Share

Bab 2

Author: Renita April
last update publish date: 2026-05-29 14:58:02

Baru kali ini Karin melihat rumah mewah secara langsung. Apalagi sampai memasuki halamannya. Taman serta patung hias yang selama ini hanya bisa dilihat dari layar kaca, kini dapat ia pegang langsung.

"Jangan kelihatan norak," bisik Teguh.

"Tamannya indah, patungnya bagus. Pasti butuh biaya besar untuk buat ini semua," ucap Karin.

"Untuk orang kaya tidak ada yang susah. Mau buat taman dinosaurus juga nggak masalah."

"Hush! Yang ada kita di makan sama itu binatang." Karin terkikik geli.

"Sttt, diam dulu." Teguh menegur karena ada seorang wanita yang memakai seragam menghampiri mereka. Teguh tersenyum. "Saya Teguh dan ini istri saya, Karin. Bos Dewa suruh kami datang ke mari."

"Beliau sudah menunggu. Silakan ikuti saya." Pelayan ini mempersilakan Teguh dan Karin untuk masuk ke rumah.

"Jantungku ini tidak karuan. Mas Teguh, Bos kamu itu sudah tua ya. Kok aku jadi takut." Hati Karin menolak untuk melakukan ini.

"Masih muda. Kamu bakal lihat sendiri nanti."

Karin mengangguk. Lagi pula ia juga sudah berjanji akan melakukan pekerjaan ini. Jika menghindar, maka Teguh akan kembali marah dan jatuh tempo hutang piutang juga semakin dekat. Keluarga Karin terdesak sekarang.

Saat pintu dibuka dan keduanya dipersilakan masuk ke dalam, Karin merasa berada dalam istana. Rumah ini dan seisinya terkesan sangat menakjubkan.

"Jaga perangaimu. Jangan terlalu diperlihatkan kalau kita dari pinggir kota." Teguh kembali memperingatkan.

"Iya, aku cuma kagum saja kok."

"Kalian duduk dulu, biar saya panggilkan tuan rumah." Pelayan ini mempersilakam Teguh dan Karin untuk duduk di sofa empuk, kemudian berlalu begitu saja.

Tidak lama pelayan lain muncul membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan.

Ragu-ragu Teguh serta Karin ingin mencicipi hidangan di meja. Terlebih dari gelas serta piring terlihat sangat mahal. Keduanya takut jika gelas itu tergelincir di tangan, lalu berujung mengganti.

"Kapan Bos Dewa muncul?" Teguh memberanikan diri.

"Panggil Tuan Dewa." Pelayan ini meralat.

"Iya, Tuan Dewa."

Ketukan sepatu bertumit tinggi terdengar. Pelayan bergeser, seorang wanita muncul. Karin dan Teguh refleks berdiri dan menundukkan kepala.

"Sudah datang rupanya. Duduklah," ucap wanita itu.

Karin memberanikan diri memandangnya. Betapa cantiknya wanita di depannya ini. Dari rambut hingga pakaian mewahnya terlihat sangat cocok.

"Dia siapa, Mas?" bisik Karin.

"Sttt, ayo duduk." Teguh menyuruh Karin untuk duduk kembali.

"Apa dia yang akan menjadi pendonor untuk suamiku?"

Karin menegang mendengar fakta itu karena Teguh masih belum memberitahu latar belakang atasannya. Karin sungguh tidak menyangka jika wanita di depannya ini adalah istri dari pria yang akan diberinya asi.

"Betul, Nyonya. Dia istri saya. Baru seminggu ini selesai melahirkan, tapi anak kami telah tiada," ucap Teguh.

"Apa kalian sudah setuju dengan syaratnya? Suamiku menginginkan asi selama masa perawatan. Pagi dan malam hari. Karena ini berhubungan dengan asi, kamu tenang saja. Istrimu bakal diberi makanan yang bergizi."

"Setuju, Nyonya. Saya setuju." Dipikiran Teguh hanya uang saja. Soal lain nanti ia pikirkan.

Wanita itu mengalihkan pandangan ke arah Karin. Meminta jawaban dari si pendonor. "Bagaimana denganmu?"

Teguh menyenggol lengan Karin. Ia membelalak agar istrinya ini tidak berubah pikiran di detik terakhir.

Karin mengangguk. "Iya, saya setuju."

"Bagus. Di mulai dari sekarang saja. Bawakan aku surat kontraknya." Wanita ini memerintahkan itu pada pelayan.

