Share

Chapter 6 = Ratu Griya Nayika? =

Author: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-06-03 16:47:36

"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau kau minta dihukum, hah?!"

Ridhika menarik tubuh Widuri yang gemetar semakin jauh ke belakangnya. "Bisa bicara lebih seperti orang beradab? Apa yang coba kau capai dengan berteriak seperti itu?"

Berkebalikan dengan si gadis asing, Ridhika bicara dengan nada yang sangat tenang. Seolah hanya sedang menangani seorang anak yang tantrum.

Iya, jika ada hal berharga yang dipelajarinya selama menghadapi pembulli di desa, itu adalah bahwa berbicara sama kerasnya, menunjukkan ekspresi dan bertindak kasar hanya akan memuaskan mereka. Memberikan mereka alasan untuk membenarkan sikap mereka yang salah, karena menganggap reaksinya sebagai bukti bahwa dia memang pantas diperlakukan demikian.

Terbukti, setelah mendengar perkataan tersebut, Ridhika melihat wajah si gadis asing semakin memerah, giginya bergemeletuk dan tangannya terkepal erat. Sementara itu, dia sendiri sedang bersiap mental untuk menghadapi kemarahan yang lebih besar.

"Siapa kau pikir dirimu bisa bicara seperti itu padaku?"

"Tidak perlu menjadi siapa-siapa dulu untuk menentang perilaku yang salah."

"Kau!"

Ridhika secara refleks menahan tangan si gadis yang terulur, seperti akan mencengkeram wajahnya. Dia balik mencengkeram pergelangan tangan itu dengan erat selama beberapa saat, memberikan peringatan bahwa dia tidak akan diam saja jika ditindas, sebelum kemudian menghempaskannya dengan kasar.

"Adishra!" kedua gadis lainnya secara bersamaan merangkul sosok Adishra agar sedikit menjauh dari Ridhika.

Ridhika mengernyit. "Nama sebagus itu disematkan pada gadis dengan kelakukan sejahat ini?" Pikirnya.

"Ridhika bukan orang asing!" Seru Widuri dari belakang tubuhnya. "Dia siswi baru yang kemarin diumumkan Mel."

Ridhika bisa merasakan ketakutan Widuri terhadap Adishra. Pasalnya, teman sekamarnya itu beberapa kali ingin maju, namun terus menahan diri dan kembali bersembunyi di belakangnya.

Di sisi lain, Adishra yang sejak tadi masih tenggelam dalam kemarahan, kini menatap Ridhika dengan sinis.

"Siswi baru?"

Ridhika membiarkan Adishra berjalan hingga hanya sejengkal jauhnya dari tubuhnya. Penasaran dengan apa yang mungkin membuat Widuri bisa setakut itu. Padahal, dia tidak melihat apapun pada Adishra, selain seorang gadis yang mungkin terlalu dimanja sehingga berpikir semua hal dan orang harus berjalan sesuai keinginannya.

"Protagonis macam apa yang mengenakan pakaian seperti ini?" Ejek Adishra dengan ekspresi mencemooh.

Demi Tuhan, Ridhika ingin sekali menonjok wajah sok itu. Namun, dia merasa tidak cerdas baginya untuk menjadi pembuat onar sejak hari pertama tiba di Akademi. Jadi, dia memutuskan untuk menyimpan keinginan itu untuk nanti.

"Bukan urusanmu," balasnya akhirnya, dengan suara yang lebih condong ke datar.

Raut wajah Adishra berubah lagi, Ridhika yakin jika gadis itu adalah turunan antagonis, maka sudah akan keluar api dari matanya.

"Dengar, kau gadis gila," suara Adishra keluar menyerupai geraman rendah. "Aku akan membiarkanmu kali ini karena kau baru, tapi ingat satu hal baik-baik, di Griya Nayika aku adalah Ratu. Siapa pun yang menentang Ratu, bisa dihilangkan kapan pun."

Ridhika melihat di wajah Adishra, ekspresi yang mungkin adalah kombinasi antara angkuh dan meremehkan. Biasanya, dia akan terganggu dengan hal semacam itu. Namun, anehnya kali ini tidak. Alih-alih, dia justru merasa seluruh peristiwa itu konyol sekali dan dia tidak sabar untuk segera mengakhirinya.

