Share

Chapter 4

Author: Nona Cantik
last update publish date: 2026-05-20 01:21:28

"Tolong, Tuan Xavier... Aku mohon..." Aline langsung terjatuh dari kursinya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tepat di samping kaki Xavier.

​Kedua tangan Aline bergetar hebat saat ia memberanikan diri mencengkeram ujung celana bahan Xavier. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat pasi.

​"Aku tidak tahu apa-apa tentang uang itu. Demi Tuhan, aku bahkan sudah tidak bertemu dengan Paman Hendra selama berbulan-bulan!" tangis Aline pecah, suaranya terdengar begitu parau dan putus asa. "Jangan kurung aku di sini... Aku harus bekerja, aku harus membiayai pengobatan adikku di rumah sakit. Kalau aku hilang, adikku bisa meninggal, Tuan..."

​Xavier tidak langsung merespons. Ia menurunkan pandangannya, menatap datar ke arah Aline yang bersimpuh di bawahnya dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangisan putus asa wanita itu sama sekali tidak mengusik dinding es di hatinya, namun pemandangan Aline yang memohon di bawah kakinya memberikan kepuasan tersendiri bagi jiwa dominannya.

​Perlahan, Xavier merendahkan tubuhnya. Ia mencengkeram kedua bahu mungil Aline, lalu menarik tubuh wanita itu dengan paksa agar kembali berdiri. Kekuatan tangan Xavier begitu besar hingga Aline sama sekali tidak bisa menghindar.

​Bruk.

​Xavier mendorong tubuh Aline hingga punggung wanita itu membentur dinding marmer ruang makan yang dingin. Sebelum Aline bisa menjauh, Xavier sudah mengunci tubuhnya dengan kedua lengan kokohnya, menatap Aline dari jarak yang sangat dekat.

​"Adikmu?" bisik Xavier, suaranya begitu rendah dan berat, berembus intim di depan wajah Aline yang basah oleh air mata. "Nyawa adikmu sekarang ada di tanganku, Aline. Satu jentikan jariku, maka seluruh mesin pencuci darah dan obat-obatan yang menopang hidupnya di rumah sakit akan dihentikan saat ini juga."

​"Jangan! Aku mohon, jangan sentuh adikku!" jerit Aline histeris, refleks memukul dada bidang Xavier dengan tangan kecilnya.

​Namun, Xavier dengan mudah menangkap kedua pergelangan tangan Aline hanya dengan satu tangan gurita miliknya, lalu menguncinya di atas kepala Aline. Tangan Xavier yang bebas bergerak naik, menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut panjang Aline, lalu menariknya sedikit ke belakang hingga leher jenjang Aline kembali terekspos sempurna.

​Xavier menundukkan kepalanya, menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Aline. Bibirnya menempel di kulit hangat wanita itu, memberikan kecupan-kecupan dalam yang menuntut dan membakar, membuat Aline spontan mendesah tertahan di antara tangisnya.

​"Kalau begitu, jadilah penurut, Tikus Kecil," bisik Xavier parau, napasnya yang memburu terasa begitu seksi sekaligus berbahaya di kulit leher Aline. "Satu-satunya cara agar adikmu tetap hidup dan pamanmu bisa ditemukan... adalah dengan memuaskan setiap keinginanku di rumah ini. Mengerti?"

Aline memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan air mata hangat mengalir kian deras, membasahi pipinya yang kian memucat. Setiap tetesan air matanya menjadi saksi bisu atas hancurnya kebebasan yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah. Tubuhnya gemetar hebat dalam cengkeraman kokoh Xavier, merasa benar-benar tidak berdaya.

​Xavier merasakan kelembapan air mata Aline yang mengenai punggung jarinya. Bukannya menjauh, sang mafia justru sengaja memperlambat sesapan bibirnya di leher Aline, menikmati setiap getaran ketakutan dan gairah pasrah yang tersalurkan dari tubuh wanita itu.

​"Menangislah sepuasmu, Aline," bisik Xavier dengan suara baritonnya yang parau dan sarat akan dominasi, tepat di atas permukaan kulit leher Aline yang meremang. "Air matamu tidak akan mengubah kenyataan bahwa malam ini... kau tidak punya pilihan lain selain menyerah kepadaku."

​Xavier melepaskan kuncian pada pergelangan tangan Aline, lalu menurunkan jemarinya untuk menghapus air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya. Gerakannya terasa begitu lembut, namun tatapan matanya yang kelam mengunci manik mata Aline dengan intensitas yang mematikan.

​"Sekarang, keringkan air matamu," titah Xavier lembut namun tak terbantah, seraya mengecup sekilas sudut mata Aline yang basah. "Aku tidak suka melihat milikku menangis karena meratapi pria lain, bahkan jika itu pamanmu sendiri. Mulai detik ini, fokusmu hanya satu: aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 9

    Sesampainya di mansion, pelayan langsung menyajikan makan malam mewah yang masih hangat di ruang makan pribadi Xavier. Atmosfer ruangan yang temaram, berpadu dengan suara gemercik sisa hujan di luar, membuat ketegangan di antara keduanya semakin pekat.​Aline baru saja hendak menarik kursi di sebelah meja, namun suara bariton Xavier langsung menghentikan gerakannya.​"Ke mari, Aline. Duduk di sini," titah Xavier pendek, menepuk paha kokohnya sendiri yang terbalut celana bahan hitam.​Aline membeku. Wajahnya seketika memanas. "T-Tuan, aku bisa duduk di kursi sendiri—"​"Aku tidak suka membantah, Tikus Kecil," potong Xavier dengan tatapan mata elang yang menggelap, memancarkan dominasi mutlak yang tidak sedap ditolak.​Dengan tubuh gemetar dan pasrah, Aline terpaksa menuruti perintah itu. Ia melangkah mendekat dan perlahan mendudukkan pantatnya di atas pangkuan Xavier. Begitu tubuh mungilnya mendarat, lengan kekar Xavier langsung melingkar posesif di pinggang ramping Aline, mengunci wan

