Share

Chapter 4 = Griya Nayika =

Author: daydreammm_ms
last update publish date: 2026-06-03 16:39:37

"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum.

"Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan.

Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap sopan membuat dia bertahan sebentar. Berdiri di depan pria itu dengan canggung, menunggu barangkali ada hal lain yang ingin si pria sampaikan. Sumpah serapah, misalnya.

Akan tetapi, alih-alih mengatakan sesuatu. Pria tersebut diam saja, begitu pula Ridhika. Mereka bertahan dalam posisi itu paling tidak selama beberapa menit dan selama itu pun Ridhika sudah cukup gelisah karena rasa tidak nyaman yang perlahan merayapi punggungnya.

Syukurlah, seorang wanita bertubuh jangkung datang menghampirinya di tengah ruangan dengan dua buah map yang cukup besar di tangan. Jadi, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi. Meninggalkan si pria dengan aura aneh itu.

"Saya akan jelaskan semua yang perlu diketahui sebagai siswi baru sambil mengantar Anda ke Griya Nayika."

Wanita tersebut mempersilakan Ridhika untuk mengambil koper, lantas keduanya berjalan berdampingan ke luar dari ruangan.

Di depan pintu, Ridhika berpapasan lagi dengan si pria aneh. Seperti halnya dia, pria itu juga sedang berbicara dengan seorang staf yang membawa dua buah map di tangan. Saat itulah dirinya sedikit banyak bisa menebak bahwa pria itu mungkin juga adalah siswa baru.

Ketika Ridhika melewatinya, si pria melirik sedikit. Dia tahu. Sebab, menghabiskan nyaris seumur hidup berusaha menebak isi kepala orang-orang pada saat melihat dirinya, telah memberikan dia kemampuan untuk menyadari gestur sekecil apapun.

Ridhika menggigit kukunya. Berharap kecerobohan kecilnya tadi tidak akan membawa masalah di antara dia dan pria itu.

"Griya Nayika adalah asrama khusus protagonis wanita di akademi ini. Nanti Anda akan memiliki satu orang teman sekamar. Saya harap, kalian bisa tinggal bersama dengan akur."

Penjelasan tersebut berhasil menarik Ridhika kembali dari lamunannya. Buru-buru diturunkannya jemari yang tadi tertambat di bibir, mencoba memfokuskan perhatian pada si wanita jangkung.

"Saya sekretaris Ibu asrama ini. Beliau sedang ada urusan, jadi Saya yang menggantikannya untuk menyambut Anda."

"Nama ... Kakak siapa?" tanya Ridhika akhirnya, setelah beberapa saat mempertimbangkan harus memanggil si wanita dengan sebutan apa.

Dari samping, dia bisa melihat wanita itu tersenyum simpul. Ada lesung pipi yang cukup dalam tepat di sudut bibirnya. Secara ajaib membuat si wanita terlihat tidak begitu kaku lagi dan agak sedikit lebih ... muda?

"Saya Mel. Panggil saja begitu. Kita akan sering bertemu, jika Anda berhasil bertahan Griya Nayika."

Ridhika mengernyit, "Maksudnya? Aku bisa dipindahkan?"

"Betul. Griya Nayika adalah asrama khusus untuk protagonis wanita, tapi tidak semua siswi protagonis berkualifikasi untuk tinggal di sana. Ibu Asrama akan memberikan test pada masing-masing siswi setiap beberapa periode sekali. Yang lulus bisa tetap tinggal. Yang gagal harus pindah ke asrama biasa di area paling belakang Akademi."

"Area belakang itu 5 kilometer jauhnya dari gedung pendidikan dan fasilitasi lainnya, kan?" Ridhika berusaha memastikan, mengingat denah sekolah yang sudah dipelajarinya dan berharap bahwa dia hanya salah mengingat jarak.

Tiba-tiba, dia merasa kepalanya pening. Meskipun belum mengalami apapun di Akademi itu secara nyata, membayangkan harus berjalan sekian kilometer jauhnya setiap hari sudah membuat isi perutnya bergolak mual.

Ditambah lagi, melihat Mel yang hanya mengangguk dengan santai sebagai jawaban membuatnya merasa diserang vertigo. Ridhika tidak tahu bagaimana rasanya vertigo, namun dia yakin sedang mengalaminya sekarang.

Akan tetapi, keadaan itu hanya bertahan sebentar. Segera setelah dia menyadari bahwa letak asrama yang cukup jauh juga bisa berarti lebih sedikit pengawasan dari pihak Akademi, dia seketika merasa sedang mendapatkan pencerahan.

"Kapan test-nya? Mengapa tidak dilakukan sejak awal saja?" Tanya Ridhika. Sebisa mungkin menyembunyikan nada bersemangat dalam suaranya.

