Share

Ahli Waris yang Terlupakan
Ahli Waris yang Terlupakan
Author: KarenW

Bab 1

Author: KarenW
Sudut pandang Aria.

Aku menandatangani namaku dari geng saingan, setuju untuk diserahkan kepada mereka dalam lima hari sebagai tawanan, sampai keluargaku melunasi utang yang mereka miliki.

Setelah lima hari, aku akan menjadi seorang tahanan. Aku tidak tahu apa yang menantiku, akankah mereka membunuhku? Atau lebih buruk, yaitu melecehkanku?

Setelah menandatangani kontrak, aku pergi menemui Ayah dan Ibu.

Mereka duduk di ruang tamu, sedang membahas ke mana mereka akan pergi saat liburan di bulan Maret. Emily, putri adopsi keluarga kami sedang duduk di samping mereka.

Mereka tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh ancaman dari pihak lawan. Ngapain pula mereka harus khawatir? Sebab mereka sudah menemukan "solusi".

Yaitu... aku.

Padahal Emily-lah yang menyebabkan kekacauan ini.

Dia sukarela mengawasi pengiriman obat itu tetapi entah bagaimana disergap oleh geng lain.

Emily terluka, kakinya patah. Selain itu, seluruh kiriman itu dicuri.

Tidak lama kemudian, pihak Keluarga Ricin menuntut agar kami mengembalikan uangnya. Namun, Ayah sudah membelanjakannya untuk mengambil alih sebuah klub lain dan sebuah rumah.

Jadi, pihak Keluarga Ricin menawarkan solusi lain, yaitu menyerahkan seorang anggota Keluarga Javiera sebagai tawanan sampai utang dilunasi. Biasanya, orang yang menyebabkan masalah yang menanggung akibatnya.

Namun orang tuaku, seperti biasa, luluh saat melihat kaki Emily dalam gips.

Jadi mereka memutuskan bahwa aku adalah pilihan yang lebih tepat untuk dikirim. Tunanganku yang bernama Damian, ikut menyetujuinya.

"Emily sudah terluka demi keluarga. Kalau kamu mengirimnya, itu sama saja dengan hukuman mati. Tapi kamu beda, Aria. Saat ini kamu sepenuhnya mampu jaga dirimu sendiri. Selain itu, mereka nggak akan menyakitimu. Mereka masih perlu mengandalkanmu untuk uang itu."

Mereka tidak akan menyakitiku? Aku hampir tertawa saat mereka mengatakannya.

Apakah tunanganku dan keluargaku benar-benar senaif itu, atau mereka terlalu buta untuk melihat kebenaran?

Mungkin memang mereka tidak akan membunuhku. Namun, bagaimana jika mereka melecehkanku? Menyiksaku? Merendahkanku? Siapa yang bisa menjamin itu?

Hanya karena Emily "kebetulan" melukai kakinya, aku yang harus menanggungnya? Seolah luka itu tidak patut dipertanyakan?

Namun, aku tetap menandatangani namaku.

Karena selama bertahun-tahun, aku sudah tahu betul sifat keluargaku. Ibu dan Ayah begitu dibutakan oleh keluhan rapuh Emily yang dipentaskan sehingga mereka tidak bisa melihat apa pun lagi.

Biarlah...

Aku akan meninggalkan semua yang pernah mereka berikan kepadaku, setiap hal yang aku kumpulkan di bawah kemurahan hati mereka yang enggan. Aku akan menjadi sandera... seperti yang mereka inginkan.

Sementara itu, aku akan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan kiriman itu. Jika Emily bukan korban yang tidak bersalah seperti yang dia pura-purakan, berarti aku akan memastikan bukti itu mendarat di tangan orang tuaku sebagai hadiah terakhir dariku. Aku jadi penasaran bagaimana perasaan mereka ketika mereka menyadari Emily tidak sepolos yang mereka yakini?

Wajah ayahku menggelap saat aku berjalan menuju ruangan. "Jangan coba bujuk kami supaya menyerahkan Emily pada mereka. Dia sudah terluka, dia butuh dukungan keluarga sekarang."

