공유

Bab 4

작가: Renita April
last update 게시일: 2026-05-29 15:05:42

Karin berbalik menghadap pembeli asinya. Kontrak telah ditandatangani, uang muka juga sudah diambil, lalu tagihan hutang yang telah jatuh tempo. Karin tidak bisa menolak, meski ia sangat ingin pergi dari sini.

Sudahlah jika memang seperti ini takdir hidupnya. Berbagai cara telah dilakukan, terlebih jika Teguh sampai marah, maka telinga Karin yang dibuat tuli lantaran suaminya pasti mengungkit soal hutang piutang. Memang selama ini Teguh yang membayar bunganya dan wajar jika pria itu kesal. Bukan dia yang berhutang, tetapi orang tua Karin. Pria yang tidak bertanggung jawab, menjual nama menantu serta anak kandungnya, kemudian lari begitu saja.

Karin mengangguk. "Di-Di mana kita lakukan?" tanyanya gugup.

"Sepertinya kamu belum siap," ucap Dewa.

"Maafkan saya, Tuan. Ini pertama kalinya, apalagi menyusui orang dewasa. Saya sedikit takut." Karin menunduk. Lalu ia mendengar suara tawa dari Dewa. "Apa ada yang lucu, Tuan?" Karin ingin menyumpal mulutnya sendiri. Kenapa ia harus bertanya?

"Kamu sudah bersuami, kan? Kamu pasti pernah menyusui suamimu atau suamimu pernah menghisap buah kembarmu itu."

Karin merona malu mendengarnya. Tentu saja Teguh pernah melakukannya, tetapi mereka suami istri, sedangkan Dewa adalah pria asing. Jelas sangat berbeda.

"Tapi, dia suami saya."

"Ya, begitulah yang harus kamu lakukan. Tapi, aku ingin kamu memperlakukanku seperti seorang anak." Dewa bangkit dari duduknya. "Ikuti aku."

Dengan patuh Karin mengikuti langkah pria ini. Dewa membawanya ke tempat tidur yang sekali lagi membuat Karin terbelalak. Kasur ini begitu besar, bahkan seukuran kasur di rumah saja tidak bisa dikatakan sepadan.

"Ke mari. Duduklah." Dewa menepuk sisi di sampingnya.

Karin memiliki keraguan untuk itu. Namun, ia kembali ingat tentang kewajiban sebagai pekerja. Karin meletakan tasnya di lantai, lalu duduk di samping Dewa.

Jantungnya berdegup kencang. Selain karena ketampanannya, juga aroma dari tubuh pria ini. Begitu memikat sampai Karin merasa malu berada di dekatnya.

Ia mengendus dirinya dulu. Takut jika Dewa sampai tidak tahan, dan itu tidak luput dari perhatian Dewa. Pria ini mendekat, Karin reflek mundur.

"Ma-Maaf, Tuan." Karin mendekat lagi. Ia memohon dalam hati agar detak jantungnya ini kembali normal. Bisa-bisa ia terkena serangan jantung karena Dewa.

Dewa mengendus lagi aroma tubuh Karin. Tidak ada bau keringat, juga parfum, tetapi Karin tidak bau. Ia tidak menemukan aroma yang membuat hidungnya terganggu.

"Kamu tidak bau."

Karin menunduk. "Maaf, Tuan."

"Tidak perlu minta maaf. Aku lebih suka kalau selagi bersamaku sebaiknya kamu nggak pakai parfum atau lotion. Kamu paham, kan?"

"Iya, saya paham."

"Santai saja, Karin. Lepas baju atasmu."

"Hah?" Karin dibuat kaget.

"Bagaimana caranya aku menyusu kalau kamu masih pakai baju?" ucap Dewa.

"Saya tinggal buka resleting ini saja. Kebetulan baju ini memang bisa untuk ibu menyusui."

"Aku tahu, tapi aku tidak menyukainya."

"Tapi, Tuan. Kalau saya buka, saya akan ... ." Baju dress ini kalau dibuka, maka bisa dikatakan Karin hanya memakai dalaman saja.

Karin tidak melanjutkan ucapannya karena Dewa sudah melangkah ke arah lemari pakaian. Ia mengambil kimono handuk di sana, lalu menyerahkannya kepada Karin.

"Ganti pakai ini. Lepas juga penghalang asetmu."

"I-Iya." Karin bergegas mengambil kimono tersebut.

"Kamar mandinya di sana." Dewa menunjukkan.

