Share

Chapter 2

Author: Nona Cantik
last update publish date: 2026-05-20 00:52:13

"T-tolong..." bisik Aline parau, suaranya hampir habis tersapu angin malam. "Aku punya adik yang harus kuhidupi... Aku tidak akan mengatakan sepatah kata pun. Aku bersumpah demi ibuku."

​Xavier tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya justru turun, memperhatikan bagaimana bibir ranum Aline bergetar hebat karena ketakutan. Tatapannya kemudian beralih menyusuri leher jenjang wanita itu yang terekspos, bergerak turun ke arah bahu mulusnya yang kini kotor oleh debu dan sedikit lecet akibat terseret tadi.

​Ada kilat aneh yang melintas di manik mata kelam Xavier—sebuah ketertarikan instan yang bercampur dengan kegelapan gairah yang pekat.

​Perlahan, Xavier melepaskan cengkeramannya di dagu Aline. Namun, alih-alih menjauh, jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit itu bergerak turun. Dengan sentuhan yang sangat pelan namun menuntut, ujung jarinya membelai leher Aline, membuat wanita itu spontan meremang dan menahan napasnya.

​"Sumpah tidak ada gunanya bagiku, Tikus Kecil," bisik Xavier, suaranya semakin rendah dan berat, berembus tepat di depan wajah Aline. "Hanya orang mati dan... orang yang sepenuhnya berada di bawah kendaliku yang bisa menjaga rahasia."

​Xavier kembali berdiri tegak, membiarkan kehangatan tubuhnya yang sempat mengintimidasi Aline menghilang digantikan angin malam yang dingin. Ia berbalik memunggungi Aline, lalu merogoh saputangan sutra dari saku jasnya untuk menyeka sisa debu dermaga di tangannya.

​"Bawa dia ke mansion," perintah Xavier dingin kepada anak buahnya tanpa menoleh lagi. "Jangan sampai ada satu lecet pun bertambah di tubuhnya. Jika dia terluka, kepala kalian taruhannya."

​"Baik, Tuan Xavier," jawab para pria berbadan kekar itu serempak.

​Aline terbelalak. Sebelum ia sempat mencerna apa yang terjadi, tubuhnya kembali diangkat paksa dari lantai beton. Kali ini, mereka tidak menyeretnya, melainkan memapahnya dengan cepat menuju deretan mobil hitam mewah yang terparkir tak jauh dari sana.

​"Lepaskan! Mau dibawa ke mana aku?!" jerit Aline histeris, mencoba memberontak namun sia-sia.

​Dari balik kaca mobil Rolls-Royce hitam yang perlahan bergerak membelah kegelapan malam, Xavier memperhatikan sosok Aline yang dimasukkan ke dalam mobil pengawal dengan tatapan datar.

Perjalanan menuju kediaman Xavier terasa seperti mimpi buruk yang panjang bagi Aline. Di dalam mobil hitam yang melaju menembus keheningan malam, kedua tangan Aline bertautan erat di atas pangkuannya. Ia terus memandangi keluar jendela, memperhatikan jalanan kota yang perlahan berubah dari area pelabuhan yang kumuh menjadi kawasan perbukitan elite yang sepi dan eksklusif.

​Hingga akhirnya, mobil itu berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi. Begitu gerbang terbuka otomatis, sebuah mansion megah bergaya klasik Eropa menyambut pandangan Aline. Tempat itu begitu indah, namun di mata Aline, kemegahan bangunan itu tak ubahnya seperti sangkar emas yang siap mengurungnya selamanya.

​Cklek.

​Pintu mobil dibuka dari luar. "Turun," perintah salah satu pria berbadan kekar dengan nada yang tidak sedap dibantah.

​Aline melangkah turun dengan tubuh yang masih gemetar. Kakinya yang lecet terasa perih, membuatnya sedikit pincang saat dituntun masuk melewati lorong-lorong mansion yang sunyi. Ia dibawa naik ke lantai atas, hingga langkah mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda berbahan kayu ek pekat yang sangat besar.

​"Masuklah. Tuan Xavier sudah menunggumu di dalam," ucap pria itu sembari membukakan pintu, lalu mendorong bahu Aline pelan agar melangkah masuk sebelum menutup kembali pintu tersebut dari luar.

​Brak.

​Suara pintu yang terkunci rapat di belakangnya membuat nyali Aline menciut. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ini bukan kamar tidur biasa, melainkan sebuah ruang kerja pribadi yang sangat luas dan mewah, didominasi oleh warna hitam, abu-abu gelap, dan pencahayaan yang temaram. Aroma tembakau mahal dan parfum maskulin yang familier langsung menyergap indra penciuman Aline.

​Di ujung ruangan, membelakangi jendela kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota, sebuah kursi kebesaran berbahan kulit hitam tampak terisi.

