共有

Chapter 8 =Masa Orientasi=

作者: daydreammm_ms
last update 公開日: 2026-06-19 22:28:52

"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"

Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.

Karena seruan Widuri yang cukup nyaring, beberapa siswa dan siswi kini tengah menatap ke arah mereka. Ridhika tahu. Perasaan pening yang familiar menyerang kepalanya hanya sedetik setelah orang pertama melayangkan pandangan menilai ke arahnya.

"Ridhi, kenapa?"

"Hm?" Ridhika mencoba mengalihkan perhatiannya dengan menatap balik Widuri yang kini menampakkan ekspresi khawatir. "Tidak apa. Aku harus segera ke aula. Orientasinya dimulai jam 08.00."

"Baiklah, kalau begitu."

Ridhika membiarkan Widuri menggandeng lengannya. Menjauh dari kerumunan orang. Setelah beberapa saat, akhirnya dia bisa menghembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya sedari tadi.

Pegangannya pada tali tas bertambah erat. Dia harus mengingatkan diri bahwa dia tidak lagi berada di desa. Di sini, tidak ada yang mengetahui identitasnya selain mungkin para petinggi Akademi dan Widuri. Jadi, tatapan menilai itu barangkali hanya khayalannya saja. Efek dari menghabiskan waktu hidup di tengah masyarakat yang suka membully selama hidupnya. Iya, pasti begitu.

Ridhika kini menoleh ke arah Widuri yang sibuk menjelaskan sistem ranking lainnya yang terdapat di Akademi. Mencoba mendengarkan dengan antusias, agar gadis itu tidak menangkap kegelisahannya.

"Kan sudah kubilang, kamu itu cantik! Baru hari pertama, kamu sudah berhasil menggeser posisi Adishra." Widuri tertawa-tawa sambil menutup mulutnya. "Sekarang dia sudah tidak bisa menyombongkan gelar Tercantik Nomor 1 berturut-berturut lagi."

"Memangnya sudah berapa lama dia menjadi yang paling cantik?"

"Setiap hari selama 11 bulan 30 hari. Kalau tadi dia ranking 1 lagi, aku yakin dayang-dayangnya akan segera mengagungkan dia sebagai kecantikan 1 tahun penuh. Cih!"

Ridhika spontan tergelak. Nada bicara Widuri yang terkesan sinis namun menggemaskan sedikit mengurangi ketidaknyamanannya. Meskipun dia tidak terlalu suka diberi gelar yang mencolok itu, dia juga senang bisa membayangkan kekesalan Adishra.

Belum lagi, sekarang dia memiliki 150 poin. Jika dia bisa mempertahankan semuanya hingga awal bulan depan, kata Widuri dia bisa mendapatkan bonus tambahan waktu jalan-jalan. Jadi, tidak semuanya buruk baginya.

"Nah! Kita sudah sampai!" Widuri melepaskan gandengannya. "Aku pergi ke kelas, ya. Sampai ketemu nanti di asrama!"

Ridhika mengangguk, melambaikan tangannya membalas lambaian Widuri yang kini sudah berjalan menuju belokan menuju gedung Kelas Protagonis. Kini, hanya tinggal dirinya sendiri. Berdiri di depan pintu aula orientasi yang dipenuhi oleh ukiran akar-akaran dan bunga.

Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Menenangkan jantung yang berdetak cepat. Setelah yakin bahwa dirinya sudah cukup siap, sesuai apa yang diajarkan oleh Widuri, dia memasang senyum dan masuk ke dalam aula dengan langkah percaya diri.

Tidak seperti aula sekolah pada umumnya, yang juga sebenarnya hanya pernah Ridhika lihat melalui televisi, aula Akademi Natyadharma lebih seperti sebuah gedung teater. Ruangan itu tentu saja didominasi oleh dinding batu berwarna putih tulang dengan ornamen emas berbagai bentuk terpajang di setiap sudutnya.

Di depan aula, terdapat sebuah panggung besar yang diterangi oleh lampu-lampu kristal. Setiap tirai dan kursi yang tertata rapi di depan panggung, serta di tiga tingkat box seats di kedua sisi ruangan berwarna merah darah. Sementara, langit-langit gedung terlihat nyaris seperti ilusi karena mural langit berwarna biru lembut dengan sentuhan emas.

