LOGIN
Malam telah larut ketika Aline melangkah keluar dari pintu belakang restoran tempatnya bekerja paruh waktu. Udara dingin pelabuhan langsung menusuk kulitnya yang hanya dibalut kardigan tipis. Sebagai seorang mahasiswi yang harus membiayai hidupnya sendiri, pulang jam dua pagi sudah menjadi makanan sehari-hari.
Biasanya, Aline akan mengambil jalan pintas melewati area pergudangan dekat dermaga untuk menuju halte bus terakhir. Jalanan itu sepi dan minim penerangan, tetapi malam ini, keheningan yang menyelimuti tempat itu terasa berbeda. Terasa mencekam. Langkah kaki berat. Aline menghentikan langkahnya tiba-tiba. Sayup-sayup, ia mendengar suara gaduh dari balik kontainer besi besar di ujung dermaga. Rasa penasaran yang bodoh menuntun langkahnya untuk mendekat, bersembunyi di balik bayangan tangki minyak tua. Begitu ia mengintip, napas Aline tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdentum begitu keras hingga rasanya mau melompat keluar. Di bawah temaram lampu merkuri yang berkedip-kedip, beberapa pria berbadan kekar berpakaian serba hitam sedang berdiri mengelilingi seorang pria lain yang sudah berlutut bersimpah darah. Namun, bukan pria-pria kekar itu yang menarik perhatian Aline. Melainkan pria yang berdiri di tengah-tengah mereka. Pria itu mengenakan setelan jas hitam mahal yang tampak kontras dengan kekumuhan dermaga. Postur tubuhnya tinggi tegap, memancarkan aura dominasi yang begitu pekat dan mematikan. Dari balik bayangan, Aline bisa melihat rahang tegas pria itu yang mengeras tanpa emosi. Di tangan kanannya yang dibalut sarung tangan kulit, sebuah pistol dengan peredam suara teracung dingin. "T-tolong, Tuan Xavier... Saya mengaku salah. Tolong ampuni nyawa saya..." Pria yang berlutut itu memohon dengan suara serak, menyembah di atas hamparan semen yang basah oleh darah. Pria yang dipanggil Xavier itu tidak bergeming. Wajahnya bak pahatan es—tampan luar biasa, namun sangat mengerikan. "Kau tahu aturan main di duniaku, Antonio," suara Xavier terdengar rendah, berat, dan begitu tenang. Namun, ketenangan itu justru seribu kali lebih menakutkan daripada bentakan. "Pengkhianat tidak punya hak untuk bernapas." Pft! Satu kecaman suara diredam terdengar. Aline spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan yang hampir lolos dari bibirnya. Tepat di depan matanya, pria yang memohon tadi ambruk ke depan, tak lagi bernyawa dengan lubang peluru di dahinya. Xavier bahkan tidak mengedipkan mata. Ia mengibaskan jasnya yang sedikit terkena cipratan darah, lalu berbalik dengan santai, menyerahkan pistolnya pada salah satu anak buahnya. "Bersihkan. Jangan tinggalkan jejak setetes pun," perintah Xavier dingin. Aline gemetar hebat. Lututnya lemas bak jeli. Ia tahu ia harus segera lari dari sana sebelum nasibnya berakhir sama seperti pria malang itu. Namun, rasa takut yang teramat sangat membuat tubuhnya tidak bisa berkompromi. Saat ia mencoba melangkah mundur, sepatunya tidak sengaja menyenggol sebuah kaleng kosong di lantai. Klentang! Suara itu menggema tajam membelah keheningan malam dermaga. "Siapa di sana?!" bentak salah satu anak buah Xavier, langsung menodongkan senjata ke arah persembunyian Aline. Aline panik setengah mati. Tanpa berpikir panjang, ia membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya, mengabaikan rasa sakit di kakinya. Air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya. Jantung Aline serasa berhenti berdetak saat ujung sepatunya tersangkut rantai besi berkarat di atas beton dermaga. Tubuhnya terjerembap keras ke depan, membuat kedua lutut dan telapak tangannya tergores kasar permukaan semen yang dingin. Kardigan tipisnya robek, mengekspos kulit bahunya yang kini memerah dan kotor oleh debu pelabuhan. "Argh...!" Aline meringis kesakitan, mencoba bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. Namun, sebelum ia sempat berdiri, dua pasang tangan kekar berpakaian serba hitam mencengkeram kedua lengannya dengan kasar. Mereka menarik tubuh Aline, menyeretnya tanpa ampun kembali ke arah pusat kegelapan tempat pembunuhan tadi terjadi. Sepatunya bergesekan pasrah dengan tanah, menyisakan jejak ketakutan yang mendalam. Bruk! Anak buah pria itu menghempaskan tubuh Aline begitu saja di atas