Beranda / Young Adult / Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis / Chapter 5 = Sekilas Para Protagonis Wanita =

Share

Chapter 5 = Sekilas Para Protagonis Wanita =

Penulis: daydreammm_ms
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 16:41:49

Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas.

Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika bersumpah bisa melihat bayangan senyum puas bertengger di wajah wanita itu. Membuatnya seketika merasa sangat kecil dan ingin berjalan lebih jauh saja di belakang.

"Orang-orang di sini jahatnya berbeda, ya," pikirnya sambil mencoba mengalihkan perhatian dengan cara melihat-lihat taman yang tengah mereka lewati.

Taman itu dipenuhi oleh bunga mawar putih. Namun, setengah di antaranya sedang di-cat dengan warna merah oleh beberapa pria dan wanita tua berpakaian terlalu perlente untuk sekadar dikira sebagai tukang kebun. Pemandangan yang mengingatkan Ridhika pada cerita Alice in Wonderland.

Dia pernah dengar bahwa alumni siswi yang menjadi pemeran utama cerita itu kini hidup di sebuah istana yang terbuat dari permata. Semua itu adalah hasil dari kesuksesan cerita yang dijalaninya. Sayangnya, bertahun-tahun memerankan karakter yang harus berhubungan dengan dimensi lain telah membuatnya agak tidak waras. Alhasil, tidak ada orang yang mau berhubungan, baik dengan si alumni maupun istana yang megah itu.

Ridhika tidak sadar berapa lama dia tenggelam dalam pemikirannya sendiri, sampai Mel tiba-tiba menghentikan langkah di depan pagar yang di baliknya berdiri sebuah bangunan dengan ukiran bertuliskan Griya Nayika terpampang pada fondasi atapnya.

Di depan pelataran, Ridhika melihat ada seorang gadis berambut pendek mengenakan gaun putih berenda, sedang menatap ke arah kedatangannnya dan Mel.

"Itu teman sekamar Anda. Namanya Ayu Widuri. Dia yang akan mengantar Anda berkeliling di dalam," Mel menyerahkan kedua map besar yang sedari tadi dipegangnya pada Ridhika. "Di dalam sini ada jadwal semua kelas yang harus Anda ikuti, data program ekstrakulikuler yang wajib Anda ambil sebagai siswi protagonis dan list acara keakraban yang diselenggarakan oleh pengurus Griya Nayika."

"Seragam?" tanya Ridhika dengan kening berkerut.

Setelah menerima kedua map tersebut, dia baru sadar kalau ternyata tangannya terlalu penuh. Ditambah harus menarik koper, dia terlalu fokus mencoba menyeimbangkan benda-benda yang dipegangnya, hingga hanya sempat menangkap sekilas tatapan dingin Mel.

Jantung Ridhika berdetak lebih cepat. Apa ada yang salah dengan pertanyaannya?

"Seragam Anda sudah disediakan di kamar. Begitu juga dengan beberapa pakaian lainnya yang bisa dikenakan di waktu luang," mata Mel turun naik mengamati Ridhika dari atas ke bawah. "Ini adalah terakhir kalinya Anda boleh terlihat mengenakan pakaian seperti ini."

Ridhika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Perlu beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa bukan bumi tempatnya sedang berpijak, melainkan kedua kakinya sendiri yang sedang bergetar. Pada saat dia sudah mengumpulkan cukup keberanian untuk menjelaskan dirinya sendiri, Mel sudah keburu melenggang pergi. Seolah tidak menganggap apa yang baru saja dikatakannya pada Ridhika berarti apa-apa.

"Mel memang tidak begitu ramah pada siapa pun."

Ridhika tersentak sedikit. Baru saja ternyata dia tanpa sadar tengah mengikuti kepergian Mel dengan matanya, hingga tidak memperhatikan kedatangan si gadis berambut pendek.

"Tapi, jangan diambil hati. Semua karyawan di sini bersikap begitu," sambung si gadis. "Aku Widuri. Sini, biar kubantu bawa kopernya."

Ridhika hanya bisa tersenyum kikuk, ketika membiarkan Widuri mengambil pegangan koper dari tangannya. Dia tidak biasa dengan keramahan yang tiba-tiba seperti itu. Namun, dia juga cukup lega, karena sepertinya teman sekamarnya ini bukan tipe yang akan menambah tekanan baginya.

"Aku Ridhika."

