MasukAsi ini disedot sampai sekering mungkin oleh Dewa. Di saat pria itu telah melepaskan bibir, Karin dapat melihat buah cherrynya berbentuk pipih. Ia meringis, sepertinya lecet karena terlalu lama mendekam dalam mulut Dewa.
Pria itu beranjak dari tempat tidur. Menyeka bibirnya dari sisa-sisa asi. Dewa bersendawa, ia menutup bibir karena tanpa sengaja terlihat oleh Karin. "Enak," ucapnya. Karin beringsut bangun, memperbaiki kimono handuknya yang melorot. Bagian pertama telah ia lakukan dan tinggal bagian kedua pada malam harinya. "Kamu baik-baik saja, kan? Apa sakit?" tanya Dewa. Karin mengangguk, ia tidak mau berbohong. Karena terlalu lama rasanya memang sedikit perih. Dewa berjalan ke arah lemari tidur. Ia menarik laci, mengambil beberapa lembar uang merah. "Ini ada uang untukmu." Dewa mengulurkannya kepada Karin. "Tidak perlu, Tuan. Suami saya sudah menerima uang muka." Karin tidak ingin memanfaatkan kebaikan Dewa yang nantinya malah membuatnya merasa tidak nyaman. Cukup sesuai kesepakatan saja. "Ambil saja. Beli obat dan pakaian dalaman baru." "Hah?" Karin bingung dengan ucapan Dewa. "Beli pakaian dalaman baru." "Maaf, Tuan." Ingin sekali Karin membenamkan diri agar Dewa tidak melihat raut wajah malunya. Ia memang sudah lama tidak membeli dalaman baru. Bahkan bagian segitiga ini saja harus dijahit karena sobek. Karin benar-benar malu. "Beli khusus untuk ibu menyusui. Kamu pasti akan nyaman memakainya. Nih, ambil. Jangan lupa beli obat dan makan. Rasa air susunya sangat enak. Rawat dengan benar dua aset kembarmu itu," ucap Dewa. Karena Dewa telah berkata demikian, maka Karin mengambil uang itu dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Ia menggenggamnya erat. Seumur hidup, Karin belum pernah diberi uang sebanyak ini. Ia akan menyimpannya dengan baik-baik. "Saya permisi dulu, Tuan," ucap Karin. Ia perlu memakai pakaiannya kembali. "Jangan lupa nanti malam. Kamu harus ada di sini sekitar pukul 10 malam," kata Dewa mengingatkan. "Baik, Tuan." Karin bergegas melangkah ke kamar mandi. Dewa tersenyum melihatnya dan ia pun segera berpakaian. Kemudian meninggalkan Karin seorang diri di kamar. "Uang ini sangat banyak," gumam Karin sembari menghitung tiap lembar yang Dewa berikan. Sekitar 30 lembar, padahal terlihat tipis. Mungkin karena lembarannya masih sangat baru. Suasana hati Karin yang senang menjadikannya lupa atas pekerjaan apa yang baru saja ia lakukan. Karin bergegas memakai baju, merapikan rambut, lalu keluar. Begitu berbalik, ia tidak menemukan Dewa, melainkan Sinta. Nyonya rumah ini yang tersenyum seakan memiliki tujuannya sendiri. "Nyo-Nyonya Sinta." Karin tergagap. Mungkinkah wanita ini akan marah setelah apa yang baru saja ia lakukan? Tapi, wanita ini dan suaminya yang menginginkannya juga. "Sudah selesai?" tanya Sinta. "Su-Sudah, Nyonya." Sinta tersenyum. "Ayo, turun. Aku sudah menyuruh pelayan membuatkan makanan sehat untukmu." "Ba-Baik." Karin menggenggam erat tas selempangnya, lalu mengikuti langkah Sinta. "Namamu Karin, kan?" "Betul, Nyonya." Semakin gelisah saja Karin dibuatnya. Wanita ini mau apa sebenarnya? "Menurutmu bagaimana dengan rumah ini?" tanya Sinta. "Oh, rumah Nyonya sangat bagus. Besar dan mewah." Karin menjawab dengan jujur. Rumah ini memang terlihat berkelas. "Kamu sudah bertemu suamiku. Bagaimana pendapatmu tentang dia?" "Hah?" Karin sedikit terkejut, lalu ia kembali menguasai diri. "Tuan Dewa sangat baik, Nyonya." Sinta menarik kedua sudut bibirnya ketika mendengar pendapat Karin. "Dia memang sedikit aneh. Sebab itulah ada beberapa orang yang memanfaatkannya." Sungguh Karin tidak mengerti dengan apa yang Sinta ucapkan. Mau menanggapi pun ia tidak tahu. Jadi lebih baik ia diam saja. "Lakukan tugasmu dengan baik," ucap Sinta. "Iya, Nyonya." Karin mengangguk. "Jangan mengkhayal lebih tinggi." "A-apa?" Sayangnya tanggapan Karin tidak didengar oleh Sinta karena wanita itu telah duduk di kursi makan. "Duduklah. Kita makan bersama." Sinta bertepuk tangan dua kali, lalu pelayan menarik kursi untuk Karin dan mempersilakannya. Karin duduk dengan canggung terlebih ada pelayan yang melayaninya. Makanan yang dihidangkan di meja memang sangat menggunggah selera. Bahkan saat ini perut Karin telah berbunyi. Sepotong daging serta kentang diberikan. Karin bingung bagaimana cara memakannya, ia memandang Sinta yang dengan mudah memotong daging steak tersebut. Karin mengambil pisau makan dan garpu, lalu menuruti langkah Sinta tadi. Namun, ketika ia memotong, daging itu malah bergeser dan gesekan tersebut menimbulkan bunyi. Para pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja, tertawa melihat Karin. Mereka berbisik-bisik dan Karin menyadari hal itu. "Diam!" Sinta memelototi mereka. "Bantu dia." "Baik, Nyonya." Salah satu pelayan membantu Karin memotong daging.Tidak pernah sekalipun pintu ruangan kantor Dewa diketuk dalam keadaan yang terburu-buru. Sudah pasti ada tamu tak diundang yang sedang berkunjung, dan bila tamu tersebut mengetuk dengan gelisah itu berarti orang tersebut punya hubungan dekat dengan pemilik ruangan ini. Dewa yang tengah menyusu menghentikan kegiatan sementaranya, lalu Karin bergegas memakai pakaiannya kembali. "Siapa di sana?" tanya Karin. Timbul perasaan takut dalam benaknya. "Tenang saja. Biar aku yang mengurusnya," ucap Dewa. Pria ini berjalan ke depan, lalu memutar kunci. Pintu langsung terbuka, membuat Dewa mundur selangkah karena kaget tiba-tiba pintu didorong begitu saja. Ia berdecak ketika mendapati istrinya yang datang. "Apa-apaan ini, Sinta? Kamu mau membuatku jatuh?"Namun, Sinta tidak memedulikan ucapan Dewa. Ia berjalan masuk dan mendapati Karin di dalam. Tatapannya tajam penuh intimidasi. Meski Karin mencoba kuat menghadapinya, tetap saja ia kalah. Dewa menutup pintu rapat agar karyawan di luar tida
Siapa yang mengira jika Karin bisa mengucapkan kata demikian. Ini sedikit membuat Sinta kaget. Wanita yang tampak lemah, rupanya punya nyali juga. "Wanita miskin sepertimu tidak layak bersanding denganku," ucap Sinta. "Itu artinya Nyonya tidak perlu takut. Bukankah Nyonya sendiri yang menyetujui Tuan Dewa menyentuhku.""Kamu hanya bekerja!" Pandangan Sinta tajam menatap Karin seolah ia ingin lagi menamparnya. "Tentu saja aku bekerja." Karin sama sekali tidak mau mundur. Ia memang miskin, tetapi tidak mau orang lain meremehkannya. "Tamparan ini suatu saat nanti akan aku balas.""Apa maksudmu?" Ini membuat Sinta terkejut. Wanita ini sangat pandai menyembunyikan dirinya. Dia polos, tetapi berbisa. "Saat ini aku sedang menantikan makan siangku. Aku tidak keberatan jika Nyonya bersedia duduk bersama.""Tidak sudi. Duduk bersamamu hanya membuat tubuhku gatal." "Aku tidak akan memaksa." Karin duduk kembali di kursinya. Sinta mengepalkan tangan, ia berbalik, lalu berjalan keluar. Ia yan
