MasukKarin berbalik menghadap pembeli asinya. Kontrak telah ditandatangani, uang muka juga sudah diambil, lalu tagihan hutang yang telah jatuh tempo. Karin tidak bisa menolak, meski ia sangat ingin pergi dari sini.
Sudahlah jika memang seperti ini takdir hidupnya. Berbagai cara telah dilakukan, terlebih jika Teguh sampai marah, maka telinga Karin yang dibuat tuli lantaran suaminya pasti mengungkit soal hutang piutang. Memang selama ini Teguh yang membayar bunganya dan wajar jika pria itu kesal. Bukan dia yang berhutang, tetapi orang tua Karin. Pria yang tidak bertanggung jawab, menjual nama menantu serta anak kandungnya, kemudian lari begitu saja. Karin mengangguk. "Di-Di mana kita lakukan?" tanyanya gugup. "Sepertinya kamu belum siap," ucap Dewa. "Maafkan saya, Tuan. Ini pertama kalinya, apalagi menyusui orang dewasa. Saya sedikit takut." Karin menunduk. Lalu ia mendengar suara tawa dari Dewa. "Apa ada yang lucu, Tuan?" Karin ingin menyumpal mulutnya sendiri. Kenapa ia harus bertanya? "Kamu sudah bersuami, kan? Kamu pasti pernah menyusui suamimu atau suamimu pernah menghisap buah kembarmu itu." Karin merona malu mendengarnya. Tentu saja Teguh pernah melakukannya, tetapi mereka suami istri, sedangkan Dewa adalah pria asing. Jelas sangat berbeda. "Tapi, dia suami saya." "Ya, begitulah yang harus kamu lakukan. Tapi, aku ingin kamu memperlakukanku seperti seorang anak." Dewa bangkit dari duduknya. "Ikuti aku." Dengan patuh Karin mengikuti langkah pria ini. Dewa membawanya ke tempat tidur yang sekali lagi membuat Karin terbelalak. Kasur ini begitu besar, bahkan seukuran kasur di rumah saja tidak bisa dikatakan sepadan. "Ke mari. Duduklah." Dewa menepuk sisi di sampingnya. Karin memiliki keraguan untuk itu. Namun, ia kembali ingat tentang kewajiban sebagai pekerja. Karin meletakan tasnya di lantai, lalu duduk di samping Dewa. Jantungnya berdegup kencang. Selain karena ketampanannya, juga aroma dari tubuh pria ini. Begitu memikat sampai Karin merasa malu berada di dekatnya. Ia mengendus dirinya dulu. Takut jika Dewa sampai tidak tahan, dan itu tidak luput dari perhatian Dewa. Pria ini mendekat, Karin reflek mundur. "Ma-Maaf, Tuan." Karin mendekat lagi. Ia memohon dalam hati agar detak jantungnya ini kembali normal. Bisa-bisa ia terkena serangan jantung karena Dewa. Dewa mengendus lagi aroma tubuh Karin. Tidak ada bau keringat, juga parfum, tetapi Karin tidak bau. Ia tidak menemukan aroma yang membuat hidungnya terganggu. "Kamu tidak bau." Karin menunduk. "Maaf, Tuan." "Tidak perlu minta maaf. Aku lebih suka kalau selagi bersamaku sebaiknya kamu nggak pakai parfum atau lotion. Kamu paham, kan?" "Iya, saya paham." "Santai saja, Karin. Lepas baju atasmu." "Hah?" Karin dibuat kaget. "Bagaimana caranya aku menyusu kalau kamu masih pakai baju?" ucap Dewa. "Saya tinggal buka resleting ini saja. Kebetulan baju ini memang bisa untuk ibu menyusui." "Aku tahu, tapi aku tidak menyukainya." "Tapi, Tuan. Kalau saya buka, saya akan ... ." Baju dress ini kalau dibuka, maka bisa dikatakan Karin hanya memakai dalaman saja. Karin tidak melanjutkan ucapannya karena Dewa sudah melangkah ke arah lemari pakaian. Ia mengambil kimono handuk di sana, lalu menyerahkannya kepada Karin. "Ganti pakai ini. Lepas juga penghalang asetmu." "I-Iya." Karin bergegas mengambil kimono tersebut. "Kamar mandinya di sana." Dewa menunjukkan. Bergegas Karin masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan kimono handuk yang Dewa berikan. Ia juga menyanggul rambutnya tinggi-tinggi agar tidak menghalangi proses menyusui karena Dewa bilang ia ingin diperlakukan seperti bayi. Rasa gugup kembali menghantui ketika Karin telah bertemu pandang dengan Dewa. Ia berjalan perlahan sampai Karin ingin Dewa terus jauh dari langkahnya. Sayangnya harapan tersebut sia-sia karena Karin telah berdiri di depan pria ini. "Mau minum dulu?" tanya Dewa. Karin mengangguk cepat. Dewa menuangkan segelas air yang memang tersedia di kamarnya. Ia menyodorkan gelas tersebut dan Karin meneguk airnya sampai habis. "Terima kasih, Tuan." Karin mengembalikan gelas itu lagi. "Bisa kita mulai sekarang? Aku sudah haus." "Iya, bisa." "Duduklah dan tunjukkan aset kembarmu," pinta Dewa."Teguh, ada yang mencarimu!" teriak seorang pria yang bergegas menemui Teguh di kantornya. Sekarang pria itu telah mendapat ruangan sendiri. Jabatan yang mendadak diberikan memang membuat rekan-rekan Teguh yang lain terkejut. "Siapa?" tanya Teguh dengan gayanya. Merasa hebat karena baru saja naik jabatan. Namun, Teguh tidak memberitahu jika gajinya sama dengan gaji kepala proyek. Hanya memerhatikan pekerjaan kuli bangunan saja, Teguh mendapat uang banyak. Rekannya ini mengedikan bahu. "Aku tidak tahu. Tapi, kepala proyek sangat menghormatinya. Dia juga cantik.""Jangan-jangan istriku," ucap Teguh."Kamu punya istri cantik?" Temannya kagum. Teguh baru saja naik jabatan dan istrinya pun sangat cantik."Tidak mungkin Karin datang ke sini. Lebih tidak mungkin lagi kepala proyek sampai menyambutnya dengan baik. Siapa dia?" Teguh tampak berpikir. "Daripada terus menduga-duga seperti itu, lebih baik lekas temui beliau. Jangan sampai membuat wanita cantik itu menunggu terlalu lama.""Benar
Tidak pernah sekalipun pintu ruangan kantor Dewa diketuk dalam keadaan yang terburu-buru. Sudah pasti ada tamu tak diundang yang sedang berkunjung, dan bila tamu tersebut mengetuk dengan gelisah itu berarti orang tersebut punya hubungan dekat dengan pemilik ruangan ini. Dewa yang tengah menyusu menghentikan kegiatan sementaranya, lalu Karin bergegas memakai pakaiannya kembali. "Siapa di sana?" tanya Karin. Timbul perasaan takut dalam benaknya. "Tenang saja. Biar aku yang mengurusnya," ucap Dewa. Pria ini berjalan ke depan, lalu memutar kunci. Pintu langsung terbuka, membuat Dewa mundur selangkah karena kaget tiba-tiba pintu didorong begitu saja. Ia berdecak ketika mendapati istrinya yang datang. "Apa-apaan ini, Sinta? Kamu mau membuatku jatuh?"Namun, Sinta tidak memedulikan ucapan Dewa. Ia berjalan masuk dan mendapati Karin di dalam. Tatapannya tajam penuh intimidasi. Meski Karin mencoba kuat menghadapinya, tetap saja ia kalah. Dewa menutup pintu rapat agar karyawan di luar tida
Siapa yang mengira jika Karin bisa mengucapkan kata demikian. Ini sedikit membuat Sinta kaget. Wanita yang tampak lemah, rupanya punya nyali juga. "Wanita miskin sepertimu tidak layak bersanding denganku," ucap Sinta. "Itu artinya Nyonya tidak perlu takut. Bukankah Nyonya sendiri yang menyetujui Tuan Dewa menyentuhku.""Kamu hanya bekerja!" Pandangan Sinta tajam menatap Karin seolah ia ingin lagi menamparnya. "Tentu saja aku bekerja." Karin sama sekali tidak mau mundur. Ia memang miskin, tetapi tidak mau orang lain meremehkannya. "Tamparan ini suatu saat nanti akan aku balas.""Apa maksudmu?" Ini membuat Sinta terkejut. Wanita ini sangat pandai menyembunyikan dirinya. Dia polos, tetapi berbisa. "Saat ini aku sedang menantikan makan siangku. Aku tidak keberatan jika Nyonya bersedia duduk bersama.""Tidak sudi. Duduk bersamamu hanya membuat tubuhku gatal." "Aku tidak akan memaksa." Karin duduk kembali di kursinya. Sinta mengepalkan tangan, ia berbalik, lalu berjalan keluar. Ia yan