​Xavier duduk di sana. Ia sudah menanggalkan jas formalnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam satin dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka, mengekspos sedikit dada bidangnya yang kokoh. Gulungan lengan kemejanya sebatas siku memperlihatkan urat-urat tangan yang tegas dan sebuah jam tangan emas yang berkilau mewah. Di sela jarinya, sebatang cerutu menyala, mengepulkan asap tipis ke udara.

​Xavier menyesap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan sembari menatap Aline yang berdiri mematung di dekat pintu.

​"Kemari, Aline," panggil Xavier. Suaranya yang berat dan serak bergema di ruangan yang sunyi itu, terdengar seperti sebuah titah yang mutlak.

​Aline menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa berat, namun kilat berbahaya di mata Xavier membuatnya tidak berani membangkang. Dengan langkah kecil dan kepala tertunduk, Aline berjalan mendekat hingga menyisakan jarak beberapa langkah di depan meja kerja jati yang besar milik sang mafia.

​"M-mau apa Anda membawaku ke sini? Tolong lepaskan aku... aku tidak akan melaporkan apa pun ke polisi, aku bersumpah," cicit Aline, nyaris menangis lagi karena atmosfer di ruangan itu terasa begitu menghimpit dadanya.

​Xavier meletakkan cerutunya di atas asbak kristal. Ia bangkit dari kursi kebesarannya secara perlahan. Postur tubuhnya yang tinggi tegap melangkah memutari meja kerja, mengikis jarak di antara mereka hingga kini ia berdiri tepat di hadapan Aline.

​"Polisi?" Xavier terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang terdengar sangat seksi namun mengerikan di saat yang sama. "Tikus Kecil, akulah hukum di kota ini. Polisi tidak akan bisa membantumu."

​Xavier mengulurkan tangan, meraih seuntai rambut panjang Aline yang berantakan lalu memainkannya dengan ujung jari. Tatapannya bergerak turun, memperhatikan kardigan Aline yang robek dan mengekspos kulit bahunya yang mulus namun kini ternoda beberapa goresan merah.

​"Aku sudah memesan agar tidak ada satu pun lecet baru di tubuhmu," bisik Xavier, suaranya mendadak mendingin saat jemarinya menyentuh luka gores di bahu Aline. "Siapa yang membuat luka ini? Anak buahku?"

​"T-tidak... ini karena aku tersandung tadi," jawab Aline cepat, takut jika penolakannya justru memicu kemarahan pria kejam di depannya.

​Mendengar jawaban itu, ekspresi tegang di wajah Xavier sedikit mengendur, berganti dengan kilat gairah yang kembali pekat. Ia melangkah satu rentang lebih dekat, membuat tubuh Aline otomatis mundur hingga pinggulnya terbentur pinggiran meja kerja kayu di belakangnya. Aline terperangkap.

​Xavier menumpukan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuh Aline, mengunci wanita itu di dalam kuasanya. Ia menundukkan wajahnya, hingga Aline bisa merasakan napas hangat Xavier yang beraroma mint dan tembakau menerpa permukaan wajahnya.

​"Baguslah kalau begitu," bisik Xavier lembut, namun jemarinya tiba-tiba mencengkeram pinggang Aline dengan posesif, menarik tubuh mungil itu agar semakin merapat pada dada bidangnya. "Karena mulai malam ini, tubuhmu, napasmu, dan seluruh hidupmu adalah milikku. Kau tidak boleh terluka tanpa izinku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 9

    Sesampainya di mansion, pelayan langsung menyajikan makan malam mewah yang masih hangat di ruang makan pribadi Xavier. Atmosfer ruangan yang temaram, berpadu dengan suara gemercik sisa hujan di luar, membuat ketegangan di antara keduanya semakin pekat.​Aline baru saja hendak menarik kursi di sebelah meja, namun suara bariton Xavier langsung menghentikan gerakannya.​"Ke mari, Aline. Duduk di sini," titah Xavier pendek, menepuk paha kokohnya sendiri yang terbalut celana bahan hitam.​Aline membeku. Wajahnya seketika memanas. "T-Tuan, aku bisa duduk di kursi sendiri—"​"Aku tidak suka membantah, Tikus Kecil," potong Xavier dengan tatapan mata elang yang menggelap, memancarkan dominasi mutlak yang tidak sedap ditolak.​Dengan tubuh gemetar dan pasrah, Aline terpaksa menuruti perintah itu. Ia melangkah mendekat dan perlahan mendudukkan pantatnya di atas pangkuan Xavier. Begitu tubuh mungilnya mendarat, lengan kekar Xavier langsung melingkar posesif di pinggang ramping Aline, mengunci wan

