LOGINKeheningan di ruang makan itu mendadak terasa begitu tebal.Dr. Kara menatap Ariel dengan waspada, matanya tajam seperti sedang mengukur sesuatu yang tidak terlihat. Sementara itu Ariel hanya membalas tatapan itu dengan senyum lembut, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.Lalu tiba-tiba—Ariel terkekeh kecil.“Aduh… kenapa jadi serius begini?” katanya ringan sambil melambaikan tangan. “Aku kan cuma bercanda, Dokter. Kita makan dulu saja, ya.”Nada suaranya santai, hampir seperti anak kecil yang baru saja melempar gurauan.Nathan menatap Ariel lama, mencoba membaca ekspresinya. Ia tidak yakin apakah ucapan tadi benar-benar hanya candaan.Dr. Kara memaksakan senyum tipis.“Oh… tentu,” katanya.Namun suasana sudah terlanjur berubah.Dentang sendok dan garpu kembali terdengar, tapi kini terasa canggung. Tidak ada lagi percakapan ringan. Nathan hanya makan sedikit, lebih sering melirik Ariel dari sudut matanya.Sementara Kara...Kara sama sekali tidak berselera makan lagi.Ia hanya mengad
Aroma sisa hujan semalam masih tertinggal di udara ketika Ariel menekan tombol send di laptopnya. Jantungnya bertalu-talu. Sebuah subjek email singkat: Naskah Final - Teach Me How, Doctor.Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak bisa dibendung. Akhirnya. Setelah semua drama dengan Matthew, setelah air mata dan penolakan dari London, naskah yang sebenarnya telah ia rintis jauh sebelum badai itu datang kini rampung. Ini bukan sekadar buku; ini adalah katarsis. Sebuah cerita tentang seorang wanita yang belajar menemukan suaranya di bawah bimbingan seorang pria yang dingin namun menghanyutkan—sebuah cerminan yang terlalu nyata dari apa yang ia alami bersama Nathan."Sudah selesai, Pak George," bisik Ariel pada ruangan yang sepi. Ia tidak tahu apakah Matthew akan mengizinkan naskah ini terbit, atau apakah Pak George punya cukup keberanian untuk meloloskannya. Tapi baginya, keberhasilan menyelesaikan kalimat terakhir adalah kemenangan mutlak.Ar
Mimpi itu terasa begitu nyata—sentuhan kasar namun protektif dari jemari Nathan, aroma sandalwood yang memabukkan, hingga sensasi sofa kulit yang dingin beradu dengan kulitnya yang membara. Ariel terbangun dengan napas tersengal, dadanya naik turun di bawah selimut tipis kamarnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia mengerang pelan, menutupi wajahnya dengan bantal, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan Nathan yang seolah masih berbisik di telinganya tentang "pelajaran bercinta." Namun, realita pagi ini tidak semanis mimpinya. Cahaya matahari yang menusuk celah gorden seakan mengejek kegagalannya. Ariel meraih ponselnya, membaca kembali email dari London yang ia terima kemarin. "Kami menghargai keberanian teknik narasi Anda, namun sayangnya, naskah ini belum sesuai dengan daftar publikasi kami saat ini..." Kalimat penolakan yang standar, namun bagi Ariel, itu rasanya seperti hantaman godam. Ia merasa semua "eksplorasi" yang ia lakukan bersama Nathan, semua risiko emosional yan
Ariel menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang. Sudah berbulan-bulan mereka tidak bercinta, Nathan ingin "mengajar" dia seolah dia masih gadis lugu. "Nathan... aku... aku tidak yakin," gumamnya, tapi matanya tak bisa lepas dari tubuh pria itu. Nathan tertawa pelan, mendekat dan berlutut di depan sofa, tangannya merayap naik ke paha Ariel yang tertutup dress. "Takut? Bagus. Itu artinya kamu siap belajar. Buka kakimu lebar-lebar buat aku, Ariel. Biar aku lihat betapa basahnya kamu udah nunggu kontolku."Dengan tangan gemetar, Ariel patuh membuka kakinya, dressnya tersingkap perlahan memperlihatkan paha mulus dan celana dalam tipis berwarna putih yang sudah lembab di tengah. Nathan mendesis puas, jarinya menyusuri garis celana dalam itu, menekan lembut ke liangnya yang sudah bengkak. "Lihat nih, udah basah. Kamu mau menutupinya tapi tubuhmu jujur." Ia menarik kepala Ariel mendekat, menciumnya ganas—lidahnya menyerbu mulut gadis itu, menari liar sambil tangannya meremas pa
