Share

Ngobrol Berdua

Penulis: Wisha Berliani
last update Tanggal publikasi: 2025-11-04 14:52:16

Mereka bertiga kini sudah duduk di ruang makan. Kayra menempati sisi kanan papanya, sementara Celine... sialnya, harus duduk tepat berhadapan dengan Aldean. Setiap kali mengangkat kepala, matanya selalu bertemu dengan pria itu.

Jantung Celine berdebar tak karuan, sementara Aldean justru terlihat tenang menikmati makan malamnya, seolah tidak ada rahasia besar yang menghubungkan dirinya dan Celine. Sikap tenang itu justru membuat Celine semakin kesal.

Bagaimana bisa pria itu setenang ini, sementara dirinya nyaris mati berdiri sejak tadi?!

Suasana meja makan terasa hangat. Kayra terus berceloteh tentang kampus dan berbagai hal lainnya, sementara Aldean menanggapinya. Namun bagi Celine, setiap detik di meja itu terasa seperti duduk di kursi panas.

Hening sejenak, lalu Kayra menatap Celine dengan mata berbinar. “Oh iya, Cel! Nginep di sini aja malam ini, ya?”

Celine spontan menoleh, hampir menjatuhkan sendoknya. “Hah? Nggak usah deh, Kay. Aku harus pulang. Papa-Mama pasti nyariin aku.”

“Ah, paling juga enggak, kayak biasanya,” sanggah Kayra cepat. “Kita udah lama nggak nginep bareng. Aku pengen cerita banyak banget malam ini!”

Celine tersenyum kikuk, mencoba menolak halus. “Lain kali, ya. Aku takut ganggu Om Dean juga.”

Aldean terkekeh pelan. “Ganggu? Aku nggak ngerasa terganggu.”

Ketika Celine hendak mencari alasan lain, Aldean menatapnya lurus.

“Lagipula,” katanya santai. “Kita sudah saling mengenal, kan?”

Uhuk!

Celine tersedak ludahnya sendiri, gugup. Matanya melirik Aldean. Pria itu justru terlihat begitu tenang menunggu jawabannya, seolah sudah tahu bagaimana akhir ceritanya.

Sementara di sampingnya, Kayra tampak tidak sabar. “Tuh kan, Cel! Papa aja nggak keberatan! Udah, nggak usah nolak. Pokoknya malam ini kamu harus nginep.”

Ingin sekali Celine menangis. Sungguh, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sedang dikeroyok oleh bapak dan anak. Bedanya, salah satu dari mereka tahu persis alasan sebenarnya ia ingin kabur.

Akhirnya, Celine menghembuskan napas panjang, merasa benar-benar kalah.

“Ya udah, aku nginep. Tapi cuma malam ini aja, ya.”

“Nah, gitu dong!” Kayra langsung bersorak gembira.

Di seberang meja, Aldean menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sudut bibir pria itu terangkat tipis saat menatap Celine. Entah kenapa, senyum kecil itu membuat Celine merasa seperti baru saja masuk ke dalam jebakan yang sudah disiapkan pria itu sejak awal.

Di kursinya, Celine hanya bisa menunduk pasrah. Sambil meringis samar, ia merutuki nasib sialnya.

Celine benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana caranya bertahan melewati malam di rumah ini, apalagi dengan kenyataan bahwa ayah sahabatnya adalah pria yang pernah berbagi malam panas dengannya.

.

.

Dini hari, Celine terbangun dengan tenggorokan kering. Gelas di meja nakas sudah kosong sejak tadi. Ia menggigit bibir bawahnya, bertanya-tanya, haruskah menahan haus sampai pagi? Tidak mungkin. Tenggorokannya terasa seperti gurun pasir.

Celine terdiam, matanya melirik gelas kosong di meja sebelum akhirnya menyerah.

“Oke. Ambil air sebentar terus balik. Semoga aja nggak ketemu sama papanya Kayra yang gila itu,” bisiknya pada diri sendiri.

Dengan langkah hati-hati agar tak membangunkan Kayra, Celine bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar.

Begitu sampai di dapur, ia membuka kulkas, mengambil air dingin, lalu melirik ke arah lemari dapur. Pandangannya naik ke rak paling atas, dan ia menghela napas kecil.

