แชร์

47. Ajari Aku, Mbak!

ผู้เขียน: MoonCake
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-09 22:38:25
"Ga, kok punyamu rasanya gerak-gerak sih?"

Kyak!

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Wulan, membuat mata Arga spontan melotot lebar. Pemuda tanggung itu refleks menekan kedua payudara Wulan dan mendorong tubuh telanjang sang mantan kakak ipar dari atasnya.

Jantung Arga seketika berdetak begitu cepat. Ia tak menyangka pertanyaan polos Wulan justru membuat pikirannya seketika menjadi kacau. Rasa gugup dan panik bercampur menjadi satu, membuat tubuhnya bergerak tanpa berpikir panjang.

"Akhhh..
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   225. Ajari Aku, Mbak!

    "Jadi maksudnya, kalau saya yang ngelakuin itu, Mbak Mira nggak akan nolak?"Pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari bibir Arga. Keningnya berkerut, matanya yang menyipit menatap Mira tanpa berkedip.Sedangkan Mira sendiri menggigit ujung bibir bawahnya kuat-kuat. Jemarinya meremas pinggiran seprai tempatnya duduk. Ia yang ditanya oleh Arga menganggukkan kepalanya dengan pelan, lalu menunduk dalam.Melihat respons yang diberikan Mira, Arga pun memejamkan matanya seraya menghela napas pelan."Tapi saya nggak bisa ngelakuin itu sama kamu, Mbak. Saya udah janji ke diri saya sendiri kalau saya nggak akan berhubungan seks sama perempuan lain. Saya mencintai istri saya dan nggak ingin berbagi sama siapa pun," lanjut Arga. Suaranya pelan dan sengaja ditahan, sedangkan matanya kembali menatap Mira yang terduduk di hadapannya.Mira mengangkat wajahnya dan menatap Arga. Lalu, memaksakan senyumnya dan menarik selimut yang sebelumnya tak sengaja disingkap oleh Arga, menutup kembali bagian bawa

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   224. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga... maaf, Mbak. Saya nggak sengaja lihat!" Arga yang memasuki ruangan Mira, seketika memalingkan muka saat matanya menatap pemandangan di atas tempat tidur. Ia terlihat kaget, bahkan tubuhnya menjadi tegang, lebih tegang dari batang kemaluan di balik celana jinsnya. Bagaimana tidak tegang dan kaget? Di atas ranjang ruangan tersebut, Mira duduk bersandar pada kepala ranjang dengan bagian bawah tubuhnya yang telanjang. Kedua pahanya terbuka lebar, menampilkan pemandangan indah yang membuat pria normal mana saja melotot melihatnya. Pemandangan tersebut mirip seperti Wulan yang terpergok bermain solo beberapa waktu lalu. Namun, pada saat itu, Wulan bermain solo ditemani sebuah terong ungu berukuran sedang dan juga mengorek-ngorek liang kenikmatannya menggunakan jari. Sedangkan Mira saat ini, bermain apem tembemnya menggunakan sebuah alat yang begitu mirip dengan kemaluan pria. Saat alat tersebut ditekan, tubuh Mira bergetar dan suara desahannya memenuhi seantero kamar kedap

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   223. Ajari Aku, Mbak!

    Pergumulan panas antara Amelia dan ketiga pengawalnya terus berlanjut. Bahkan mereka mencapai puncak klimaks hingga berkali-kali malam itu. Gatot, Wanto dan Rusdi berhenti menggumul tubuh Amelia setelah bos mereka itu benar-benar terkulai lemas. "A-a-aku udah nggak kuat lagi, rasanya vaginaku perih dan badanku lemes banget. Ngeh...."Amelia yang terkulai lemas di atas sofa itu berbicara dengan nada suaranya yang pelan dan tersengal-sengal. Wajahnya terlihat lesu, serta matanya menatap sayu. "Kita udahan sekarang, Bos? Nggak mau dilanjut lagi?" tanya Gatot seraya mengurut penisnya yang sudah lima kali crot di mulut serta tubuh Amelia. Crot terbanyak dalam hidupnya hanya dalam waktu semalam. Sejak tadi, penis itu dibuat bangun tidur, bangun dan tidur lagi. Tetapi ternyata, Gatot benar-benar tak kenal puas. Bahkan, jika Amelia masih ingin di genjot, batang kemaluan Gatot masih sanggup bekerja. Namun tampaknya, Amelia sudah benar-benar tidak berdaya lantaran energinya terkuras habis.

