Mag-log in"Apa yang kau sebut sebagai turun kasta itu adalah sanksi dari perbuatanmu sendiri, Adishra." Ridhika mengulas sebuah senyum simpul di wajahnya, tanpa menghilangkan nada serius dalam suaranya. "Sebenarnya, aku percaya bahwa aku sudah cukup berbaik hati dengan tidak memberitahukan alasan spesifik turunnya sanksimu itu kepada orang-orang. Kalau mereka tahu, mungkin kau bahkan akan lebih dikucilkan daripada aku."Menyaksikan raut wajah Adishra secara perlahan berubah dari arogan menjadi pucat entah mengapa memberikan kepuasan tersendiri bagi Ridhika. Akan tetapi, dia masih belum selesai. Hanya sekadar mengambil jeda sebelum menjatuhkan bom terakhir yang bisa membungkam omong kosong gadis itu sepenuhnya."Walau bagaimana pun juga, aku dijadikan siswi Kelas Protagonis melalui keputusan mutlak Adhyaksa. Para protagonis murni ini harus menerimaku, suka atau tidak suka. Tapi, kau? Dengan posisimu sekarang, ditambah fakta kejahatan yang telah kau perbuat, apa kau bisa menjamin bahwa mereka tid
"Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok berisi masing-masing satu protagonis, satu antagonis, serta beberapa peran pendukung dan figuran," jelas Guru Pembina seraya memberikan selembar kertas berisi kelompok yang dimaksudnya pada perwakilan kelas. "Silakan ambil naskahnya di depan sini, lalu diskusikan jadwal latihan dan apapun yang kalian rasa perlu. Semua kelompok wajib untuk tampil berdasarkan naskah ceritanya pada pertemuan selanjutnya minggu depan."Setelah sang Guru Pembina duduk kembali di belakang mejanya, perwakilan kelas segera berdiri dan mulai mengumumkan nama-nama anggota masing-masing kelompok. Tidak perlu waktu lama bagi para siswa dan siswi untuk mulai ribut mencari pemilik nama-nama tersebut. Semua orang tampak antusias. Hanya Ridhika saja yang sibuk melamun sampai tanpa sadar menggores permukaan meja menggunakan kukunya.Seusai terjaga sepanjang malam, memikirkan apa yang harus dilakukan setelah kecurigaannya terhadap Widuri semakin meningkat, dia memutuskan u
"Sejak kapan kamu ada di sini?" Ujar Widuri seraya berjalan mendekati Ridhika.Jika dilihat dari sudut pandang biasa, bagi Ridhika, tidak diragukan lagi bahwa Widuri hanya sedang tersenyum tulus padanya seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi, setelah menyaksikan sendiri bagaimana sikap gadis itu hanya beberapa saat lalu, rasa-rasanya seolah yang bertengger di bibir sang teman tersebut bukanlah senyum, melainkan seringai penuh rahasia.Saking kuatnya sugesti ini bekerja di dalam kepalanya sekarang, Ridhika sampai tanpa sadar mundur beberapa langkah dengan kaki gemetaran. "Ridhika. Ada apa?" Widuri semakin mendekat dengan raut wajah bingung. "Apa yang kamu dengar?"Pertanyaan itu seolah memaksa Ridhika bangun dari linglungnya. Dalam sekejap, dia sadar bahwa reaksinya yang sedemikian kentara bisa saja memancing kecurigaan Widuri. Jadi, meski napasnya terasa masih tersangkut di tenggorokan, dia susah payah mencoba mengendalikan diri secepat mungkin."Aku tiba-tiba pusing," ujarnya lirih.
"Kenapa? Kau takut dikhianati?"Seolah memiliki kekuatan supranatural, mudah saja bagi Bagastya untuk menebak apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Ridhika. Di sisi lain, gadis itu pun sama sekali tidak kaget. Katakanlah, dia sudah terbiasa dengan kemampuan pria itu membaca dirinya. Sisi baiknya adalah dia tidak lagi perlu menyampaikannya keras-keras. Sedangkan, sisi lainnya adalah keadaan yang langsung berubah canggung setelah itu.Akan tetapi, sepertinya kecanggungan ini pun hanyalah sesuatu yang dilebih-lebihkan oleh pikiran Ridhika. Sebab, Bagastya sama sekali tidak merasakannya. Alih-alih diam seribu bahasa seperti gadis itu, dia justru sekali lagi mengatakan sesuatu yang kemudian mengubah kebingungan Ridhika menjadi satu jawaban yang jelas."Kau kan juga tahu identitas asliku. Pernah datang ke rumahku, bahkan melihat keluargaku, meskipun hanya melalui foto. Kalau menurutmu, aku seperti akan berkhianat di tengah jalan, kau bisa membocorkan itu semua kepada seluruh penghuni
Matanya serasa direkatkan oleh lem paling kuat di alam semesta. Barangkali adalah pernyataan yang sedikit dilebihkan, tetapi demikianlah yang ada dalam pikiran Ridhika pada saat mencoba membuka matanya.Ketika sudah berhasil melakukannya pun, masih tidak ada hal yang mampu diperbuat olehnya selain berbaring menatap langit-langit kamar yang warnanya agak kusam. Seluruh tubuhnya masih terasa remuk, tetapi yang paling mengganggunya adalah bagian punggung yang berdenyut nyeri.Entah separah apa lukanya, sudah diobati atau belum, dia tidak yakin. Prioritasnya saat itu adalah segera mengumpulkan energi dan kembali ke tebing untuk mengambil kamera yang tadi dilihatnya."Ya Tuhan, Ya Tuhan," batinnya. Ingin berdoa semoga kamera itu masih ada di tempatnya.Ridhika mengulurkan tangan, berpegangan pada tepian kasur untuk membantunya bangkit dari posisi baringnya. Dengan suara brak yang nyaring, tubuhnya jatuh ke lantai karena tidak mampu menahan bobot sendiri. Namun, dia tetap merangkak secara p
"Kau menarikku keluar sejauh ini hanya untuk menyuruhku mengaku?" Ridhika mendengkus dingin seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak tahu kau berharap aku menjadi orang yang seperti apa, tapi biar kuberitahu satu hal, aku bukan malaikat. Hanya karena aku siswi protagonis, bukan berarti aku akan selalu jadi baik hati dan penuh dengan niat yang tulus.""Ridhika, bukan begitu maksudku." Helaan napas berat lolos dari bibir Bagastya. Baru saja disadarinya bahwa tindakannya memang bisa terlihat seolah sedang menghakimi gadis itu. "Baiklah, aku salah. Maafkan aku. Aku hanya kaget. Ridhika yang kukenal itu cerdas, tapi dia tidak akan memanfaatkan itu untuk menyakiti orang lain.""Ridhika yang kau kenal? Ridhika yang mana? Menjadi pasangan selama beberapa bulan tidak lantas membuatmu mengenalku, Bagastya. Lagipula, yang kusakiti itu adalah diriku sendiri." Ridhika mengangkat pergelangan tangannya yang terbalut perban. "Apa yang ditanggung oleh Klarisa, hanyalah konsekuensi dari
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku
Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma
"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika







