تسجيل الدخولSinta tersenyum ketika Karin sudah berhasil menikmati hidangan di meja. Dari sini terlihat jika wanita itu belum pernah makan makanan seenak ini. Karin terlihat sangat lahap sampai ia lupa diri jika semua orang yang ada di ruang makan ini memperhatikan.
"Bagaimana? Makanannya enak, kan?" tanya Sinta. Karin mengangguk. "Iya, Nyonya. Makanannya memang sangat enak." Sinta menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Kalau mau, kamu bisa membawa pulang semua makanan ini." "Tidak usah, Nyonya. Terima kasih sudah menawarkan." Namun, Sinta mengabaikan hal itu. Ia menyuruh pelayan membungkuskan makanan di atas meja untuk dibawa pulang oleh Karin. "Untuk makan di rumahmu. Bukankah kamu akan ke sini lagi nanti malam?" Karin mengangguk. Tangannya terulur mengambil paper bag yang disodorkan oleh pelayan. "Terima kasih, Nyonya." "Untuk hal kecil begini saja bukan apa-apa bagiku. Kamu cukup menikmati apa yang kuberikan dan jangan mengharapkan lebih. Seekor kera tidak bisa menggapai bulan, meski dia pandai memanjat," ucap Sinta. Kata-kata Sinta sangat baik, tetapi Karin merasa ada maksud dari ucapan tersebut. Ia yakin sekali jika Sinta tengah memperingatkannya. Hanya saja Karin tidak ingin berlama-lama di rumah ini. Ia harus segera pergi. Karin bangkit berdiri. "Nyonya, terima kasih atas makanannya. Saya permisi dulu." "Antar Nona Karin sampai pintu depan." Sinta memerintahkan itu kepada pelayan. "Ayo, Nona Karin." Pelayan segera mengiringi sampai ke pintu depan. Di luar tembok rumah ini, Teguh sudah menunggu dan memang dia belum beranjak sampai Karin selesai. "Sudah selesai rupanya. Uang muka sudah diterima. Kita ke rumah sakit dulu untuk melunasi hutang," ucap Teguh. "Uangnya cukup?" tanya Karin. "Cukup untuk membayar lunas hutang di rumah sakit dan cicil hutang orang tuamu." Karin tersenyum mendengarnya. "Ayo, kita ke rumah sakit." "Tadi saja sok banget bilang nggak mau. Sekarang malah semangat," kata Teguh. Dengan uang muka, keluarga Karin bisa bernapas lega. Paling tidak satu hutang sudah lunas. Tinggal yang lain. Rencananya juga Teguh akan melunasi hutang-hutang selanjutnya seperti hutang bahan makanan di warung dekat rumah. Jadi, gajinya bulan depan bisa untuk makan. Sampai di rumah sakit, Teguh dan Karin langsung menuju bagian administrasi, membayar lunas hutang melahirkan. Ya, meski kesedihan kembali menghampiri Karin yang harus kehilangan buah hatinya. Keadaanlah yang membuat bayi itu tidak bertahan. "Hutang satu sudah lunas. Ini ada uang sisanya. Kamu bayar hutang kita di warung dan sama tetangga. Yang sisa ini buat aku bayar cicilan sama rentenir," ucap Teguh sembari memberi sebagian uang kepada Karin. "Bang Teguh, aku mau ditemenin belanja." "Nanti dulu, Karin. Uang kita masih belum cukup. Tunggu aku dapat gaji, baru kamu boleh belanja." Karin menggeleng. "Sekarang aja, Sayang. Tuan Dewa kasih Karin uang buat beli salep sama dalaman baru. Beliau tidak suka sama dalamanku yang sudah usang." "Baik juga ternyata si bos. Ya, sudah. Kita pergi belanja sekarang." "Ayo, Sayang!" Karin tersenyum senang. Keduanya menuju pusat perbelanjaan, dan begitu tiba, Karin dan Teguh langsung menuju toko yang menjual perlengkapan wanita. Karin memilih dalaman yang cocok untuk ibu menyusui. Ia memilih pengaitnya yang berada di depan sehingga tidak perlu lagi mencopot habis dalaman ketika menyusui Dewa. Tidak lupa juga baju baru dan lagi-lagi Karin memilih pakaian berkancing depan. Ia membeli