"Hm! Aku tahu. Mel sudah bilang," Widuri menatap Ridhika dengan senyum malu-malu. "Sebenarnya, aku yang minta supaya kamu dijadikan teman sekamarku."

"Oh, ya?" Mata Ridhika membulat. "Kenapa?"

Dilihatnya Widuri tersipu, hingga pipi gadis itu agak memerah.

"Aku sudah lama ingin punya teman sekamar. Makanya, begitu ada pemberitahuan tentang siswi baru, aku langsung bilang ingin sekamar dengannya."

"Mereka menerima permintaan seperti itu?"

"Sebetulnya sih, tidak. Tapi, aku punya sedikit hak istimewa," Widuri mendekatkan wajahnya pada Ridhika, lantas melirik sana-sini seolah ingin memastikan bahwa tidak ada orang yang akan mendengar, sebelum berbisik, "Kekek buyutku adalah salah satu penemu Akademi ini."

Kalau tadi reaksi terkejut Ridhika hanya sampai mata membulat, kali ini napasnya juga tercekat. Secara spontan, dia menutup mulutnya, lalu entah bagaimana ikut cekikikan bersama Widuri.

Gadis itu menggandeng lengannya masuk ke dalam asrama, sambil sesekali menjelaskan ruangan-ruangan yang mereka lewati.

Bangunan itu terdiri atas 3 lantai dan ukurannya ternyata lebih besar daripada yang tampak dari depan. Segera setelah pintu masuk dibuka, Ridhika langsung disambut oleh tangga marmer mewah menuju lantai 2. Seluruh permukaan lantai dilapisi dengan karpet kashmir berwarna cream dengan jahitan emas dan setiap sudut ruangan dihiasi oleh berbagai macam bunga berwarna pastel.

Sementara lantai 1 didominasi oleh ruang belajar, perpustakaan dan tempat latihan, lantai 2 adalah tempat kamar para siswi berada dan lantai 3 diperuntukkan khusus untuk menyimpan pakaian dan perhiasan yang dipersiapkan bagi para siswi guna menghadiri acara-acara tertentu. Lebih mencengangkannya lagi, di setiap lantai, terdapat papan pengumuman besar yang menampilkan ranking para siswi penghuni Asrama berdasarkan banyak kategori. Kecerdasan, keterampilan stay in character, bahkan penampilan.

Mengetahui hal tersebut membuat Ridhika yakin bahwa Griya Nayika dengan hati-hati memang dirancang untuk menciptakan protagonis wanita yang tidak kurang dari sempurna.

"Kita bisa makan di kafetaria atau pesan untuk dibawakan ke kamar. Tapi, jangan khawatir! Aku sudah menumpuk persediaan camilan untuk menyambutmu," celoteh Widuri dengan riang.

Ridhika tergelak ringan. Faktanya, dia sudah tertawa dan tersenyum lebih banyak selama 15 menit bersama Widuri, ketimbang yang pernah dia lakukan nyaris seumur hidup.

"Ini dia!" Seru Widuri sambil membuka pintu sebuah kamar bernomor 29. "Kamar kita!"

Ridhika terperangah, terpesona dengan pemandangan kamar yang akan ditempatinya. Bukan karena ruangan itu mewah atau semacamnya, malah justru sebaliknya, cukup sederhana. Namun memberikan kesan hangat dan nyaman.

Dinding dan gorden-gorden yang tergantung di jendelanya didominasi warna putih tulang dan cokelat muda. Di bagian tengah ruangan terdapat dua tempat tidur berukuran sedang yang posisinya saling berhadapan, dengan lemari, meja dan rak buku berbahan kayu di masing-masing sisinya. Sementara itu, ada satu meja rias diletakkan di antara kedua tempat tidur tersebut, berhiaskan satu vas bunga mawar merah muda di atasnya.

"Aku harap, kamu tidak keberatan dengan gambar-gambar di dinding. Aku membuatnya saat sedang bosan," ujar Widuri yang langsung mendapatkan anggukan dari Ridhika.

"Aku sangat menyukainya."

Ridhika mendekati salah satu gambar yang dipajang oleh Widuri. Sepasang Induk dan anak rubah sedang tidur bergelung di bawah pohon rindang di tengah apa yang terlihat seperti padang bunga cosmos.

Hatinya terasa sedang meleleh. Pada momen itu, dia bersyukur sekali, bahwa Widuri memintanya sebagai taman sekamar. Siapa tahu apakah dia akan betah tinggal di Asrama, jika seandainya teman sekamarnya adalah siswi yang ternyata terlalu perfeksionis.