lantai beton, tepat beberapa jengkal di hadapan sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilau sempurna—kontras dengan genangan darah segar yang mulai menjalar di sekitarnya. Aline gemetar hebat, menekuk lututnya erat-erat untuk menutupi tubuhnya yang terekspos. Perlahan, dengan keberanian yang tersisa, ia mendongak. Pria itu—Xavier—berdiri menjulang di hadapannya seperti malaikat pencabut nyawa yang dingin. Tatapan matanya yang sewarna elang menatap ke bawah, menguliti sosok Aline dengan pandangan tajam, menilai, dan penuh kuasa. Keheningan malam dermaga terasa semakin mencekam, hanya diiringi suara deburan ombak laut yang menghantam dinding pembatas. "Lihat apa yang kita temukan di sini, Tuan," suara berat salah satu anak buahnya memecah kesunyian. "Gadis ini melihat semuanya." Xavier tidak langsung merespons. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan mahalnya, sementara tangan yang lain bergerak pelan melonggarkan sedikit dasi hitam yang mengikat lehernya. Setiap gerakannya begitu tenang, namun memancarkan aura intimidasi yang membuat Aline bahkan takut untuk sekadar bernapas. Xavier perlahan melangkah maju, lalu merendahkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di depan Aline. Jarak mereka kini begitu dekat, hingga Aline bisa mencium aroma parfum maskulin premium yang bercampur dengan bau anyir darah dan tembakau mahal. Dengan gerakan lambat yang menyiksa, jemari kokoh Xavier yang dibalut sarung tangan kulit hitam terangkat. Ia mencengkeram dagu Aline dengan kuat, memaksa wanita itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam tak berdasar. "Sebutkan namamu, Tikus Kecil," bisik Xavier. Suaranya rendah, serak, dan begitu intim di dekat wajah Aline, namun sarat akan ancaman yang mematikan. "A-Aline..." jawab Aline dengan bibir bergetar dan air mata yang mulai menetes bebas di pipinya. "S-saya mohon... saya tidak melihat apa-apa... saya tidak akan bicara pada siapa pun..." Satu sudut bibir Xavier terangkat, membentuk seringai tipis yang dingin sekaligus sangat menawan. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap air mata di pipi Aline dengan sentuhan yang terasa membakar kulit sensitif wanita itu. "Kau sudah melihat terlalu banyak, Aline," bisik Xavier lagi, napas hangatnya berembus di permukaan bibir Aline yang memucat. "Dan di duniaku, rahasia terbaik adalah rahasia yang dibawa mati. Menurutmu, apa yang harus kulakukan padamu sekarang?"Sesampainya di mansion, pelayan langsung menyajikan makan malam mewah yang masih hangat di ruang makan pribadi Xavier. Atmosfer ruangan yang temaram, berpadu dengan suara gemercik sisa hujan di luar, membuat ketegangan di antara keduanya semakin pekat.Aline baru saja hendak menarik kursi di sebelah meja, namun suara bariton Xavier langsung menghentikan gerakannya."Ke mari, Aline. Duduk di sini," titah Xavier pendek, menepuk paha kokohnya sendiri yang terbalut celana bahan hitam.Aline membeku. Wajahnya seketika memanas. "T-Tuan, aku bisa duduk di kursi sendiri—""Aku tidak suka membantah, Tikus Kecil," potong Xavier dengan tatapan mata elang yang menggelap, memancarkan dominasi mutlak yang tidak sedap ditolak.Dengan tubuh gemetar dan pasrah, Aline terpaksa menuruti perintah itu. Ia melangkah mendekat dan perlahan mendudukkan pantatnya di atas pangkuan Xavier. Begitu tubuh mungilnya mendarat, lengan kekar Xavier langsung melingkar posesif di pinggang ramping Aline, mengunci wan
Xavier menarik Aline dengan langkah lebar membelah aula, mengabaikan tatapan bingung dan bisik-bisik dari para tamu elite lainnya. Pria itu sama sekali tidak berniat membiarkan "tikus kecilnya" menjadi konsumsi visual pria-pria hidung belang itu lebih lama lagi. Hidangan makan malam mewah yang baru saja disajikan di meja bundar mereka tinggalkan begitu saja tanpa disentuh sedikit pun.Begitu pintu kaca besar restoran terbuka, hawa dingin langsung menyergap kulit Aline yang terekspos. Di luar, hujan deras rupanya telah mengguyur kota, menciptakan tirai air yang lebat diiringi suara gemuruh guntur yang saling bersahutan.Para pengawal Xavier dengan sigap langsung membuka payung hitam besar, melindungi sang Tuan Mafia dan Aline dari terpaan air hujan saat mereka melangkah cepat menuju Rolls-Royce hitam yang sudah menyala di depan lobi.Brak.Pintu mobil ditutup dengan bantingan pelan namun kokoh oleh pengawal dari luar, seketika mengunci mereka berdua dalam keheningan kabin mobil yan
Aline merasakan sedikit cubitan di hatinya. Setelah semua perlakuan intim dan klaim posesif yang dilakukan Xavier di mansion—bahkan sampai mencium lehernya sebelum berangkat tadi—mendengar dirinya disebut "hanya seorang pelayan baru" di depan orang lain terasa sangat menyebalkan.Tanpa sadar, Aline melirik tajam ke arah samping wajah Xavier. Bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah menyala itu refleks maju beberapa milimeter, membentuk lengkungan manyun yang menggemaskan karena kesal.Dasar pria sombong, angkuh, menyebalkan! Huhh! batin Aline menggerutu, meluapkan kekesalannya dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia merasa dipermainkan oleh ego tinggi sang mafia.Namun, Aline lupa satu hal. Xavier adalah seorang predator dengan insting dan penglihatan setajam elang. Tidak ada satu pun detail di sekitarnya yang bisa lolos dari pengawasan pria itu, termasuk perubahan ekspresi sekecil apa pun di wajah tawanannya.Xavier yang sedang mendengarkan ucapan rekan bisnisnya
Malam harinya, kamar tidur mewah itu berubah menjadi ruang transformasi bagi Aline. Tiga orang penata busana dan rias profesional yang dikirim langsung oleh Xavier baru saja menyelesaikan tugas mereka.Saat Aline melangkah di depan cermin besar setinggi langit-langit, ia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Riasan wajahnya natural namun tegas, menonjolkan mata indahnya yang kini tak lagi sembap, serta bibir ranumnya yang dipulas lipstik merah bata segar. Rambut panjangnya ditata bergelombang jatuh dengan anggun di atas bahu.Namun, perhatian Aline sepenuhnya tertuju pada gaun yang melekat di tubuhnya. Itu adalah gaun malam berbahan satin premium berwarna merah menyala—persis seperti warna darah yang segar. Potongan gaun itu begitu pas memeluk lekuk tubuh rampingnya, namun bagian dadanya berpotongan rendah (low-cut) dan belahan roknya menjulang tinggi hingga ke paha.Aline menelan ludah, wajahnya merona merah karena malu. Kedua tangannya refleks bergerak menutupi bagian dadanya y
Xavier melepaskan kungkungannya, lalu mundur selangkah. Ia merapikan sedikit kerah kemeja hitam satinnya yang sempat kusut, kembali menampilkan sosok penguasa yang tenang dan tak tersentuh.Mata elangnya beralih menatap piring sarapan mewah yang masih mengepul di atas meja marmer, lalu beralih kembali pada Aline yang masih berdiri gemetar bersandar di dinding."Duduk," titah Xavier, suaranya kembali datar namun sarat akan titah mutlak.Aline, dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya, melangkah ragu dengan kaki yang lemas. Ia menarik kursi di sebelah Xavier dan duduk dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap wajah pria yang baru saja merenggut paksa kendali hidupnya.Xavier tidak menyentuh garpu atau pisau di dekat piringnya. Ia justru memajukan sedikit kursi marmernya, memperkecil jarak duduk mereka hingga lengan kekarnya bersentuhan langsung dengan bahu Aline yang terbalut gaun putih tipis."Suapi aku makan," bisik Xavier rendah, suaranya berat dan serak tepat
"Tolong, Tuan Xavier... Aku mohon..." Aline langsung terjatuh dari kursinya, berlutut di atas lantai marmer yang dingin tepat di samping kaki Xavier.Kedua tangan Aline bergetar hebat saat ia memberanikan diri mencengkeram ujung celana bahan Xavier. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat pasi."Aku tidak tahu apa-apa tentang uang itu. Demi Tuhan, aku bahkan sudah tidak bertemu dengan Paman Hendra selama berbulan-bulan!" tangis Aline pecah, suaranya terdengar begitu parau dan putus asa. "Jangan kurung aku di sini... Aku harus bekerja, aku harus membiayai pengobatan adikku di rumah sakit. Kalau aku hilang, adikku bisa meninggal, Tuan..."Xavier tidak langsung merespons. Ia menurunkan pandangannya, menatap datar ke arah Aline yang bersimpuh di bawahnya dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangisan putus asa wanita itu sama sekali tidak mengusik dinding es di hatinya, namun pemandangan Aline yang memohon di bawah kakinya memberikan kepuasan terse