salep karena buah cherrynya ini terasa perih karena hisapan Dewa. "Sepertinya sudah cukup. Sayang, habis ini kita makan ya. Karin mau makan di tempat itu." Karin menunjuk restoran fast food yang sudah lama ingin ia cicipi makanannya. Teguh tertawa geli melihat tingkah istrinya. "Senang kan punya banyak uang? Kamu bisa beli pakaian dan makan makanan enak. Coba kamu menolak untuk menyusui Tuan Dewa, sampai sekarang kita tidak bisa menikmati ini semua. Pikiran kita masih dihantui sama hutang piutang." "Karin tahu kok. Tapi —" "Aku tahu apa maksudmu, Karin. Kamu hanya menyusui, tidak lebih. Aku sanggup menerimanya. Tidak masalah bagiku," ucap Teguh. Karin tersenyum mendengarnya. "Kamu sudah lama bersusah payah karena hutang orang tuaku. Dengan aku bekerja, hutang itu bakal lunas." "Makanya, Sayang. Kamu harus nurut kalau aku suruh." Teguh menggandeng tangan Karin, lalu mengajaknya ke restoran cepat saji.Siapa yang mengira jika Karin bisa mengucapkan kata demikian. Ini sedikit membuat Sinta kaget. Wanita yang tampak lemah, rupanya punya nyali juga. "Wanita miskin sepertimu tidak layak bersanding denganku," ucap Sinta. "Itu artinya Nyonya tidak perlu takut. Bukankah Nyonya sendiri yang menyetujui Tuan Dewa menyentuhku.""Kamu hanya bekerja!" Pandangan Sinta tajam menatap Karin seolah ia ingin lagi menamparnya. "Tentu saja aku bekerja." Karin sama sekali tidak mau mundur. Ia memang miskin, tetapi tidak mau orang lain meremehkannya. "Tamparan ini suatu saat nanti akan aku balas.""Apa maksudmu?" Ini membuat Sinta terkejut. Wanita ini sangat pandai menyembunyikan dirinya. Dia polos, tetapi berbisa. "Saat ini aku sedang menantikan makan siangku. Aku tidak keberatan jika Nyonya bersedia duduk bersama.""Tidak sudi. Duduk bersamamu hanya membuat tubuhku gatal." "Aku tidak akan memaksa." Karin duduk kembali di kursinya. Sinta mengepalkan tangan, ia berbalik, lalu berjalan keluar. Ia yan
Begitu bangun, Karin tidak lagi menemukan Teguh berada di sampingnya. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ah, ia kesiangan. Mungkin karena semalam tidur terlalu larut. Padahal pagi ini Karin harus pergi ke bank. Bergegas ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sebelum itu, langkah Karin terhenti. Ia melihat makanan di atas meja. Ini pasti Teguh yang menyiapkan. Karin senang mendapati perhatian dari suaminya. Ia makan lebih dulu, barulah pergi mandi. Di dalam bilik mandi, Karin merasakan kedua buah ranumnya terisi penuh dan berat. Bahkan menetes ketika ia sentuh. Jika ditekan, maka terus tumpah. "Kenapa semakin hari isinya makin banyak?" gumam Karin. Padahal yang ia beri asi adalah pria dewasa. Karin tidak mengerti soal ini. "Aku harus siap-siap." Hampir saja lupa jika Karin harus pergi. Ia mempercepat mandinya, lalu bersiap. Karin juga membawa pakaian ganti karena sepertinya air asinya akan terus keluar. "Ah, aku keluarkan saja dulu." Karin mengambil gelas, meleta
"Kita bagi masing-masing setengah. Lagi pula untuk apa kamu memegang uang? Nanti juga kamu berikan padaku untuk keperluan rumah," ucap Karin. "Sayang, lebih cepat lebih baik dalam melunasi hutang. Uang ini akan kupakai untuk membayar cicilan bunganya. Kamu jangan khawatir. Kita ini sedang membangun kehidupan yang lebih layak. Setelah uang terkumpul, kita bisa membeli rumah sendiri. Dengan begitu soal biaya sewa tidak pusing lagi," jawab Teguh. Soal ini memang benar. Bila dilihat dari jumlah uang yang terima bisa untuk membeli rumah kecil. Rencana memang seperti itu apabila uang hasil kerja ini tidak digunakan untuk keperluan lain. "Kita pulang dulu ke rumah. Ada yang mau aku bicarakan padamu," ucap Karin. Soal uang memang harus benar-benar dibahas secara teliti. Teguh setuju untuk membahas masalah uang apalagi sekarang gajinya sudah naik berkali-kali lipat. Teguh juga lelah menjadi pria yang terus dimanfaatkan, dan sekarang saatnya mulai menghitung semua kerugian. "Karena aku sud