"Nyonya Sinta, ini surat kontraknya."

Sinta mengambil map tersebut, lalu menyodorkannya kepada Karin dan Teguh. "Kontraknya selama enam bulan. Pembayaran 10 persen akan diterima setelah penandatanganan kontrak ini. Selanjutnya akan dibayarkan perminggu."

"Setuju." Teguh langsung membubuhkan tanda tangan di atas kontrak tersebut dan menyuruh istrinya melakukan hal sama.

Sinta tersenyum, lalu mengambil surat kontrak itu lagi. "Bawa ... ."

"Karin, Nyonya." Karin ingat ia belum memperkenalkan diri.

"Aku Sinta." Wanita ini tersenyum. "Ikutlah bersama pelayan. Suamiku sudah menunggu di kamar."

"Ayo, pergilah. Mas tunggu kamu di luar," ucap Teguh.

Karena sudah sepakat dan surat kontrak pun telah ditandatangani, Karin ikut dengan pelayan, sedangkan Teguh menerima proses pembayaran sebesar 10 persen dari Sinta.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Renita April
Scrool aja kak ke bawah
goodnovel comment avatar
siti latifah
buka bab berikutnya gimana ka
goodnovel comment avatar
Bala Lamarongan
semakin penasaran silahkan lanjutkan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 320

    Ucapan Damian membuat Dewa kepikiran. Sudah lama ia tidak mendengar nama Karin untuk dibahas. Ia telah menghentikan pencarian ketika wanita itu tidak mau memberi kabar. Bukan Dewa tidak berusaha, ia terus melacak keberadaan Karin, bahkan perusahaan Evernight. Namun, mendapat informasi saja sudah seperti mencari jarum ditumpukan jemari. Orang-orang biasa tidak banyak yang tahu. Itu karena pemimpin asli tidak senang menampakkan diri. Frustasi? Ya, Dewa hampir saja hancur karena tidak menemukan kekasihnya. Sekarang haruskah ia kembali berharap? Ia memandang jas serta cincin pertunangan di atas meja. Dalam minggu ini, ia akan bertunangan dengan Olivia Hart. Dua keluarga telah setuju dengan penyatuan ini. Dewa juga mendapat keuntungan karena ia butuh koneksi dari keluarga Hart. Teluk York itu perlu ia kuasai. Rencananya Dewa akan membuat resort, restoran serta pabrik makanan beku. Ia telah mengincarnya selama tiga tahun ini, tetapi belum juga dapat. Ada yang bilang teluk York itu dikuasa

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 319

    Malam ini, Damian tidak bisa menikmati pesta. Ia juga menolak wanita-wanita itu mendekat, dan memilih pergi, meski beberapa teman menyebutnya tidak asik. Damian tidak peduli soal itu. Yang terpenting adalah apakah wanita itu benar-benar Karin atau bukan. Ia tidak mungkin salah lagi. Tiga tahun ini mana mungkin ia bisa lupa.Damian mengirim pesan kepada Dewa dan Leonard. Mengajak keduanya bertemu di tempat biasa. Mereka punya club privat yang digunakan untuk membicarakan soal bisnis atau sekadar nongkrong saja. Hubungan ketiganya semakin akrab.“Tuan Damian, saya di sini.” Tom telah hadir, ia dipanggil malam-malam begini. Entah apa lagi yang dibuat oleh atasannya ini. Semenjak Karin tidak ada, Damian memang menjadi pria liar. Selalu saja ada masalah yang melibatkan dirinya. Entah itu wanita atau bertengkar dengan seorang teman.“Cek cctv di club ini. Temukan Karin,” pinta Damian.“No-Nona Karin?” Tom tidak percaya bahwa ia masih bisa mendengar nama tersebut.“Apa kurang jelas? Aku baru

