MasukSesampainya di mansion, pelayan langsung menyajikan makan malam mewah yang masih hangat di ruang makan pribadi Xavier. Atmosfer ruangan yang temaram, berpadu dengan suara gemercik sisa hujan di luar, membuat ketegangan di antara keduanya semakin pekat.Aline baru saja hendak menarik kursi di sebelah meja, namun suara bariton Xavier langsung menghentikan gerakannya."Ke mari, Aline. Duduk di sini," titah Xavier pendek, menepuk paha kokohnya sendiri yang terbalut celana bahan hitam.Aline membeku. Wajahnya seketika memanas. "T-Tuan, aku bisa duduk di kursi sendiri—""Aku tidak suka membantah, Tikus Kecil," potong Xavier dengan tatapan mata elang yang menggelap, memancarkan dominasi mutlak yang tidak sedap ditolak.Dengan tubuh gemetar dan pasrah, Aline terpaksa menuruti perintah itu. Ia melangkah mendekat dan perlahan mendudukkan pantatnya di atas pangkuan Xavier. Begitu tubuh mungilnya mendarat, lengan kekar Xavier langsung melingkar posesif di pinggang ramping Aline, mengunci wan
Xavier menarik Aline dengan langkah lebar membelah aula, mengabaikan tatapan bingung dan bisik-bisik dari para tamu elite lainnya. Pria itu sama sekali tidak berniat membiarkan "tikus kecilnya" menjadi konsumsi visual pria-pria hidung belang itu lebih lama lagi. Hidangan makan malam mewah yang baru saja disajikan di meja bundar mereka tinggalkan begitu saja tanpa disentuh sedikit pun.Begitu pintu kaca besar restoran terbuka, hawa dingin langsung menyergap kulit Aline yang terekspos. Di luar, hujan deras rupanya telah mengguyur kota, menciptakan tirai air yang lebat diiringi suara gemuruh guntur yang saling bersahutan.Para pengawal Xavier dengan sigap langsung membuka payung hitam besar, melindungi sang Tuan Mafia dan Aline dari terpaan air hujan saat mereka melangkah cepat menuju Rolls-Royce hitam yang sudah menyala di depan lobi.Brak.Pintu mobil ditutup dengan bantingan pelan namun kokoh oleh pengawal dari luar, seketika mengunci mereka berdua dalam keheningan kabin mobil yan
Aline merasakan sedikit cubitan di hatinya. Setelah semua perlakuan intim dan klaim posesif yang dilakukan Xavier di mansion—bahkan sampai mencium lehernya sebelum berangkat tadi—mendengar dirinya disebut "hanya seorang pelayan baru" di depan orang lain terasa sangat menyebalkan.Tanpa sadar, Aline melirik tajam ke arah samping wajah Xavier. Bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah menyala itu refleks maju beberapa milimeter, membentuk lengkungan manyun yang menggemaskan karena kesal.Dasar pria sombong, angkuh, menyebalkan! Huhh! batin Aline menggerutu, meluapkan kekesalannya dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia merasa dipermainkan oleh ego tinggi sang mafia.Namun, Aline lupa satu hal. Xavier adalah seorang predator dengan insting dan penglihatan setajam elang. Tidak ada satu pun detail di sekitarnya yang bisa lolos dari pengawasan pria itu, termasuk perubahan ekspresi sekecil apa pun di wajah tawanannya.Xavier yang sedang mendengarkan ucapan rekan bisnisnya
Malam harinya, kamar tidur mewah itu berubah menjadi ruang transformasi bagi Aline. Tiga orang penata busana dan rias profesional yang dikirim langsung oleh Xavier baru saja menyelesaikan tugas mereka.Saat Aline melangkah di depan cermin besar setinggi langit-langit, ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajahnya natural namun tegas, menonjolkan mata indahnya yang kini tak lagi sembap, serta bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah bata segar. Rambut panjangnya ditata bergelombang jatuh dengan anggun di atas bahu.Namun, perhatian Aline sepenuhnya tertuju pada gaun yang melekat di tubuhnya. Itu adalah gaun malam berbahan satin premium berwarna merah menyala—persis seperti warna darah yang segar. Potongan gaun itu begitu pas memeluk lekuk tubuh rampingnya, namun bagian dadanya berpotongan rendah (low-cut) dan belahan roknya menjulang tinggi hingga ke paha.Aline menelan ludah, wajahnya merona merah karena malu. Kedua tangannya refleks bergerak menutupi bagian dadanya y
Xavier melepaskan kungkungannya, lalu mundur selangkah. Ia merapikan sedikit kerah kemeja hitam satinnya yang sempat kusut, kembali menampilkan sosok penguasa yang tenang dan tak tersentuh.Mata elangnya beralih menatap piring sarapan mewah yang masih mengepul di atas meja marmer, lalu beralih kembali pada Aline yang masih berdiri gemetar bersandar di dinding."Duduk," titah Xavier, suaranya kembali datar namun sarat akan titah mutlak.Aline, dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya, melangkah ragu dengan kaki yang lemas. Ia menarik kursi di sebelah Xavier dan duduk dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah pria yang baru saja merenggut paksa kendali hidupnya.Xavier tidak menyentuh garpu atau pisau di dekat piringnya. Ia justru memajukan sedikit kursi marmernya, memperkecil jarak duduk mereka hingga lengan kekarnya bersentuhan langsung dengan bahu Aline yang terbalut gaun putih tipis."Suapi aku makan," bisik Xavier rendah, suaranya berat dan serak tepat
"Tolong, Tuan Xavier... Aku mohon..." Aline langsung terjatuh dari kursinya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tepat di samping kaki Xavier.Kedua tangan Aline bergetar hebat saat ia memberanikan diri mencengkeram ujung celana bahan Xavier. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat pasi."Aku tidak tahu apa-apa tentang uang itu. Demi Tuhan, aku bahkan sudah tidak bertemu dengan Paman Hendra selama berbulan-bulan!" tangis Aline pecah, suaranya terdengar begitu parau dan putus asa. "Jangan kurung aku di sini... Aku harus bekerja, aku harus membiayai pengobatan adikku di rumah sakit. Kalau aku hilang, adikku bisa meninggal, Tuan..."Xavier tidak langsung merespons. Ia menurunkan pandangannya, menatap datar ke arah Aline yang bersimpuh di bawahnya dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangisan putus asa wanita itu sama sekali tidak mengusik dinding es di hatinya, namun pemandangan Aline yang memohon di bawah kakinya memberikan kepuasan terse







