LOGINSehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas.
Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika bersumpah bisa melihat bayangan senyum puas bertengger di wajah wanita itu. Membuatnya seketika merasa sangat kecil dan ingin berjalan lebih jauh saja di belakang. "Orang-orang di sini jahatnya berbeda, ya," pikirnya sambil mencoba mengalihkan perhatian dengan cara melihat-lihat taman yang tengah mereka lewati. Taman itu dipenuhi oleh bunga mawar putih. Namun, setengah di antaranya sedang di-cat dengan warna merah oleh beberapa pria dan wanita tua berpakaian terlalu perlente untuk sekadar dikira sebagai tukang kebun. Pemandangan yang mengingatkan Ridhika pada cerita Alice in Wonderland. Dia pernah dengar bahwa alumni siswi yang menjadi pemeran utama cerita itu kini hidup di sebuah istana yang terbuat dari permata. Semua itu adalah hasil dari kesuksesan cerita yang dijalaninya. Sayangnya, bertahun-tahun memerankan karakter yang harus berhubungan dengan dimensi lain telah membuatnya agak tidak waras. Alhasil, tidak ada orang yang mau berhubungan, baik dengan si alumni maupun istana yang megah itu. Ridhika tidak sadar berapa lama dia tenggelam dalam pemikirannya sendiri, sampai Mel tiba-tiba menghentikan langkah di depan pagar yang di baliknya berdiri sebuah bangunan dengan ukiran bertuliskan Griya Nayika terpampang pada fondasi atapnya. Di depan pelataran, Ridhika melihat ada seorang gadis berambut pendek mengenakan gaun putih berenda, sedang menatap ke arah kedatangannnya dan Mel. "Itu teman sekamar Anda. Namanya Ayu Widuri. Dia yang akan mengantar Anda berkeliling di dalam," Mel menyerahkan kedua map besar yang sedari tadi dipegangnya pada Ridhika. "Di dalam sini ada jadwal semua kelas yang harus Anda ikuti, data program ekstrakulikuler yang wajib Anda ambil sebagai siswi protagonis dan list acara keakraban yang diselenggarakan oleh pengurus Griya Nayika." "Seragam?" tanya Ridhika dengan kening berkerut. Setelah menerima kedua map tersebut, dia baru sadar kalau ternyata tangannya terlalu penuh. Ditambah harus menarik koper, dia terlalu fokus mencoba menyeimbangkan benda-benda yang dipegangnya, hingga hanya sempat menangkap sekilas tatapan dingin Mel. Jantung Ridhika berdetak lebih cepat. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya? "Seragam Anda sudah disediakan di kamar. Begitu juga dengan beberapa pakaian lainnya yang bisa dikenakan di waktu luang," mata Mel turun naik mengamati Ridhika dari atas ke bawah. "Ini adalah terakhir kalinya Anda boleh terlihat mengenakan pakaian seperti ini." Ridhika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Perlu beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa bukan bumi tempatnya sedang berpijak, melainkan kedua kakinya sendiri yang sedang bergetar. Pada saat dia sudah mengumpulkan cukup keberanian untuk menjelaskan dirinya sendiri, Mel sudah keburu melenggang pergi. Seolah tidak menganggap apa yang baru saja dikatakannya pada Ridhika berarti apa-apa. "Mel memang tidak begitu ramah pada siapa pun." Ridhika tersentak sedikit. Baru saja ternyata dia tanpa sadar tengah mengikuti kepergian Mel dengan matanya, hingga tidak memperhatikan kedatangan si gadis berambut pendek. "Tapi, jangan diambil hati. Semua karyawan di sini bersikap begitu," sambung si gadis. "Aku Widuri. Sini, biar kubantu bawa kopernya." Ridhika hanya bisa tersenyum kikuk, ketika membiarkan Widuri mengambil pegangan koper dari tangannya. Dia tidak biasa dengan keramahan yang tiba-tiba seperti itu. Namun, dia juga cukup lega, karena sepertinya teman sekamarnya ini bukan tipe yang akan menambah tekanan baginya. "Aku