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 318

    “Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Tuan Dewa. Aku sungguh tidak berani.” Wanita ini terintimidasi oleh ketiga orang wanita di depannya. “Oh, ya? Kamu pasti mendengar kabar pertunangan mengenai Nona Olivia Hart dan Tuan Dewa, tapi kamu masih saja mendekat. Dasar jalang. Hajar dia! Rusak wajahnya biar dia tidak berani muncul di depan Tuan Dewa.” “Kenapa kalian melakukan ini semua, hah? Aku sungguh tidak tahu soal pertunangan itu. Tuan Dewa hanya mengajakku makan malam, bukan berarti aku ini kekasihnya.” “Dia memberimu hadiah, dan kamu memamerkannya melalui media sosial. Itu namanya cari penyakit.” “Aku minta maaf, kumohon lepaskan aku.” Wanita ini menangkupkan kedua tangan memohon agar dilepaskan. “Kami juga tidak mau melakukan ini, tetapi Nona Olivia sangat marah.” Ketiga wanita itu tersenyum penuh arti, dan membuat korbannya semakin takut. “Tunggu apa lagi? Cepat rusak wajahnya.” Salah satu dari mereka memerintah kedua temannya. Salah satu pintu toilet terbuka, membuat s

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 317

    Dulunya Karin tidak berani datang ke club, meski dibawa oleh kekasihnya. Karena menurutnya tempat ini tidaklah baik. Ya, setengah benar dan setengahnya lagi tidak. Club atas rata-rata dikunjungi oleh orang-orang kaya yang dipakai untuk melepas penat, bisnis, dan banyak hal lainnya juga. Sebab itulah, Karin datang ke club ini demi hubungan sosial. Sebagai ketua klan yang baru, ia harus banyak menjalin hubungan dengan orang-orang tertentu melalui jaringan yang namanya koneksi.“Saya sudah memesan ruangan khusus, Nona,” ucap Alexa.“Aku ingin di sini dulu.” Karin memilih untuk duduk di meja yang paling sudut. Ia melihat pengunjung bergoyang di lantai dansa. “Pesankan aku minuman.”Alexa mengangguk, lalu memanggil pelayan. Ia memesan minuman untuk Karin dan untuknya juga. Bekerja bersama Karin tidaklah terlalu harus menurut pada aturan. Karin memperlakukan bawahannya seperti seorang teman. Alexa boleh duduk di sampingnya.“Saya pesankan minuman yang sedikit mengandung alkohol.”“Apa aku h

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 316

    Semua menunduk hormat kepada Karin yang merupakan kepala klan Evernight. Karena sudah tidak ada lagi yang menantang, maka Karin menetapkan aturan yang ia buat sendiri sebagai kepala keluarga yang baru. Termasuk menguasai perusahaan-perusahaan Evernight.“Seminggu lagi, kita kembali ke negara Creston. Kumpulkan semua perwakilan, kita akan membahas rapat di sana,” ucap Karin.“Baik, Nona.”Acara pengakuan ini berjalan lancar, meski ada sedikit kehebohan. Karin bisa mengendalikan semua, ia juga tidak lagi malu-malu. Ia telah menjadi Karin yang sangat berbeda. Bahkan namanya sekarang adalah Guzela Zeline Evernight. Nama itu memang terasa berat karena memikul beban nama klan Evernight.“Nona, kita akan kembali ke negara Creston,” ucap Alexa.“Aku tahu. Tidak perlu melakukan apa pun.” Tidak ada alasan harus menghubungi Dewa, Damian maupun Leonard. Hubungan itu harusnya telah berakhir. Masing-masing telah menjalani kehidupan baru, dan Karin juga ingin memulai kehidupan sebagai ketua klan. “

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 315

    Anggota klan Evernoght berada di luar, tepatnya di sebuah halaman yang telah disiapkan untuk melakukan taruhan panahan. Siapa pun yang menang, maka dia akan menjadi kepala klan selanjutnya. Memegang tampuk kekuasaan serta aset-aset keluarga Evernight.Taruhan yang sangat menggiurkan. Jika dengan pertandingan ini saja bisa menjadikan mereka sebagai kepala pelayan, maka tidak perlu adanya persaingan, bahkan saling menjatuhkan.Tentu saja hal ini membuat Alaric was-was. Ia baru saja selesai melatih Karin, tetapi pengalaman Josh tentu tidak bisa diremehkan. Dia pastinya sangat ahli dalam panahan. Bagaimana bisa Karin akan mengalahkannya?“Kemarilah, Edmund.”“Ya, Tuan.” Edmund mendekatkan diri, lalu Alaric berbisik. Ia mengangguk mengerti, lalu melangkah pergi.Alaric menghela napas panjang. Ia tidak akan membiarkan kepala klan dikuasai oleh yang bukan keturunan Ivana langsung. Ini hak Karin, bukan mereka.Masing-masing disuruh ke depan. Dua buah busur panah sudah tergeletak di meja, beri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status