LOGINAline bisa merasakan dadanya naik-turun dengan cepat. Punggungnya yang terdesak rapat pada pinggiran meja jati terasa kaku, sementara napas hangat Xavier yang beraroma mint kini menyapu permukaan kulit wajahnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Xavier bisa mendengarnya.
Xavier tidak melepaskan tatapannya dari manik mata Aline yang berkaca-kaca. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya, namun tidak membiarkan Aline lepas dari kungkungannya. Pria itu berbalik sedikit, meraih sebuah kotak kotak P3K kecil berbahan perak dari laci mejanya, lalu meletakkannya di samping tubuh Aline. "Duduk di atas meja," perintah Xavier rendah. Aline bergeming, menatap pria itu dengan ragu dan takut. "T-Tuan—" "Aku tidak suka mengulang perintah, Aline," potong Xavier. Suaranya tidak keras, namun ada nada dingin yang membuat bulu kuduk Aline meremang. Dengan tangan gemetar, Aline menumpu badannya dan naik ke atas meja kerja yang tinggi tersebut. Gaun dan kardigan robeknya sedikit tersingkap, mengekspos lututnya yang lecet dan berdarah akibat terseret di dermaga tadi. Xavier mendekat kembali. Ia membuka kotak obat, mengambil botol antiseptik dan sepotong kapas. Alih-alih menyuruh pelayan atau dokter mansion untuk melakukannya, sang Tuan Mafia justru memilih untuk mengobati tawanan kecilnya sendiri. Xavier berlutut dengan satu kaki di hadapan Aline yang duduk di tepi meja, membuat posisi wajah pria itu kini sejajar dengan paha Aline. Dengan gerakan yang sangat pelan—hampir terasa seperti belaian hangat—Xavier menepuk-nepukkan kapas basah itu ke luka di lutut Aline. "Ahhh...!" Aline mendesah perih, refleks menarik kakinya mundur. Namun, tangan kiri Xavier yang bebas dengan cepat mencengkeram pergelangan kaki Aline, menahannya dengan kuat agar tidak bergerak. Ibu jarinya mengusap kulit di sekitar pergelangan kaki Aline, memberikan sensasi kontras antara rasa perih obat dan sentuhan kulit yang membakar. "Diamlah, Tikus Kecil. Ini baru luka di lutut," bisik Xavier tanpa mendongak, fokus membersihkan sisa debu dermaga dari kulit mulus wanita itu. "Jika kau tidak bisa menahan rasa sakit sekecil ini, kau tidak akan bertahan lama di duniaku." Aline menggigit bibir bawahnya erat-erat, mencoba menahan air mata dan desahan perih yang hampir lolos lagi dari mulutnya. Tatapannya jatuh pada puncak kepala Xavier, memperhatikan rambut hitam legam pria itu yang tertata rapi, lalu turun ke bahunya yang kokoh di balik kemeja satin hitam. Pria ini bisa membunuh orang tanpa berkedip beberapa jam lalu, namun sekarang, ia berada di bawah kakinya, mengobati lukanya dengan ketelitian yang intim. Setelah selesai dengan lutut Aline, Xavier berdiri. Ia membuang kapas kotor ke asbak, lalu kembali mengikis jarak di antara mereka. Kini, giliran luka gores di bahu Aline yang terekspos karena kardigannya yang melorot. Xavier menuangkan sedikit cairan antiseptik langsung ke jemarinya yang polos—ia sudah melepas sarung tangan kulitnya sejak tadi. Sentuhan kulit ke kulit itu terasa mengejutkan. Saat jemari dingin Xavier menyentuh kulit hangat di bahu Aline, wanita itu refleks merinding. Xavier menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Aline saat jemarinya perlahan mengusap luka di bahu tersebut. Napas berat sang mafia berembus intens di kulit leher Aline yang sensitif. "Dengar baik-baik, Aline," bisik Xavier, suaranya sangat rendah dan dalam, bergetar tepat di dekat telinga Aline. "Di rumah ini, ada peraturan yang harus kau patuhi jika kau ingin tetap bernapas." "A-apa itu...?" cicit Aline, tubuhnya melemas di bawah intimidasi seksual yang begitu pekat dari Xavier. Xavier menghentikan gerakan jarinya di bahu Aline. Bibirnya kini hampir menyentuh kulit leher wanita itu, memberikan kecupan seringan bulu yang membuat Aline tersentak pelan. "Pertama, kau tidak