Ridhika." "Hm! Aku tahu. Mel sudah bilang," Widuri menatap Ridhika dengan senyum malu-malu. "Sebenarnya, aku yang minta supaya kamu dijadikan teman sekamarku." "Oh, ya?" Mata Ridhika membulat. "Kenapa?" Dilihatnya Widuri tersipu, hingga pipi gadis itu agak memerah. "Aku sudah lama ingin punya teman sekamar. Makanya, begitu ada pemberitahuan tentang siswi baru, aku langsung bilang ingin sekamar dengannya." "Mereka menerima permintaan seperti itu?" "Sebetulnya sih, tidak. Tapi, aku punya sedikit hak istimewa," Widuri mendekatkan wajahnya pada Ridhika, lantas melirik sana-sini seolah ingin memastikan bahwa tidak ada orang yang akan mendengar, sebelum berbisik, "Kekek buyutku adalah salah satu penemu Akademi ini." Kalau tadi reaksi terkejut Ridhika hanya sampai mata membulat, kali ini napasnya juga tercekat. Secara spontan, dia menutup mulutnya, lalu entah bagaimana ikut cekikikan bersama Widuri. Gadis itu menggandeng lengannya masuk ke dalam asrama, sambil sesekali menjelaskan ruangan-ruangan yang mereka lewati. Bangunan itu terdiri atas 3 lantai dan ukurannya ternyata lebih besar daripada yang tampak dari depan. Segera setelah pintu masuk dibuka, Ridhika langsung disambut oleh tangga marmer mewah menuju lantai 2. Seluruh permukaan lantai dilapisi dengan karpet kashmir berwarna cream dengan jahitan emas dan setiap sudut ruangan dihiasi oleh berbagai macam bunga berwarna pastel. Sementara lantai 1 didominasi oleh ruang belajar, perpustakaan dan tempat latihan, lantai 2 adalah tempat kamar para siswi berada dan lantai 3 diperuntukkan khusus untuk menyimpan pakaian dan perhiasan yang dipersiapkan bagi para siswi guna menghadiri acara-acara tertentu. Lebih mencengangkannya lagi, di setiap lantai, terdapat papan pengumuman besar yang menampilkan ranking para siswi penghuni Asrama berdasarkan banyak kategori. Kecerdasan, keterampilan stay in character, bahkan penampilan. Mengetahui hal tersebut membuat Ridhika yakin bahwa Griya Nayika dengan hati-hati memang dirancang untuk menciptakan protagonis wanita yang tidak kurang dari sempurna. "Kita bisa makan di kafetaria atau pesan untuk dibawakan ke kamar. Tapi, jangan khawatir! Aku sudah menumpuk persediaan camilan untuk menyambutmu," celoteh Widuri dengan riang. Ridhika tergelak ringan. Faktanya, dia sudah tertawa dan tersenyum lebih banyak selama 15 menit bersama Widuri, ketimbang yang pernah dia lakukan nyaris seumur hidup. "Ini dia!" Seru Widuri sambil membuka pintu sebuah kamar bernomor 29. "Kamar kita!" Ridhika terperangah, terpesona dengan pemandangan kamar yang akan ditempatinya. Bukan karena ruangan itu mewah atau semacamnya, malah justru sebaliknya, cukup sederhana. Namun memberikan kesan hangat dan nyaman. Dinding dan gorden-gorden yang tergantung di jendelanya didominasi warna putih tulang dan cokelat muda. Di bagian tengah ruangan terdapat dua tempat tidur berukuran sedang yang posisinya saling berhadapan, dengan lemari, meja dan rak buku berbahan kayu di masing-masing sisinya. Sementara itu, ada satu meja rias diletakkan di antara kedua tempat tidur tersebut, berhiaskan satu vas bunga mawar merah muda di atasnya. "Aku harap, kamu tidak keberatan dengan gambar-gambar di dinding. Aku membuatnya saat sedang bosan," ujar Widuri yang langsung mendapatkan anggukan dari Ridhika. "Aku sangat menyukainya." Ridhika mendekati salah satu gambar yang dipajang oleh Widuri. Sepasang Induk dan anak rubah sedang tidur bergelung di bawah pohon rindang di tengah apa yang terlihat seperti padang bunga cosmos. Hatinya terasa sedang meleleh. Pada momen itu, dia bersyukur sekali, bahwa Widuri memintanya sebagai taman