Jadi, ketika Adishra dan dayang-dayangnya pergi, yang pertama dilakukan Ridhika adalah menghempaskan diri ke atas tempat tidur dengan perasaan lega.

"Orang itu memang selalu bersikap seperti itu, ya?" Dia menoleh ke arah Widuri yang kini sedang bersila di atas tempat tidurnya sendiri.

Dia memperhatikan gadis itu dengan santai meraih sebungkus keripik dari kabinet samping, lantas menyantapnya seolah tidak terjadi apa-apa. Sepenuhnya tidak menghiraukan pertanyaan Ridhika.

Membuatnya bertanya-tanya, kemana perginya Widuri yang ketakutan setengah mati tadi? Orang penakut tidak akan pulih secepat itu.

"Kamu benar-benar takut dengan Adishra?" Tanyanya penasaran.

Widuri mengedikkan bahu, "Siapa juga yang bisa takut dengan pembulli yang modal teriak saja seperti itu? Tapi, lebih mudah untuk pura-pura menurut saja. Supaya dia cepat puas dan pergi."

"Yang barusan itu ... kamu pura-pura?" Mata Ridhika membulat lebar, sudah untuk yang kesekian kalinya hari ini. Tidak bisa dihindari karena satu-persatu hal mengagetkan terus bermunculan.

"Hm! Lagipula, aku tahu kamu pasti tidak akan membiarkan dia menindas kita."

Kali ini, Ridhika secara spontan bangkit dari rebahnya, "Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu akan bagaimana kalau ternyata aku hanya diam?"

Widuri mengesampingkan keripiknya untuk menatap Ridhika, "Aku tahu kamu akan begitu. Tidak ada turunan antagonis yang akan diam saja kalau ditindas tanpa sebab," gadis itu kembali makan. "Kalau kamu ternyata cuma diam, paling-paling aku cuma perlu memohon beberapa kali, menangis sedikit, lalu sudah. Bukan masalah besar."

Jantung Ridhika berdetak cepat. Rasanya telapak tangannya berkeringat dingin lagi sekarang. Di sisi lain, dia juga tidak habis pikir dengan cara Widuri mengungkapkan rahasia besar itu dengan ringannya. Tidak seharusnya ada orang yang tahu tentang identitas lamanya!

"Dari mana kamu-" Ridhika menggelengkan kepalanya kuat, menarik kembali pertanyaan yang jawabannya sudah jelas itu. Bagaimana bisa dia lupa?! Widuri punya hak spesial. Ada hal lain yang lebih penting untuk ditanyakan, "Apa kamu memilihku sebagai teman sekamar untuk ... menjadi perisai dari orang-orang itu?"

Ada rasa dingin merayap di punggung Ridhika. Persis seperti yang dirasakannya ketika menatap si pria asing tadi pagi. Dia memperhatikan Widuri yang dengan tenang berjalan ke arah tempat tidurnya, lantas duduk tepat di depannya, tanpa sedetik pun lepas senyum dari wajah. Tiba-tiba, dia merasa gadis itu tidak lagi manis dan menggemaskan.

"Ridhi, jangan bilang seperti itu," Widuri menggenggam tangan Ridhika. "Kita akan saling melindungi. Aku perlu kamu, agar bisa terus bertingkah seperti gadis naif tanpa harus repot mengurusi Adishra. Lalu, kamu juga perlu aku, untuk bisa tetap bebas, meskipun terkurung di sini."

"Aku tidak mengerti. Kenapa?" Ridhika kehabiskan kata. Ada banyak pertanyaan, tetapi dia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Takut salah-salah, dia bisa menyinggung sesuatu yang tidak disukai Widuri.

"Aku perlu menjadi naif, Ridhi. Aku punya reputasi keluarga yang harus dijaga. Namun, aku juga tidak mau harus tunduk pada para pembulli di sekolah ini," Widuri menatap dinding dengan ekspresi kosong, seolah ada hal yang ingin dilihatnya, namun terlalu jauh untuk bisa ditemukan. "Ini mungkin memang tempat untuk protagonis, tapi tidak semua orang di dalam sini baik hati atau berperilaku seperti malaikat. Sebagian dari mereka bahkan lebih kejam dan tidak waras daripada para antagonis."