Bergegas Karin masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan kimono handuk yang Dewa berikan. Ia juga menyanggul rambutnya tinggi-tinggi agar tidak menghalangi proses menyusui karena Dewa bilang ia ingin diperlakukan seperti bayi.

Rasa gugup kembali menghantui ketika Karin telah bertemu pandang dengan Dewa. Ia berjalan perlahan sampai Karin ingin Dewa terus jauh dari langkahnya. Sayangnya harapan tersebut sia-sia karena Karin telah berdiri di depan pria ini.

"Mau minum dulu?" tanya Dewa.

Karin mengangguk cepat. Dewa menuangkan segelas air yang memang tersedia di kamarnya. Ia menyodorkan gelas tersebut dan Karin meneguk airnya sampai habis.

"Terima kasih, Tuan." Karin mengembalikan gelas itu lagi.

"Bisa kita mulai sekarang? Aku sudah haus."

"Iya, bisa."

"Duduklah dan tunjukkan aset kembarmu," pinta Dewa.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (5)
goodnovel comment avatar
Lanang Dewe
baru sampai bab 5,sudah tidak bisa dibuka
goodnovel comment avatar
TELLY KASIAHE
adu penasaran ni, lanjutkan cerita nya dong...
goodnovel comment avatar
Murniaty Murni
buka dong kunci supa uy a tdk penasaran kita
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 213

    Karin diturunkan tepat di gerbang kediaman Eden Voss. Sebelum masuk, Dewa menyentuh bibir kekasihnya dalam waktu lama sampai penjaga gerbang heran sendiri. Mereka bahkan mengetuk kaca mobil untuk mencari tahu siapa gerangan tamu tak dikenal ini. Begitu melihat Karin yang turun, barulah penjaga tersenyum dan merasa tidak enak.“Selamat pagi, Pak,” sapanya, lalu meminta masuk.Masih setengah jam lagi sebelum pukul 10 pagi. Karin yakin jika Eden Voss sudah bangun. Karena hari ini hanya jalan-jalan saja, Karin pun menunggu di ruang tamu.“Kamu sudah datang rupanya. Siapa yang mengantarmu?”Karin menoleh, ia menyapa Eden dulu. “Itu Dewa.”“Bukannya kalian sudah putus?”“Siapa yang mengatakan itu? Aku dan dia baik-baik saja.”Tangan Eden mengepal. “Kamu sungguh suka dengan dia?”“Ya, begitulah.” Karin tersenyum. “Oh, ya, kita mau ke mana?”“Ke wahana permainan.”“Oh.” Karin sempat heran kenapa Eden malah mau ke wahana. Ah, ia tahu sebabnya. Karena terlalu sibuk, Eden pasti tidak punya waktu

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 212

    Karin baru terbangun di pukul tujuh pagi, padahal harus buru-buru bersiap dikarenakan hari ini ada jadwal bersama dengan Eden Voss. Ia mengecek ponselnya, tidak ada pesan dari pria itu. Karin mengembuskan napas lega karena ia bebas membuat sarapan hari ini.Harusnya ini tidak akan terjadi karena Karin juga mau membuatkan Dewa sarapan pagi, tetapi pria itu membuatnya bergadang tadi malam. Karin mengusap bahu serta punggung belakangnya. Semalam, Dewa puas menggigit dan mengecup seluruh tubuhnya. Bahkan bagian di bawah sana terasa lecet karena air liur yang pria itu berikan.Pintu kamar terbuka, pelayan masuk dengan membawa pakaian ganti. Ia tersenyum saat melihat Karin sudah bangun.“Selamat pagi, Nona.”“Di mana dia?”“Tuan sudah berada di ruang makan. Beliau menunggu Nona.”“Tolong bantu aku berberes. Hari ini, aku mau jalan-jalan.”“Tentu, Nona.” Pelayan itu segera memanggil rekannya untuk membantu Karin merias diri. Karin belum terlalu lihai mendandani diri sendiri. Itu sebabnya, ia