Baru saja Ridhika ingin menyentuh gambar itu, tetapi dia dikagetkan oleh suara pintu yang dibuka secara kasar. Sehingga, dengan kaget langsung menoleh ke asal suara. Jantungnya bahkan masih berdegup kencang, ketika 3 orang gadis masuk dan tanpa alasan langsung menyerang Widuri.

"Beraninya kau melawanku!" Seru salah seorang gadis, sambil menjambak rambut Widuri hingga gadis itu menjerit kesakitan.

Melihat adegan tersebut, Ridhika tentu saja langsung melemparkan map di tangannya ke sembarang tempat. Bergegas menghampiri si gadis tidak dikenal, lantas sekuat tenaga mendorongnya menjauh hingga terjengkal ke belakang.

"Apa-apaan ini?! Sudah gila, ya?!"

Ridhika menarik Widuri agar berdiri di belakangnya. Dia memastikan bahwa gadis itu tidak terluka, lalu dengan marah berbalik ke arah gadis yang tadi didorongnya.

Segera saja, keduanya bersitatap. Satu dengan ekspresi dingin dan satunya lagi dengan ekspresi geram.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 56 =Menentukan Prioritas=

    "Bagi protagonis wanita berkepribadian kuat, selama mereka bukan pihak yang memulai tindakan salah, maka perilakunya masih bisa ditelorensi. Membalas dendam, menginjak balik orang lain, semua ini masih diperbolehkan, asalkan sepadan dengan kejahatan yang dialaminya dan tidak lebih," jelas Ibu Binar sambil berkeliling kelas dengan buku teks pelajaran di tangannya. "Sedangkan, bagi protagonis wanita dengan kepribadian lembut, umumnya tindak kebaikan hatinya disarankan tidak berbatas. Kecuali, apabila sifat lembutnya itu hanyalah fasad yang digunakan untuk melindungi diri sendiri, maka batas kebaikannya disamakan dengan protagonis wanita kuat. Yakni, selama tidak melebihi tindak kejahatan yang diterimanya."Ridhika menyimak dengan sangat serius. Matanya hanya tertuju pada Ibu Binar, bahkan tubuhnya nyaris tidak bergerak. Satu-satunya hal yang kadang kala mampu merusak fokusnya hanyalah suara guntur yang saling bersahutan di luar.Pada saat, dia menoleh ke jendela yang sebagian besar men

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 55 =Memulai Kembali=

    Pagi itu, ketika Ridhika berjalan di lorong menuju Kelas Kebaikan Hati, semua anehnya tidak seburuk yang dia bayangkan. Padahal, dia sudah bersengaja tidak berjalan bersama Amayra, karena takut gadis itu dikucilkan. Akan tetapi, ternyata para siswa dan siswi tampak tidak begitu peduli. Mereka hanya melewatinya seolah dia tidak ada.Memang masih ada beberapa yang melirik dengan tatapan sinis, tetapi Ridhika tentu tidak mengindahkannya. Selama mereka tidak mengganggunya secara langsung, dia juga bisa berpura-pura seolah mereka adalah makhluk-makhluk tembus pandang.Setibanya di kelas, kursi yang biasa digunakannya tentu sudah diisi siswi lain, yang begitu melihat kedatangannya maka segera saja mulai berbisik-bisik dengan satu sama lain. Hanya tersisa dua kursi kosong, satu di samping Amayra yang tengah menatapnya seraya tersenyum lebar, sementara satunya lagi berada di pojok paling belakang ruangan.Ridhika tanpa diragukan lagi memilik kursi yang berada di belakang itu. Dia menyempatkan

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 54 =Apa Yang Terjadi di Masa Lalu?=

    "Wanita itu? Yang kamu lihat samar dalam potongan ingatanmu?" Tanya Amayra memastikan.Ridhika mengangguk. Dia sendiri bingung mengapa bisa merasa demikian. Padahal, seumur hidup, Ibu yang dia tahu adalah ... Ibu yang selalu menunggunya di rumah. Mengapa sepotong ingatan yang bahkan masih kabur saja mampu membuatnya meragukan siapa sosok Ibunya?"Kamu yakin wanita itu bukan tetangga atau sekadar orang lewat yang membantumu saja? Mungkin itulah mengapa kamu merasa dia seperti Ibumu, karena tidak asing."Kali ini, Ridhika menggeleng, "Aku dan Ibu tidak dekat dengan siapa pun di desa. Jangankan membantu, menyapa kami saja mereka enggan.""Kalau begitu, bagaimana kalau kamu coba ceritakan potongan ingatanmu itu padaku? Mungkin aku bisa ikut menilai, kira-kira kenapa kamu merasa wanita itu adalah Ibumu."Dari wajah Amayra, pandangan Ridhika beralih pada pemandangan di luar jendela. Membayangkan betapa miripnya awan mendung hari ini dengan awan yang ada pada hari dalam ingatannya. Yang tida