Ridhika tanpa sadar balik menggenggam tangan Widuri. Entah mengapa, dia bisa merasakan kesedihan gadis itu. Baginya, Widuri memang tidak lagi sesederhana yang terlihat. Namun, tidak berarti dia tidak bisa merasakan ketulusannya.

"Aku ingin kita saling bantu untuk bisa bertahan di sini. Bisa, kan?"

Ridhika menatap Widuri ragu-ragu. Dia tidak yakin apakah harus menerima "tawaran" itu atau tidak. Mengingat identitas keturunan Widuri yang tidak main-main, kalau dia menolak, akankah dia langsung dilempar keluar dari kamar itu?

Tatapan serius gadis itu tidak banyak membantunya untuk memutuskan. Namun, dia pikir, jika memang dunia para protagonis tidak sebaik itu, maka tidak ada salahnya dia menerima aliansi. Lagipula, dia sudah sering menangani pembulli. Jadi, apalah artinya menambah satu orang untuk dilindungi di belakang.

Begitulah apa yang dipikirkan Ridhika. Setidaknya, sampai dia melihat sendiri, bagaimana pembullian yang sebenarnya di Akademi Natyadharma.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 90 =Mendaki=

    Bukan sekali dua kali saja Ridhika diam-diam menyesali keputusannya untuk bersedia diajak mendaki oleh Bagastya pagi itu. Bukannya apa! Dia tidak menyangka bahwa mereka akan melakukannya di pagi buta seperti sekarang! Dipadukan dengan jalan pendakiannya yang sangat berbatu dan hawa pegunungan yang dingin sekali, dia merasa seperti sudah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kolam es.Bagastya yang merasakan tangan Ridhika dalam genggamannya terus gemetar juga berupaya untuk berjalan lebih cepat agar bisa segera tiba di puncak. Namun, apa daya, pasangannya itu sendiri terlalu tidak berenergi untuk bisa mengimbangi laju langkahnya. Pada titik ini, bahkan dia pun sudah mulai menyesali keputusannya menjadikan pendakian sebagai acara kencan terakhir mereka sebelum kembali ke akademi nanti sore."Sudah, tinggalkan saja aku disini," ujar Ridhika sambil menyentakkan tangan Bagastya hingga genggaman mereka lepas. "Aku tidak kuat lagi. Teleponkan Tim SAR untuk membawaku turun."Melihat sang pa

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 89 =Layar Tancap=

    Malam berikutnya "berkencan" bersama Bagastya sepenuhnya menguatkan keyakinan Ridhika bahwa desa pria itu memang mendapatkan pendanaan yang baik dari pemerintahnya. Mengapa demikian? Sebab, entah karena waktu kedatangan mereka saja yang tepat atau karena warga di desa tersebut memang senang sering-sering menghibur diri sendiri, setiap hari sepertinya selalu ada hiburan baru. Kemarin karnaval, malam ini pemutaran film di lapangan, besok akan ada apa lagi?Suasana malam itu pun cukup mendukung bagi Ridhika untuk mengkategorikannya sebagai acara kencan yang sukses. Bagastya sudah membelikannya cukup banyak cemilan serta minuman, dan mereka duduk di tempat yang tidak begitu sesak tetapi masih memungkinkan untuk melihat layar dengan nyaman. Jika ada hal yang bisa merusak kombinasi sempurna ini, maka itu hanyalah alur filmnya yang sangat bodoh!"Kenapa sih dia masih mau kembali pada pria itu?! Dia sudah gila, ya?!" Keluh Ridhika frustasi ketima mereka sudah sampai pada bagian dimana si toko

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 88 =Karnaval=

    Sewaktu Ridhika masih tinggal di desa, ada sepasang anak yang mengklaim bahwa mereka berpacaran. Makanya, kedua orang itu sering terlihat pergi bersama, bertukar hadiah atau memanggil satu sama lain dengan nama yang ... agak aneh untuk didengar. Akan tetapi, sungguh bukan itu masalahnya!Masalah sebenarnya adalah suatu hari si gadis pernah melabrak Ridhika ke rumah dan menuduhnya menggoda sang kekasih. Ibu Ambar sampai harus berkali-kali meminta maaf agar si bodoh itu mau pergi, padahal jelas-jelas Ridhika tidak tahu apa-apa! Sejak saat itu, meski dia tidak terlalu paham konsep berpacaran, Ridhika selalu menganggap bahwa orang-orang yang melakukannya pastilah kurang kerjaan.Namun, dia tidak menyangka akan ada saatnya dimana dia menjadi bagian dari orang kurang kerjaan itu dan ternyata ... tidak begitu membencinya."Kau mau hadiah yang mana" Tanya Bagastya, membuat Ridhika segera melayangkan pandangan ke arah semua seleksi hadiah yang bisa mereka dapatkan apabila pria itu berhasil men