boleh pergi dari kamarmu tanpa izinku. Kedua, kau harus mematuhi setiap kata yang keluar dari mulutku," Xavier menjeda kalimatnya, lalu perlahan menaikkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Aline dengan kilat gairah yang gelap. "Dan yang ketiga... hukuman bagi pembangkangan di mansion ini tidak lagi berupa peluru dingin, Aline. Melainkan sesuatu yang akan membuatmu memohon ampunan di bawah kuasaku sampai kau tidak bisa berjalan lagi. Mengerti?" Aline menahan napasnya, terjebak di antara rasa takut yang mematikan dan gairah asing yang tiba-tiba bergejolak di dalam dadanya. Ia hanya bisa mengangguk pelan, pasrah pada takdir yang kini sepenuhnya digenggam oleh sang Tuan Mafia. *** Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra tebal, menerangi kamar tidur bernuansa emas dan putih tempat Aline terbangun. Aline mengerang pelan, merasakan seluruh tubuhnya pegal dan perih. Semalam, setelah sesi interogasi yang menyesakkan napas di ruang kerja Xavier, ia diantar oleh seorang pelayan paruh baya ke kamar ini. Ia hampir tidak bisa memejamkan mata sampai fajar tiba, terlalu takut jika sang Tuan Mafia tiba-tiba masuk dan menagih ancamannya. Aline mendudukkan diri di tepi tempat tidur berukuran king size yang luar biasa empuk. Di atas nakas, sebuah gaun katun putih yang simpel namun elegan sudah disiapkan, lengkap dengan sepiring sarapan yang sama sekali belum ia sentuh. Tok! Tok! Suara ketukan pintu membuat Aline tersentak. Sebelum ia sempat menjawab, pintu terbuka dan sesosok pria tegap berjas abu-abu melangkah masuk. Ia adalah Marco, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Xavier. "Nona Aline, Tuan Xavier meminta Anda turun ke ruang makan sekarang," ucap Marco dengan wajah datar tanpa ekspresi. Aline menelan ludah, rasa cemas kembali merayapi dadanya. "Baik... beri aku waktu lima menit." Lima menit kemudian, Aline dengan langkah sedikit pincang dipandu menuju ruang makan utama di lantai bawah. Ruangan itu sangat luas, didominasi meja makan panjang dari marmer putih. Di ujung meja, Xavier sudah duduk dengan santai. Pagi ini, sang mafia tampak sedikit berbeda namun tetap mengintimidasi. Ia mengenakan kemeja putih kasual dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan tato hitam samar yang menjalar di pergelangan tangan kirinya. Di depannya tegeletak secangkir kopi hitam yang masih mengepul, dan sebuah map berkas berwarna hitam pekat. Xavier mendongak saat mendengar langkah kaki Aline. Mata elangnya menatap Aline dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan gaun putih yang membungkus pas tubuh ramping wanita itu. "Duduk," titah Xavier pendek, menunjuk kursi kosong yang berada tepat di sebelah kanannya. Aline berjalan perlahan dan duduk di kursi tersebut, sengaja memberi jarak tipis agar tidak terlalu dekat. Atmosfer di sekitar Xavier selalu terasa begitu pekat dan dominan, membuatnya sulit bernapas normal. Xavier tidak menyentuh sarapannya. Ia justru meraih map hitam di hadapannya, membukanya dengan gerakan lambat yang sengaja diciptakan untuk menyiksa mental Aline. Pria itu membolak-balik beberapa lembar kertas di dalamnya sebelum akhirnya melemparkan map itu tepat ke depan piring Aline. "Aline Anastasya. Umur dua puluh satu tahun. Mahasiswi tingkat akhir jurusan sastra, bekerja paruh waktu di restoran dermaga untuk membiayai kuliah dan pengobatan adik laki-lakimu yang sakit jantung," Xavier mendikte isi berkas itu dengan suara baritonnya yang tenang namun dingin. Aline menegang. "Anda... Anda menyelidiki saya?" Xavier terkekeh rendah, suara bariton yang seksi namun sarat akan bahaya. Ia memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan sementara tangan lainnya bergerak mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan ritme yang konstan. "Aku menyelidiki setiap orang yang masuk