Ridhika ingin sekali berhenti sebentar untuk mengagumi arsitektur ruangan tersebut. Namun, dia tahu itu akan membuatnya terlihat bodoh. Jadi, dia mempercepat langkahnya menuju barisan kursi siswa dan siswi Kelas Protagonis yang terletak di box seats teratas.

"Hai, boleh aku duduk di sini?" Tanyanya pada seorang siswi yang terlihat sibuk membaca buku.

Namun, karena tidak mendapat jawaban, dia memutuskan untuk langsung duduk saja. Setidaknya, dia sudah bertanya dengan sopan. Diletakkan tas di bagian bawah kursi, sedangkan buku-buku di atas pangkuannya.

Di bawah sana, panitia sepertinya sedang bersiap membuka acara. Jadi, dia memanfaatkan waktu untuk melihat-lihat seluruh ruangan. Pada awalnya, semua biasa saja. Para siswa dan siswi terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kelasnya. Wajah-wajah asing yang barangkali tidak akan dilihatnya 2 kali, karena lingkungan Akademi yang sangat luas.

Namun, sedang asyik memperhatikan kursi para Guru dan Pengawas yang mulai terisi, mata Ridhika tanpa sengaja menangkap sosok yang cukup dikenalinya. Atau setidaknya, menurutnya begitu.

Di area box seats yang berseberangan dengan tempatnya berada, di antara para siswa dan siswi antagonis, pria itu duduk dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Matanya, yang kini sudah tidak tertutup tudung hoodie maupun rambut, menatap malas ke arah panggung. Itu jelas si pria aneh yang tidak sengaja ditabraknya kemarin! Ridhika bisa mengenali bekas luka melintang di pipi pria tersebut dengan baik.

"Ternyata dia siswa Kelas Antagonis, ya," batin Ridhika sambil mengangguk-angguk. "Memang cocok, sih."

"Perhatian seluruh siswa dan siswi, acara orientasi akan dimulai sebentar lagi!"

Pemberitahuan dari seorang Pembawa Acara yang bergema melalui pengeras suara berhasil membuyarkan lamunan Ridhika. Pada saat dia sudah mengalihkan fokusnya ke panggung, sosok Adishra yang mengenakan seragam protagonis dengan potongan agak berbeda telah berdiri di sana. Lengkap dengan seulas senyum yang ampuh untuk menutupi betapa menjengkelkannya dirinya.

"Selamat pagi, para siswa dan siswi baru angkatan ke-10. Saya mewakili Komite Pengawas mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung di Akademi Natyadharma, tempat legenda dan sejarah diciptakan khusus hanya untuk orang-orang yang unggul."

Suara tepuk tangan mengudara, menyambut kalimat pembukaan acara dari Adishra. Ridhika juga salah satu yang menyumbang tepuk tangan tersebut. Dia dengan hikmat mendengarkan agenda acara yang dibacakan Adishra. Mengingat orientasi di Akademi Natydharma hanya dianggap sebagai formalitas sehari (berdasarkan informasi dari Widuri), maka dia bertekad untuk ikut serta dalam setiap agenda dengan sungguh-sungguh.

"Baik, sebelum memulai agenda yang pertama, kami terlebih dahulu akan memutarkan video sambutan dari beberapa alumni ternama Akademi Natyadharma." Adishra berjalan ke samping agar tidak menghalangi layar besar yang berada di belakangnya. "Selamat menikmati."

Untuk sepersekian detik, Ridhika menyadari tatapan Adishra diarahkan padanya ketika mengucapkan kalimat terakhir itu. Keningnya berkerut. Antara yakin dan tidak yakin dengan penglihatannya tersebut. Apalagi, meskipun singkat, dia sepertinya juga menangkap senyum sinis terpatri di wajah gadis itu. Namun, kenapa?

Ridhika menggelengkan kepalanya cepat-cepat, mengusir pikiran buruk yang mulai mendatangi kepalanya.

"Sudahlah, Ridhika. Kamu hanya paranoid," bisiknya pada diri sendiri seraya menepuk-nepuk dadanya pelan. Mencoba menenangkan diri untuk yang kesekian kalinya pada hari itu.