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chaper 87 =Rumah Bagi Bagastya Dewa=

    Pemandangan pertama yang dilihat Ridhika ketika turun dari sepeda motor Bagastya adalah seorang wanita paruh baya berkebaya hijau yang sedang memindahkan beberapa tangkai bunga mawar putih dari pot ke tanah. Lalu, pada saat wanita tersebut menyadari kedatangan mereka, dia segera meninggalkan kesibukannya, membersihkan tangan menggunakan kain jarik yang dikenakannya untuk menyambut dengan senyuman.Ridhika tahu dia seharusnya berjalan ke arah wanita itu. Akan tetapi, rasa gugup yang tiba-tiba menyerang membuatnya justru membatu di depan pekarangan, selagi berusaha membalas senyuman si wanita dengan menarik paksa kedua ujung bibirnya. Tindakan yang kemudian dia sadari pasti membuatnya tampak bodoh.Bagastya, di sisi lain, sama sekali tidak membantu. Bukannya menenangkan atau setidaknya mencairkan suasana agar Ridhika bisa bersikap lebih natural, pria itu malah tertawa kecil seraya menyenggol bahunya, lantas berlalu begitu saja."Hm, Bagastya Dewa," panggil wanita tersebut dengan nada me

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 86 =Rencana Pembalasan=

    "Hanya ada ... satu keturunan pria di keluarga Airlangga yang seharusnya menjadi Adhyaksa," gumam Jordan tidak percaya. "Dia anak pria itu?!"Bima mengangguk, tanpa mengalihkan tatapannya dari Ridhika, "Berdasarkan peraturan keluarga Airlangga, ketika pria itu meninggal, yang berhak menggantikan posisinya adalah keturunannya atau jika keturunan tersebut masih belum mampu, maka Adhyaksa yang sedang menjabat akan mengisi jabatannya hingga waktu yang ditentukan. Tapi, karena Ridhika tidak berdarah murni protagonis, banyak anggota keluarga Airlangga menolak kenaikannya dan memilih untuk menunjuk anak lain untuk menjadi Adhyaksa. Meskipun begitu, karena takut suatu hari nanti para tetua akan berubah pikiran terhadap penunjukan ini, Sikha Airlangga berusaha untuk menyingkirkan Ridhika.""Gila!" Jordan Darling berdiri dari duduknya. "Bahkan keluarga Darling saja tidak memperlakukan anak tidak sah sekejam ini!"Mendengar perkataan Bima dan Jordan membuat wajah Ridhika kian memucat. Pada saat

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 85 =Anak Perempuan Keluarga Airlangga=

    "Keluarga kami pertama kali bertemu dengan wanita itu saat aku baru melahirkan," ungkap Nirmala, membuka ceritanya di depan Ridhika, Bagastya dan Jordan Darling. "Adishra ditahan di Rumah Sakit karena kami tidak memiliki cukup uang untuk melunasi biaya perawatannya. Wanita itu datang seperti malaikat yang menawarkan bantuan dan kami menerimanya. Namanya Sikha Airlangga."Penyebutan nama Airlangga membuat Ridhika mengeratkan genggaman tangannya dan Bagastya. Sekarang, sudah terbukti bahwa memang keluarga Ayahnya lah yang selama ini sedang mengincarnya. Adapun, bagaimana perasaannya setelah mengetahui kebenaran tebakannya tersebut? Bingung dan ... anehnya lega. Seolah menemukan sumber cahaya di ujung jalan yang gelap."Untuk membalas budi, kami bersedia untuk membuatkan obat apapun yang dibutuhkannya. Awalnya, semua baik-baik saja, sampai dia meminta kami untuk membuatkannya ramuan yang bisa menjadikannya kembali muda.Ketika kami menolak dan bahkan mengatakan bahwa kami tidak tahu baga

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 8 =Masa Orientasi=

    "Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

    "Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 1 = Undangan Khusus =

    "Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status