LOGIN"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"
Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat. Karena seruan Widuri yang cukup nyaring, beberapa siswa dan siswi kini tengah menatap ke arah mereka. Ridhika tahu. Perasaan pening yang familiar menyerang kepalanya hanya sedetik setelah orang pertama melayangkan pandangan menilai ke arahnya. "Ridhi, kenapa?" "Hm?" Ridhika mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menatap balik Widuri yang kini menampakkan ekspresi khawatir. "Tidak apa. Aku harus segera ke aula. Orientasinya dimulai jam 08.00." "Baiklah, kalau begitu." Ridhika membiarkan Widuri menggandeng lengannya. Menjauh dari kerumunan orang. Setelah beberapa saat, akhirnya dia bisa menghembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya sedari tadi. Pegangannya pada tali tas bertambah erat. Dia harus mengingatkan diri bahwa dia tidak lagi berada di desa. Di sini, tidak ada yang mengetahui identitasnya selain mungkin para petinggi Akademi dan Widuri. Jadi, tatapan menilai itu barangkali hanya khayalannya saja. Efek dari menghabiskan waktu hidup di tengah masyarakat yang suka membully selama hidupnya. Iya, pasti begitu. Ridhika kini menoleh ke arah Widuri yang sibuk menjelaskan sistem ranking lainnya yang terdapat di Akademi. Mencoba mendengarkan dengan antusias, agar gadis itu tidak menangkap kegelisahannya. "Kan sudah kubilang, kamu itu cantik! Baru hari pertama, kamu sudah berhasil menggeser posisi Adishra." Widuri tertawa-tawa sambil menutup mulutnya. "Sekarang dia sudah tidak bisa menyombongkan gelar Tercantik Nomor 1 berturut-berturut lagi." "Memangnya sudah berapa lama dia menjadi yang paling cantik?" "Setiap hari selama 11 bulan 30 hari. Kalau tadi dia ranking 1 lagi, aku yakin dayang-dayangnya akan segera mengagungkan dia sebagai kecantikan 1 tahun penuh. Cih!" Ridhika spontan tergelak. Nada bicara Widuri yang terkesan sinis namun menggemaskan sedikit mengurangi ketidaknyamanannya. Meskipun dia tidak terlalu suka diberi gelar yang mencolok itu, dia juga senang bisa membayangkan kekesalan Adishra. Belum lagi, sekarang dia memiliki 150 poin. Jika dia bisa mempertahankan semuanya hingga awal bulan depan, kata Widuri dia bisa mendapatkan bonus tambahan waktu jalan-jalan. Jadi, tidak semuanya buruk baginya. "Nah! Kita sudah sampai!" Widuri melepaskan gandengannya. "Aku pergi ke kelas, ya. Sampai ketemu nanti di asrama!" Ridhika mengangguk, melambaikan tangannya membalas lambaian Widuri yang kini sudah berjalan menuju belokan menuju gedung Kelas Protagonis. Kini, hanya tinggal dirinya sendiri. Berdiri di depan pintu aula orientasi yang dipenuhi oleh ukiran akar-akaran dan bunga. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Menenangkan jantung yang berdetak cepat. Setelah yakin bahwa dirinya sudah cukup siap, sesuai apa yang diajarkan oleh Widuri, dia memasang senyum dan masuk ke dalam aula dengan langkah percaya diri. Tidak seperti aula sekolah pada umumnya, yang juga sebenarnya hanya pernah Ridhika lihat melalui televisi, aula Akademi Natyadharma lebih seperti sebuah gedung teater. Ruangan itu tentu saja didominasi oleh dinding batu berwarna putih tulang dengan ornamen emas berbagai bentuk terpajang di setiap sudutnya. Di depan aula, terdapat sebuah panggung besar yang diterangi oleh lampu-lampu kristal. Setiap tirai dan kursi yang tertata rapi di depan panggung, serta di tiga tingkat box seats di kedua sisi ruangan berwarna merah darah. Sementara, langit-langit gedung terlihat nyaris seperti ilusi karena mural langit berwarna biru lembut dengan sentuhan emas. Ridhika ingin sekali berhenti sebentar untuk mengagumi arsitektur ruangan tersebut. Namun, dia tahu itu akan membuatnya terlihat bodoh. Jadi, dia mempercepat langkahnya menuju barisan kursi siswa dan siswi Kelas Protagonis yang terletak di box seats teratas. "Hai, boleh aku duduk di sini?" Tanyanya pada seorang siswi yang terlihat sibuk membaca buku. Namun, karena tidak mendapat jawaban, dia memutuskan untuk langsung duduk saja. Setidaknya, dia sudah bertanya dengan sopan. Diletakkan tas di bagian bawah kursi, sedangkan buku-buku di atas pangkuannya. Di bawah sana, panitia sepertinya sedang bersiap