Share

Bab 3

Author: Renita April
last update publish date: 2026-05-29 15:02:17

Bahkan pintu kamarnya saja dari kayu berukir yang terlihat berat dan tentunya mahal. Pelayan itu mengetuk dulu, kemudian mendorong pintu agar terbuka sedikit. Karin mengikutinya masuk ke ruangan yang didesain dari kayu semua. Menambah kesan hangat bila berada di kamar ini.

"Tuan Dewa, saya sudah bawa orangnya," ucap pelayan.

"Tinggalkan kami."

Pelayan itu undur diri dengan meninggalkan Karin. Seorang di sini, Karin bingung karena ia belum melihat tuan rumah, tetapi suaranya saja yang terdengar. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Karin mencari-cari gelas atau alat pemompa untuk menampung asinya yang sudah mulai berdenyut. Karin memang sengaja tidak memerasnya dulu karena berpikir mungkin ia akan segera menjadi pendonor dan buktinya benar.

"Siapa namamu?"

Karin terkejut karena pertanyaan itu. Di mana orang yang menginginkan asinya? Sedari tadi belum juga memunculkan batang hidungnya.

"Ka-Karin, Tuan."

Terdengar bunyi tirai yang dibuka. Karin memusatkan pandangan lurus ke depan. Dari balik tirai itu muncul seorang pria.

Mata ini tak bisa mengalihkan pandangan ke arah lain. Terus berpusat lurus memandang pria yang luar biasa tampan.

Rambutnya hitam berkilau, perawakannya tinggi dengan otot besar di tempat seharusnya. Karin hanya pernah melihat rupa pria tampan di layar kaca dan baru sekarang ia melihat secara langsung. Karin yakin jika pria ini keturunan dari barat dan negara sendiri, Lorandia.

"Karin, ya. Aku Dewa."

Jantung Karin berdegup kencang ketika pria itu melangkah menuju ke arahnya. Kakinya tidak bisa digerakkan, ia terpaku akan kehadiran Dewa.

Pria ini semakin dekat, dan baru Karin lihat sorot mata kebiruan itu. Dewa memang keturunan negeri barat dan Lorandia. Perpaduan ini menghasilkan ketampanan yang luar biasa memikat.

"Di-di mana saya harus memberikan asi?" Karin berusaha menguasai diri. Jangan sampai ia kelihatan gugup.

"Kamu baru pertama kali, ya?"

Karin mengangguk cepat. "Saya baru saja melahirkan, tetapi anak saya sudah tiada."

"Oh, aku turut berduka." Dewa memerhatikan wanita di depannya yang terus menunduk. "Angkat wajahmu."

Karin patuh, ia mendongak menatap Dewa. Ia malu, ingin sekali Karin menghilang dari hadapan pria ini.

Dewa tersenyum. Bila disebut senyum itu seperti seringai meremehkan. Karin yakin pria ini tengah mengejek penampilan lusuhnya.

"Kamu sudah tanda tangan kontrak, kan?"

"Iya, saya dan suami," jawab Karin.

"Santai saja. Ayo, duduk dulu." Dewa mempersilakannya duduk di sofa.

Astaga! Jika lama-lama berada di ruangan ini, Karin tidak tahan. Apalagi penampilan Dewa yang seperti baru selesai mandi. Pria ini memakai kimono satin dan sengaja membiarkan tubuh atasnya terekspos. Rambutnya yang basah terkesan seksi.

"Le-Lebih baik langsung saja, Tuan. Saya akan memompa asinya," ucap Karin.

"Memompa?" Dewa malah kelihatan bingung.

"Bukannya Tuan menginginkan asi? Saya memompa dan akan memasukkannya dalam gelas."

"Kamu nggak baca surat kontraknya? Aku tidak mau asi lewat pompa karena akan mengurangi rasanya. Aku mau asi secara langsung. Menyusu dari milikmu."

"A-apa?" Jantung Karin berdegup dengan kencang. "Ta-Tapi .... ."

"Tapi apa? Aku sudah meminta orang yang bersedia untuk itu dan suamimu setuju. Coba saja kamu tanya dia."

Ini tidak benar. Jelas Teguh mengatakan kalau asi ini bisa dipompa untuk diberikan minum kepada atasannya. Bukan Karin yang menyusui bayi besar ini.

Karin segera menelepon suaminya. Ia menunggu sampai Teguh mengangkat telepon. "Saya permisi dulu."