Akan tetapi, belum sempat ketenangan berhasil didapatkannya, jantungnya justru berlari lebih cepat tatkala layar yang seharusnya menampilkan sambutan para alumni malah mempertontonkan dia yang sedang berlari sambil makan dan tertawa-tawa.

Hal yang sebenarnya biasa saja. Namun, setelah mendengar perkataan Widuri tentang wibawa dan keanggunan, sukses membuat keringat dingin membasahi telapak tangannya.

Pada momen tersebut, mata Ridhika kembali bertabrakan dengan Adishra. Gadis itu berdiri di balik tirai dengan ekspresi penuh ejekan. Tidak diragukan lagi, memang ditujukan padanya.

Seketika, segala gugup dan khawatir Ridhika lenyap. Tergantikan oleh rasa dingin yang hampir-hampir bisa membekukan ekspresinya sendiri. Dia menatap Adishra dengan datar, lantas ikut mengulas sebuah senyum. Menolak untuk takluk pada taktik murahan gadis itu.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 63 =Menebak-Nebak=

    "Sejak kapan kamu ada di sini?" Ujar Widuri seraya berjalan mendekati Ridhika.Jika dilihat dari sudut pandang biasa, bagi Ridhika, tidak diragukan lagi bahwa Widuri hanya sedang tersenyum tulus padanya seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi, setelah menyaksikan sendiri bagaimana sikap gadis itu hanya beberapa saat lalu, rasa-rasanya seolah yang bertengger di bibir sang teman tersebut bukanlah senyum, melainkan seringai penuh rahasia.Saking kuatnya sugesti ini bekerja di dalam kepalanya sekarang, Ridhika sampai tanpa sadar mundur beberapa langkah dengan kaki gemetaran. "Ridhika. Ada apa?" Widuri semakin mendekat dengan raut wajah bingung. "Apa yang kamu dengar?"Pertanyaan itu seolah memaksa Ridhika bangun dari linglungnya. Dalam sekejap, dia sadar bahwa reaksinya yang sedemikian kentara bisa saja memancing kecurigaan Widuri. Jadi, meski napasnya terasa masih tersangkut di tenggorokan, dia susah payah mencoba mengendalikan diri secepat mungkin."Aku tiba-tiba pusing," ujarnya lirih.

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 62 =Mencurigakan=

    "Kenapa? Kau takut dikhianati?"Seolah memiliki kekuatan supranatural, mudah saja bagi Bagastya untuk menebak apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Ridhika. Di sisi lain, gadis itu pun sama sekali tidak kaget. Katakanlah, dia sudah terbiasa dengan kemampuan pria itu membaca dirinya. Sisi baiknya adalah dia tidak lagi perlu menyampaikannya keras-keras. Sedangkan, sisi lainnya adalah keadaan yang langsung berubah canggung setelah itu.Akan tetapi, sepertinya kecanggungan ini pun hanyalah sesuatu yang dilebih-lebihkan oleh pikiran Ridhika. Sebab, Bagastya sama sekali tidak merasakannya. Alih-alih diam seribu bahasa seperti gadis itu, dia justru sekali lagi mengatakan sesuatu yang kemudian mengubah kebingungan Ridhika menjadi satu jawaban yang jelas."Kau kan juga tahu identitas asliku. Pernah datang ke rumahku, bahkan melihat keluargaku, meskipun hanya melalui foto. Kalau menurutmu, aku seperti akan berkhianat di tengah jalan, kau bisa membocorkan itu semua kepada seluruh penghuni

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 61 =Petunjuk Pertama=

    Matanya serasa direkatkan oleh lem paling kuat di alam semesta. Barangkali adalah pernyataan yang sedikit dilebihkan, tetapi demikianlah yang ada dalam pikiran Ridhika pada saat mencoba membuka matanya.Ketika sudah berhasil melakukannya pun, masih tidak ada hal yang mampu diperbuat olehnya selain berbaring menatap langit-langit kamar yang warnanya agak kusam. Seluruh tubuhnya masih terasa remuk, tetapi yang paling mengganggunya adalah bagian punggung yang berdenyut nyeri.Entah separah apa lukanya, sudah diobati atau belum, dia tidak yakin. Prioritasnya saat itu adalah segera mengumpulkan energi dan kembali ke tebing untuk mengambil kamera yang tadi dilihatnya."Ya Tuhan, Ya Tuhan," batinnya. Ingin berdoa semoga kamera itu masih ada di tempatnya.Ridhika mengulurkan tangan, berpegangan pada tepian kasur untuk membantunya bangkit dari posisi baringnya. Dengan suara brak yang nyaring, tubuhnya jatuh ke lantai karena tidak mampu menahan bobot sendiri. Namun, dia tetap merangkak secara p