ke duniaku, Tikus Kecil," bisik Xavier, matanya menyipit tajam. "Tapi, ada satu hal menarik yang baru saja kutemukan di lembar terakhir berkasmu." Xavier mengambil selembar foto dari dalam map dan menggesernya ke hadapan Aline. Foto itu menampilkan seorang pria paruh baya berwajah tirus yang sangat familier bagi Aline. "Itu... paman saya," cicit Aline, mendadak firasat buruk menghantam kepalanya. "Benar. Pamanmu, Hendra," Xavier menjeda kalimatnya, lalu perlahan merentangkan tangannya ke belakang sandaran kursi Aline, mengurung wanita itu dalam jarak yang begitu intim. Xavier menundukkan wajahnya, berbisik tepat di samping telinga Aline hingga wanita itu bisa mencium aroma kopi hitam dari napas sang mafia. "Paman kesayanganmu itu baru saja melarikan diri seminggu yang lalu... setelah mencuri uang kasino milikku sebesar lima puluh miliar rupiah." Aline membelalakkan mata, tubuhnya mendadak lemas bak kehilangan tulang. "T-tidak... itu tidak mungkin..." "Di duniaku tidak ada kata tidak mungkin, Aline," kata Xavier, jemari kokohnya tiba-tiba terangkat, membelai leher jenjang Aline dengan sentuhan lembut yang menuntut. Ibu jarinya menekan pelan urat nadi di leher Aline yang berdenyut kencang karena panik. "Tadinya aku berniat melepaskanmu setelah memastikan kau tidak akan bicara pada polisi. Tapi sekarang? Takdir sepertinya punya rencana lain yang lebih menyenangkan." Xavier menyeringai tipis, mendekatkan bibirnya hingga hampir menyentuh kulit leher Aline yang meremang. "Kau tidak akan ke mana-mana, Aline. Sampai pamanmu menyerahkan diri, kau adalah jaminan utangnya... dan kau adalah milikku sepenuhnya."Sesampainya di mansion, pelayan langsung menyajikan makan malam mewah yang masih hangat di ruang makan pribadi Xavier. Atmosfer ruangan yang temaram, berpadu dengan suara gemercik sisa hujan di luar, membuat ketegangan di antara keduanya semakin pekat.Aline baru saja hendak menarik kursi di sebelah meja, namun suara bariton Xavier langsung menghentikan gerakannya."Ke mari, Aline. Duduk di sini," titah Xavier pendek, menepuk paha kokohnya sendiri yang terbalut celana bahan hitam.Aline membeku. Wajahnya seketika memanas. "T-Tuan, aku bisa duduk di kursi sendiri—""Aku tidak suka membantah, Tikus Kecil," potong Xavier dengan tatapan mata elang yang menggelap, memancarkan dominasi mutlak yang tidak sedap ditolak.Dengan tubuh gemetar dan pasrah, Aline terpaksa menuruti perintah itu. Ia melangkah mendekat dan perlahan mendudukkan pantatnya di atas pangkuan Xavier. Begitu tubuh mungilnya mendarat, lengan kekar Xavier langsung melingkar posesif di pinggang ramping Aline, mengunci wan
Xavier menarik Aline dengan langkah lebar membelah aula, mengabaikan tatapan bingung dan bisik-bisik dari para tamu elite lainnya. Pria itu sama sekali tidak berniat membiarkan "tikus kecilnya" menjadi konsumsi visual pria-pria hidung belang itu lebih lama lagi. Hidangan makan malam mewah yang baru saja disajikan di meja bundar mereka tinggalkan begitu saja tanpa disentuh sedikit pun.Begitu pintu kaca besar restoran terbuka, hawa dingin langsung menyergap kulit Aline yang terekspos. Di luar, hujan deras rupanya telah mengguyur kota, menciptakan tirai air yang lebat diiringi suara gemuruh guntur yang saling bersahutan.Para pengawal Xavier dengan sigap langsung membuka payung hitam besar, melindungi sang Tuan Mafia dan Aline dari terpaan air hujan saat mereka melangkah cepat menuju Rolls-Royce hitam yang sudah menyala di depan lobi.Brak.Pintu mobil ditutup dengan bantingan pelan namun kokoh oleh pengawal dari luar, seketika mengunci mereka berdua dalam keheningan kabin mobil yan