Dewa mempersilakan sembari memerhatikan kepergian Karin. Ia tersenyum. "Dia manis juga."

Panggilan diangkat oleh Teguh dan Karin mulai bicara, "Halo, Mas Teguh. Ini maksudnya apa? Kenapa aku harus menyusui pria itu?"

[ Memang sudah seharusnya, kan? ]

"Mas Teguh, ini aku menyusui, bukan memberi asi. Mas tahu bedanya, kan? Beliau tidak mau asi yang di pompa, tetapi ingin meminum secara langsung."

[ Kita sudah sepakat. Kamu bilang setuju dengan metode apa pun. Lakukan saja, Karin. Kita punya hutang yang harus dibayar. Aku sudah menerima uang muka dan kita tidak bisa mundur. ]

"Halo, Mas Teguh. Mas!" Karin menurunkan telepon dari telinga karena Teguh telah memutus sambungannya secara sepihak.

"Bisa kita lakukan sekarang?" tanya Dewa yang membuat Karin terlonjak kaget.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Bala Lamarongan
semoga semuanya baik baik saja
goodnovel comment avatar
Ule Lucci
lanjut bikin penasaran
goodnovel comment avatar
Nala Ratih S
Ternyata Karin di bohongi Teguh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 215

    “Kamu tahu kan kalau pergi bersamaku memang sangat beresiko,” ucap Eden.“Tarik berita itu, aku tidak mau sampai melebar ke mana-mana.”“Tunggu! Kenapa kita tidak memanfaatkan ini saja demi sebuah film? Kamu ingin jadi artis, kan? Aku bisa membuat skandal untuk kita.” Eden tersenyum puas. Dengan begitu ia bisa membuat Karin lebih banyak menghabiskan waktu bersama.“Kamu ingin memanfaatkanku ya?” Karin tertawa. “Jangan harap! Jika aku ingin menjadi artis, haruslah artis dengan kualitas yang baik.”“Cih! Industri hiburan tidak seperti yang kamu kira.”“Ya, sudah. Tarik beritanya.”“Kamu pikir semudah menarik alas tempat tidur? Perlu waktu, apalagi beritanya telah tersebar luas. Pasti banyak pihak yang bakal menyimpan artikel berita ini, lalu suatu saat kembali menampilkannya. Jika kamu tidak keberatan, aku bisa membuat kesepakatan dengan uang.”“Kekasihku tidak akan setuju soal itu. Sudahlah, antar aku pulang biar segera menyimpan bahan belanjaan ini. Besok, jadwal seperti biasa, kan?”

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 214

    Sinta memang sempat mengalah dengan menerima perceraian dari Dewa. Namun, ia tetap tidak rela Karin menikmati semua kemewahan yang diberikan oleh mantan suaminya. Perebut suami wanita lain harus menderita, apa pun alasannya. Sinta tidak peduli jika pernikahannya gagal karena tingkahnya juga.Selain itu, Sinta juga kesal karena bukan hanya Dewa yang tertarik pada Karin, tetapi Damian serta Leonard juga. Ia sangat marah ketika ketiga pria itu mengumumkan hubungan mereka di depan publik. Sungguh tidak tahu malu. Bagaimana bisa seorang wanita dari kalangan biasa mampu membuat tiga pria tertarik sekaligus? Sinta yakin ada sesuatu yang diberikan oleh Karin. Ya, ia juga tahu wanita itu punya asi, dan Sinta sempat mendengar tiga pria itu menderita syndrom yang sama.Hanya saja mustahil bagi ketiga pria itu terus tertarik pada Karin setelah dihadapkan dengan wanita yang sama-sama memiliki asi. Sinta tahu kabar mengenai rumah donor yang ditutup karena mereka menjebak Karin. Pesona wanita di san

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 213

    Karin diturunkan tepat di gerbang kediaman Eden Voss. Sebelum masuk, Dewa menyentuh bibir kekasihnya dalam waktu lama sampai penjaga gerbang heran sendiri. Mereka bahkan mengetuk kaca mobil untuk mencari tahu siapa gerangan tamu tak dikenal ini. Begitu melihat Karin yang turun, barulah penjaga tersenyum dan merasa tidak enak.“Selamat pagi, Pak,” sapanya, lalu meminta masuk.Masih setengah jam lagi sebelum pukul 10 pagi. Karin yakin jika Eden Voss sudah bangun. Karena hari ini hanya jalan-jalan saja, Karin pun menunggu di ruang tamu.“Kamu sudah datang rupanya. Siapa yang mengantarmu?”Karin menoleh, ia menyapa Eden dulu. “Itu Dewa.”“Bukannya kalian sudah putus?”“Siapa yang mengatakan itu? Aku dan dia baik-baik saja.”Tangan Eden mengepal. “Kamu sungguh suka dengan dia?”“Ya, begitulah.” Karin tersenyum. “Oh, ya, kita mau ke mana?”“Ke wahana permainan.”“Oh.” Karin sempat heran kenapa Eden malah mau ke wahana. Ah, ia tahu sebabnya. Karena terlalu sibuk, Eden pasti tidak punya waktu