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   222. Ajari Aku, Mbak!

    "Cepet isep punyaku sampe bersih!" Gatot berbicara sembari menempelkan batangan tegangnya yang berkedut kencang ke bibir Amelia dan memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya. Amelia yang duduk di sofa dengan tubuh agak lemas dan kedua paha terbuka lebar itu hanya bisa pasrah saat Gatot menempelkan batang kemaluan itu ke bibirnya. Terpaksa, Amelia membuka mulutnya, membiarkan penis Gatot masuk dan menyemburkan benihnya yang hangat dan kental di sana. "Huek, huek...."Begitu Gatot menjejalkan batang kemaluannya dan menyemprotkan spermanya, mata Amelia seketika mendelik lebar. Bahkan wanita itu langsung merasakan mual, terbatuk-batuk dan memuntahkan cairan kental tersebut. "Telen semuanya, jangan di buang," kata Gatot masih dengan penisnya di mulut Amelia. Pria berbadan kekar itu tak memberikan jeda dan juga ampun. Meskipun Amelia sudah muntah-muntah, tetapi dia tetap tak menarik penisnya dan tetap memaksa bosnya itu untuk menelan semuanya. "Pelan-pelan aja, pastiin semuanya habis

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   221. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga... help, jangan robek lubangku, Gatot!" Amelia yang belum pernah dimasuki oleh penis sebesar itu selain milik mantan suaminya yang ukurannya tidak memuaskan, spontan menjerit keras. Matanya membelalak, sedangkan mulutnya terbuka lebar. Dada wanita itu seketika bergemuruh hebat, membuat payudaranya yang besar ikut naik turun. Saat ini miliknya terasa begitu sesak dan amat penuh, bahkan agak sedikit sakit. "Duh... rasanya agak sakit, Tot. Punyaku rasanya sesak banget sekarang!" kata Amelia lagi. Tangannya yang semula menggenggam penis Rusdi dan Wanto, perlahan melemas lantaran sensasi sakit, sesak dan penuh akibat tusukan Gatot. "Saya diemin dulu di dalem biar Bu Bos rilex dan tenang. Nanti kalau udah tenang, bakal saya genjot pelan-pelan," kata Gatot. Menimpali perkataan Amelia dengan suara tertahan dan deru napas memburu. Amelia menggigit bibir, sedangkan kepalanya mengangguk pelan. Wajahnya memang terlihat agak sedikit lemas, tetapi tangannya kembali bergerak, meraih pen

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   220. Ajari Aku, Mbak!

    "Buruan maju sini, Wanto. Biar aku isepin punyamu duluan kayak punya Gatot tadi. Setelah itu baru punya Rusdi!" Diminta untuk maju, cepat-cepat Wanto yang duduk di atas sofa sambil meremas-remas bongkahan payudara Amelia yang besar dan kenyal. Ia berdiri di atas sofa dengan posisi kaki sedikit ditekuk dan tubuh agak condong, menyejajarkan penisnya dengan kepala Wulan. "Beneran mau ngisep punya saya, Bos? I-i-ini seriusan?" tanya Wanto sambil mengurut-urut batang kemaluannya sendiri. Sedangkan wajahnya meringis menahan gejolak hasratnya yang justru membuat penisnya terasa lumayan nyeri. Tanpa menimpali perkataan Wanto yang sedikit gemetar dan tergagap, Amelia memalingkan wajahnya, menghadap pada batangan tegang pemuda sembilan belas tahun tersebut. Lalu, Amelia membuka mulutnya dan melahap batangan tumpul tersebut. Tangan kanannya berpegangan pada paha kurus Wanto, sedangkan yang kiri menggenggam batangan milik Rusdi. Plok, plok!Suara kocokan tangan Amelia dan juga decakan bibirn

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status