Aline merasakan sedikit cubitan di hatinya. Setelah semua perlakuan intim dan klaim posesif yang dilakukan Xavier di mansion—bahkan sampai mencium lehernya sebelum berangkat tadi—mendengar dirinya disebut "hanya seorang pelayan baru" di depan orang lain terasa sangat menyebalkan.Tanpa sadar, Aline melirik tajam ke arah samping wajah Xavier. Bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah menyala itu refleks maju beberapa milimeter, membentuk lengkungan manyun yang menggemaskan karena kesal.Dasar pria sombong, angkuh, menyebalkan! Huhh! batin Aline menggerutu, meluapkan kekesalannya dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia merasa dipermainkan oleh ego tinggi sang mafia.Namun, Aline lupa satu hal. Xavier adalah seorang predator dengan insting dan penglihatan setajam elang. Tidak ada satu pun detail di sekitarnya yang bisa lolos dari pengawasan pria itu, termasuk perubahan ekspresi sekecil apa pun di wajah tawanannya.Xavier yang sedang mendengarkan ucapan rekan bisnisnya
Malam harinya, kamar tidur mewah itu berubah menjadi ruang transformasi bagi Aline. Tiga orang penata busana dan rias profesional yang dikirim langsung oleh Xavier baru saja menyelesaikan tugas mereka.Saat Aline melangkah di depan cermin besar setinggi langit-langit, ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajahnya natural namun tegas, menonjolkan mata indahnya yang kini tak lagi sembap, serta bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah bata segar. Rambut panjangnya ditata bergelombang jatuh dengan anggun di atas bahu.Namun, perhatian Aline sepenuhnya tertuju pada gaun yang melekat di tubuhnya. Itu adalah gaun malam berbahan satin premium berwarna merah menyala—persis seperti warna darah yang segar. Potongan gaun itu begitu pas memeluk lekuk tubuh rampingnya, namun bagian dadanya berpotongan rendah (low-cut) dan belahan roknya menjulang tinggi hingga ke paha.Aline menelan ludah, wajahnya merona merah karena malu. Kedua tangannya refleks bergerak menutupi bagian dadanya y
Xavier melepaskan kungkungannya, lalu mundur selangkah. Ia merapikan sedikit kerah kemeja hitam satinnya yang sempat kusut, kembali menampilkan sosok penguasa yang tenang dan tak tersentuh.Mata elangnya beralih menatap piring sarapan mewah yang masih mengepul di atas meja marmer, lalu beralih kembali pada Aline yang masih berdiri gemetar bersandar di dinding."Duduk," titah Xavier, suaranya kembali datar namun sarat akan titah mutlak.Aline, dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya, melangkah ragu dengan kaki yang lemas. Ia menarik kursi di sebelah Xavier dan duduk dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah pria yang baru saja merenggut paksa kendali hidupnya.Xavier tidak menyentuh garpu atau pisau di dekat piringnya. Ia justru memajukan sedikit kursi marmernya, memperkecil jarak duduk mereka hingga lengan kekarnya bersentuhan langsung dengan bahu Aline yang terbalut gaun putih tipis."Suapi aku makan," bisik Xavier rendah, suaranya berat dan serak tepat
"Tolong, Tuan Xavier... Aku mohon..." Aline langsung terjatuh dari kursinya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tepat di samping kaki Xavier.Kedua tangan Aline bergetar hebat saat ia memberanikan diri mencengkeram ujung celana bahan Xavier. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat pasi."Aku tidak tahu apa-apa tentang uang itu. Demi Tuhan, aku bahkan sudah tidak bertemu dengan Paman Hendra selama berbulan-bulan!" tangis Aline pecah, suaranya terdengar begitu parau dan putus asa. "Jangan kurung aku di sini... Aku harus bekerja, aku harus membiayai pengobatan adikku di rumah sakit. Kalau aku hilang, adikku bisa meninggal, Tuan..."Xavier tidak langsung merespons. Ia menurunkan pandangannya, menatap datar ke arah Aline yang bersimpuh di bawahnya dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangisan putus asa wanita itu sama sekali tidak mengusik dinding es di hatinya, namun pemandangan Aline yang memohon di bawah kakinya memberikan kepuasan terse