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 212

    Karin baru terbangun di pukul tujuh pagi, padahal harus buru-buru bersiap dikarenakan hari ini ada jadwal bersama dengan Eden Voss. Ia mengecek ponselnya, tidak ada pesan dari pria itu. Karin mengembuskan napas lega karena ia bebas membuat sarapan hari ini.Harusnya ini tidak akan terjadi karena Karin juga mau membuatkan Dewa sarapan pagi, tetapi pria itu membuatnya bergadang tadi malam. Karin mengusap bahu serta punggung belakangnya. Semalam, Dewa puas menggigit dan mengecup seluruh tubuhnya. Bahkan bagian di bawah sana terasa lecet karena air liur yang pria itu berikan.Pintu kamar terbuka, pelayan masuk dengan membawa pakaian ganti. Ia tersenyum saat melihat Karin sudah bangun.“Selamat pagi, Nona.”“Di mana dia?”“Tuan sudah berada di ruang makan. Beliau menunggu Nona.”“Tolong bantu aku berberes. Hari ini, aku mau jalan-jalan.”“Tentu, Nona.” Pelayan itu segera memanggil rekannya untuk membantu Karin merias diri. Karin belum terlalu lihai mendandani diri sendiri. Itu sebabnya, ia

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 211

    Dalam perjalanan, baik Karin maupuan Dewa sama-sama membisu. Terlebih dengan pertengkaran tadi pagi yang belum kunjung usai.“Dari mana kamu tahu lokasiku?” tanya Karin.Dewa memandangnya, tetapi bola matanya tanpa sengaja mengarah pada dua buah ranum milik Karin. Kaos yang dipakai kekasihnya itu basah, dua bagian itu terlihat mencuat. Dewa mengusap wajah. Bila dilihat dari penampilannya, Karin jelas tidak memakai dalaman.“Kamu bekerja tanpa memakai dalaman?”“Hah?” Karin terkesiap, lalu menurunkan pandangan ke bawah. Ia sadar pakaiannya telah basah. Asinya belum sempat di pompa lagi. Karin mengeratkan jaket yang ia kenakan. “Dalamanku basah tadi.”“Jadi, kamu sengaja tidak memakai apa pun. Apa kamu tidak berpikir jika semua orang bisa melihat milikmu itu?”“Aku memakai jaket. Kamu juga tahu sendiri asiku ini keluar sangat banyak.”“Berita tentang Paula dan diriku sudah dihapus. Jangan cemburu lagi, aku tidak punya hubungan apa pun dengannya.”“Terserah saja kalau kamu mau berhubunga

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 210

    Karin pernah mendengar betapa kejamnya dunia hiburan itu. Orang-orang bisa melakukan apa saja demi menjadi bintang terkenal. Sudah menjadi rahasia umum jika koneksi itu bagian paling kuat seorang bintang bertahan. Bahkan kalah dari kualitas akting. Namun, Karin di sini bukan mau menjadi orang terkenal itu, ia hanya ingin merasakan pengalaman saja. Lagi pula ia belum pernah mendapat kesempatan yang seperti ini, bahkan cita-cita menjadi karyawan kantoran juga angan sesaat. Asisten sutradara memberi arahan apa saja yang harus Karin lakukan sebagai pasangan sewaan Eden karena cerita kali ini, Eden membuat kekasihnya cemburu. Karin tidak perlu bicara. Ia hanya perlu bergelayut manja pada sang aktor saja. “Apa kamu sudah mengerti, Nona?” tanya pria itu. “Ya, aku siap sekarang.” “Oke, kita mulai syutingnya.” Semua kru siap mengambil gambar, begitu pula sutradara yang telah berada di depan sebuah televisi kecil serta toa di tangan. Ia mulai menginstruksikan agar adegan dimulai. Lalu Kari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status