LOGINSejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.
Keadaan di luar jendela masih agak gelap. Namun, ketika dia memaksakan diri untuk melepas diri dari kasur, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Widuri yang sudah berseragam rapi. Sontak saja dia merasa kagum. Pasalnya, teman sekamarnya itu terlihat disiplin sekali. Padahal, semalam mereka tidur larut. "Sudah bangun?" Widuri menatap Ridhika melalui kaca meja rias. "Cepat siap-siap, ya. Aku akan mengajarimu berdandan nanti." Sebelah alis Ridhika terangkat, "Berdandan? Kita kan harus ke sekolah." "Memang." "Kukira, siswi tidak boleh berdandan kalau ke sekolah." Widuri tertawa kecil, "Itu kalau di sekolah biasa, Ridhika." Dia membalikkan tubuh, menatap Ridhika yang masih duduk di atas tempat tidur dengan rambut berantakan. "Di sini, semakin cantik kamu berdandan, semakin bagus." Ridhika terdiam sebentar. Masih memproses secara perlahan perkataan Widuri. Maklum, dia baru bangun. Perlu waktu beberapa saat baginya sebelum benar-benar berhasil mengumpulkan kesadaran dan mulai bersiap. Dia mengambil seragam yang telah dipersiapkan untuknya dari dalam lemari, lantas berjalan tanpa energi menuju kamar mandi. "Huh, aku sama sekali tidak bersemangat," gumamnya pada diri sendiri. Meskipun, tadi malam Widuri sudah menjelaskan padanya tentang segala hal penting yang harus dia perhatikan sebagai siswi baru Kelas Protagonis, dia tetap merasa gelisah. Bagaimana jika tahu-tahu dia berbuat kesalahan? Tidak habisnya pikiran buruk tersebut berputar di dalam kepalanya. Karena terlalu banyak berpikir, Ridhika jadi tidak bisa menikmati pengalaman mandi air hangat untuk pertama kalinya. Dia hanya berendam dalam air yang sudah dicampur aromatic mawar sambil termenung. Setelah dirasa cukup, dia segera mengeringkan badan, lalu mengenakan seragamnya. "Kamu sudah pernah menggunakan produk kosmetik sebelumnya?" Pertanyaan itu langsung menyambut Ridhika tepat setelah keluar dari kamar mandi. Dia hanya menggeleng untuk menanggapi. Membiarkan Widuri menarik lengannya agar duduk di depan meja rias. Kini, gadis itu sedang dengan bersemangat mengoleskan satu persatu produk perawatan kulit yang tertata di atas meja pada wajah Ridhika. Sesekali, Ridhika mendengar Widuri berdecak, tetapi dia tidak yakin alasannya kenapa. Karena khawatir akan mengganggu konsentrasi teman sekamarnya itu, dia jadi tidak berani bergerak. "Kamu boleh bergerak kok, Ridhi," ujar Widuri sambil terkekeh. Ridhika menghela napas lega. Punggung yang tadinya dipaksa untuk duduk tegap, kini mengendur santai. Baru sebentar, rasanya seluruh anggota tubuhnya sudah kaku. "Kamu cantik sekali, loh! Aku tidak kaget kalau seandainya Adhyaksa memilihmu menjadi protagonis karena wajahmu ini." Ridhika mengernyit, menolah ke arah cermin, memperhatikan fitur wajahnya dengan seksama untuk pertama kali. Menurutnya, tidak ada yang istimewa, kok. Sebelumnya, dia tidak pernah peduli tentang cantik atau tidak. Toh, orang-orang akan tetap takut padanya. Di lain sisi, dia menengadah menatap Widuri. Wajah gadis itu kecil sekali, berbanding terbalik dengan mata hitamnya yang besar. Ketika dia tersenyum, lesung pipi yang dangkal akan muncul di masing-masing sudut bibirnya. Manis sekali. "Tidak, ah! Cantik itu seperti kamu!" Ridhika kembali fokus pada refleksi dirinya di cermin. "Khas protagonis yang mudah dicintai." "Siswi dengan tipe wajah sepertiku, sudah ada banyak sekali di asrama ini. Kamu berbeda." Berbeda? Pikiran Ridhika mengawang untuk yang ke sekian kalinya. Itu bukanlah kosa kata yang disukainya. Sepertinya hanya dia yang tahu, seberapa tidak enaknya dianggap demikian. Di sini, dia tidak tahu, apakah menjadi