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 211

    Dalam perjalanan, baik Karin maupuan Dewa sama-sama membisu. Terlebih dengan pertengkaran tadi pagi yang belum kunjung usai.“Dari mana kamu tahu lokasiku?” tanya Karin.Dewa memandangnya, tetapi bola matanya tanpa sengaja mengarah pada dua buah ranum milik Karin. Kaos yang dipakai kekasihnya itu basah, dua bagian itu terlihat mencuat. Dewa mengusap wajah. Bila dilihat dari penampilannya, Karin jelas tidak memakai dalaman.“Kamu bekerja tanpa memakai dalaman?”“Hah?” Karin terkesiap, lalu menurunkan pandangan ke bawah. Ia sadar pakaiannya telah basah. Asinya belum sempat di pompa lagi. Karin mengeratkan jaket yang ia kenakan. “Dalamanku basah tadi.”“Jadi, kamu sengaja tidak memakai apa pun. Apa kamu tidak berpikir jika semua orang bisa melihat milikmu itu?”“Aku memakai jaket. Kamu juga tahu sendiri asiku ini keluar sangat banyak.”“Berita tentang Paula dan diriku sudah dihapus. Jangan cemburu lagi, aku tidak punya hubungan apa pun dengannya.”“Terserah saja kalau kamu mau berhubunga

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 210

    Karin pernah mendengar betapa kejamnya dunia hiburan itu. Orang-orang bisa melakukan apa saja demi menjadi bintang terkenal. Sudah menjadi rahasia umum jika koneksi itu bagian paling kuat seorang bintang bertahan. Bahkan kalah dari kualitas akting. Namun, Karin di sini bukan mau menjadi orang terkenal itu, ia hanya ingin merasakan pengalaman saja. Lagi pula ia belum pernah mendapat kesempatan yang seperti ini, bahkan cita-cita menjadi karyawan kantoran juga angan sesaat. Asisten sutradara memberi arahan apa saja yang harus Karin lakukan sebagai pasangan sewaan Eden karena cerita kali ini, Eden membuat kekasihnya cemburu. Karin tidak perlu bicara. Ia hanya perlu bergelayut manja pada sang aktor saja. “Apa kamu sudah mengerti, Nona?” tanya pria itu. “Ya, aku siap sekarang.” “Oke, kita mulai syutingnya.” Semua kru siap mengambil gambar, begitu pula sutradara yang telah berada di depan sebuah televisi kecil serta toa di tangan. Ia mulai menginstruksikan agar adegan dimulai. Lalu Kari

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 209

    "Kalian tidak harus menjauh dariku kalau hanya ingin bicara saja, kan?" ucap Eden, yang menyusul Karin dan Mia."Kamu sendiri kenapa di sini? Mau bergosip dengan kami sesama perempuan?" Mia mencibir."Sekarang Karin adalah asistenku, dia selalu harus berada di dekatku. Tidak ada hubungannya denganmu.""Hal seperti ini pun kalian harus bertengkar. Kamu perlu apa, Eden?" tanya Karin."Kamu belum memberiku makan.""Hanya mengisi perutmu saja, kamu perlu Karin?" Mia mendengus mendengar ucapan Eden. Dia sudah dewasa dan bisa makan sendiri bila lapar. "Jangan mau ditindas olehnya, Karin. Kamu ini asisten, bukan pengasuh.""Aku suka menjadi pengasuhnya." Karin tersenyum, lalu pergi.Eden terkekeh sembari memandang adiknya yang kesal. "Kamu bisa dengar sendiri, kan?" "Huh!" Mia memutuskan pergi karena Karin juga bekerja. Jika ia terus berada di tempat syuting, yang ada Eden terus membuat masalah. Karin cukup menikmati pekerjaan dan berkenalan dengan beberapa kru film. Dari sini ia juga mend

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 208

    Dalam satu waktu, wanita di masa lalu hadir, lalu Greyson Sinclair sakit. Di dunia memang ada yang namanya kebetulan, tetapi kebetulan yang satu ini menimpa tiga pria yang sama-sama mencintai seorang wanita bernama Karin. Untuk itulah Damian juga ikut bergabung dalam obrolan ini. Ia baru saja tiba. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas.“Kamu sungguh cucu yang berbakti,” ucap Dewa.“Hanya beliau yang kupunya.” Damian bersandar di sofa. Ia lelah bukan karena menjaga kakeknya karena sepanjang malam pria tua itu tidur. Damian terus memikirkan Karin serta nasib hubungannya ini.“Tidakkah menurutmu ini sangat kebetulan? Kamu baru saja kembali, lalu kakekmu jatuh sakit.”“Kepala pelayan sudah memberitahuku. Keluarga Shaw memang berbicara dengan kakekku. Mereka menekannya dengan alasan hutang budi. Kakekku ingin aku menikahi Shanaya Shaw agar hutang budi ini lekas berakhir. Ia bebas, tetapi aku menderita. Ya, sebagai cucu, aku harus berkorban. Sejak orang tuaku tiada, dia yang mera

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status