แชร์

28. Ajari Aku, Mbak!

ผู้เขียน: MoonCake
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-02 18:48:01
"Duduk di atas pangkuanku aja, Mbak. Sekalian buka dasternya, aku kepingin lihat semuanya...."

Arga berbicara dengan suara tertahan. Wajahnya meringis, sedangkan deru napasnya memburu. Hasrat kelaki-lakiannya saat ini semakin meronta, tak sabar ingin melihat dan menikmati lekuk tubuh Wulan yang luar biasa menggoda.

Di hadapan Arga, Wulan yang meremas pinggiran daster lusuhnya itu pun mengangguk pelan. Ia yang sejak tadi menggigit bibir lantaran merasa gugup bercampur takut, beringsut perlaha
MoonCake

Hay, Guys! Jangan lupa tinggalkan jejak kepemilikan yes. Biar makin semangat up!

| 41
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   242. Ajari Aku, Mbak!

    Jam menunjukkan pukul sepuluh siang, Arga yang semalaman bekerja di klub, belum bangun dari tidurnya.Pemuda itu tampak begitu lelap di tengah-tengah kasur dengan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada. Kipas angin di kamar tersebut menyala dalam mode full.Sedangkan Wulan baru saja selesai mandi setelah berkutat dengan rutinitas biasanya di pagi hari. Mulai dari beberes, mencuci pakaian, dan juga menyiapkan menu masakan untuk Arga makan saat bangun tidur nanti.Di saat Wulan baru saja selesai mengikat rambutnya, pintu kontrakan tersebut diketuk-ketuk dengan pelan dari luar. Meskipun pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Wulan lantaran kontrakan tersebut begitu hening.Tuk, tuk!"Sebentar!" sahut Wulan sembari beranjak dari duduknya dan meletakkan sisir yang ada di tangannya ke lantai pinggiran kasur.Wanita bertubuh seksi dan berparas cantik itu keluar dari kamar. Ia berjalan menuju pintu dengan langkahnya yang lebar.Selanjutnya, memutar kunci lalu menarik gagang pintu kontrakan

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   240. Ajari Aku, Mbak!

    "Munafik, perempuan murahan, lonte!"Plak!Tamparan keras telapak tangan Mira kembali melayang untuk kedua kalinya ke wajah Amelia. Emosinya sudah benar-benar tidak bisa ditahan, ia geram dikata-katai oleh Amelia.Selama ini Mira selalu menganggap Amelia sebagai teman sekaligus saudaranya. Tetapi apa yang dilakukan Amelia? Hanya karena obsesinya pada seorang pria yang sudah beristri, ia justru nekat melakukan apa saja dan memusuhi orang-orang yang ada di sekitarnya."Aku nggak segila dan senekat kamu, Mel. Aku juga bukan perempuan yang berani berbuat curang buat dapetin perhatian suami orang. Dari sini jelas, siapa yang lebih murahan!"Plak!Amelia membalas tamparan Mira tak kalah keras.Adu mulut kedua wanita itu kini berujung adu kekerasan. Di dalam ruangan tersebut, Amelia menjambak rambut Mira yang bertubuh sedikit lebih pendek darinya."Aku tahu semalam kamu dan Arga ngabisin waktu berduaan di kamar ini, kan?" kata Amelia dengan suara tertahan. Tangannya menjambak kuat rambut Mir

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   239. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga, muka Mbak Mira kenapa?"Arga yang memasuki ruangan pribadi Mira, dibuat terkejut saat melihat wajah wanita pemilik klub Happy Fun tempatnya bekerja.Bagaimana tidak terkejut? Wajah mulus Mira kini terdapat tanda lima jari, bahkan sudut bibirnya mengalami lebam kebiruan."Siapa yang mukulin Mbak Mira? Kenapa sampai biru kayak gini? Ke mana petugas keamanan dan penjaga yang tugas? Bisa-bisanya biarin Mbak Mira dipukulin!" kata Arga sembari menyentuh bahu Mira dan memeriksa bagian tubuh wanita itu.Melihat kecemasan di wajah Arga, Mira tersenyum geli. Lalu, ia mendorong pelan tangan Arga yang memegang bahunya."Aku nggak apa-apa, Ga. Tadi siang abis ribut sama Amelia," kata Mira dengan santai.Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pada pukul satu siang, Amelia mendatangi klub tersebut bersama Gatot dan kedua temannya.Penjaga klub sudah melarang Amelia untuk masuk, tetapi wanita yang menyandang status janda itu keukeuh ingin masuk dan menerobos."Saya mau ketemu Mira. Kalau kalian t

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   238. Ajari Aku, Mbak!

    "Jadi gitu ceritanya, Sayang. Aku beneran nggak nyebarin video itu. Cuma Bu Erna yang aku kasih tahu!"Arga yang duduk di atas karpet itu menceritakan semuanya pada Wulan yang berdiri di hadapannya. Ekspresi wajahnya terlihat santai dan tenang, bahkan berbicara sambil mengunyah emping goreng di dalam mulutnya."Bukan aku yang nyebarin, tapi Bu Erna!" lanjut Arga seraya menyengir kuda.Mendengar cerita Arga, Wulan geleng-geleng kepala. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan."Kamu sengaja kan ngasih tahu Bu Erna, karena kamu tahu kalau dia biang gosip yang nggak bisa jaga rahasia. Huh ... kamu pikir aku nggak tahu apa isi otak kamu itu!"Arga yang semula hanya menyengir kuda kini terkekeh-kekeh. Membenarkan perkataan istrinya.Pemuda itu memang sengaja. Ia ingin membalas Bu Nur yang sudah berkali-kali menyakiti Wulan dan menjatuhkan mentalnya dengan kata-kata menyakitkan.Sekarang, wanita julid itu mendapatkan balasan, menuai karma atas apa yang pernah ia lakuk

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   237. Ajari Aku, Mbak!

    "Argantara...."Wulan meneriaki Arga yang berlari memasuki rumah lantaran sengaja menjauhinya. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan menyusul suaminya itu.Wanita itu ingin tahu, apa yang sudah dilakukan oleh Arga hingga kabar kehamilan putri Bu Nur menyebar dengan begitu cepat."Sayang!" panggil Wulan saat memasuki rumah. Memanggil suaminya yang entah berada di mana."Di dapur, bukan di kamar!" sahut Arga.Mendengar sahutan Arga, Wulan melangkah menuju dapur. Dilihatnya, Arga duduk santai di karpet yang terbentang di lantai. Tangannya memeluk toples plastik berisi emping goreng."Kamu yang nyebarin berita dan video anaknya Bu Nur?" tanya Wulan yang kini berdiri di hadapan Arga dengan kedua tangan terlipat di bawah dada.Mata wanita itu menatap dengan tatapan penuh selidik, hingga membuat Arga memajukan bibir dibuatnya."Iya, kamu yang nyebarin?" tanya Wulan lagi lantaran tak kunjung mendapatkan jawaban dari Arga.Ditanya secara berulang-ulang, Arga menggelengkan kepalanya. Lalu mencono

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   236. Ajari Aku, Mbak!

    "Ga, lihat deh. Itu kok kayak...."Arga yang sedang mengunyah satenya menoleh dan menatap ke mana arah tunjuk sang istri.Saat melihat orang yang ditunjuk oleh Wulan, Arga justru melongo dan menatap cengo."Anaknya Bu Nur, kan, itu? Yang nomor dua?" tanya Wulan dengan pelan, tetapi tak ditanggapi oleh Arga. "Iya, kan?" lanjut Wulan.Tak mendapatkan tanggapan dan respons dari Arga, Wulan pun menoleh, menatap wajah cengo suaminya itu.Bibirnya seketika tercebik saat melihat ekspresi wajah sang suami yang cengo. Benar-benar seperti orang bodoh."Sayang, kamu denger aku nggak sih? Aku ngomong lho sama kamu!" kata Wulan sambil menepuk pelan pipi tirus Arga."Aku denger, Sayang. Tapi mataku lagi lihatin anak Bu Nur nangis-nangis tuh!" timpal Arga, menunjuk dua orang remaja yang sedang terlibat cekcok menggunakan moncong bibirnya.Mendengar perkataan Arga yang mengatakan jika salah satu dari remaja itu memang benar-benar anak Bu Nur, Wulan pun angguk-angguk kepala."Berarti beneran anaknya B

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status