berbeda di Akademi Natyadharma adalah sesuatu yang patut untuk disyukuri atau malah sebaliknya. "Ambil ini!" Seru Widuri, memecah lamunan Ridhika. Dia mengikuti arahan gadis itu untuk memoleskan lip tint berwarna coral di bibirnya. Tipis saja. Yang penting, cukup untuk memberi warna pada kulitnya yang putih pucat. Sementara itu, Widuri menyisir rambutnya yang hitam panjang. Menatanya dengan gaya yang disebut gadis itu sebagai "half-up half-down style." Ridhika sih menurut saja. Mereka menghabiskan waktu 1 jam lebih begitu sampai akhirnya Widuri mundur dengan ekspresi puas sambil berkata, "Kalau ada yang bertanya, kamu harus bilang aku yang mendandanimu, ya!" "Iya, iyaaa." Ridhika tertawa. Diliriknya jam yang tergantung di dinding, ternyata sebentar lagi akan sampai jam 07.00 pagi. Tidak heran lorong di luar sudah mulai sepi suara. Dilihatnya Widuri mungkin juga baru menyadari hal yang sama. Jadi, mereka dengan gelabakan mengambil tas masing-masing, berlari menuju lantai bawah. Melewati troli-troli sarapan yang berjejer di depan tangga, Ridhika teringat bahwa mereka belum makan. Sehingga, dia menyempatkan untuk meraih beberapa potong roti, lantas kembali berlari sekencang mungkin. Namun, baru saja dia akan keluar dari asrama, Widuri menarik tangannya agar berhenti di depan sebuah alat scan wajah. "Cepat, cepat! Scan dulu!" Ujar Widuri. "Buat apa?" Ridhika bertanya, tapi tetap mengikuti instruksi Widuri tersebut. "Nanti aku jelaskan. Ayo lari lagi!" Meski diliputi tanda tanya, Ridhika lagi-lagi hanya mengikut. Sambil berlari, dia menyerahkan sepotong roti, yang langsung disambut oleh Widuri. Mereka makan sambil menertawakan betapa konyolnya apa yang sedang mereka lakukan tersebut. Widuri bahkan masih sempat memberitahu Ridhika bahwa jika ada pengawas yang melihat mereka bersikap begitu, maka poin mereka akan dikurangi. "Poin apa?" Ridhika penasaran, dari jauh sudah terlihat gerbang Akademi, tapi dia tidak sabar untuk segera bertanya. "Setiap bulan, kita diberi 50 poin. Kalau kita berhasil mempertahankannya sampai pemberian poin berikutnya, kita bisa menukar poin itu dengan kesempatan jalan-jalan ke luar," jelas Widuri dengan napas terengah-engah. "Kalau kita melanggar aturan atau semacamnya, poin itu dikurangi sesuai dengan besarnya pelanggaran." "Berlari sambil makan juga termasuk pelanggaran?" "Untuk siswa-siswi Kelas Protagonis, iya. Soalnya, tidak mencerminkan wibawa dan keanggunan." Ridhika mengangguk-angguk paham. Satu lagi hal yang harus diingatnya dengan baik. Menjaga wibawa dan keanggunan seorang protagonis, "Masuk akal juga," pikirnya. Entah mengapa dia tidak heran dengan cara Akademi Natyadharma mendisiplinkan calon protagonis. "Wahh, akhirnya!" Seru Widuri, begitu mereka tiba di halaman Akademi. Ridhika hanya memperhatikan dari samping dengan raut wajah geli. Dalam pandangannya, Widuri benar-benar cocok memerankan tokoh yang ceria dan polos. Kalau saja tidak mendengar sendiri bagaimana strateginya agar bisa tetap bertindak demikian tadi malam, dia pasti akan menganggap gadis itu terlalu naif untuk bisa bertahan di Akademi ini. Mereka baru berjalan beriringan di sepanjang halaman, ketika tiba-tiba alunan musik klasik yang merdu membahana di seluruh area Akademi. "Ini bel masuknya?" Ridhika melihat ke sekeliling, berusaha mencari dimana alat yang menyebarkan suara tersebut. "Bukan. Itu notifikasi pengumuman ranking kecantikan untuk para siswi." "Hah?!" Mata Ridhika terbelalak. Ranking kecantikan apa? "Iya. Kita scan wajah setiap hari ya untuk sistem ranking ini." Widuri menjelaskan dengan ringan, terang sekali sudah biasa dengan hal tersebut. "Sini! Kutunjukkan tempat melihat rankingnya." Setengah linglung, Ridhika mengikuti Widuri berjalan menuju lapangan dalam yang terletak tepat di tengah deretan bangunan Akademi. Di bagian atas sebuah menara yang normalnya akan dipajangi jam raksasa, justru terdapat sebuah layar besar yang menampakkan 100 identitas siswi dengan penampilan paling cantik hari itu. List ranking bergulir berulang, dari ranking terbawah hingga teratas. Lalu, ketika sudah memasuki 10 besar, tampilan list berubah menjadi profil pribadi para siswi. Mulai dari foto hingga analisis penampilan yang berhasil menempatkan mereka di posisi tersebut. "Wow, Ridhi!" Widuri terperangah. "Lihat!" Jantung Ridhika berdebar kencang. Dia yakin, dia bahkan lebih terperangah daripada temannya itu. Kakinya yang secara refleks mundur beberapa langkah sampai bergetar. Sementara lehernya yang sedang digunakan untuk menengadah terasa kesemutan. Bagaimana tidak? Ada ratusan siswa dan siswi yang tengah menonton list ranking tersebut. Itu belum termasuk jumlah para karyawan dan pengawas yang juga ikut serta. Dia tidak akan peduli jika dirinya hanya salah satu dari para penonton. Masalahnya adalah wajahnya kini terpampang begitu besarnya di layar itu! Lengkap dengan julukan sebagai Wajah Tercantik Nomor 1 di Akademi Natyadharma."Sejak kapan kamu ada di sini?" Ujar Widuri seraya berjalan mendekati Ridhika.Jika dilihat dari sudut pandang biasa, bagi Ridhika, tidak diragukan lagi bahwa Widuri hanya sedang tersenyum tulus padanya seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi, setelah menyaksikan sendiri bagaimana sikap gadis itu hanya beberapa saat lalu, rasa-rasanya seolah yang bertengger di bibir sang teman tersebut bukanlah senyum, melainkan seringai penuh rahasia.Saking kuatnya sugesti ini bekerja di dalam kepalanya sekarang, Ridhika sampai tanpa sadar mundur beberapa langkah dengan kaki gemetaran. "Ridhika. Ada apa?" Widuri semakin mendekat dengan raut wajah bingung. "Apa yang kamu dengar?"Pertanyaan itu seolah memaksa Ridhika bangun dari linglungnya. Dalam sekejap, dia sadar bahwa reaksinya yang sedemikian kentara bisa saja memancing kecurigaan Widuri. Jadi, meski napasnya terasa masih tersangkut di tenggorokan, dia susah payah mencoba mengendalikan diri secepat mungkin."Aku tiba-tiba pusing," ujarnya lirih.
"Kenapa? Kau takut dikhianati?"Seolah memiliki kekuatan supranatural, mudah saja bagi Bagastya untuk menebak apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Ridhika. Di sisi lain, gadis itu pun sama sekali tidak kaget. Katakanlah, dia sudah terbiasa dengan kemampuan pria itu membaca dirinya. Sisi baiknya adalah dia tidak lagi perlu menyampaikannya keras-keras. Sedangkan, sisi lainnya adalah keadaan yang langsung berubah canggung setelah itu.Akan tetapi, sepertinya kecanggungan ini pun hanyalah sesuatu yang dilebih-lebihkan oleh pikiran Ridhika. Sebab, Bagastya sama sekali tidak merasakannya. Alih-alih diam seribu bahasa seperti gadis itu, dia justru sekali lagi mengatakan sesuatu yang kemudian mengubah kebingungan Ridhika menjadi satu jawaban yang jelas."Kau kan juga tahu identitas asliku. Pernah datang ke rumahku, bahkan melihat keluargaku, meskipun hanya melalui foto. Kalau menurutmu, aku seperti akan berkhianat di tengah jalan, kau bisa membocorkan itu semua kepada seluruh penghuni