"Test-nya bisa terjadi sewaktu-waktu. Ibu Asrama tidak pernah memberitahukan jadwal pasti. Beliau juga yang meminta agar semua siswi protagonis baru diberikan kesempatan untuk tinggal sementara di Griya Nayika. Agar mereka bisa merasakan nyamannya hidup sebagai siswi unggulan dan termotivasi untuk belajar dengan giat demi mempertahankannya."

Mel menoleh ke arah Ridhika dengan ekpresi seolah sedang jijik terhadap sesuatu, "Asrama biasa itu tempat siswa dan siswi buangan. Keadaannya sangat buruk. Bahkan asrama para pemeran figuran saja lebih bagus daripada di sana."

Perkataan Mel itu sukses membuat Ridhika menelan ludah gugup. Di dalam kepalanya sekarang sedang terjadi perdebatan sengit antara keinginan untuk hidup nyaman dengan urgensi untuk tetap memiliki kebebasan, "Apa-apaan itu?" Gerutunya pelan pada diri sendiri.

Namun, sepertinya Mel masih bisa mendengar. Sebab, wanita tersebut langsung melanjutkan penjelasannya.

"Jangan khawatir. Siswi yang dipindahkan ke asrama biasa masih bisa kembali lagi, asal mereka bisa mendapatkan nilai sempurna pada semua ujian di kelas protagonis."

Ridhika yakin, terlepas dari nada bicaranya yang monoton dan datar, barusan itu Mel sedang berusaha menenangkannya. Barangkali, wanita itu berpikir gerutuannya tadi adalah bentuk keluhan atas sistem pemilihan asrama tersebut.

Padahal, dia sedang membayangkan, bagaimana jika dia bersengaja gagal test dan keadaan asrama biasa memang seburuk itu? Syukurlah, ternyata masih ada cara untuk kembali ke Griya Nayika. Dengan begitu, dia bisa mencoba kedua opsi keinginannya dan menakar mana yang lebih baik untuk dijalani.

Kedua sudut bibir Ridhika tertarik membentuk sebuah senyum. Dia merasa puas dengan rencananya tersebut. Pilihannya tergantung pada apa yang paling memudahkan baginya selama tinggal di Akademi. Ini adalah keputusan yang realistis.

Kini, dia bisa dengan tenang mendengarkan penjelasan Mel yang lain, berhubung karena memang ada banyak hal yang dikatakan oleh wanita itu.

Sepanjang jalan menuju Griya Nayika, hal yang paling banyak dilihatnya adalah tanaman merambat di dinding dan pilar bangunan. Kesannya hampir seperti sedang masuk ke dalam istana Putri Tidur yang terbengkalai karena semua penghuninya terkena kutukan untuk terlelap. Namun, yang satu ini tentunya adalah versi yang lebih rapi dan terawat.

Apa yang sangat menarik perhatiannya adalah patung-patung batu dengan berbagai pose dan ekspresi dramatis yang dibangun di setiap ruang terbuka. Entah hanya untuk hiasan atau sebagai simbol tertentu, tetapi patung-patung itu sangat mendukung nuansa sakral di lorong yang dilewatinya.

"Lokasinya lebih jauh dari yang kukira. Di denah, area asrama tidak terlihat sememutar ini," ujar Ridhika dengan napas agak tersengal.

Wajar saja, karena mereka sudah berjalan hampir setengah jam. Dia bahkan sudah beberapa kali berganti tangan untuk menarik koper. Pegal.

"Memang seharusnya begitu. Kita ambil jalan dalam. Tidak perlu ada lebih banyak orang yang melihat pakaian Anda itu."

Secara spontan Ridhika menunduk, menatap pakaiannya yang memiliki kombinasi kedua warna khas para calon antagonis. Jadi, dia harus berjalan hingga tungkainya hampir copot hanya karena warna?! Informasi ini membuatnya mengatupkan bibir rapat-rapat. Sekuat tenaga menahan keinginan untuk mengumpat.

Dia tidak tahu apakah aura kekesalannya yang terlalu kuat ataukah Mel yang memiliki kemampuan membaca pikiran, tetapi wanita itu langsung menghentikan langkah dan berbalik ke arahnya. Dengan ekspresi yang selalu tampak di wajah Ibu ketika memperingatinya untuk tidak melakukan hal-hal bodoh.

"Tidak ada yang boleh tahu, kalau Anda adalah keturunan antagonis. Ini adalah pesan dari Ibu Asrama yang turun langsung dari perintah Adhyaksa."