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 60 =Penguntit=

    "Kau menarikku keluar sejauh ini hanya untuk menyuruhku mengaku?" Ridhika mendengkus dingin seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak tahu kau berharap aku menjadi orang yang seperti apa, tapi biar kuberitahu satu hal, aku bukan malaikat. Hanya karena aku siswi protagonis, bukan berarti aku akan selalu jadi baik hati dan penuh dengan niat yang tulus.""Ridhika, bukan begitu maksudku." Helaan napas berat lolos dari bibir Bagastya. Baru saja disadarinya bahwa tindakannya memang bisa terlihat seolah sedang menghakimi gadis itu. "Baiklah, aku salah. Maafkan aku. Aku hanya kaget. Ridhika yang kukenal itu cerdas, tapi dia tidak akan memanfaatkan itu untuk menyakiti orang lain.""Ridhika yang kau kenal? Ridhika yang mana? Menjadi pasangan selama beberapa bulan tidak lantas membuatmu mengenalku, Bagastya. Lagipula, yang kusakiti itu adalah diriku sendiri." Ridhika mengangkat pergelangan tangannya yang terbalut perban. "Apa yang ditanggung oleh Klarisa, hanyalah konsekuensi dari

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 59 =Menuntut Pengakuan=

    "Bukankah sudah pernah kubilang kalau aku ingin kau jauh-jauh dari pasanganku?" Ujar Bagastya dengan ekspresi datar. "Kau masih ingat apa peringatanku kalau sampai melanggarnya, kan?"Ridhika membiarkan Bagastya membantunya agar bisa berdiri lebih stabil. Pria itu kemudian memegang tangannya yang terluka selama beberapa saat dengan cukup serius, sebelum akhirnya menarik Ridhika agar berdiri di belakang tubuhnya."Bapak dan Ibu Pengawas, Saya memiliki beberapa laporan tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Klarisa," ungkap Bagastya tegas. "Salah satu yang paling fatal adalah dia memalsukan kepemilikan semua tugas Kelas Antagonis yang diserahkannya. Dia merundung pemilik aslinya dan mengambil tugas-tugas tersebut secara paksa.""Bagastya Dewa! Bisa-bisanya kau!" Dengan wajah pucat Klarisa mengacungkan jarinya ke arah Bagastya.Dari sudut pandang Ridhika, sepertinya gadis itu tidak habis pikir mengapa Bagastya betul tega membocorkan tindakannya. Sesuatu yang membuat Ridhika bingung seka

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 58 =Kelas Gabungan=

    Seperti suara ngengat yang dengan panik mencoba untuk keluar dari perangkap serangga. Itulah apa yang ada di dalam pikiran Ridhika pada saat satu-persatu siswa siswi protagonis dan antagonis mulai masuk ke dalam ruang Kelas Gabungan. Mereka tertawa, bicara dan berseru dengan nada yang melengking nyaring, membuat kepala Ridhika pening seketika."Topik kita kali ini adalah Manipulator Ulung," buka sang Guru Pembina, tanpa menunggu para siswa dan siswi yang belum mendapatkan tempat duduk. "Sengaja Saya pilih demikian, sebab selama beraba-abad, dunia cerita selalu hanya memberi pengakuan kepada antagonis sebagai peran dengan kualitas menjadi seorang manipulator. Saya ingin lihat, barangkali pada pertemuan hari ini, ada yang bisa membuktikan bahwa pandangan tersebut keliru."Bisik-bisik siswa dan siswi di sekitar Ridhika kian bertambah. Pada awalnya, meski bisa mendengar sebagian besar dari pembicaraan yang dibahas, dia masih tidak tertarik untuk memperhatikan. Sampai kemudian kursinya ter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 7 =Ranking Kecantikan=

    Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 6 = Ratu Griya Nayika? =

    "Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 5 = Sekilas Para Protagonis Wanita =

    Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status