Begitu bangun, Karin tidak lagi menemukan Teguh berada di sampingnya. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ah, ia kesiangan. Mungkin karena semalam tidur terlalu larut. Padahal pagi ini Karin harus pergi ke bank. Bergegas ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sebelum itu, langkah Karin terhenti. Ia melihat makanan di atas meja. Ini pasti Teguh yang menyiapkan. Karin senang mendapati perhatian dari suaminya. Ia makan lebih dulu, barulah pergi mandi. Di dalam bilik mandi, Karin merasakan kedua buah ranumnya terisi penuh dan berat. Bahkan menetes ketika ia sentuh. Jika ditekan, maka terus tumpah. "Kenapa semakin hari isinya makin banyak?" gumam Karin. Padahal yang ia beri asi adalah pria dewasa. Karin tidak mengerti soal ini. "Aku harus siap-siap." Hampir saja lupa jika Karin harus pergi. Ia mempercepat mandinya, lalu bersiap. Karin juga membawa pakaian ganti karena sepertinya air asinya akan terus keluar. "Ah, aku keluarkan saja dulu." Karin mengambil gelas, meleta
"Kita bagi masing-masing setengah. Lagi pula untuk apa kamu memegang uang? Nanti juga kamu berikan padaku untuk keperluan rumah," ucap Karin. "Sayang, lebih cepat lebih baik dalam melunasi hutang. Uang ini akan kupakai untuk membayar cicilan bunganya. Kamu jangan khawatir. Kita ini sedang membangun kehidupan yang lebih layak. Setelah uang terkumpul, kita bisa membeli rumah sendiri. Dengan begitu soal biaya sewa tidak pusing lagi," jawab Teguh. Soal ini memang benar. Bila dilihat dari jumlah uang yang terima bisa untuk membeli rumah kecil. Rencana memang seperti itu apabila uang hasil kerja ini tidak digunakan untuk keperluan lain. "Kita pulang dulu ke rumah. Ada yang mau aku bicarakan padamu," ucap Karin. Soal uang memang harus benar-benar dibahas secara teliti. Teguh setuju untuk membahas masalah uang apalagi sekarang gajinya sudah naik berkali-kali lipat. Teguh juga lelah menjadi pria yang terus dimanfaatkan, dan sekarang saatnya mulai menghitung semua kerugian. "Karena aku sud
Ini namanya kepuasan di mana otak merespon rasa lelah dan puas pada tubuh. Karin dan Dewa baru saja menyelesaikan ronde kedua yang durasinya lebih lama dari permainan pertama. Karin dibuat berkali-kali keluar hingga seprai dibuat basah. Sekarang tinggal rasa kantuk, tubuh meminta untuk istirahat, tetapi Karin harus pulang. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Pesan dari Teguh pun sudah ada di ponsel Karin. "Aku mau mandi dulu sebelum pulang." Karin tidak akan membiarkan Teguh tahu mengenai dirinya yang tidur bersama Dewa. "Santailah dulu. Jangan terburu-buru," ucap Dewa, ia menyesap winenya lagi. Tubuh yang berkeringat itu dibiarkan begitu saja. Masih tampak seksi. Sayangnya waktu tidak mendukung untuk menikmati keindahan itu lebih lama. Sudah larut malam begini, Karin harus pulang kepada suaminya. Pesan baru telah masuk di ponsel Dewa. Istri tercintanya di rumah sedang bertanya mengenai keberadaannya, dan Dewa membalas dengan singkat jika dirinya tengah bersama Karin saat ini. "Ah,







