean cepat dan tegas.

Celine melotot, menatap pria itu kesal. “Ish... Papanya Kayra nyebelin banget sih!”

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Firasat

    Beberapa detik berlalu tanpa suara.Dada Celine naik turun cepat, seolah udara di kamar itu mendadak menipis. Matanya berkaca-kaca, bibirnya sedikit bergetar.“Om…” suaranya nyaris pecah. Ia menelan ludah, berusaha merangkai kata-kata yang terasa berantakan di kepalanya.Aldean tak menyela. Ia hanya menunggu dengan tenang dan sabar, seperti tahu bahwa jawaban itu harus keluar tanpa paksaan.“Aku…” Celine menarik napas panjang, tapi tangisnya lebih dulu jatuh. Air mata mengalir pelan di pelipisnya.“Aku bahagia,” bisiknya jujur. “Bahagia banget sampai aku takut.”Tenggorokannya bergetar.“Aku nggak pernah kebayang Om bakal ngomong sejauh ini ke aku,” lanjutnya lirih. “Dan sekarang… aku malah gemetar.”Aldean mengusap pipi Celine perlahan, menyeka air mata yang mengalir dengan ibu jarinya. Ia tak tergesa-gesa, juga tak berusaha menghentikannya.“Aku mau,” kata Celine akhirnya, suaranya pelan tapi jelas. Matanya menatap Aldean dengan keberanian yang rapuh.“Aku mau, Om.”Napas Aldean ter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kalau Aku Nikahin Kamu... Kamu Mau?

    “Om Dean...” gumam Celine lirih.Pintu unit apartemen tertutup pelan di belakang Aldean.Jas di pundaknya bahkan belum sempat ia lepaskan ketika pandangannya langsung tertambat pada Celine yang berdiri di dekat sofa. Wajahnya pucat, matanya menyimpan kegelisahan yang tidak lagi berusaha ia sembunyikan.Aldean tahu persis apa yang membuat Celine seperti itu.Ia melangkah mendekat tanpa berkata apa-apa. Baru beberapa langkah, Celine sudah lebih dulu menghampirinya.Aldean membuka kedua lengannya.Celine langsung masuk ke dalam pelukan itu seolah seluruh tenaga di tubuhnya habis tepat di saat yang sama. Aldean menunduk, mengecup puncak kepala Celine lama. Bukan sekadar ciuman singkat, melainkan jeda penuh makna, seperti sedang menenangkan dua hati sekaligus.“Maaf aku lama,” ucap Aldean rendah. “Aku tahu kamu nunggu.”Celine menggeleng kecil di dada Aldean.“Om nggak perlu minta maaf…” suaranya bergetar.Lalu, dengan napas yang tertahan, ia bertanya, “Kayra… gimana?”Aldean tidak langsun

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Celine diculik?

    Surya menatap Reymon dengan tatapan gelap penuh perhitungan. “Panggil tim,” lanjutnya. “Yang paling bersih. Paling cepat. Sekarang juga.” Reymon langsung memahami maksud itu. Ia mengangguk sekali, lalu mengaktifkan alat komunikasinya. Tak lama, dua pria berseragam hitam masuk ke ruangan. Postur mereka tegap, ekspresi datar. Tipe orang yang tidak bertanya terlalu banyak. Surya melangkah mendekat. “Kalian ke kota sekarang juga,” perintahnya. “Cari Celine. Pastikan keberadaannya.” “Dan setelah itu, Tuan?” tanya salah satu dari mereka singkat. Surya menatapnya tanpa ragu. “Bawa dia ke sini.” Reymon menoleh cepat. “Tuan, Apakah ini tidak terlalu berbahaya? Ini bisa—” “Tidak ada cara lain,” potong Surya dingin. “Celine tidak akan mau datang dengan sukarela. Dan aku tidak punya waktu untuk negosiasi.” Ia mendekat satu langkah lagi, suaranya menurun tapi tekanannya meningkat. “Lakukan dengan cepat. Tanpa suara. Tanpa jejak.” Kedua anak buah itu langsung mengangguk. “Sia