sekamar. Siapa tahu apakah dia akan betah tinggal di Asrama, jika seandainya teman sekamarnya adalah siswi yang ternyata terlalu perfeksionis. Baru saja Ridhika ingin menyentuh gambar itu, tetapi dia dikagetkan oleh suara pintu yang dibuka secara kasar. Sehingga, dengan kaget langsung menoleh ke asal suara. Jantungnya bahkan masih berdegup kencang, ketika 3 orang gadis masuk dan tanpa alasan langsung menyerang Widuri. "Beraninya kau melawanku!" Seru salah seorang gadis, sambil menjambak rambut Widuri hingga gadis itu menjerit kesakitan. Melihat adegan tersebut, Ridhika tentu saja langsung melemparkan map di tangannya ke sembarang tempat. Bergegas menghampiri si gadis tidak dikenal, lantas sekuat tenaga mendorongnya menjauh hingga terjengkal ke belakang. "Apa-apaan ini?! Sudah gila, ya?!" Ridhika menarik Widuri agar berdiri di belakangnya. Dia memastikan bahwa gadis itu tidak terluka, lalu dengan marah berbalik ke arah gadis yang tadi didorongnya. Segera saja, keduanya bersitatap. Satu dengan ekspresi dingin dan satunya lagi dengan ekspresi geram.Kini, dia adalah Melati. Bukan Ridhika Maya yang beberapa waktu lalu sempat mengalami shock karena baru saja menyaksikan orang yang dianggapnya sebagai teman dekat keluar dari tempat dan waktu yang bersamaan dengan orang lainnya yang pernah hampir membuatnya kehilangan nyawa. Kini, dia adalah sang Nyai yang digandrungi banyak lelaki karena kepiawaiannya dalam menyanyikan banyak lagu-lagu asmara. Jadi, Ridhika Maya harus menunggu sampai penampilannya selesai, sebelum membuka kembali kebisingan dalam kepalanya. Nyai Melati duduk di kursi tunggal menghadap ratusan penonton dengan mata tertunduk. Di belakangnya, para musisi sudah mulai bergerak menggesek, menekan dan memetik alat musik masing-masing, menghasilkan nada-nada yang tidak ayal membuat semua orang bersorak penuh antusiasme. Tidak berapa lama kemudian, suara sang Nyai yang merdu pun turut mengalun, mendayu-dayu seolah ingin merayu semua yang bisa mendengarnya. Malam itu, Nyai Melati membawakan sebuah lagu berjudul "Aan Het
Beberapa ekor tupai tampak berlarian di sepanjang ranting pohon pinus. Bahkan meski hutan sedang diselimuti oleh kabut, warna tubuh mereka tetap menjadi yang paling mencolok di antara hijau dedaunan. Sesekali, terdengar cicit burung pipit dari jauh, semakin nyaring dan semakin nyaring, seolah mereka sudah terbang dalam jarak dekat. Di sela itu semua, udara pagi yang masih dingin menjelma menjadi unsur pelengkap yang akan sukses membuat siapapun ingin tetap bergelung di dalam selimut mereka. Tidak terkecuali Ridhika.Sayangnya, sebelum ayam jago sempat bersiap untuk membangunkan orang-orang, Bagastya sudah nangkring di depan Griya Nayika. Kendati baru akan tampil nanti malam, mereka tetap harus berlatih untuk terakhir kali serta memantau persiapan latar panggung sedari pagi, supaya tidak merasa diburu-buru waktu. Alhasil, pria itu dengan tekad kuat bersikeras untuk menjemputnya."Selamat pagi," ujar Bagastya seraya menyodorkan termos kecil ke arah Ridhika yang baru keluar dari gerbang
Mendekati pertengahan Oktober, hujan deras semakin sering mengguyur Akademi Natyadharma. Kini, udara yang lembab dan tanah yang basah sudah menjadi bagian dari keseharian orang-orang di dalamnya. Terutama bagi Ridhika dan Bagastya, yang sering bertemu di hutan pinus untuk bertukar hasil pengamatan mereka terhadap para wanita di akademi.Sampai saat ini pun, belum ada titik terang. Ridhika bahkan mulai berpikir bahwa mungkin saja si penguntit itu memang adalah orang luar yang hanya sudah mempelajari rute akademi agar lebih mudah mengawasinya. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia ketahuan sekali, lantas langsung bisa menghilang bagai menguap ke permukaan atmosfer?"Bagian pinggangnya sedikit longgar, ya? Akan Saya kecilkan sedikit lagi," ujar si penjahit yang didatangkan khusus untuk membuat pakaian bagi para siswa dan siswi yang akan tampil untuk praktik dunia cerita.Ridhika diam saja. Akan tetapi, dia menunduk memperhatikan jemari si penjahit yang bergerak dengan telaten mengkelim bagi
Seusai menyelesaikan laporan analisis karakter protagonis wanita yang cocok untuk Amayra di akhir pekan, Ridhika memutuskan untuk pergi mencari Bagastya ke asrama biasa. Mengapa tidak di asrama siswa antagonis? Entahlah. Karena alasan tertentu, dia merasa akan lebih mudah menemukan pria itu di asrama biasa.Itulah sebabnya, pagi-pagi sekali di hari yang berangin, Ridhika menyusuri hutan pinus sambil memeluk naskah Nyai Melati di dadanya. Jalan setapak yang masih sedikit basah karena hujan semalam menguarkan aroma serta suara yang khas ketika kakinya melangkah di atasnya.Sesekali, dia menoleh ke sekeliling. Berusaha tetap waspada, meski dia punya firasat bahwa akan perlu sementara waktu sampai dia mendapat penguntit baru.Kendati begitu, tindakannya ini tetap berbuah. Sebab, matanya menemukan sosok Bagastya yang sedang duduk bersandar di bawah sebuah pohon pinus besar dengan mata terpejam. Kedua tangan pria itu terlipat di depan dada, seolah ingin melindungi diri dari dingin. Tampak t
"Apa yang kau sebut sebagai turun kasta itu adalah sanksi dari perbuatanmu sendiri, Adishra." Ridhika mengulas sebuah senyum simpul di wajahnya, tanpa menghilangkan nada serius dalam suaranya. "Sebenarnya, aku percaya bahwa aku sudah cukup berbaik hati dengan tidak memberitahukan alasan spesifik turunnya sanksimu itu kepada orang-orang. Kalau mereka tahu, mungkin kau bahkan akan lebih dikucilkan daripada aku."Menyaksikan raut wajah Adishra secara perlahan berubah dari arogan menjadi pucat entah mengapa memberikan kepuasan tersendiri bagi Ridhika. Akan tetapi, dia masih belum selesai. Hanya sekadar mengambil jeda sebelum menjatuhkan bom terakhir yang bisa membungkam omong kosong gadis itu sepenuhnya."Walau bagaimana pun juga, aku dijadikan siswi Kelas Protagonis melalui keputusan mutlak Adhyaksa. Para protagonis murni ini harus menerimaku, suka atau tidak suka. Tapi, kau? Dengan posisimu sekarang, ditambah fakta kejahatan yang telah kau perbuat, apa kau bisa menjamin bahwa mereka tid
"Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok berisi masing-masing satu protagonis, satu antagonis, serta beberapa peran pendukung dan figuran," jelas Guru Pembina seraya memberikan selembar kertas berisi kelompok yang dimaksudnya pada perwakilan kelas. "Silakan ambil naskahnya di depan sini, lalu diskusikan jadwal latihan dan apapun yang kalian rasa perlu. Semua kelompok wajib untuk tampil berdasarkan naskah ceritanya pada pertemuan selanjutnya minggu depan."Setelah sang Guru Pembina duduk kembali di belakang mejanya, perwakilan kelas segera berdiri dan mulai mengumumkan nama-nama anggota masing-masing kelompok. Tidak perlu waktu lama bagi para siswa dan siswi untuk mulai ribut mencari pemilik nama-nama tersebut. Semua orang tampak antusias. Hanya Ridhika saja yang sibuk melamun sampai tanpa sadar menggores permukaan meja menggunakan kukunya.Seusai terjaga sepanjang malam, memikirkan apa yang harus dilakukan setelah kecurigaannya terhadap Widuri semakin meningkat, dia memutuskan u
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku
Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma
"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s