“Halah, tinggi banget sih!” keluhnya pelan.

Ia berjinjit, berusaha meraih gelas itu. Ujung jarinya nyaris menyentuh dasar gelas, tapi tetap tak terjangkau. Saat hendak mencoba lagi, sebuah tangan tiba-tiba terulur dari belakangnya.

“Ini yang kamu cari?”

Deg!

Suara berat itu… suara yang sangat ia kenali terdengar begitu dekat di belakangnya.

Celine seketika menegang. Tubuhnya nyaris tak bisa bergerak saat ia merasakan helaan napas panas menerpa tengkuknya. Ia menoleh perlahan, mendapati Aldean berdiri hanya sejengkal di belakangnya. Pria itu menunduk, menatap Celine yang tak berkutik.

“O-Om Dean…!”

Celine tak sadar menahan napas saat melihat sosok Aldean berdiri di sana mengenakan kaus hitam polos dan celana panjang santai. Sulit bagi Celine membayangkan pria seperti Aldean adalah ayah dari sahabatnya sendiri. Penampilannya sama sekali tidak terlihat seperti pria yang sudah berumur.

Tak heran malam itu Celine salah menilainya, menganggap Aldean seorang gigolo.

“Maaf,” ucap Aldean tiba-tiba, membuyarkan lamunan Celine. Ia lalu menyerahkan gelas itu. “Aku nggak bermaksud bikin kaget. Aku lihat kamu kesulitan tadi.”

“Oh… i-iya. M-makasih, Om.”

Celine menerima gelas itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Ia buru-buru menuang air, lalu meneguknya dengan cepat. Melihat ayah dari sahabatnya yang tampak berbeda dengan baju rumahannya itu membuat kegugupannya semakin menjadi-jadi.

Setelah menghabiskan minumnya dengan cepat, ia menunduk sopan.

“Aku… balik ke kamar ya, Om,” ucapnya terburu-buru, berusaha kabur dari situasi itu. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Aldean lagi.

“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Aldean dengan nada tenang, membuat langkahnya terhenti. Gadis itu terdiam, dadanya mendadak berdebar cepat.

Ingin sekali Celine menolak pria itu. Namun, dari cara Aldean memandangnya… ia tak sanggup menolaknya.

“...Sebentar aja,” tambah Aldean, kali ini lebih lembut lagi.

Celine menelan ludah, lalu mengangguk pelan.

Aldean menarik kursi tinggi di depan pantry, duduk tenang sambil menatap gadis itu yang masih berdiri kaku.

“Duduklah.”

Celine menurut, duduk tepat di seberang Aldean. Tangannya memainkan ujung baju tidur, matanya tak berani menatap.

Keheningan menggantung sesaat.

Aldean bersandar, tatapannya lurus menembus diam di antara mereka.

“Cel, wanita malam itu... kamu, kan?”

Celine langsung terpaku. Napasnya tertahan, wajahnya memanas.

“A-aku…” suaranya patah, tak ada kata keluar.

Tatapan Aldean tak berubah, tetap tajam tapi tidak menghakimi. Ia hanya menunggu.

Akhirnya Celine menunduk, suaranya nyaris tak terdengar.

“Om… aku nggak tahu harus bilang apa…”

“Kenapa kamu lakuin itu?”

“Aku… waktu itu lagi kacau.” Celine berusaha menjelaskan, tapi suaranya bergetar. “Pacarku selingkuh. Aku marah, sakit hati, dan aku cuma pengen ngebuktiin kalau aku bisa tanpa dia.”

Aldean mendengus kecil. “Dan caranya dengan menyewa gigolo?”

Celine menegakkan kepala cepat, wajahnya merah padam. “Aku nggak mikir panjang waktu itu!”

Dapur kembali hening.

Aldean diam, hanya menatap Celine dengan sorot mata tenang yang entah kenapa malah membuat perempuan itu semakin tidak nyaman.

Celine buru-buru menunduk, jemarinya saling meremas di atas pangkuan. “Aku tahu aku salah, Om...” gumamnya pelan.

Keheningan menggantung beberapa detik.

“Bagus kalau kamu tahu.”

Jawaban Aldean singkat, tapi entah kenapa membuat Celine sedikit kesal.

