Masuk"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum.
"Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap sopan membuat dia bertahan sebentar. Berdiri di depan pria itu dengan canggung, menunggu barangkali ada hal lain yang ingin si pria sampaikan. Sumpah serapah, misalnya. Akan tetapi, alih-alih mengatakan sesuatu. Pria tersebut diam saja, begitu pula Ridhika. Mereka bertahan dalam posisi itu paling tidak selama beberapa menit dan selama itu pun Ridhika sudah cukup gelisah karena rasa tidak nyaman yang perlahan merayapi punggungnya. Syukurlah, seorang wanita bertubuh jangkung datang menghampirinya di tengah ruangan dengan dua buah map yang cukup besar di tangan. Jadi, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi. Meninggalkan si pria dengan aura aneh itu. "Saya akan jelaskan semua yang perlu diketahui sebagai siswi baru sambil mengantar Anda ke Griya Nayika." Wanita tersebut mempersilakan Ridhika untuk mengambil koper, lantas keduanya berjalan berdampingan ke luar dari ruangan. Di depan pintu, Ridhika berpapasan lagi dengan si pria aneh. Seperti halnya dia, pria itu juga sedang berbicara dengan seorang staf yang membawa dua buah map di tangan. Saat itulah dirinya sedikit banyak bisa menebak bahwa pria itu mungkin juga adalah siswa baru. Ketika Ridhika melewatinya, si pria melirik sedikit. Dia tahu. Sebab, menghabiskan nyaris seumur hidup berusaha menebak isi kepala orang-orang pada saat melihat dirinya, telah memberikan dia kemampuan untuk menyadari gestur sekecil apapun. Ridhika menggigit kukunya. Berharap kecerobohan kecilnya tadi tidak akan membawa masalah di antara dia dan pria itu. "Griya Nayika adalah asrama khusus protagonis wanita di akademi ini. Nanti Anda akan memiliki satu orang teman sekamar. Saya harap, kalian bisa tinggal bersama dengan akur." Penjelasan tersebut berhasil menarik Ridhika kembali dari lamunannya. Buru-buru diturunkannya jemari yang tadi tertambat di bibir, mencoba memfokuskan perhatian pada si wanita jangkung. "Saya sekretaris Ibu asrama ini. Beliau sedang ada urusan, jadi Saya yang menggantikannya untuk menyambut Anda." "Nama ... Kakak siapa?" tanya Ridhika akhirnya, setelah beberapa saat mempertimbangkan harus memanggil si wanita dengan sebutan apa. Dari samping, dia bisa melihat wanita itu tersenyum simpul. Ada lesung pipi yang cukup dalam tepat di sudut bibirnya. Secara ajaib membuat si wanita terlihat tidak begitu kaku lagi dan agak sedikit lebih ... muda? "Saya Mel. Panggil saja begitu. Kita akan sering bertemu, jika Anda berhasil bertahan Griya Nayika." Ridhika mengernyit, "Maksudnya? Aku bisa dipindahkan?" "Betul. Griya Nayika adalah asrama khusus untuk protagonis wanita, tapi tidak semua siswi protagonis berkualifikasi untuk tinggal di sana. Ibu Asrama akan memberikan test pada masing-masing siswi setiap beberapa periode sekali. Yang lulus bisa tetap tinggal. Yang gagal harus pindah ke asrama biasa di area paling belakang Akademi." "Area belakang itu 5 kilometer jauhnya dari gedung pendidikan dan fasilitasi lainnya, kan?" Ridhika berusaha memastikan, mengingat denah sekolah yang sudah dipelajarinya dan berharap bahwa dia hanya salah mengingat jarak. Tiba-tiba, dia merasa kepalanya pening. Meskipun belum mengalami apapun di Akademi itu secara nyata, membayangkan harus berjalan sekian kilometer jauhnya setiap hari sudah membuat isi perutnya bergolak mual. Ditambah lagi, melihat Mel yang hanya mengangguk dengan santai sebagai jawaban membuatnya merasa diserang vertigo. Ridhika tidak tahu bagaimana rasanya vertigo, namun dia yakin sedang mengalaminya sekarang. Akan