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 8

    Xavier menarik Aline dengan langkah lebar membelah aula, mengabaikan tatapan bingung dan bisik-bisik dari para tamu elite lainnya. Pria itu sama sekali tidak berniat membiarkan "tikus kecilnya" menjadi konsumsi visual pria-pria hidung belang itu lebih lama lagi. Hidangan makan malam mewah yang baru saja disajikan di meja bundar mereka tinggalkan begitu saja tanpa disentuh sedikit pun.​Begitu pintu kaca besar restoran terbuka, hawa dingin langsung menyergap kulit Aline yang terekspos. Di luar, hujan deras rupanya telah mengguyur kota, menciptakan tirai air yang lebat diiringi suara gemuruh guntur yang saling bersahutan.​Para pengawal Xavier dengan sigap langsung membuka payung hitam besar, melindungi sang Tuan Mafia dan Aline dari terpaan air hujan saat mereka melangkah cepat menuju Rolls-Royce hitam yang sudah menyala di depan lobi.​Brak.​Pintu mobil ditutup dengan bantingan pelan namun kokoh oleh pengawal dari luar, seketika mengunci mereka berdua dalam keheningan kabin mobil yan

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 7

    Aline merasakan sedikit cubitan di hatinya. Setelah semua perlakuan intim dan klaim posesif yang dilakukan Xavier di mansion—bahkan sampai mencium lehernya sebelum berangkat tadi—mendengar dirinya disebut "hanya seorang pelayan baru" di depan orang lain terasa sangat menyebalkan.​Tanpa sadar, Aline melirik tajam ke arah samping wajah Xavier. Bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah menyala itu refleks maju beberapa milimeter, membentuk lengkungan manyun yang menggemaskan karena kesal.​Dasar pria sombong, angkuh, menyebalkan! Huhh! batin Aline menggerutu, meluapkan kekesalannya dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia merasa dipermainkan oleh ego tinggi sang mafia.​Namun, Aline lupa satu hal. Xavier adalah seorang predator dengan insting dan penglihatan setajam elang. Tidak ada satu pun detail di sekitarnya yang bisa lolos dari pengawasan pria itu, termasuk perubahan ekspresi sekecil apa pun di wajah tawanannya.​Xavier yang sedang mendengarkan ucapan rekan bisnisnya

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 6

    Malam harinya, kamar tidur mewah itu berubah menjadi ruang transformasi bagi Aline. Tiga orang penata busana dan rias profesional yang dikirim langsung oleh Xavier baru saja menyelesaikan tugas mereka.​Saat Aline melangkah di depan cermin besar setinggi langit-langit, ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajahnya natural namun tegas, menonjolkan mata indahnya yang kini tak lagi sembap, serta bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah bata segar. Rambut panjangnya ditata bergelombang jatuh dengan anggun di atas bahu.​Namun, perhatian Aline sepenuhnya tertuju pada gaun yang melekat di tubuhnya. Itu adalah gaun malam berbahan satin premium berwarna merah menyala—persis seperti warna darah yang segar. Potongan gaun itu begitu pas memeluk lekuk tubuh rampingnya, namun bagian dadanya berpotongan rendah (low-cut) dan belahan roknya menjulang tinggi hingga ke paha.​Aline menelan ludah, wajahnya merona merah karena malu. Kedua tangannya refleks bergerak menutupi bagian dadanya y

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 5

    Xavier melepaskan kungkungannya, lalu mundur selangkah. Ia merapikan sedikit kerah kemeja hitam satinnya yang sempat kusut, kembali menampilkan sosok penguasa yang tenang dan tak tersentuh.​Mata elangnya beralih menatap piring sarapan mewah yang masih mengepul di atas meja marmer, lalu beralih kembali pada Aline yang masih berdiri gemetar bersandar di dinding.​"Duduk," titah Xavier, suaranya kembali datar namun sarat akan titah mutlak.​Aline, dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya, melangkah ragu dengan kaki yang lemas. Ia menarik kursi di sebelah Xavier dan duduk dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah pria yang baru saja merenggut paksa kendali hidupnya.​Xavier tidak menyentuh garpu atau pisau di dekat piringnya. Ia justru memajukan sedikit kursi marmernya, memperkecil jarak duduk mereka hingga lengan kekarnya bersentuhan langsung dengan bahu Aline yang terbalut gaun putih tipis.​"Suapi aku makan," bisik Xavier rendah, suaranya berat dan serak tepat

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 4

    "Tolong, Tuan Xavier... Aku mohon..." Aline langsung terjatuh dari kursinya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tepat di samping kaki Xavier.​Kedua tangan Aline bergetar hebat saat ia memberanikan diri mencengkeram ujung celana bahan Xavier. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat pasi.​"Aku tidak tahu apa-apa tentang uang itu. Demi Tuhan, aku bahkan sudah tidak bertemu dengan Paman Hendra selama berbulan-bulan!" tangis Aline pecah, suaranya terdengar begitu parau dan putus asa. "Jangan kurung aku di sini... Aku harus bekerja, aku harus membiayai pengobatan adikku di rumah sakit. Kalau aku hilang, adikku bisa meninggal, Tuan..."​Xavier tidak langsung merespons. Ia menurunkan pandangannya, menatap datar ke arah Aline yang bersimpuh di bawahnya dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangisan putus asa wanita itu sama sekali tidak mengusik dinding es di hatinya, namun pemandangan Aline yang memohon di bawah kakinya memberikan kepuasan terse

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status