LOGINMata Ridhika bergerak dengan liar menatap kobaran api yang sedikit lagi akan merambat ke area penonton. Sementara semua orang masih tenggelam dalam pikiran bahwa mereka sedang menyaksikan sebuah drama, sepertinya baru dia yang menyadari bahwa api itu adalah api sungguhan. "Pergi! Pergi semua!" Serunya panik sambil merangkak ke tepi panggung.Sayangnya, kendati dia sudah berteriak sekuat tenaga, tampaknya tidak seorang pun dari penonton menganggap serius tindakannya tersebut atau setidaknya melihat bahwa ada yang tidak beres. Mereka masih saja berpikir bahwa dia sedang berakting."Sial!" Ridhika mengumpat tanpa bisa ditahan. "Ini api sungguhan, bodoh! Kalian mau terpanggang hidup-hidup di sini?!"Dia ingin berseru tepat di depan wajah mereka. Namun, penghalang sihir transparan yang dipasang di sekitar panggung agar properti dan pemandangan set drama bisa berganti secara otomatis sesuai alur cerita membuatnya terkurung di dalam. Sadar akan hal ini, Ridhika memutuskan untuk bergegas ke
Kini, dia adalah Melati. Bukan Ridhika Maya yang beberapa waktu lalu sempat mengalami shock karena baru saja menyaksikan orang yang dianggapnya sebagai teman dekat keluar dari tempat dan waktu yang bersamaan dengan orang lainnya yang pernah hampir membuatnya kehilangan nyawa. Kini, dia adalah sang Nyai yang digandrungi banyak lelaki karena kepiawaiannya dalam menyanyikan banyak lagu-lagu asmara. Jadi, Ridhika Maya harus menunggu sampai penampilannya selesai, sebelum membuka kembali kebisingan dalam kepalanya. Nyai Melati duduk di kursi tunggal menghadap ratusan penonton dengan mata tertunduk. Di belakangnya, para musisi sudah mulai bergerak menggesek, menekan dan memetik alat musik masing-masing, menghasilkan nada-nada yang tidak ayal membuat semua orang bersorak penuh antusiasme. Tidak berapa lama kemudian, suara sang Nyai yang merdu pun turut mengalun, mendayu-dayu seolah ingin merayu semua yang bisa mendengarnya. Malam itu, Nyai Melati membawakan sebuah lagu berjudul "Aan Het
Beberapa ekor tupai tampak berlarian di sepanjang ranting pohon pinus. Bahkan meski hutan sedang diselimuti oleh kabut, warna tubuh mereka tetap menjadi yang paling mencolok di antara hijau dedaunan. Sesekali, terdengar cicit burung pipit dari jauh, semakin nyaring dan semakin nyaring, seolah mereka sudah terbang dalam jarak dekat. Di sela itu semua, udara pagi yang masih dingin menjelma menjadi unsur pelengkap yang akan sukses membuat siapapun ingin tetap bergelung di dalam selimut mereka. Tidak terkecuali Ridhika.Sayangnya, sebelum ayam jago sempat bersiap untuk membangunkan orang-orang, Bagastya sudah nangkring di depan Griya Nayika. Kendati baru akan tampil nanti malam, mereka tetap harus berlatih untuk terakhir kali serta memantau persiapan latar panggung sedari pagi, supaya tidak merasa diburu-buru waktu. Alhasil, pria itu dengan tekad kuat bersikeras untuk menjemputnya."Selamat pagi," ujar Bagastya seraya menyodorkan termos kecil ke arah Ridhika yang baru keluar dari gerbang
Mendekati pertengahan Oktober, hujan deras semakin sering mengguyur Akademi Natyadharma. Kini, udara yang lembab dan tanah yang basah sudah menjadi bagian dari keseharian orang-orang di dalamnya. Terutama bagi Ridhika dan Bagastya, yang sering bertemu di hutan pinus untuk bertukar hasil pengamatan mereka terhadap para wanita di akademi.Sampai saat ini pun, belum ada titik terang. Ridhika bahkan mulai berpikir bahwa mungkin saja si penguntit itu memang adalah orang luar yang hanya sudah mempelajari rute akademi agar lebih mudah mengawasinya. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia ketahuan sekali, lantas langsung bisa menghilang bagai menguap ke permukaan atmosfer?"Bagian pinggangnya sedikit longgar, ya? Akan Saya kecilkan sedikit lagi," ujar si penjahit yang didatangkan khusus untuk membuat pakaian bagi para siswa dan siswi yang akan tampil untuk praktik dunia cerita.Ridhika diam saja. Akan tetapi, dia menunduk memperhatikan jemari si penjahit yang bergerak dengan telaten mengkelim bagi
Seusai menyelesaikan laporan analisis karakter protagonis wanita yang cocok untuk Amayra di akhir pekan, Ridhika memutuskan untuk pergi mencari Bagastya ke asrama biasa. Mengapa tidak di asrama siswa antagonis? Entahlah. Karena alasan tertentu, dia merasa akan lebih mudah menemukan pria itu di asrama biasa.Itulah sebabnya, pagi-pagi sekali di hari yang berangin, Ridhika menyusuri hutan pinus sambil memeluk naskah Nyai Melati di dadanya. Jalan setapak yang masih sedikit basah karena hujan semalam menguarkan aroma serta suara yang khas ketika kakinya melangkah di atasnya.Sesekali, dia menoleh ke sekeliling. Berusaha tetap waspada, meski dia punya firasat bahwa akan perlu sementara waktu sampai dia mendapat penguntit baru.Kendati begitu, tindakannya ini tetap berbuah. Sebab, matanya menemukan sosok Bagastya yang sedang duduk bersandar di bawah sebuah pohon pinus besar dengan mata terpejam. Kedua tangan pria itu terlipat di depan dada, seolah ingin melindungi diri dari dingin. Tampak t
"Apa yang kau sebut sebagai turun kasta itu adalah sanksi dari perbuatanmu sendiri, Adishra." Ridhika mengulas sebuah senyum simpul di wajahnya, tanpa menghilangkan nada serius dalam suaranya. "Sebenarnya, aku percaya bahwa aku sudah cukup berbaik hati dengan tidak memberitahukan alasan spesifik turunnya sanksimu itu kepada orang-orang. Kalau mereka tahu, mungkin kau bahkan akan lebih dikucilkan daripada aku."Menyaksikan raut wajah Adishra secara perlahan berubah dari arogan menjadi pucat entah mengapa memberikan kepuasan tersendiri bagi Ridhika. Akan tetapi, dia masih belum selesai. Hanya sekadar mengambil jeda sebelum menjatuhkan bom terakhir yang bisa membungkam omong kosong gadis itu sepenuhnya."Walau bagaimana pun juga, aku dijadikan siswi Kelas Protagonis melalui keputusan mutlak Adhyaksa. Para protagonis murni ini harus menerimaku, suka atau tidak suka. Tapi, kau? Dengan posisimu sekarang, ditambah fakta kejahatan yang telah kau perbuat, apa kau bisa menjamin bahwa mereka tid
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan







