Masuk
“Engh… ah… pelan-pelan.”
Suara lirih gadis itu pecah di antara helaan napas dan desis seprai yang berkeresek. Lampu temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang saling menyesap panas malam. Pria di atasnya menatap lekat wajah polos yang menahan malu dan rasa asing. Keringat menetes di pelipis, tapi gerakannya tetap terukur, lembut, seolah tengah membaca setiap reaksi tubuh gadis itu. “Aku terlalu kasar?” suaranya serak, bergetar di antara detak jantung mereka. Gadis itu hanya menggeleng, matanya terpejam rapat. Nyeri samar yang tadi terasa kini berubah menjadi sensasi aneh yang mengaduk perasaannya—antara takut, bingung, dan candu yang tak bisa ia pahami. Hening sejenak. Lalu pria itu tersenyum kecil. “Kau berbeda,” bisiknya di telinga. “Tidak seperti yang kubayangkan.” Gadis itu menatap balik, jantungnya berdebar tanpa alasan. Ada yang salah. Pria itu bukan sekadar gigolo—dan itu justru yang membuatnya takut. . . “Ah… sepertinya aku sudah gila…” Celine Arsyila, menatap jemarinya yang masih menggenggam erat setir mobil. Sudah seminggu berlalu sejak malam itu—malam ketika ia kehilangan kendali dan tanpa pikir panjang menyewa seorang gigolo. Semua bermula dari amarah dan sakit hati setelah memergoki pacarnya mencium wanita lain. Dan malam ulang tahun sahabatnya yang seharusnya penuh tawa justru berubah jadi titik paling kacau dalam hidupnya. Bukannya pulang dengan senyum, ia malah menghabiskan malam itu dengan pria asing yang kini terus muncul di pikirannya. Bayangan malam itu datang kembali tanpa diundang... malam panas penuh gairah yang seharusnya tak pernah terjadi. Suara desahan, napas berat yang saling berdekatan, dan sentuhan hangat itu terus menghantuinya selama seminggu terakhir. “Kenapa sih aku masih mikirin malam itu…” gumamnya lirih, mengutuk diri sendiri. Ia menghembuskan napas berat, menegakkan tubuh, berusaha mengusir bayangan itu, tapi yang datang justru bayangan lain. Wajah tampan dengan rahang tegas, suara rendah yang tenang, dan sorot mata teduh pria itu. Sosok yang sama sekali tak pantas disematkan label “cowok bayaran.”Jauh dari kesan gigolo. Pria itu terlalu tenang, terlalu berkelas. “Sial…” desisnya lagi, semakin kesal. Seolah semesta belum puas mempermainkannya, layar ponselnya tiba-tiba bergetar di dashboard. Sebuah notifikasi pesan masuk dari seseorang. Celine mengerutkan kening, membuka pesan itu dengan malas. Velvet Dating App: [Cantik... kamu serius ninggalin aku gitu aja minggu lalu? Aku udah nungguin kamu sampe pagi, tahu nggak? Please next time jangan PHP kayak gitu.] Mata Celine membulat. Tangannya refleks mencengkeram ponsel kuat-kuat. “PHP!” ulangnya tak percaya. “Loh PHP apaan? Aku sama dia bahkan udah—” Ia buru-buru menutup mulutnya sendiri. Napasnya tercekat, amarah dan rasa bingung bertabrakan di dadanya. Hatinya berdegup cepat. ‘Berarti... pria malam itu bukan gigolo yang sebenarnya?’ pikirnya, panik. Ia menelan ludah, memejamkan mata sejenak. “Aku bener-bener gila waktu itu…” bisiknya getir. “Kalau cowok malam itu bukan dia, lalu siapa?” Keheningan memenuhi kabin mobil. Hanya suara dentuman pelan dari jantungnya yang kacau. Drrt... Drrt. Ponsel Celine kembali bergetar, membuat pikirannya yang masih penuh dengan bayangan pria itu buyar seketika. Dengan cepat ia menatap ponsel di tangannya, nama sahabatnya muncul di layar. Kayra. Celine menarik napas pelan sebelum menekan tombol hijau. “Ya, Kay?” suaranya lembut, meski masih tersisa nada lelah di ujungnya. “Cel! Kamu di mana sih?” suara riang Kayra langsung terdengar dari seberang. “Aku sama Papa udah nungguin kamu di rumah! Kita kan udah janjian makan malam buat nyambut Papaku yang baru pulang dari luar negeri. Jangan bilang kamu lupa?” Celine menegakkan tubuh, berusaha terdengar tenang. “Nggak kok. Aku nggak lupa. Ini aku udah mau jalan.” “Yaudah, buruan, ya!” Suara Kayra terdengar makin antusias. “Iya. Aku ke sana sekarang.” “Oke! Aku tunggu. Jangan lama-lama!” Klik. Begitu sambungan terputus, keheningan kembali menyelimuti kabin mobil. Celine menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menaruhnya kembali di dashboard. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Sudah cukup. Kesalahan malam itu, tepatnya satu minggu lalu, seharusnya terkubur bersama semua kebodohannya. “Lupakan, Cel…” gumamnya lirih, menepuk pipinya pelan. “Fokus aja ke acara Papanya Kayra.” Ia menyalakan mobil. Suara deru mesin mengisi kabin yang sejak tadi sunyi. Kedua tangannya menggenggam setir, tapi pikirannya masih sempat melayang pada wajah pria itu, yang entah kenapa sulit ia singkirkan dari kepala. Ia menggeleng keras, mencoba menepis bayangan itu. “Udah, Cel… jangan bego lagi,” bisiknya, setengah menegur diri sendiri. “Itu cuma kesalahan. Titik.” Pelan-pelan, ia menekan pedal gas, meninggalkan halaman rumah. Untuk sekarang, Celine memilih menepis semua kegilaan itu dan memaksa dirinya fokus pada acara malam ini. Beberapa saat kemudian, Celine tiba di rumah Kayra. Mobilnya berhenti tepat di depan halaman luas yang diterangi lampu taman berwarna hangat. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah keluar. Tok. Tok. Ketukan ringan dari tangannya terdengar di pintu besar rumah mewah itu. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka. Kayra muncul dengan senyum lebarnya yang khas. “Cel! Akhirnya kamu datang juga. Ayo masuk!” serunya ceria, langsung menarik tangan Celine dan membawanya masuk ke ruang tengah yang elegan namun terasa akrab. “Aduh, maaf ya telat,” ucap Celine canggung sambil melepas tas kecil dari pundaknya. “Nggak apa-apa, kok!” sahut Kayra ringan. “Kamu duduk dulu aja ya, aku panggil Papa. Beliau masih di kamarnya.” Celine mengangguk, mengedarkan pandang ke sekeliling ruang keluarga yang sudah tak asing lagi baginya. Baru saja Kayra berbalik hendak naik ke lantai dua, langkahnya terhenti ketika terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Langkah berat itu terdengar mantap, dari arah atas seorang pria turun perlahan. Kemeja putihnya tergulung di lengan, kancing atas terbuka memperlihatkan sedikit lehernya. Rambut hitam legamnya agak berantakan, wajahnya teduh namun penuh wibawa. Aura tenang dan dominan yang terpancar darinya sulit dijelaskan... justru karena itu, pandangan sulit lepas darinya. “Papa!” seru Kayra spontan. “Ternyata Papa udah turun. Nih, kenalin… Celine, sahabat aku di kampus.” Celine otomatis ikut menoleh. Pandangannya jatuh pada sosok pria yang sedang menunduk, sibuk merapikan lipatan lengan kemejanya. Rambut depannya sedikit menutupi wajahnya, sehingga membuatnya belum terlihat jelas. Hingga akhirnya... pria itu mengangkat kepala. Dan dalam sekejap saja. Deg. Dunia Celine seolah berhenti berputar. Jantungnya seakan kehilangan detak. Napasnya tercekat. Segalanya mendadak redup di matanya, menyisakan hanya sosok pria itu. Pria itu… kenapa ada di rumah sahabatnya?! *****Moncong pistol Aldean tetap menempel di bawah dagu pria itu.“Cepat jawab.”Pria itu terengah-engah, keringat bercampur debu menetes dari pelipisnya.“A-aku tidak tahu… aku hanya jaga lorong—”DOR!Tembakan meledak. Peluru menembus bahu pria itu.“AAAAARGH—!”Ia menjerit, darah menyembur, tubuhnya terhempas ke lantai.Aldean bahkan tidak berkedip. Ia menurunkan pistolnya perlahan, lalu mengarahkan kembali tepat ke kepala pria itu.“Kau punya satu kesempatan lagi,” ucapnya dingin. “Yang berikutnya bukan bahu.”Pria itu menggigil, tangannya mencengkeram bahu yang berdarah.“D-dia… di ruang bawah tanah…” ucapnya pecah. “Tuan Surya menyekap Nona Celine di… di ruang bawah tanah vila…”Hening sepersekian detik.Mata Aldean berubah gelap, mematikan.Dalam satu gerakan, ia mencengkeram kerah pria itu dan mengangkatnya dari lantai.“Tunjukkan,” katanya pelan, tapi ancamannya jauh lebih mengerikan daripada teriakan. “Sekarang.”Pria itu mengangguk panik. “I-iya… iya… aku bawa kau ke sana…”Me
Langit di atas pulau itu robek oleh deru mesin. Helikopter hitam menukik rendah, baling-balingnya mencabik udara malam. Di laut, beberapa speedboat bersenjata melesat menuju dermaga tersembunyi di balik tebing, membelah ombak seperti anak panah. “Unit Black-7, amankan sisi barat.” “Black-3, tembus gerbang utama.” Suara Aldean mengalir dingin dan presisi di earpiece. Tenang, tanpa emosi, seperti seorang jenderal yang sudah memprediksi setiap kemungkinan. Dalam hitungan detik, pulau itu berubah menjadi medan tempur. BOOM! Menara pengawas di sisi vila meledak. Api menjilat langit, alarm meraung panjang, dan anak buah Surya berhamburan sambil mengangkat senjata. “Kontak Sniper!” “Serangan dari udara!” DOR! DOR! DOR! Peluru beradu di kegelapan. Kilatan moncong senjata menyala-nyala seperti petir yang tak pernah padam. Pasukan Aldean bergerak cepat dan mematikan. Menyerbu dari laut, dari udara, dan dari jalur hutan yang sudah mereka petakan. Tidak ada langkah yang si
Ruang bawah tanah itu terasa lembap dan dingin.Lampu kuning di langit-langit berkedip lemah, memantulkan bayangan dua perempuan yang terkurung dalam ruangan sempit berdinding beton.Celine berdiri beberapa langkah dari Amira. Napasnya masih belum stabil, dadanya naik turun akibat sisa perlawanan dan emosi yang belum reda terhadap Surya.Sunyi menggantung di antara mereka.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Celine membuka suara.“Siapa Anda?” tanyanya waspada. “Kenapa Anda juga dikurung di sini?”Amira menatap Celine. Tatapannya tidak tajam, justru dipenuhi sesuatu yang sulit dijabarkan.“Kamu sendiri siapa?” balas Amira pelan. “Kamu apa hubungannya dengan Surya sampai dia memperlakukanmu seperti ini?”Celine mengangkat dagunya sedikit. “Aku Celine. Dan aku tidak ada hubungan apa pun sama Surya.”Deg.Tubuh Amira seolah tersambar petir.Wajahnya seketika pucat, matanya membelalak, seolah satu nama itu merobek lapisan terakhir dalam dirinya.Kenangan itu menghantamnya tanpa ampun:
“Jangan-jangan apa?” tanya Surya rendah, tenang di permukaan tapi mematikan di dalam.Reymon menelan ludah. “Jangan-jangan… ponsel saya diambil oleh Nyonya Amira, Tuan.”“Apa?!” suara Surya meledak. “Bagaimana bisa?!”Reymon langsung menunduk. “Maaf, Tuan. Saya ceroboh. Tadi saya sempat meninggalkannya di ruang tengah. Dan… kemungkinan besar Nyonya Amira melihatnya lalu mengambilnya.”Tatapan Surya mengeras. Amarah dan kecurigaan berkilat di balik pupil gelapnya.“Cek CCTV ruang tengah,” perintahnya dingin.Belum sempat gema suaranya mereda, seorang anak buah sudah melangkah cepat dan menyerahkan tablet.“Sudah saya tarik, Tuan.”Surya mengambil tablet itu, lalu layar menyala.Rekaman CCTV menampilkan ruang tengah vila yang sepi. Sinar sore menembus jendela-jendela tinggi, jatuh tepat di atas meja tempat sebuah ponsel tergeletak.Beberapa detik kemudian, sosok Amira muncul dalam frame. Langkahnya pelan dan ragu. Matanya menyapu sekeliling sebelum mendekati meja. Jemarinya sedikit geme
Celine menatap Surya lama, lalu tersenyum kecil. Sebuah senyum tanpa kepanikan atau ketakutan.“Enggak,” katanya tegas.Surya mengerutkan kening. “Apa?”“Aku bilang enggak,” ulang Celine dengan suara mantap. “Aku nggak akan jual peninggalan Mama atau kebenaran ke orang serakah kayak Papa.”Senyum Surya langsung menghilang.“Aku akan cari tahu sendiri,” lanjut Celine, matanya menyala penuh tekad. “Siapa pun pelakunya… aku akan menemukannya tanpa harus mengorbankan aset Mama untuk orang yang bahkan nggak pantas nyebut namanya.”Dia melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berbalik dan berlari menuju pintu.“Berhenti!” teriak seorang anak buah.Dua tangan kasar langsung mencengkeram lengan Celine dari belakang. Tubuhnya tersentak keras.“Lepasin aku!” teriak Celine sambil meronta. “Lepasin!”Dia menendang, memberontak, berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia.Surya hanya berdiri di tempat, menatap semuanya dengan wajah penuh kepuasan. Ia terkekeh pelan.“Kamu kira semudah itu per
Celine terdiam. Namun di dalam kepalanya, sesuatu runtuh perlahan, seperti bangunan yang selama ini ia yakini kokoh, ternyata sejak awal isinya kosong.“Aku... bukan anak kandung Papa?” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri.Surya menyandarkan punggung ke kursi, jari-jarinya saling bertaut santai, seolah baru saja membicarakan hal sepele.“Iya.” Satu kata. Ringan, tanpa rasa bersalah.Celine menelan ludah. Dadanya sesak. Potongan-potongan masa lalu berhamburan di kepalanya: wajah ibunya yang selalu berusaha tersenyum, Surya yang dulu hangat tapi kini berubah dingin, tatapan yang tak lagi lembut sejak hari pemakaman itu.“Pantas…” gumamnya lirih.Surya mengangkat alis. “Pantas apa?”Celine mendongak, matanya memerah tapi tak menangis.“Pantas Papa berubah,” ucapnya pelan, lalu suaranya semakin tegas. “Pantas Papa berhenti sayang sama aku setelah Mama meninggal.”Tangannya yang sejak tadi terikat, mengepal. Kukunya menekan telapak tangan, m