Matanya serasa direkatkan oleh lem paling kuat di alam semesta. Barangkali adalah pernyataan yang sedikit dilebihkan, tetapi demikianlah yang ada dalam pikiran Ridhika pada saat mencoba membuka matanya.Ketika sudah berhasil melakukannya pun, masih tidak ada hal yang mampu diperbuat olehnya selain berbaring menatap langit-langit kamar yang warnanya agak kusam. Seluruh tubuhnya masih terasa remuk, tetapi yang paling mengganggunya adalah bagian punggung yang berdenyut nyeri.Entah separah apa lukanya, sudah diobati atau belum, dia tidak yakin. Prioritasnya saat itu adalah segera mengumpulkan energi dan kembali ke tebing untuk mengambil kamera yang tadi dilihatnya."Ya Tuhan, Ya Tuhan," batinnya. Ingin berdoa semoga kamera itu masih ada di tempatnya.Ridhika mengulurkan tangan, berpegangan pada tepian kasur untuk membantunya bangkit dari posisi baringnya. Dengan suara brak yang nyaring, tubuhnya jatuh ke lantai karena tidak mampu menahan bobot sendiri. Namun, dia tetap merangkak secara p
"Kau menarikku keluar sejauh ini hanya untuk menyuruhku mengaku?" Ridhika mendengkus dingin seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak tahu kau berharap aku menjadi orang yang seperti apa, tapi biar kuberitahu satu hal, aku bukan malaikat. Hanya karena aku siswi protagonis, bukan berarti aku akan selalu jadi baik hati dan penuh dengan niat yang tulus.""Ridhika, bukan begitu maksudku." Helaan napas berat lolos dari bibir Bagastya. Baru saja disadarinya bahwa tindakannya memang bisa terlihat seolah sedang menghakimi gadis itu. "Baiklah, aku salah. Maafkan aku. Aku hanya kaget. Ridhika yang kukenal itu cerdas, tapi dia tidak akan memanfaatkan itu untuk menyakiti orang lain.""Ridhika yang kau kenal? Ridhika yang mana? Menjadi pasangan selama beberapa bulan tidak lantas membuatmu mengenalku, Bagastya. Lagipula, yang kusakiti itu adalah diriku sendiri." Ridhika mengangkat pergelangan tangannya yang terbalut perban. "Apa yang ditanggung oleh Klarisa, hanyalah konsekuensi dari
"Bukankah sudah pernah kubilang kalau aku ingin kau jauh-jauh dari pasanganku?" Ujar Bagastya dengan ekspresi datar. "Kau masih ingat apa peringatanku kalau sampai melanggarnya, kan?"Ridhika membiarkan Bagastya membantunya agar bisa berdiri lebih stabil. Pria itu kemudian memegang tangannya yang terluka selama beberapa saat dengan cukup serius, sebelum akhirnya menarik Ridhika agar berdiri di belakang tubuhnya."Bapak dan Ibu Pengawas, Saya memiliki beberapa laporan tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Klarisa," ungkap Bagastya tegas. "Salah satu yang paling fatal adalah dia memalsukan kepemilikan semua tugas Kelas Antagonis yang diserahkannya. Dia merundung pemilik aslinya dan mengambil tugas-tugas tersebut secara paksa.""Bagastya Dewa! Bisa-bisanya kau!" Dengan wajah pucat Klarisa mengacungkan jarinya ke arah Bagastya.Dari sudut pandang Ridhika, sepertinya gadis itu tidak habis pikir mengapa Bagastya betul tega membocorkan tindakannya. Sesuatu yang membuat Ridhika bingung seka
Seperti suara ngengat yang dengan panik mencoba untuk keluar dari perangkap serangga. Itulah apa yang ada di dalam pikiran Ridhika pada saat satu-persatu siswa siswi protagonis dan antagonis mulai masuk ke dalam ruang Kelas Gabungan. Mereka tertawa, bicara dan berseru dengan nada yang melengking nyaring, membuat kepala Ridhika pening seketika."Topik kita kali ini adalah Manipulator Ulung," buka sang Guru Pembina, tanpa menunggu para siswa dan siswi yang belum mendapatkan tempat duduk. "Sengaja Saya pilih demikian, sebab selama beraba-abad, dunia cerita selalu hanya memberi pengakuan kepada antagonis sebagai peran dengan kualitas menjadi seorang manipulator. Saya ingin lihat, barangkali pada pertemuan hari ini, ada yang bisa membuktikan bahwa pandangan tersebut keliru."Bisik-bisik siswa dan siswi di sekitar Ridhika kian bertambah. Pada awalnya, meski bisa mendengar sebagian besar dari pembicaraan yang dibahas, dia masih tidak tertarik untuk memperhatikan. Sampai kemudian kursinya ter
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan







