Share

Chapter 7 =Ranking Kecantikan=

Author: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-06-18 22:51:03

Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.

Keadaan di luar jendela masih agak gelap. Namun, ketika dia memaksakan diri untuk melepas diri dari kasur, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Widuri yang sudah berseragam rapi. Sontak saja dia merasa kagum. Pasalnya, teman sekamarnya itu terlihat disiplin sekali. Padahal, semalam mereka tidur larut.

"Sudah bangun?" Widuri menatap Ridhika melalui kaca meja rias. "Cepat siap-siap, ya. Aku akan mengajarimu berdandan nanti."

Sebelah alis Ridhika terangkat, "Berdandan? Kita kan harus ke sekolah."

"Memang."

"Kukira, siswi tidak boleh berdandan kalau ke sekolah."

Widuri tertawa kecil, "Itu kalau di sekolah biasa, Ridhika." Dia membalikkan tubuh, menatap Ridhika yang masih duduk di atas tempat tidur dengan rambut berantakan. "Di sini, semakin cantik kamu berdandan, semakin bagus."

Ridhika terdiam sebentar. Masih memproses secara perlahan perkataan Widuri. Maklum, dia baru bangun. Perlu waktu beberapa saat baginya sebelum benar-benar berhasil mengumpulkan kesadaran dan mulai bersiap.

Dia mengambil seragam yang telah dipersiapkan untuknya dari dalam lemari, lantas berjalan tanpa energi menuju kamar mandi.

"Huh, aku sama sekali tidak bersemangat," gumamnya pada diri sendiri.

Meskipun, tadi malam Widuri sudah menjelaskan padanya tentang segala hal penting yang harus dia perhatikan sebagai siswi baru Kelas Protagonis, dia tetap merasa gelisah. Bagaimana jika tahu-tahu dia berbuat kesalahan? Tidak habisnya pikiran buruk tersebut berputar di dalam kepalanya.

Karena terlalu banyak berpikir, Ridhika jadi tidak bisa menikmati pengalaman mandi air hangat untuk pertama kalinya. Dia hanya berendam dalam air yang sudah dicampur aromatic mawar sambil termenung. Setelah dirasa cukup, dia segera mengeringkan badan, lalu mengenakan seragamnya.

"Kamu sudah pernah menggunakan produk kosmetik sebelumnya?"

Pertanyaan itu langsung menyambut Ridhika tepat setelah keluar dari kamar mandi. Dia hanya menggeleng untuk menanggapi. Membiarkan Widuri menarik lengannya agar duduk di depan meja rias. Kini, gadis itu sedang dengan bersemangat mengoleskan satu persatu produk perawatan kulit yang tertata di atas meja pada wajah Ridhika.

Sesekali, Ridhika mendengar Widuri berdecak, tetapi dia tidak yakin alasannya kenapa. Karena khawatir akan mengganggu konsentrasi teman sekamarnya itu, dia jadi tidak berani bergerak.

"Kamu boleh bergerak kok, Ridhi," ujar Widuri sambil terkekeh.

Ridhika menghela napas lega. Punggung yang tadinya dipaksa untuk duduk tegap, kini mengendur santai. Baru sebentar, rasanya seluruh anggota tubuhnya sudah kaku.

"Kamu cantik sekali, loh! Aku tidak kaget kalau seandainya Adhyaksa memilihmu menjadi protagonis karena wajahmu ini."

Ridhika mengernyit, menolah ke arah cermin, memperhatikan fitur wajahnya dengan seksama untuk pertama kali. Menurutnya, tidak ada yang istimewa, kok. Sebelumnya, dia tidak pernah peduli tentang cantik atau tidak. Toh, orang-orang akan tetap takut padanya.

Di lain sisi, dia menengadah menatap Widuri. Wajah gadis itu kecil sekali, berbanding terbalik dengan mata hitamnya yang besar. Ketika dia tersenyum, lesung pipi yang dangkal akan muncul di masing-masing sudut bibirnya. Manis sekali.

"Tidak, ah! Cantik itu seperti kamu!" Ridhika kembali fokus pada refleksi dirinya di cermin. "Khas protagonis yang mudah dicintai."

"Siswi dengan tipe wajah sepertiku, sudah ada banyak sekali di asrama ini. Kamu berbeda."

Berbeda? Pikiran Ridhika mengawang untuk yang ke sekian kalinya. Itu bukanlah kosa kata yang disukainya. Sepertinya hanya dia yang tahu, seberapa tidak enaknya dianggap demikian. Di sini, dia tidak tahu, apakah menjadi berbeda di Akademi Natyadharma adalah sesuatu yang patut untuk disyukuri atau malah sebaliknya.

"Ambil ini!" Seru Widuri, memecah lamunan Ridhika.

Dia mengikuti arahan gadis itu untuk memoleskan lip tint berwarna coral di bibirnya. Tipis saja. Yang penting, cukup untuk memberi warna pada kulitnya yang putih pucat. Sementara itu, Widuri menyisir rambutnya yang hitam panjang. Menatanya dengan gaya yang disebut gadis itu sebagai "half-up half-down style."

Ridhika sih menurut saja. Mereka menghabiskan waktu 1 jam lebih begitu sampai akhirnya Widuri mundur dengan ekspresi puas sambil berkata, "Kalau ada yang bertanya, kamu harus bilang aku yang mendandanimu, ya!"

"Iya, iyaaa." Ridhika tertawa.

Diliriknya jam yang tergantung di dinding, ternyata sebentar lagi akan sampai jam 07.00 pagi. Tidak heran lorong di luar sudah mulai sepi suara. Dilihatnya Widuri mungkin juga baru menyadari hal yang sama. Jadi, mereka dengan gelabakan mengambil tas masing-masing, berlari menuju lantai bawah.

Melewati troli-troli sarapan yang berjejer di depan tangga, Ridhika teringat bahwa mereka belum makan. Sehingga, dia menyempatkan untuk meraih beberapa potong roti, lantas kembali berlari sekencang mungkin. Namun, baru saja dia akan keluar dari asrama, Widuri menarik tangannya agar berhenti di depan sebuah alat scan wajah.

"Cepat, cepat! Scan dulu!" Ujar Widuri.

"Buat apa?" Ridhika bertanya, tapi tetap mengikuti instruksi Widuri tersebut.

"Nanti aku jelaskan. Ayo lari lagi!"

Meski diliputi tanda tanya, Ridhika lagi-lagi hanya mengikut. Sambil berlari, dia menyerahkan sepotong roti, yang langsung disambut oleh Widuri. Mereka makan sambil menertawakan betapa konyolnya apa yang sedang mereka lakukan tersebut.

Widuri bahkan masih sempat memberitahu Ridhika bahwa jika ada pengawas yang melihat mereka bersikap begitu, maka poin mereka akan dikurangi.

"Poin apa?" Ridhika penasaran, dari jauh sudah terlihat gerbang Akademi, tapi dia tidak sabar untuk segera bertanya.

"Setiap bulan, kita diberi 50 poin. Kalau kita berhasil mempertahankannya sampai pemberian poin berikutnya, kita bisa menukar poin itu dengan kesempatan jalan-jalan ke luar," jelas Widuri dengan napas terengah-engah. "Kalau kita melanggar aturan atau semacamnya, poin itu dikurangi sesuai dengan besarnya pelanggaran."

"Berlari sambil makan juga termasuk pelanggaran?"

"Untuk siswa-siswi Kelas Protagonis, iya. Soalnya, tidak mencerminkan wibawa dan keanggunan."

Ridhika mengangguk-angguk paham. Satu lagi hal yang harus diingatnya dengan baik. Menjaga wibawa dan keanggunan seorang protagonis, "Masuk akal juga," pikirnya. Entah mengapa dia tidak heran dengan cara Akademi Natyadharma mendisiplinkan calon protagonis.

"Wahh, akhirnya!" Seru Widuri, begitu mereka tiba di halaman Akademi.

Ridhika hanya memperhatikan dari samping dengan raut wajah geli. Dalam pandangannya, Widuri benar-benar cocok memerankan tokoh yang ceria dan polos. Kalau saja tidak mendengar sendiri bagaimana strateginya agar bisa tetap bertindak demikian tadi malam, dia pasti akan menganggap gadis itu terlalu naif untuk bisa bertahan di Akademi ini.

Mereka baru berjalan beriringan di sepanjang halaman, ketika tiba-tiba alunan musik klasik yang merdu membahana di seluruh area Akademi.

"Ini bel masuknya?" Ridhika melihat ke sekeliling, berusaha mencari dimana alat yang menyebarkan suara tersebut.

"Bukan. Itu notifikasi pengumuman ranking kecantikan untuk para siswi."

"Hah?!"

Mata Ridhika terbelalak. Ranking kecantikan apa?

"Iya. Kita scan wajah setiap hari ya untuk sistem ranking ini." Widuri menjelaskan dengan ringan, terang sekali sudah biasa dengan hal tersebut. "Sini! Kutunjukkan tempat melihat rankingnya."

Setengah linglung, Ridhika mengikuti Widuri berjalan menuju lapangan dalam yang terletak tepat di tengah deretan bangunan Akademi. Di bagian atas sebuah menara yang normalnya akan dipajangi jam raksasa, justru terdapat sebuah layar besar yang menampakkan 100 identitas siswi dengan penampilan paling cantik hari itu.

List ranking bergulir berulang, dari ranking terbawah hingga teratas. Lalu, ketika sudah memasuki 10 besar, tampilan list berubah menjadi profil pribadi para siswi. Mulai dari foto hingga analisis penampilan yang berhasil menempatkan mereka di posisi tersebut.

"Wow, Ridhi!" Widuri terperangah. "Lihat!"

Jantung Ridhika berdebar kencang. Dia yakin, dia bahkan lebih terperangah daripada temannya itu. Kakinya yang secara refleks mundur beberapa langkah sampai bergetar. Sementara lehernya yang sedang digunakan untuk menengadah terasa kesemutan.

Bagaimana tidak? Ada ratusan siswa dan siswi yang tengah menonton list ranking tersebut. Itu belum termasuk jumlah para karyawan dan pengawas yang juga ikut serta.

Dia tidak akan peduli jika dirinya hanya salah satu dari para penonton. Masalahnya adalah wajahnya kini terpampang begitu besarnya di layar itu! Lengkap dengan julukan sebagai Wajah Tercantik Nomor 1 di Akademi Natyadharma.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 8 =Masa Orientasi=

    "Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cukup nyaring, beberapa siswa dan siswi kini tengah menatap ke arah mereka. Ridhika tahu. Perasaan pening yang familiar menyerang kepalanya hanya sedetik setelah orang pertama melayangkan pandangan menilai ke arahnya. "Ridhi, kenapa?" "Hm?" Ridhika mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menatap balik Widuri yang kini menampakkan ekspresi khawatir. "Tidak apa. Aku harus segera ke aula. Orientasinya dimulai jam 08.00.""Baiklah, kalau begitu."Ridhika membiarkan Widuri menggandeng lengannya. Menjauh dari kerumunan orang. Setelah beberapa saat, akhirnya dia bisa menghembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya sedari tadi. Pegangannya pada tali tas bertambah erat. Dia harus mengingatkan diri bah