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 8

    Xavier menarik Aline dengan langkah lebar membelah aula, mengabaikan tatapan bingung dan bisik-bisik dari para tamu elite lainnya. Pria itu sama sekali tidak berniat membiarkan "tikus kecilnya" menjadi konsumsi visual pria-pria hidung belang itu lebih lama lagi. Hidangan makan malam mewah yang baru saja disajikan di meja bundar mereka tinggalkan begitu saja tanpa disentuh sedikit pun.​Begitu pintu kaca besar restoran terbuka, hawa dingin langsung menyergap kulit Aline yang terekspos. Di luar, hujan deras rupanya telah mengguyur kota, menciptakan tirai air yang lebat diiringi suara gemuruh guntur yang saling bersahutan.​Para pengawal Xavier dengan sigap langsung membuka payung hitam besar, melindungi sang Tuan Mafia dan Aline dari terpaan air hujan saat mereka melangkah cepat menuju Rolls-Royce hitam yang sudah menyala di depan lobi.​Brak.​Pintu mobil ditutup dengan bantingan pelan namun kokoh oleh pengawal dari luar, seketika mengunci mereka berdua dalam keheningan kabin mobil yan

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 7

    Aline merasakan sedikit cubitan di hatinya. Setelah semua perlakuan intim dan klaim posesif yang dilakukan Xavier di mansion—bahkan sampai mencium lehernya sebelum berangkat tadi—mendengar dirinya disebut "hanya seorang pelayan baru" di depan orang lain terasa sangat menyebalkan.​Tanpa sadar, Aline melirik tajam ke arah samping wajah Xavier. Bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah menyala itu refleks maju beberapa milimeter, membentuk lengkungan manyun yang menggemaskan karena kesal.​Dasar pria sombong, angkuh, menyebalkan! Huhh! batin Aline menggerutu, meluapkan kekesalannya dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia merasa dipermainkan oleh ego tinggi sang mafia.​Namun, Aline lupa satu hal. Xavier adalah seorang predator dengan insting dan penglihatan setajam elang. Tidak ada satu pun detail di sekitarnya yang bisa lolos dari pengawasan pria itu, termasuk perubahan ekspresi sekecil apa pun di wajah tawanannya.​Xavier yang sedang mendengarkan ucapan rekan bisnisnya

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 6

    Malam harinya, kamar tidur mewah itu berubah menjadi ruang transformasi bagi Aline. Tiga orang penata busana dan rias profesional yang dikirim langsung oleh Xavier baru saja menyelesaikan tugas mereka.​Saat Aline melangkah di depan cermin besar setinggi langit-langit, ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajahnya natural namun tegas, menonjolkan mata indahnya yang kini tak lagi sembap, serta bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah bata segar. Rambut panjangnya ditata bergelombang jatuh dengan anggun di atas bahu.​Namun, perhatian Aline sepenuhnya tertuju pada gaun yang melekat di tubuhnya. Itu adalah gaun malam berbahan satin premium berwarna merah menyala—persis seperti warna darah yang segar. Potongan gaun itu begitu pas memeluk lekuk tubuh rampingnya, namun bagian dadanya berpotongan rendah (low-cut) dan belahan roknya menjulang tinggi hingga ke paha.​Aline menelan ludah, wajahnya merona merah karena malu. Kedua tangannya refleks bergerak menutupi bagian dadanya y

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 5

    Xavier melepaskan kungkungannya, lalu mundur selangkah. Ia merapikan sedikit kerah kemeja hitam satinnya yang sempat kusut, kembali menampilkan sosok penguasa yang tenang dan tak tersentuh.​Mata elangnya beralih menatap piring sarapan mewah yang masih mengepul di atas meja marmer, lalu beralih kembali pada Aline yang masih berdiri gemetar bersandar di dinding.​"Duduk," titah Xavier, suaranya kembali datar namun sarat akan titah mutlak.​Aline, dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya, melangkah ragu dengan kaki yang lemas. Ia menarik kursi di sebelah Xavier dan duduk dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah pria yang baru saja merenggut paksa kendali hidupnya.​Xavier tidak menyentuh garpu atau pisau di dekat piringnya. Ia justru memajukan sedikit kursi marmernya, memperkecil jarak duduk mereka hingga lengan kekarnya bersentuhan langsung dengan bahu Aline yang terbalut gaun putih tipis.​"Suapi aku makan," bisik Xavier rendah, suaranya berat dan serak tepat

  • Ahhh... Tuan Mafia   Chapter 4

    "Tolong, Tuan Xavier... Aku mohon..." Aline langsung terjatuh dari kursinya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tepat di samping kaki Xavier.​Kedua tangan Aline bergetar hebat saat ia memberanikan diri mencengkeram ujung celana bahan Xavier. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat pasi.​"Aku tidak tahu apa-apa tentang uang itu. Demi Tuhan, aku bahkan sudah tidak bertemu dengan Paman Hendra selama berbulan-bulan!" tangis Aline pecah, suaranya terdengar begitu parau dan putus asa. "Jangan kurung aku di sini... Aku harus bekerja, aku harus membiayai pengobatan adikku di rumah sakit. Kalau aku hilang, adikku bisa meninggal, Tuan..."​Xavier tidak langsung merespons. Ia menurunkan pandangannya, menatap datar ke arah Aline yang bersimpuh di bawahnya dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangisan putus asa wanita itu sama sekali tidak mengusik dinding es di hatinya, namun pemandangan Aline yang memohon di bawah kakinya memberikan kepuasan terse

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status