Begitu bangun, Karin tidak lagi menemukan Teguh berada di sampingnya. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ah, ia kesiangan. Mungkin karena semalam tidur terlalu larut. Padahal pagi ini Karin harus pergi ke bank. Bergegas ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sebelum itu, langkah Karin terhenti. Ia melihat makanan di atas meja. Ini pasti Teguh yang menyiapkan. Karin senang mendapati perhatian dari suaminya. Ia makan lebih dulu, barulah pergi mandi. Di dalam bilik mandi, Karin merasakan kedua buah ranumnya terisi penuh dan berat. Bahkan menetes ketika ia sentuh. Jika ditekan, maka terus tumpah. "Kenapa semakin hari isinya makin banyak?" gumam Karin. Padahal yang ia beri asi adalah pria dewasa. Karin tidak mengerti soal ini. "Aku harus siap-siap." Hampir saja lupa jika Karin harus pergi. Ia mempercepat mandinya, lalu bersiap. Karin juga membawa pakaian ganti karena sepertinya air asinya akan terus keluar. "Ah, aku keluarkan saja dulu." Karin mengambil gelas, meleta
"Kita bagi masing-masing setengah. Lagi pula untuk apa kamu memegang uang? Nanti juga kamu berikan padaku untuk keperluan rumah," ucap Karin. "Sayang, lebih cepat lebih baik dalam melunasi hutang. Uang ini akan kupakai untuk membayar cicilan bunganya. Kamu jangan khawatir. Kita ini sedang membangun kehidupan yang lebih layak. Setelah uang terkumpul, kita bisa membeli rumah sendiri. Dengan begitu soal biaya sewa tidak pusing lagi," jawab Teguh. Soal ini memang benar. Bila dilihat dari jumlah uang yang terima bisa untuk membeli rumah kecil. Rencana memang seperti itu apabila uang hasil kerja ini tidak digunakan untuk keperluan lain. "Kita pulang dulu ke rumah. Ada yang mau aku bicarakan padamu," ucap Karin. Soal uang memang harus benar-benar dibahas secara teliti. Teguh setuju untuk membahas masalah uang apalagi sekarang gajinya sudah naik berkali-kali lipat. Teguh juga lelah menjadi pria yang terus dimanfaatkan, dan sekarang saatnya mulai menghitung semua kerugian. "Karena aku sud
Ini namanya kepuasan di mana otak merespon rasa lelah dan puas pada tubuh. Karin dan Dewa baru saja menyelesaikan ronde kedua yang durasinya lebih lama dari permainan pertama. Karin dibuat berkali-kali keluar hingga seprai dibuat basah. Sekarang tinggal rasa kantuk, tubuh meminta untuk istirahat, tetapi Karin harus pulang. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Pesan dari Teguh pun sudah ada di ponsel Karin. "Aku mau mandi dulu sebelum pulang." Karin tidak akan membiarkan Teguh tahu mengenai dirinya yang tidur bersama Dewa. "Santailah dulu. Jangan terburu-buru," ucap Dewa, ia menyesap winenya lagi. Tubuh yang berkeringat itu dibiarkan begitu saja. Masih tampak seksi. Sayangnya waktu tidak mendukung untuk menikmati keindahan itu lebih lama. Sudah larut malam begini, Karin harus pulang kepada suaminya. Pesan baru telah masuk di ponsel Dewa. Istri tercintanya di rumah sedang bertanya mengenai keberadaannya, dan Dewa membalas dengan singkat jika dirinya tengah bersama Karin saat ini. "Ah,
Perlahan jari tersebut membelai, mencoba masuk ke tempat yang diperuntukkan bagi lelaki berpredikat sah. Namun, Karin membiarkan pria lain menyentuh, dan itu terasa begitu menantang serta bergairah. "Ahh ... ." Karin mengigit bibir bawahnya karena tanpa sengaja bersuara. "Jangan gigit bibirmu. Lepaskan saja karena aku lebih suka mendengar suaramu. Itu berarti kamu menikmatinya," ucap Dewa. "Pelan-pelan saja," pinta Karin. "Soal itu, aku lebih suka mengikuti ritme yang diberikan tubuhku." Jari yang setengah masuk itu kini sepenuhnya berada di dalam tubuh Karin. Menggelitik pelan, memancing gelora tubuh wanita ini. Pandangan Karin memohon pada Dewa. Tangannya mencengkeram jas yang masih pria itu kenakan. Dewa tersenyum, ia mendaratkan kecupan di bibir yang dibalas oleh Karin. Kecupan hangat yang mendalam dan memikat. Bersentuhan dengan pria yang tampan seumur hidup tidak pernah terlintas di pikiran Karin. "Ahh, Tuan." Karin memeluk Dewa. Ia memejamkan mata, merasakan tubuh ini ya