Kepala Celine tetap tertunduk, tapi pikirannya mulai berisik sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya. Semakin dipikirkan, semakin ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Iya. Memang, dia salah. Tapi bukankah Aldean juga terlibat dalam kejadian itu?

Kenapa sekarang posisinya seperti guru BK yang sedang menasihati murid bermasalah?

Setelah beberapa saat bergulat dengan pikirannya sendiri, Celine akhirnya memberanikan diri mengangkat kepala.

“...Tapi Om juga nggak nolak aku, kan?” Kalimat itu keluar begitu saja.

Menyadari apa yang baru saja diucapkannya, Celine hampir ingin menariknya kembali. Namun, semuanya sudah terlambat.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, ekspresi Aldean berubah. Sorot matanya menggelap, membuat napas Celine seketika terasa berat.

Perlahan, Aldean memajukan tubuhnya, menumpukkan kedua lengan di atas meja pantry. Aroma parfum maskulin yang familiar seketika menyeruak, mengaburkan seluruh fokus Celine.

Detak jantung Celine menggila saat wajah Aldean kini begitu dekat dengan wajahnya, terlalu dekat hingga ia bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa kulit pipinya.

“Memang benar aku nggak nolak,” bisik Aldean serak. Tatapannya turun, mengunci pada bibir merona Celine yang sedikit terbuka. “Tapi, aku harus apa saat ada wanita cantik yang datang dan menggodaku?”

*****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
aduh keren novel ny
goodnovel comment avatar
Yosi Yosanti
hahaha lucu ih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 264

    Keheningan menyelimuti ruangan itu, namun gaung pengakuan Surya masih terus memukul dinding kesadaran Celine, membuat tubuhnya membeku di tempatnya berdiri. Napasnya kembang-kempis, sementara jemari lentiknya yang gemetar hebat meremas selembar kertas kusam dalam genggamannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu per satu, menetes membasahi pipinya.Melihat istrinya yang tampak begitu rapuh dan terguncang, Aldean tak membuang waktu satu detik pun. Pria itu segera mengikis jarak, merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukan hangat. Ia melingkarkan kedua lengan kekarnya di sekeliling tubuh Celine, menenggelamkan kepala istrinya di dada bidangnya yang berdetak tenang dan menenangkan.“Mas...” suara Celine pecah di balik dada Aldean, terisak pelan dengan nada parau. “Jadi... Papa kandungku masih hidup? Dia disingkirkan... cuma karena dia miskin dan demi menutupi aib keluarga?”Aldean memejamkan mata rapat-rapat, mengeratkan pelukannya seolah tak ingin membiarkan satu titik pun

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 263

    Dua orang Petugas Pengawal Tahanan berseragam rapi melangkah masuk, mengawal Surya dengan kedua tangan yang terborgol di depan. Pria paruh baya itu sebelumnya telah memohon pada petugas agar diberi waktu satu menit saja untuk bicara pada Celine sebelum dipindahkan ke sel tahanan sementara.“Permisi...” ujar salah satu petugas sopan. “Ada yang ingin bertemu dengan Nona Celine sebentar.”Petugas itu memberi isyarat. Surya mengangguk pelan, lalu melangkah ragu mendekati Celine dan Aldean yang berdiri berdampingan. Dua petugas pengawal tetap berada di belakangnya, memastikan jarak aman.Melihat kehadiran Surya, raut wajah Aldean seketika berubah dingin dan protektif. Pria itu langsung meletakkan satu tangannya di pinggang Celine, membentengi posisi istrinya.“Mau apa lagi kamu?” tegur Aldean tajam dan menekan.Surya tidak menatap Aldean. Matanya yang sembap dan memerah berfokus penuh pada Celine. Dengan tangan terborgol yang bergetar hebat, Surya merogoh saku rompi tahanannya, lalu mengel