Ini namanya kepuasan di mana otak merespon rasa lelah dan puas pada tubuh. Karin dan Dewa baru saja menyelesaikan ronde kedua yang durasinya lebih lama dari permainan pertama. Karin dibuat berkali-kali keluar hingga seprai dibuat basah. Sekarang tinggal rasa kantuk, tubuh meminta untuk istirahat, tetapi Karin harus pulang. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Pesan dari Teguh pun sudah ada di ponsel Karin. "Aku mau mandi dulu sebelum pulang." Karin tidak akan membiarkan Teguh tahu mengenai dirinya yang tidur bersama Dewa. "Santailah dulu. Jangan terburu-buru," ucap Dewa, ia menyesap winenya lagi. Tubuh yang berkeringat itu dibiarkan begitu saja. Masih tampak seksi. Sayangnya waktu tidak mendukung untuk menikmati keindahan itu lebih lama. Sudah larut malam begini, Karin harus pulang kepada suaminya. Pesan baru telah masuk di ponsel Dewa. Istri tercintanya di rumah sedang bertanya mengenai keberadaannya, dan Dewa membalas dengan singkat jika dirinya tengah bersama Karin saat ini. "Ah,
Perlahan jari tersebut membelai, mencoba masuk ke tempat yang diperuntukkan bagi lelaki berpredikat sah. Namun, Karin membiarkan pria lain menyentuh, dan itu terasa begitu menantang serta bergairah. "Ahh ... ." Karin mengigit bibir bawahnya karena tanpa sengaja bersuara. "Jangan gigit bibirmu. Lepaskan saja karena aku lebih suka mendengar suaramu. Itu berarti kamu menikmatinya," ucap Dewa. "Pelan-pelan saja," pinta Karin. "Soal itu, aku lebih suka mengikuti ritme yang diberikan tubuhku." Jari yang setengah masuk itu kini sepenuhnya berada di dalam tubuh Karin. Menggelitik pelan, memancing gelora tubuh wanita ini. Pandangan Karin memohon pada Dewa. Tangannya mencengkeram jas yang masih pria itu kenakan. Dewa tersenyum, ia mendaratkan kecupan di bibir yang dibalas oleh Karin. Kecupan hangat yang mendalam dan memikat. Bersentuhan dengan pria yang tampan seumur hidup tidak pernah terlintas di pikiran Karin. "Ahh, Tuan." Karin memeluk Dewa. Ia memejamkan mata, merasakan tubuh ini ya
Kamar yang disewa Dewa bahkan lebih besar dua kali lipat dari kamar tidur milik Karin. Bahkan ini lebih bagus dari rumahnya. Hampir semua perlengkapan ada termasuk lemari pendingin yang isinya penuh dengan minuman serta makanan ringan. Ada bar kecil yang hanya bisa Karin lihat dalam media sosial tempat para selebgram memamerkan kekayaannya. Bahkan dilengkapi dengan kolam renang kecil yang langsung menghadap pada pemandangan jalan. Berada di kamar ini untuk beberapa jam bukankah membuang uang? Ya, bagi Karin seperti itu, tetapi Dewa jelas tidak. "Kamu boleh pakai kamar mandinya. Bersenang-senanglah dulu. Aku akan pesan makanan," ucap Dewa. Karin mengiakan meski sebenarnya ia sudah mandi sore. Mau mandi berapa kali pun Karin tidak menolak terlebih di kamar mandi punya tempat untuk berendam. Ini kesempatan merasakan seperti wanita kaya yang berendam dengan air sabun serta wewangian. Ternyata benar jika hotel ini menyiapkan sejenis aromatherapy di kamar mandi. Karin lekas mengisi ai