membuka acara. Jadi, dia memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat seluruh ruangan. Pada awalnya, semua biasa saja. Para siswa dan siswi terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kelasnya. Wajah-wajah asing yang barangkali tidak akan dilihatnya 2 kali, karena lingkungan Akademi yang sangat luas. Namun, sedang asyik memperhatikan kursi para Guru dan Pengawas yang mulai terisi, mata Ridhika tanpa sengaja menangkap sosok yang cukup dikenalinya. Atau setidaknya, menurutnya begitu. Di area box seats yang berseberangan dengan tempatnya berada, di antara para siswa dan siswi antagonis, pria itu duduk dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Matanya, yang kini sudah tidak tertutup tudung hoodie maupun rambut, menatap malas ke arah panggung. Itu jelas si pria aneh yang tidak sengaja ditabraknya kemarin! Ridhika bisa mengenali bekas luka melintang di pipi pria tersebut dengan baik. "Ternyata dia siswa Kelas Antagonis, ya," batin Ridhika sambil mengangguk-angguk. "Memang cocok, sih." "Perhatian seluruh siswa dan siswi, acara orientasi akan dimulai sebentar lagi!" Pemberitahuan dari seorang Pembawa Acara yang bergema melalui pengeras suara berhasil membuyarkan lamunan Ridhika. Pada saat dia sudah mengalihkan fokusnya ke panggung, sosok Adishra yang mengenakan seragam protagonis dengan potongan agak berbeda telah berdiri di sana. Lengkap dengan seulas senyum yang ampuh untuk menutupi betapa menjengkelkannya dirinya. "Selamat pagi, para siswa dan siswi baru angkatan ke-10. Saya mewakili Komite Pengawas mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung di Akademi Natyadharma, tempat legenda dan sejarah diciptakan khusus hanya untuk orang-orang yang unggul." Suara tepuk tangan mengudara, menyambut kalimat pembukaan acara dari Adishra. Ridhika juga salah satu yang menyumbang tepuk tangan tersebut. Dia dengan hikmat mendengarkan agenda acara yang dibacakan Adishra. Mengingat orientasi di Akademi Natydharma hanya dianggap sebagai formalitas sehari (berdasarkan informasi dari Widuri), maka dia bertekad untuk ikut serta dalam setiap agenda dengan sungguh-sungguh. "Baik, sebelum memulai agenda yang pertama, kami terlebih dahulu akan memutarkan video sambutan dari beberapa alumni ternama Akademi Natyadharma." Adishra berjalan ke samping agar tidak menghalangi layar besar yang berada di belakangnya. "Selamat menikmati." Untuk sepersekian detik, Ridhika menyadari tatapan Adishra diarahkan padanya ketika mengucapkan kalimat terakhir itu. Keningnya berkerut. Antara yakin dan tidak yakin dengan penglihatannya tersebut. Apalagi, meskipun singkat, dia sepertinya juga menangkap senyum sinis terpatri di wajah gadis itu. Namun, kenapa? Ridhika menggelengkan kepalanya cepat-cepat, mengusir pikiran buruk yang mulai mendatangi kepalanya. "Sudahlah, Ridhika. Kamu hanya paranoid," bisiknya pada diri sendiri seraya menepuk-nepuk dadanya pelan. Mencoba menenangkan diri untuk yang kesekian kalinya pada hari itu. Akan tetapi, belum sempat ketenangan berhasil didapatkannya, jantungnya justru berlari lebih cepat tatkala layar yang seharusnya menampilkan sambutan para alumni malah mempertontonkan dia yang sedang berlari sambil makan dan tertawa-tawa. Hal yang sebenarnya biasa saja. Namun, setelah mendengar perkataan Widuri tentang wibawa dan keanggunan, sukses membuat keringat dingin membasahi telapak tangannya. Pada momen tersebut, mata Ridhika kembali bertabrakan dengan Adishra. Gadis itu berdiri di balik tirai dengan ekspresi penuh ejekan. Tidak diragukan lagi, memang ditujukan padanya. Seketika, segala gugup dan khawatir Ridhika lenyap. Tergantikan oleh rasa dingin yang hampir-hampir bisa membekukan ekspresinya sendiri. Dia menatap Adishra dengan datar, lantas ikut mengulas sebuah senyum. Menolak untuk takluk pada taktik murahan gadis itu."Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cukup nyaring, beberapa siswa dan siswi kini tengah menatap ke arah mereka. Ridhika tahu. Perasaan pening yang familiar menyerang kepalanya hanya sedetik setelah orang pertama melayangkan pandangan menilai ke arahnya. "Ridhi, kenapa?" "Hm?" Ridhika mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menatap balik Widuri yang kini menampakkan ekspresi khawatir. "Tidak apa. Aku harus segera ke aula. Orientasinya dimulai jam 08.00.""Baiklah, kalau begitu."Ridhika membiarkan Widuri menggandeng lengannya. Menjauh dari kerumunan orang. Setelah beberapa saat, akhirnya dia bisa menghembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya sedari tadi. Pegangannya pada tali tas bertambah erat. Dia harus mengingatkan diri bah
Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela masih agak gelap. Namun, ketika dia memaksakan diri untuk melepas diri dari kasur, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Widuri yang sudah berseragam rapi. Sontak saja dia merasa kagum. Pasalnya, teman sekamarnya itu terlihat disiplin sekali. Padahal, semalam mereka tidur larut."Sudah bangun?" Widuri menatap Ridhika melalui kaca meja rias. "Cepat siap-siap, ya. Aku akan mengajarimu berdandan nanti."Sebelah alis Ridhika terangkat, "Berdandan? Kita kan harus ke sekolah.""Memang.""Kukira, siswi tidak boleh berdandan kalau ke sekolah."Widuri tertawa kecil, "Itu kalau di sekolah biasa, Ridhika." Dia membalikkan tubuh, menatap Ridhika yang masih duduk di atas tempat tidur dengan rambut beran
"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau kau minta dihukum, hah?!" Ridhika menarik tubuh Widuri yang gemetar semakin jauh ke belakangnya. "Bisa bicara lebih seperti orang beradab? Apa yang coba kau capai dengan berteriak seperti itu?" Berkebalikan dengan si gadis asing, Ridhika bicara dengan nada yang sangat tenang. Seolah hanya sedang menangani seorang anak yang tantrum. Iya, jika ada hal berharga yang dipelajarinya selama menghadapi pembulli di desa, itu adalah bahwa berbicara sama kerasnya, menunjukkan ekspresi dan bertindak kasar hanya akan memuaskan mereka. Memberikan mereka alasan untuk membenarkan sikap mereka yang salah, karena menganggap reaksinya sebagai bukti bahwa dia memang pantas diperlakukan demikian. Terbukti,
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika bersumpah bisa melihat bayangan senyum puas bertengger di wajah wanita itu. Membuatnya seketika merasa sangat kecil dan ingin berjalan lebih jauh saja di belakang. "Orang-orang di sini jahatnya berbeda, ya," pikirnya sambil mencoba mengalihkan perhatian dengan cara melihat-lihat taman yang tengah mereka lewati. Taman itu dipenuhi oleh bunga mawar putih. Namun, setengah di antaranya sedang di-cat dengan warna merah oleh beberapa pria dan wanita tua berpakaian terlalu perlente untuk sekadar dikira sebagai tukang kebun. Pemandangan yang mengingatkan Ridhika pada cerita Alice in Wonderland. Dia pernah dengar bahwa alumni siswi yang menjadi pemeran utama cerita itu kini hidup di sebuah ista
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap sopan membuat dia bertahan sebentar. Berdiri di depan pria itu dengan canggung, menunggu barangkali ada hal lain yang ingin si pria sampaikan. Sumpah serapah, misalnya. Akan tetapi, alih-alih mengatakan sesuatu. Pria tersebut diam saja, begitu pula Ridhika. Mereka bertahan dalam posisi itu paling tidak selama beberapa menit dan selama itu pun Ridhika sudah cukup gelisah karena rasa tidak nyaman yang perlahan merayapi punggungnya. Syukurlah, seorang wanita bertubuh jangkung datang menghampirinya di tengah ruangan dengan dua buah map yang cukup besar di tangan. Jadi, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi. Meninggalkan si pria dengan aura aneh itu. "Saya akan jelaskan semua yang
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perkampungan yang jauh di belakang dan bangunan megah yang berdiri tepat di depan mata. Sempat terbesit keinginan untuk mundur, tetapi sekuat tenaga ditahannya. Begitu melangkah melewati pagar besi, seluruh bagian kaki hingga lututnya langsung mati rasa. Matanya dengan gelisah menangkap satu persatu benda yang membuat akademi itu terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang dilewatinya sepanjang jalan. Mulai dari pilar-pilar raksasa yang menopang balkon panjang berhias tanaman merambat, hingga jendela-jendela lancip yang berjejer seperti mata yang tidak akan pernah lepas mengawasi para siswa. Semua elemen tersebut membuat bangunan batu putih tulang itu terasa l







