LOGINJantung Karin berdetak tak menentu. Haruskah ia menunjukkan bagian sensitif dari miliknya ini? Dalam benak hati Karin yang sesungguhnya ia tidak rela melakukannya, tetapi keadaan telah memaksa. Seumur hidup barulah Teguh yang pernah melihat dan mencicipi bagian kembar ini. Sekarang, ia harus merelakannya untuk disentuh oleh orang lain.
Perlahan Karin menarik ikatan kimono handuk yang ia kenakan. Menurunkan jubah itu secara perlahan hingga tampaklah dua aset kembarnya yang penuh akan asi. Dewa meneguk ludah melihat gurat-gurat hijau yang menandakan jika bagian itu telah penuh dengan cairan yang ia butuhkan. "Apa kamu mengizinkan jika aku tidur di pangkuanmu?" tanya Dewa. Tentu saja tidak. Karin ingin menjawab demikian, tetapi bibirnya tidak mengizinkan itu. Ia mengangguk karena Dewa telah membayar dan ia hanya harus melaksanakan kewajiban. "Tuan ingin diperlakukan seperti bayi, kan? Kalau begitu, tidurlah di sini." Karin mengulurkan tangan sebagai penompang kepala. "Santai saja, Karin. Anggap saja aku seperti seorang bayi." Karin juga mau seperti itu, tetapi tidak bisa. Pria sebesar Dewa mau dianggap bayi itu sama saja dengan hal konyol. "Iya, Tuan." Karin terpaksa mengiakan saja. Ia ingin ini semua cepat berlalu. Pemberi asi telah setuju. Karin menyambut Dewa dalam dekapan tangan, menempatkan pria itu ke sisinya. Situasi canggung tidak dapat dihindari. Dewa mengerti, ia mengecup aset Karin yang seperti cherry. Karin kaget, ia gugup, dan Dewa menyadari hal itu. "Kamu tenang, ya. Aku akan mulai sekarang." Karin mengangguk. "Iya, Tuan." Bahkan ia telah merasakan buah kembarnya itu telah meneteskan asi karena kepenuhan. "Bentuk ini sangat indah. Bulat dan terisi penuh," ucap Dewa yang berhasil membuat Karin tersipu malu. "Sebaiknya Tuan segera minum." "Karena kamu yang meminta, aku tidak akan segan lagi." Dewa mengecup dulu buah cherry milik Karin, kemudian memasukannya ke mulut. Ia mulai menyedot dan Karin merasakan ada yang tersedot dari tubuhnya. Karin baru dua hari merasakan tarikan mulut bayi dan sekarang ia merasakan tarikan dari bibir pria lain yang jelas menunjukkan reaksi berbeda. Tarikan Dewa mengundang hasrat. Asi itu diteguk seperti meminum air putih yang dapat menghilangkan haus. Tangan Dewa menggapai satu bagian yang belum terjamah, dan itu membuat Karin kaget. "Biasanya bayi seperti ini, kan? Karin, usap juga rambutku. Perlakukan aku seperti bayi," pinta Dewa. "I-Iya, Tuan." Tangan Karin terulur ke puncak kepala Dewa. Ia membelai lembut seperti merawat seorang anak. Sementara tangan Dewa memijat sisi lain dari aset kembar Karin. Karena pijatan itu sampai membuat airnya menetes. Karin meringis saat tarikan Dewa semakin kuat. Ia menahan diri untuk berada di posisi tegak, tetapi Dewa menginginkannya untuk memberi pelukan. "Jangan menahan diri. Apa kamu merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini? Kamu bisa berbaring kalau mau." "Iya, saya mau, Tuan." Dewa beringsut bangun, ia merebahkan Karin ke tempat tidur. Dengan perhatian, ia menempatkan bantal di bawah kepala wanita itu. "Buat dirimu nyaman. Aku tahu kamu belum terbiasa," ucap Dewa. Ia memundurkan diri, lalu kembali mencucup milik Karin, dan satu tangan kembali memijat. Ini tidak benar karena Karin merasakan sensasi aneh. Ini seperti ia tengah bersama Teguh. Ketika suami dan dirinya sama-sama hanyut dalam gelora. Tahan Karin! Kata-kata itu terus Karin ucapkan dalam hati. Wajah