Ibuku ragu, tetapi tetap memihak ayah. "Aria, tolong, lakukan saja ini demi kami kali ini. Emily sudah kasih kontribusinya."

Emily mulai terisak. "Kak, ini salahku. Kalau bukan karena aku, kamu dan Ayah nggak akan berdebat. Kamu nggak perlu pergi... "

Ibuku menghiburnya, "Emily, Sayang, jangan salahkan dirimu. Kamu sudah menanggung rasa bersalah sejak hari itu. Kamu bahkan bersikeras meninggalkan rumah sakit cuma demi bersama kami. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup."

Emily masih terisak. Namun, dalam waktu singkat, aku bersumpah aku melihat senyum sinis terlintas di wajahnya, seolah dia membual kepadaku dan menikmati keberhasilannya. Meskipun dia menyebabkan kerugian kesepakatan hingga belasan triliun bagi keluarga kami, dia tetaplah permata berharga bagi Ayah dan Ibu.

Dulu, aku akan berdebat dengan mereka. Aku akan mengatakan bahwa Ayah tidak adil, Ayah harusnya menghukum orang yang membuat kesalahan tidak peduli apa pun alasannya. Namun kini? Aku tidak merasa ingin berdebat lagi.

"Sebenarnya, itu sebabnya aku datang mencari kalian," ucapku memotong ketegangan itu. "Aku sudah menandatangani perjanjian, aku putuskan buat pergi."

Mata Ibu melebar, rasa tidak percaya tertulis di seluruh wajahnya. "Aria, kamu yakin?"

"Aku yakin."

Ayah mengangguk perlahan, menandakan dia setuju. Sementara Emily duduk tertegun di sana, jelas terkejut melihat betapa mudahnya aku setuju.

"Dan juga... " Aku berhenti sejenak, lalu menatap mata mereka, "Aku sudah memutuskan untuk memberikan Kasino Jaya pada Emily."

Ayah sudah lama ingin aku memberikan kasino itu padanya. Dia pernah berkata, "Aria, Emily ini putri angkat kami, kami nggak mau dia merasa kurang darimu. Aku akan beri aset Keluarga Javiera lainnya padamu saat waktunya tiba, tapi sampai saat itu, bisakah kamu berikan kasino itu pada Emily? Dia sudah lama nggak terlibat dalam bisnis keluarga."

Tidak terlibat? Emily tidak terlibat karena dia tidak becus mengurus apa pun. Selain itu, jangan lupa, Emily tidak pernah pandai mengelola uang. Tidak peduli seberapa banyak yang Ayah atau aku berikan padanya, dia akan menghabiskannya dalam hitungan hari. Bisnis macam apa yang bisa berhasil di tangannya?

Namun, kali ini berbeda. Aku sudah memutuskan. Begitu aku pergi, aku tidak akan kembali. Meski utangnya lunas, aku tetap pergi. Jadi, tidak ada gunanya lagi menahan kasino itu dari Emily. Biar Ayah lihat sendiri apa yang Emily mampu lakukan.

Jujur saja, aku bertanya-tanya apakah akan tersisa kasino saat dia selesai atau hanya properti lain yang dijual untuk menutup kerugian?

"Benarkah!?" Emily melompat dari sofa, matanya melebar penuh kegembiraan. Lalu, menyadari reaksinya terlalu bersemangat, dia cepat-cepat duduk kembali. "Nggak, Kak. Kamu jangan berikan kasino itu padaku. Aku nggak pantas mendapatkannya... "

"Omong kosong," potong Ayah. Suaranya tegas. "Kamu pantas mendapatkan segalanya, kamu juga bagian Keluarga Javiera."

Aku mengeluarkan dua kontrak dari tasku, satu untuk perjanjian sandera, yang lainnya untuk pengalihan kepemilikan kasino. Aku sudah menandatangani keduanya.

"Emily," panggilku. Kemudian aku mendorong kontrak kasino itu melintasi meja. "Tanda tangan ini, maka kasino itu akan jadi milikmu."

Emily menandatangani tanpa ragu, sementara Ibu dan Ayah berseri-seri karena bangga.