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Rencana Surya

    Maya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.“Aku… pernah dengar,” katanya pelan. “Bukan dari dia langsung. Tapi waktu itu Surya ngobrol sama orang kepercayaannya.”Evan tidak menyela. Tatapannya tenang, tapi menekan.“Dia nggak nyebut nama tempat,” lanjut Maya. “Cuma… sebuah pulau.”Alis Evan mengerut. “Pulau?”Maya mengangguk cepat. “Pulau yang katanya aman. Sepi. Jauh dari jalur kapal.”Ia menarik napas, berusaha mengingat. “Tempat yang nggak semua orang bisa datang.”“Di mana?” tanya Evan singat dan tajam.Maya menggeleng. “Aku nggak tahu tepatnya. Sungguh.”Ia mengepalkan tangan, suaranya mulai bergetar.“Tapi aku ingat satu kalimatnya,” katanya cepat, seolah takut pikirannya keburu kabur. “Surya bilang… dia butuh tempat yang nggak bisa dijangkau siapa pun kecuali orang-orang yang dia percaya.”Evan terdiam.“Dan satu hal lagi,” tambah Maya lirih. “Dia bilang… pulau itu bukan cuma tempat sembunyi.”Tatapan Evan mengeras. “Lalu?”Maya mengangkat wajahnya, tatapannya lurus. “I

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Aku Tahu...

    Aldean terdiam. Ia berdiri dan duduk di tepi ranjang Kayra, tidak mendekat terlalu jauh, menjaga jarak yang aman, seolah tahu satu sentuhan saja bisa meruntuhkan pertahanan putrinya. “Kay, Papa nggak pernah milih Celine buat nyakitin kamu,” kata Aldean akhirnya, suaranya rendah dan jujur. “Papa juga nggak pernah bangun pagi sambil mikir… siapa yang bisa Papa ambil dari hidup Kay hari ini.” Kayra menggigit bibirnya. “Tapi Papa tetap ngelakuinnya,” balasnya lirih. “Iya,” Aldean mengangguk pelan. “Dan itu kesalahan Papa yang nggak akan Papa bela.” Ia menatap putrinya lama, dengan tatapan seorang ayah yang sudah terlalu lama menahan banyak hal sendirian. “Tapi Papa juga manusia, Kay. Papa hidup sendirian bertahun-tahun. Ngejalanin peran ayah, ibu, kepala keluarga—semuanya sendirian.” Kayra menatap lantai. “Celine datang bukan buat ngisi kekosongan,” lanjut Aldean. “Tapi buat nemenin Papa berdiri di tengah hidup yang udah Papa bangun buat kamu.” Kayra tertawa kecil, ge

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kebenaran Tentang Malam Kelam Itu

    Surya berdiri di balkon ruang tengah vila, menatap ke arah pantai. Angin laut menerpa wajahnya, membawa aroma asin yang tak pernah benar-benar mampu menghapus bau darah dari ingatannya. Ia terpaku, menatap lautan dengan sorot mata gelap dan dalam, persis seperti malam itu. Bukan karena cinta. Bukan pula karena sisa perasaan. Selama ini Surya menjaga Amira bukan karena itu, melainkan karena satu alasan sederhana: dia tak ingin masuk penjara bersama wanita itu. Ingatannya tentang kejadian itu masih terlalu jelas: wajah Amira yang pucat, tubuhnya yang gemetar, tangan yang berlumur darah, dan Sinta yang tergeletak tak bernyawa di lantai. Malam itu, Amira menangis histeris, penuh ketakutan. Bukan karena kehilangan, melainkan karena sadar… satu pukulannya telah mengubah segalanya. Surya menghembuskan napas pelan. “Kamu yang memukul Sinta, Amira,” gumamnya lirih, seolah berbicara pada bayangan masa lalu. “Kamu penyebab semua kekacauan ini.” Tangannya mengepal di sisi tubuh. I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status