Ridhika tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia hanya diam, menengadah dan membiarkan Mel mencengkeram salah satu pundaknya sambil berkata, "Kalau informasi ini bocor, akan ada hal buruk yang terjadi pada Anda."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 7 =Ranking Kecantikan=

    Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela masih agak gelap. Namun, ketika dia memaksakan diri untuk melepas diri dari kasur, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Widuri yang sudah berseragam rapi. Sontak saja dia merasa kagum. Pasalnya, teman sekamarnya itu terlihat disiplin sekali. Padahal, semalam mereka tidur larut."Sudah bangun?" Widuri menatap Ridhika melalui kaca meja rias. "Cepat siap-siap, ya. Aku akan mengajarimu berdandan nanti."Sebelah alis Ridhika terangkat, "Berdandan? Kita kan harus ke sekolah.""Memang.""Kukira, siswi tidak boleh berdandan kalau ke sekolah."Widuri tertawa kecil, "Itu kalau di sekolah biasa, Ridhika." Dia membalikkan tubuh, menatap Ridhika yang masih duduk di atas tempat tidur dengan rambut beran

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 6 = Ratu Griya Nayika? =

    "Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau kau minta dihukum, hah?!" Ridhika menarik tubuh Widuri yang gemetar semakin jauh ke belakangnya. "Bisa bicara lebih seperti orang beradab? Apa yang coba kau capai dengan berteriak seperti itu?" Berkebalikan dengan si gadis asing, Ridhika bicara dengan nada yang sangat tenang. Seolah hanya sedang menangani seorang anak yang tantrum. Iya, jika ada hal berharga yang dipelajarinya selama menghadapi pembulli di desa, itu adalah bahwa berbicara sama kerasnya, menunjukkan ekspresi dan bertindak kasar hanya akan memuaskan mereka. Memberikan mereka alasan untuk membenarkan sikap mereka yang salah, karena menganggap reaksinya sebagai bukti bahwa dia memang pantas diperlakukan demikian. Terbukti,

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 5 = Sekilas Para Protagonis Wanita =

    Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika bersumpah bisa melihat bayangan senyum puas bertengger di wajah wanita itu. Membuatnya seketika merasa sangat kecil dan ingin berjalan lebih jauh saja di belakang. "Orang-orang di sini jahatnya berbeda, ya," pikirnya sambil mencoba mengalihkan perhatian dengan cara melihat-lihat taman yang tengah mereka lewati. Taman itu dipenuhi oleh bunga mawar putih. Namun, setengah di antaranya sedang di-cat dengan warna merah oleh beberapa pria dan wanita tua berpakaian terlalu perlente untuk sekadar dikira sebagai tukang kebun. Pemandangan yang mengingatkan Ridhika pada cerita Alice in Wonderland. Dia pernah dengar bahwa alumni siswi yang menjadi pemeran utama cerita itu kini hidup di sebuah ista

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 4 = Griya Nayika =

    "Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap sopan membuat dia bertahan sebentar. Berdiri di depan pria itu dengan canggung, menunggu barangkali ada hal lain yang ingin si pria sampaikan. Sumpah serapah, misalnya. Akan tetapi, alih-alih mengatakan sesuatu. Pria tersebut diam saja, begitu pula Ridhika. Mereka bertahan dalam posisi itu paling tidak selama beberapa menit dan selama itu pun Ridhika sudah cukup gelisah karena rasa tidak nyaman yang perlahan merayapi punggungnya. Syukurlah, seorang wanita bertubuh jangkung datang menghampirinya di tengah ruangan dengan dua buah map yang cukup besar di tangan. Jadi, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi. Meninggalkan si pria dengan aura aneh itu. "Saya akan jelaskan semua yang

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 3 = Akademi Natyadharma =

    Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perkampungan yang jauh di belakang dan bangunan megah yang berdiri tepat di depan mata. Sempat terbesit keinginan untuk mundur, tetapi sekuat tenaga ditahannya. Begitu melangkah melewati pagar besi, seluruh bagian kaki hingga lututnya langsung mati rasa. Matanya dengan gelisah menangkap satu persatu benda yang membuat akademi itu terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang dilewatinya sepanjang jalan. Mulai dari pilar-pilar raksasa yang menopang balkon panjang berhias tanaman merambat, hingga jendela-jendela lancip yang berjejer seperti mata yang tidak akan pernah lepas mengawasi para siswa. Semua elemen tersebut membuat bangunan batu putih tulang itu terasa l

  • Akademi Natyadharma: Sekolah Para Protagonis   Chapter 2 = Keturunan Antagonis Sebagai Protagonis =

    "Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah dibuat panas oleh nasihat Ibu yang tanpa henti. Di Akademi nanti kamu harus begini, jangan begitu, lebih baik seperti ini, jangan coba-coba begitu. Bla, bla, bla. Semuanya hanya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. "Ridhi! Kamu dengar apa kata Ibu?" "Ck! Iya, iya," Ridhika beranjak dari atas kasur, menarik kasar beberapa selendangnya yang dijemur di luar ambang jendela. "Kalau Ibu cuma mau mengomeli Ridhi, lebih baik Ibu keluar saja, deh!" "Bukan begitu. Ibu cuma-" "Eh! Ridhi," seorang tetangga yang kebetulan lewat menyapa dengan ramah. "Mau siap-siap berangkat ke Akademi, ya?" Ridhika spontan mengangkat sebelah alisnya, lantas memandangi si tetangga dari atas ke bawah dengan ekspr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status