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 7 =Ranking Kecantikan=

    Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela masih agak gelap. Namun, ketika dia memaksakan diri untuk melepas diri dari kasur, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Widuri yang sudah berseragam rapi. Sontak saja dia merasa kagum. Pasalnya, teman sekamarnya itu terlihat disiplin sekali. Padahal, semalam mereka tidur larut."Sudah bangun?" Widuri menatap Ridhika melalui kaca meja rias. "Cepat siap-siap, ya. Aku akan mengajarimu berdandan nanti."Sebelah alis Ridhika terangkat, "Berdandan? Kita kan harus ke sekolah.""Memang.""Kukira, siswi tidak boleh berdandan kalau ke sekolah."Widuri tertawa kecil, "Itu kalau di sekolah biasa, Ridhika." Dia membalikkan tubuh, menatap Ridhika yang masih duduk di atas tempat tidur dengan rambut beran

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 6 = Ratu Griya Nayika? =

    "Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau kau minta dihukum, hah?!" Ridhika menarik tubuh Widuri yang gemetar semakin jauh ke belakangnya. "Bisa bicara lebih seperti orang beradab? Apa yang coba kau capai dengan berteriak seperti itu?" Berkebalikan dengan si gadis asing, Ridhika bicara dengan nada yang sangat tenang. Seolah hanya sedang menangani seorang anak yang tantrum. Iya, jika ada hal berharga yang dipelajarinya selama menghadapi pembulli di desa, itu adalah bahwa berbicara sama kerasnya, menunjukkan ekspresi dan bertindak kasar hanya akan memuaskan mereka. Memberikan mereka alasan untuk membenarkan sikap mereka yang salah, karena menganggap reaksinya sebagai bukti bahwa dia memang pantas diperlakukan demikian. Terbukti,

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 5 = Sekilas Para Protagonis Wanita =

    Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika bersumpah bisa melihat bayangan senyum puas bertengger di wajah wanita itu. Membuatnya seketika merasa sangat kecil dan ingin berjalan lebih jauh saja di belakang. "Orang-orang di sini jahatnya berbeda, ya," pikirnya sambil mencoba mengalihkan perhatian dengan cara melihat-lihat taman yang tengah mereka lewati. Taman itu dipenuhi oleh bunga mawar putih. Namun, setengah di antaranya sedang di-cat dengan warna merah oleh beberapa pria dan wanita tua berpakaian terlalu perlente untuk sekadar dikira sebagai tukang kebun. Pemandangan yang mengingatkan Ridhika pada cerita Alice in Wonderland. Dia pernah dengar bahwa alumni siswi yang menjadi pemeran utama cerita itu kini hidup di sebuah ista

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap sopan membuat dia bertahan sebentar. Berdiri di depan pria itu dengan canggung, menunggu barangkali ada hal lain yang ingin si pria sampaikan. Sumpah serapah, misalnya. Akan tetapi, alih-alih mengatakan sesuatu. Pria tersebut diam saja, begitu pula Ridhika. Mereka bertahan dalam posisi itu paling tidak selama beberapa menit dan selama itu pun Ridhika sudah cukup gelisah karena rasa tidak nyaman yang perlahan merayapi punggungnya. Syukurlah, seorang wanita bertubuh jangkung datang menghampirinya di tengah ruangan dengan dua buah map yang cukup besar di tangan. Jadi, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi. Meninggalkan si pria dengan aura aneh itu. "Saya akan jelaskan semua yang

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perkampungan yang jauh di belakang dan bangunan megah yang berdiri tepat di depan mata. Sempat terbesit keinginan untuk mundur, tetapi sekuat tenaga ditahannya. Begitu melangkah melewati pagar besi, seluruh bagian kaki hingga lututnya langsung mati rasa. Matanya dengan gelisah menangkap satu persatu benda yang membuat akademi itu terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang dilewatinya sepanjang jalan. Mulai dari pilar-pilar raksasa yang menopang balkon panjang berhias tanaman merambat, hingga jendela-jendela lancip yang berjejer seperti mata yang tidak akan pernah lepas mengawasi para siswa. Semua elemen tersebut membuat bangunan batu putih tulang itu terasa l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status