Aku tersenyum juga. Untuk pertama kalinya, aku merasa lega. Aku tidak perlu lagi memikul beban untuk menjaga keutuhan keluarga ini. Mulai hari ini, apa pun yang terjadi pada kasino, tidak akan pernah menjadi masalahku lagi.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Ahli Waris yang Terlupakan   Bab 9

    Sudut pandang Aria.Keluarga Ricin menjemputku dengan pesawat pribadi. Rasanya sungguh mewah, jet pribadi dan serbet sutra, seolah aku tamu kehormatan, bukan sandera."Silakan, Nona Aria, Pak Max sudah menunggu Anda di ruang kerjanya."Aku mengangguk.Dalam penerbangan, aku memikirkan belasan rencana pelarian. Menawarkan diri bekerja padanya, menawarkan kontak bisnis ayahku, mengkhianati ayahku jika perlu. Ayah saja tidak ragu mengkhianatiku, kenapa aku harus menaruh belas kasihan padanya?Mobil pun berhenti. Kepala pelayan membukakan pintuku dan rumah besar itu menjulang di depanku, lebih besar dan lebih indah dari yang aku duga.Pelayan itu menyambutku dengan senyum manis, "Nona Aria, Pak Max bilang seorang wanita yang sangat cantik akan berkunjung."Kesopanan itu, anehnya sedikit menenangkanku. Kalau para pelayannya bersikap ramah, mungkin tuannya juga baik.Sebuah harapan kecil dan konyol muncul.Pelayan itu membawaku ke lantai tiga. Kami berhenti di depan pintu kayu merah raksasa,

  • Ahli Waris yang Terlupakan   Bab 8

    Sudut Pandang Damian.Tiga hari kemudian aku menemukan Emily di sebuah resor, sinar matahari mewarnai rambutnya menjadi emas, senyum berkedip di wajahnya ketika dia melihatku. Aku tidak mengatakan apa-apa, aku hanya menoleh ke para pengawal dan memberi perintah, "Tangkap dia." Dia tidak setakut yang aku duga. Mungkin dia sudah menduga akhir seperti ini dan melatih reaksinya ribuan kali. Dia memohon dengan cepat dan terlatih, "Apa terjadi sesuatu? Tolong, beri tahu aku, aku takut banget."Aku tidak menjawab. Aku menyeretnya kembali ke rumah Keluarga Javiera dan melemparkannya ke atas karpet. Video masih diputar berulang di layar belakang kami, gambar berbintik itu membuat ruangan terasa makin kecil dan dingin. Senyum Emily memudar saat melihat sekeliling, ketakutan sesungguhnya mulai merayap ke dalam dirinya.Nino bangkit seperti seorang pria di atas kawat, setiap garis wajahnya berbayang, dia terlihat seolah bisa memukul Emily."Ke mana saja kamu, Emily?" tanya Nino, suaranya rendah d

  • Ahli Waris yang Terlupakan   Bab 7

    Sudut pandang Damian."Sebuah kotak. USB, dokumen, sebuah rekaman. Aku baru saja akan menelepon. Bisa nggak kamu mengambilnya hari ini?""Ya."Saat aku memberi tahu Nino, dia bilang dia ingin ikut.Kami setuju untuk tidak membuka kotak itu sampai semua orang berkumpul. Nino menelepon Elara dan Emily. Elara sontak pucat melihat foto itu, sedangkan Emily tidak menjawab, mungkin sibuk di kasino. Nino memutuskan kami tidak akan menunggu Emily.Kami hanya bertiga. Elara, Nino, dan aku sedang duduk di ruang kerja Keluarga Javiera dengan kotak itu di antara kami. Kotak itu terasa terlalu ringan, seakan tidak berisi apa pun yang pantas digaduhkan.Aku mengangkat tutupnya. Di dalamnya ada beberapa USB, setumpuk dokumen rapi, dan sebuah kaset video tua."Tonton videonya dulu," kata Nino dengan suara serak. "Aku perlu mendengar suaranya."Kami memasukkan kaset itu ke pemutar. Ruangan seolah menyusut mengitari layar saat gangguan hilang dan rekaman mulai diputar.Wajah di monitor itu bukan Aria. I

  • Ahli Waris yang Terlupakan   Bab 6

    Sudut pandang Damian.Aku pulang, mencoba menenangkan diri.Di meja kopi ada bingkai foto pilihan Aria, yaitu foto kami di taman hiburan. Senyumnya hari itu begitu cerah, begitu polos, seolah aku melihat versi dirinya yang tidak pernah dilihat orang lain.Saat melihatnya sekarang, penyesalan menghantamku seperti sebuah pukulan. Penyesalan karena membiarkannya pergi, tidak menghentikannya. Meski itu berarti mendorong Emily ke tangan Keluarga Ricin, bukankah dia yang menghancurkan transaksi sejak awal?Aku menggeleng, memaksa pikiran itu pergi. Yang penting sekarang hanyalah membawa Aria kembali.Aku ragu sebelum menelepon, tapi akhirnya kutelepon ayahku. Aku berbohong, bilang padanya aku mendapat peluang bisnis baru. Mungkin Ayah terkesan dengan kerjaku bersama Keluarga Javiera. Dalam hitungan jam dan tanpa bertanya apa pun, uangnya sudah ditransfer.Aku langsung pergi ke Nino. "Aku punya uangnya. Mari kita telepon Keluarga Ricin, bayar mereka dan bawa Aria pulang."Wajahnya tampak ters

  • Ahli Waris yang Terlupakan   Bab 5

    Sudut pandang Damian.Ketika Aria memberitahuku dia akan pergi ke Ricin sebagai sandera, aku ingin mengatakan tidak. Demi Tuhan, aku ingin berteriak menolaknya. Karena sebagian dari diriku, bagian yang enggan kuakui, masih mencintainya, lebih dari yang seharusnya.Aku bertemu dengannya di sebuah pertemuan lingkaran Mafia. Saat itu, dia adalah pewaris Keluarga Javiera, anak sulung dan masa depan keluarganya. Sedangkan aku? Aku hanya putra ketiga ayahku, yang ditakdirkan memudar di latar belakang.Aku tahu betul, jika ingin bertahan di dunia ini, aku butuh kekuasaan, dan Aria Javiera adalah tiketku, kesempatanku mengungguli saudara-saudaraku untuk meraih sesuatu yang lebih besar.Jadi aku mengejarnya, mengajaknya kencan, dan membuatnya jatuh hati. Aku meyakinkan diri bisa memilikinya. Melalui dia, aku bisa mendapatkan dukungan Keluarga Javiera, sumber daya Javiera.Yang tidak kuduga adalah Emily.Setiap kali kutanya tentang adiknya, Aria terdiam. Aku tahu Aria tidak menyukai Emily, tapi

  • Ahli Waris yang Terlupakan   Bab 4

    Sudut pandang Aria.Aku mendapati diriku berada di taman hiburan yang dulu kukunjungi saat kecil, ketika semuanya masih tentang aku, sebelum Emily masuk ke dalam hidup kami.Saat aku melangkah melewati gerbang, pemandangan di depanku seakan berubah. Aku hampir bisa melihatnya. Ayah yang saat masih muda, menggendongku dengan bangga sambil tersenyum pada Ibu. "Aria pintar banget, sudah menyelesaikan kelas matematikanya. Aku rasa dia bakal jadi pewaris sempurna untuk membawa nama Keluarga Javiera!"Ibu dengan senyum lembut yang hanya dia miliki, menatapku dan berkata, "Anak kita pasti lelah. Jangan bicarakan bisnis atau sekolah hari ini, fokus saja biar Aria naik komedi putar favoritnya."Aku terkikik, seluruh perhatianku tertuju pada es krim, balon, dan mainan di sekelilingku.Saat itu bahagia, bukan?Kapan tepatnya semua itu berubah?Aku berjalan ke komidi putar, menyerahkan tiketku pada petugas, lalu naik ke atas. Angin menerbangkan rambutku, dan untuk sesaat, aku hampir merasakan kemb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status