tampan, tubuh yang menggoda, terlebih pria ini tengah menyentuh sebagian dan melihat dengan jelas tubuh bagian atas tanpa pelindung. Wanita mana yang tidak terbakar oleh hasrat? Karin bahkan menggigit bibir bawahnya agar tidak bersuara. Puas di sebelah, Dewa berpindah ke sebelahnya lagi dan Karin tanpa sadar mengeluarkan nada suara yang tidak seharusnya. "Ahh!" Ia langsung menutup bibir. "Maaf, Tuan." Untungnya Dewa mengabaikan suara dan ucapan permintaan maaf itu. Pria ini tengah asik meneguk asi. "Mama," ucap Dewa, ia mendongak memandang Karin, lalu memeluk. Kemudian kembali menyusu. Astaga! Karin belum pernah melihat pria yang gagah, tetapi memiliki kelainan seperti ini. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Dewa sehingga dia ingin diperlakukan seperti seorang anak? Karin belum memiliki penjelasan tentang itu.Tidak pernah sekalipun pintu ruangan kantor Dewa diketuk dalam keadaan yang terburu-buru. Sudah pasti ada tamu tak diundang yang sedang berkunjung, dan bila tamu tersebut mengetuk dengan gelisah itu berarti orang tersebut punya hubungan dekat dengan pemilik ruangan ini. Dewa yang tengah menyusu menghentikan kegiatan sementaranya, lalu Karin bergegas memakai pakaiannya kembali. "Siapa di sana?" tanya Karin. Timbul perasaan takut dalam benaknya. "Tenang saja. Biar aku yang mengurusnya," ucap Dewa. Pria ini berjalan ke depan, lalu memutar kunci. Pintu langsung terbuka, membuat Dewa mundur selangkah karena kaget tiba-tiba pintu didorong begitu saja. Ia berdecak ketika mendapati istrinya yang datang. "Apa-apaan ini, Sinta? Kamu mau membuatku jatuh?"Namun, Sinta tidak memedulikan ucapan Dewa. Ia berjalan masuk dan mendapati Karin di dalam. Tatapannya tajam penuh intimidasi. Meski Karin mencoba kuat menghadapinya, tetap saja ia kalah. Dewa menutup pintu rapat agar karyawan di luar tida
Siapa yang mengira jika Karin bisa mengucapkan kata demikian. Ini sedikit membuat Sinta kaget. Wanita yang tampak lemah, rupanya punya nyali juga. "Wanita miskin sepertimu tidak layak bersanding denganku," ucap Sinta. "Itu artinya Nyonya tidak perlu takut. Bukankah Nyonya sendiri yang menyetujui Tuan Dewa menyentuhku.""Kamu hanya bekerja!" Pandangan Sinta tajam menatap Karin seolah ia ingin lagi menamparnya. "Tentu saja aku bekerja." Karin sama sekali tidak mau mundur. Ia memang miskin, tetapi tidak mau orang lain meremehkannya. "Tamparan ini suatu saat nanti akan aku balas.""Apa maksudmu?" Ini membuat Sinta terkejut. Wanita ini sangat pandai menyembunyikan dirinya. Dia polos, tetapi berbisa. "Saat ini aku sedang menantikan makan siangku. Aku tidak keberatan jika Nyonya bersedia duduk bersama.""Tidak sudi. Duduk bersamamu hanya membuat tubuhku gatal." "Aku tidak akan memaksa." Karin duduk kembali di kursinya. Sinta mengepalkan tangan, ia berbalik, lalu berjalan keluar. Ia yan
Begitu bangun, Karin tidak lagi menemukan Teguh berada di sampingnya. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ah, ia kesiangan. Mungkin karena semalam tidur terlalu larut. Padahal pagi ini Karin harus pergi ke bank. Bergegas ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Sebelum itu, langkah Karin terhenti. Ia melihat makanan di atas meja. Ini pasti Teguh yang menyiapkan. Karin senang mendapati perhatian dari suaminya. Ia makan lebih dulu, barulah pergi mandi. Di dalam bilik mandi, Karin merasakan kedua buah ranumnya terisi penuh dan berat. Bahkan menetes ketika ia sentuh. Jika ditekan, maka terus tumpah. "Kenapa semakin hari isinya makin banyak?" gumam Karin. Padahal yang ia beri asi adalah pria dewasa. Karin tidak mengerti soal ini. "Aku harus siap-siap." Hampir saja lupa jika Karin harus pergi. Ia mempercepat mandinya, lalu bersiap. Karin juga membawa pakaian ganti karena sepertinya air asinya akan terus keluar. "Ah, aku keluarkan saja dulu." Karin mengambil gelas, meleta
"Kita bagi masing-masing setengah. Lagi pula untuk apa kamu memegang uang? Nanti juga kamu berikan padaku untuk keperluan rumah," ucap Karin. "Sayang, lebih cepat lebih baik dalam melunasi hutang. Uang ini akan kupakai untuk membayar cicilan bunganya. Kamu jangan khawatir. Kita ini sedang membangun kehidupan yang lebih layak. Setelah uang terkumpul, kita bisa membeli rumah sendiri. Dengan begitu soal biaya sewa tidak pusing lagi," jawab Teguh. Soal ini memang benar. Bila dilihat dari jumlah uang yang terima bisa untuk membeli rumah kecil. Rencana memang seperti itu apabila uang hasil kerja ini tidak digunakan untuk keperluan lain. "Kita pulang dulu ke rumah. Ada yang mau aku bicarakan padamu," ucap Karin. Soal uang memang harus benar-benar dibahas secara teliti. Teguh setuju untuk membahas masalah uang apalagi sekarang gajinya sudah naik berkali-kali lipat. Teguh juga lelah menjadi pria yang terus dimanfaatkan, dan sekarang saatnya mulai menghitung semua kerugian. "Karena aku sud
Ini namanya kepuasan di mana otak merespon rasa lelah dan puas pada tubuh. Karin dan Dewa baru saja menyelesaikan ronde kedua yang durasinya lebih lama dari permainan pertama. Karin dibuat berkali-kali keluar hingga seprai dibuat basah. Sekarang tinggal rasa kantuk, tubuh meminta untuk istirahat, tetapi Karin harus pulang. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Pesan dari Teguh pun sudah ada di ponsel Karin. "Aku mau mandi dulu sebelum pulang." Karin tidak akan membiarkan Teguh tahu mengenai dirinya yang tidur bersama Dewa. "Santailah dulu. Jangan terburu-buru," ucap Dewa, ia menyesap winenya lagi. Tubuh yang berkeringat itu dibiarkan begitu saja. Masih tampak seksi. Sayangnya waktu tidak mendukung untuk menikmati keindahan itu lebih lama. Sudah larut malam begini, Karin harus pulang kepada suaminya. Pesan baru telah masuk di ponsel Dewa. Istri tercintanya di rumah sedang bertanya mengenai keberadaannya, dan Dewa membalas dengan singkat jika dirinya tengah bersama Karin saat ini. "Ah,
Perlahan jari tersebut membelai, mencoba masuk ke tempat yang diperuntukkan bagi lelaki berpredikat sah. Namun, Karin membiarkan pria lain menyentuh, dan itu terasa begitu menantang serta bergairah. "Ahh ... ." Karin mengigit bibir bawahnya karena tanpa sengaja bersuara. "Jangan gigit bibirmu. Lepaskan saja karena aku lebih suka mendengar suaramu. Itu berarti kamu menikmatinya," ucap Dewa. "Pelan-pelan saja," pinta Karin. "Soal itu, aku lebih suka mengikuti ritme yang diberikan tubuhku." Jari yang setengah masuk itu kini sepenuhnya berada di dalam tubuh Karin. Menggelitik pelan, memancing gelora tubuh wanita ini. Pandangan Karin memohon pada Dewa. Tangannya mencengkeram jas yang masih pria itu kenakan. Dewa tersenyum, ia mendaratkan kecupan di bibir yang dibalas oleh Karin. Kecupan hangat yang mendalam dan memikat. Bersentuhan dengan pria yang tampan seumur hidup tidak pernah terlintas di pikiran Karin. "Ahh, Tuan." Karin memeluk Dewa. Ia memejamkan mata, merasakan tubuh ini ya