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 262

    Tangan kanan Kayra meremas ujung roknya sendiri, matanya menatap kosong ke lantai dingin ruang sidang. Bayangan Amira yang terseret keluar dengan kursi roda dan terisak histeris mendadak berputar di kepalanya."Seumur hidup" Kata itu terus bergema memekakkan telinganya. Bagaimanapun jahatnya racun yang pernah disebar wanita itu, ada bagian kecil di hati Kayra yang meringis membayangkan ibu kandungnya harus membusuk di dalam bui sampai akhir hayat, tanpa pernah menghirup udara bebas lagi.Melihat perubahan raut wajah putrinya yang mendadak muram, Aldean yang sejak tadi fokus pada Celine langsung menoleh. Sepasang mata elangnya meneliti wajah Kayra dengan penuh kecemasan.“Kay?” panggil Aldean rendah, memecah lamunan anak gadisnya.Kayra tersentak kecil, mendongak kaget saat mendapati Papanya sedang menatapnya dengan intens. Celine pun ikut memiringkan tubuh, menyapu raut wajah Kayra dengan tatapan lembut yang berbalut rasa khawatir.“Kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit?” tanya Aldean memp

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 261

    “Maaf?”Celine terkekeh sumbang—sebuah tawa hambar berbalut air mata yang akhirnya menetes di pipinya.“Kata maaf dari Papa nggak akan pernah bisa mengembalikan Mama. Kata maaf dari Papa nggak bisa menghapus setiap luka dan rasa sakit yang harus aku tanggung selama bertahun-tahun gara-gara kebejatan Papa!”Celine menyapu air matanya dengan kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap Surya dengan tatapan paling tegas yang pernah ia miliki.​“Pintu maafku terlalu mahal untuk pria yang sudah menghancurkan hidupku dan merenggut Mamaku,” ucap Celine dingin, tanpa setitik pun keraguan.Mendengar itu, Surya seketika terkulai lemas di kursinya. Kepala pria paruh baya itu tertunduk makin dalam, bahunya bergetar hebat diiringi isakan penyesalan yang tertahan.Celine segera membalikkan badan dengan anggun, memunggungi pria tua yang kini hancur oleh dosanya sendiri. Ia melangkah mantap menuju pintu keluar, tidak sudi membuang waktunya walau hanya satu detik lagi di ruangan dingin tersebut

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 260

    Langkah kaki Celine bergema anggun di sepanjang koridor Pengadilan Negeri. Evan berjalan satu langkah di depannya, berperan sebagai pemandu jalan sekaligus perisai pembuka pintu. Di belakang Celine, Aldean dan Kayra mengiringi dengan jarak yang cukup menjaga ketenangan Celine, namun tetap memberikan kehangatan perlindungan dari balik punggungnya.​Begitu tiba di depan pintu kayu cokelat gelap dengan papan bertuliskan Ruang Tunggu Khusus 2, Evan menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah Celine, mengangguk sopan, lalu mengetuk pintu dua kali sebelum mendorongnya terbuka.​“Silakan, Nona Celine,” ucap Evan tenang.​Celine menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat bibir. Ia membetulkan letak blazer-nya, menegakkan bahu, lalu melangkah melewati ambang pintu dengan kepala tegak dan pandangan tertengadah.BAM.​Pintu kayu di belakangnya tertutup rapat, menyisakan keheningan mencekam yang mendadak menyelimuti ruangan bersuhu dingin tersebut.​Di sudut ruangan, seorang

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 259

    Di dalam ruangan yang tertutup rapat itu, Amira masih meraung dan terisak-isak sendirian. Wanita berrompi oranye itu sama sekali tidak menyangka bahwa rencananya gagal total. Ia yang awalnya begitu percaya diri ingin bertemu Kayra demi meracuni kembali pikiran sang anak—memanfaatkannya agar membelanya di persidangan—kini hanya bisa menelan kepahitan.Alih-alih mendapatkan simpati, kebohongan dan rahasia berdarah yang ia sembunyikan justru terkuliti habis oleh anaknya sendiri. Pertemuan yang ia kira bakal jadi kartu as-nya justru mendorong Amira makin dalam ke dasar jurang kehancuran yang paling kelam.Sementara itu, di luar ruangan, atmosfer terasa jauh lebih lega. Udara dingin koridor pengadilan seolah menyapu bersih hawa beracun yang baru saja mereka tinggalkan di dalam.Celine mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Sepasang matanya masih berkaca-kaca, namun ada kelegaan luar biasa yang terpancar di paras cantiknya.Aldean memiringkan tubuhnya, pertama-tama

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status