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 53 =Pasca Trauma=

    Beberapa waktu terakhir ini, langit yang menggantung di atas Griya Nayika terlihat lebih kelabu daripada biasanya, tetapi hujan tidak kunjung turun. Seolah awan-awan itu ada hanya untuk melengkapi suasana hati Ridhika yang mendung.Dia menghabiskan tiga hari belakangan dengan mendekam sendirian di dalam kamar. Widuri belum kembali ke akademi, sedangkan Amayra tidak diizinkannya untuk masuk. Untuk sementara, dia betul-betul mencoba menutup diri dari dunia dan menenangkan pikirannya. Sebab, meski tidak ingin mengakui, peristiwa terungkapnya identitasnya waktu itu tetaplah mengguncangnya sedemikian rupa.Ridhika memang sudah memutuskan untuk tidak peduli terhadap pandangan orang-orang. Namun, perlu penyesuaian lagi baginya agar mampu bersikap sesuai keputusan itu. "Ridhika." Suara Amayra terdengar dari balik pintu, disusul oleh beberapa kali ketukan pelan. "Aku membawakan catatan dari kelas-kelas kita beberapa hari ini untukmu."Ridhika menghela napas berat. Membayangkan bertemu dengan

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 52 =Hilang Arah=

    "Siswi atas nama Ridhika Maya tidak memalsukan identitasnya. Pihak Akademi Natydharma sendiri yang mengundangnya untuk menjadi siswi Kelas Protagonis atas keputusan Adhyaksa. Hal ini tentu saja dengan catatan bahwa Adhyaksa sudah mengetahui keseluruhan informasi terkait Ridhika Maya sebagai keturunan antagonis Calon Arang."Suara Ibu Berlian yang sedang mengumumkan informasi terkait identitas Ridhika bergema ke seantero akademi. Semua siswa dan siswi yang telah menonton video identitas Ridhika dikumpulkan untuk berbaris di depan. Dari desas-desus para pengawas yang sibuk memastikan bahwa kabar tersebut tidak bocor ke luar, tampaknya para siswa dan siswi itu akan diberi peringatan."Ridhika, tidak apa," ujar Amayra dengan suara bergetar. "Ibu Berlian bilang, penyebar video itu akan dicari. Para siswa dan siswi yang merundungmu juga akan dihukum. Semua akan kembali baik-baik saja."Air mata Amayra beberapa kali jatuh tanpa bisa ditahan. Namun, orang yang ditangisi justru hanya berbarin

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 51 =Sasaran Kebencian=

    "Ridhika itu buyutnya Calon Arang! Untung sekali dia bisa masuk Akademi sebagai protagonis.""Betul! Kami kaget sekali waktu dengar dia jadi protagonis!"Kini, layar raksasa itu memperlihatkan rekaman obrolan beberapa Ibu-Ibu yang Ridhika kenal sebagai tetangga di sekitar rumahnya. Video yang direkam secara diam-diam entah oleh siapa itu tidak hanya menayangkan komentar satu atau dua orang, melainkan hampir semua orang di desa yang mengenal atau pernah berinteraksi dengan dirinya."Gadis itu ketus sekali! Selalu merengut kalau sedang lewat.""Waktu masih kecil, dia sering mengganggu anak-anak lain!"Ridhika menggelengkan kepalanya kuat-kuat hingga air mata yang menggenang di pelupuk matanya berjatuhan tidak terkendali. Bahkan meski tidak serta-merta membuat video orang-orang desa berhenti, dia terus menggeleng seolah setiap goyangan kepalanya itu mampu menepis semua tuduhan yang mereka sematkan padanya."Ibunya juga aneh! Tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun. Kurasa, mungkin wan

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 8 =Masa Orientasi=

    "Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 7 =Ranking Kecantikan=

    Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 6 = Ratu Griya Nayika? =

    "Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status