Ruangan itu terasa semakin menyempit, hanya menyisakan ruang bagi aroma sandalwood yang maskulin dan deru napas yang saling memburu. Nathan tidak memberikan kesempatan bagi Ariel untuk menarik napas dalam-dalam. Ia mengunci pergerakan Ariel dengan dominasi yang tenang, namun mematikan."Tidakkah kau merindukan saat kita belajar bercinta, Ariel...?" bisik Nathan. Suaranya rendah, bergetar di dekat daun telinga Ariel, mengirimkan gelombang elektrik yang melumpuhkan saraf-saraf logika wanita itu.Wajah Ariel merona hebat, panasnya menjalar hingga ke ujung telinga. Ia menelan ludah yang terasa kering di kerongkongannya. "Be-belajar bercinta?" tanya Ariel malu, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan apartemen yang mewah itu. Matanya yang bulat menatap Nathan dengan campuran antara rasa tidak percaya dan rasa ingin tahu yang terlarang.Nathan menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang penuh arti. "Ya... belajar. Seperti naskahmu yang butuh revisi, tubuh dan perasaanmu juga bu
Ariel merasakan oksigen di paru-parunya seolah menipis. Tawaran Nathan bukan sekadar saran profesional; itu adalah godaan yang dibungkus dengan dalih riset literasi. Mata Ariel bergerak gelisah, menatap kancing kemeja Nathan yang terbuka, lalu kembali ke sepasang mata tajam yang seolah bisa membaca setiap gejolak hasrat dan ketakutannya."Riset?" bisik Ariel, suaranya serak. "Dokter, kita bicara tentang naskah, bukan tentang... hal lain. Lagipula, bukankah ini berbahaya bagi kita berdua?"Nathan terkekeh rendah, suara tawa yang maskulin dan penuh otoritas. Ia melangkah satu tindak lagi, hingga lututnya nyaris bersentuhan dengan lutut Ariel yang sedang duduk di sofa. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengurung tubuh mungil Ariel di antara lengannya."Bahaya adalah nama tengahmu, Ariel. Bukankah kau menjadi penulis terkenal karena keberanianmu menabrak norma?" Nathan mendekatkan wajahnya, aroma sandalwood dan sisa kopi hitam dari napasnya menyapa indra penci
“O... oral sex, dok?” Wajah Ariel memerah setelah mengucapkan itu. Ia menelan berat ludahnya sekali.“Ya. Kita akan mempraktekkannya malam ini.” Suara Nathan terdengar datar sembari duduk di samping Ariel. “Kau pernah melihatnya di video porno, kan?”“I-iya...” Ariel jadi gelagapan saking malunya, “
“Sudah mau kontrak ya? Cepat juga...” Ariel tampak kagum. Cindy mengangguk bangga, matanya bercahaya. “Kemarin ada produser menghubungiku, katanya dia suka salah satu karyaku dan ingin mengadaptasikannya ke dalam serial.” Ariel hanya mengangguk kecil. Di dalam dada ada rasa iri halus yang menggo
“Aku sudah membaca sebagian naskahmu…” kata George dengan nada datar yang membuat jantung Ariel langsung mencelos.Ariel menelan ludah. “Iya, Pak… bagaimana menurut Bapak?”“Kupikir… bab-bab awalnya sudah bagus,” George berhenti sejenak sambil menyeringai tipis. “Tapi…”Ariel langsung tegap, wajahn
“Selamat, Ariel... ceritamu sudah dibaca oleh tim editor lain dan mereka setuju karyamu terbit di halaman cerbung majalah Gentleman yang akan terbit bersamaan dengan hari ulang tahun penerbit JustFor besok.”Suara parau Pak George memecah ketegangan ruangan. Ariel yang tadi duduk sambil cemas, kini