tetapi, keadaan itu hanya bertahan sebentar. Segera setelah dia menyadari bahwa letak asrama yang cukup jauh juga bisa berarti lebih sedikit pengawasan dari pihak Akademi, dia seketika merasa sedang mendapatkan pencerahan. "Kapan test-nya? Mengapa tidak dilakukan sejak awal saja?" Tanya Ridhika. Sebisa mungkin menyembunyikan nada bersemangat dalam suaranya. "Test-nya bisa terjadi sewaktu-waktu. Ibu Asrama tidak pernah memberitahukan jadwal pasti. Beliau juga yang meminta agar semua siswi protagonis baru diberikan kesempatan untuk tinggal sementara di Griya Nayika. Agar mereka bisa merasakan nyamannya hidup sebagai siswi unggulan dan termotivasi untuk belajar dengan giat demi mempertahankannya." Mel menoleh ke arah Ridhika dengan ekpresi seolah sedang jijik terhadap sesuatu, "Asrama biasa itu tempat siswa dan siswi buangan. Keadaannya sangat buruk. Bahkan asrama para pemeran figuran saja lebih bagus daripada di sana." Perkataan Mel itu sukses membuat Ridhika menelan ludah gugup. Di dalam kepalanya sekarang sedang terjadi perdebatan sengit antara keinginan untuk hidup nyaman dengan urgensi untuk tetap memiliki kebebasan, "Apa-apaan itu?" Gerutunya pelan pada diri sendiri. Namun, sepertinya Mel masih bisa mendengar. Sebab, wanita tersebut langsung melanjutkan penjelasannya. "Jangan khawatir. Siswi yang dipindahkan ke asrama biasa masih bisa kembali lagi, asal mereka bisa mendapatkan nilai sempurna pada semua ujian di kelas protagonis." Ridhika yakin, terlepas dari nada bicaranya yang monoton dan datar, barusan itu Mel sedang berusaha menenangkannya. Barangkali, wanita itu berpikir gerutuannya tadi adalah bentuk keluhan atas sistem pemilihan asrama tersebut. Padahal, dia sedang membayangkan, bagaimana jika dia bersengaja gagal test dan keadaan asrama biasa memang seburuk itu? Syukurlah, ternyata masih ada cara untuk kembali ke Griya Nayika. Dengan begitu, dia bisa mencoba kedua opsi keinginannya dan menakar mana yang lebih baik untuk dijalani. Kedua sudut bibir Ridhika tertarik membentuk sebuah senyum. Dia merasa puas dengan rencananya tersebut. Pilihannya tergantung pada apa yang paling memudahkan baginya selama tinggal di Akademi. Ini adalah keputusan yang realistis. Kini, dia bisa dengan tenang mendengarkan penjelasan Mel yang lain, berhubung karena memang ada banyak hal yang dikatakan oleh wanita itu. Sepanjang jalan menuju Griya Nayika, hal yang paling banyak dilihatnya adalah tanaman merambat di dinding dan pilar bangunan. Kesannya hampir seperti sedang masuk ke dalam istana Putri Tidur yang terbengkalai karena semua penghuninya terkena kutukan untuk terlelap. Namun, yang satu ini tentunya adalah versi yang lebih rapi dan terawat. Apa yang sangat menarik perhatiannya adalah patung-patung batu dengan berbagai pose dan ekspresi dramatis yang dibangun di setiap ruang terbuka. Entah hanya untuk hiasan atau sebagai simbol tertentu, tetapi patung-patung itu sangat mendukung nuansa sakral di lorong yang dilewatinya. "Lokasinya lebih jauh dari yang kukira. Di denah, area asrama tidak terlihat sememutar ini," ujar Ridhika dengan napas agak tersengal. Wajar saja, karena mereka sudah berjalan hampir setengah jam. Dia bahkan sudah beberapa kali berganti tangan untuk menarik koper. Pegal. "Memang seharusnya begitu. Kita ambil jalan dalam. Tidak perlu ada lebih banyak orang yang melihat pakaian Anda itu." Secara spontan Ridhika menunduk, menatap pakaiannya yang memiliki kombinasi kedua warna khas para calon antagonis. Jadi, dia harus berjalan hingga tungkainya hampir copot hanya karena warna?! Informasi ini membuatnya mengatupkan bibir rapat-rapat. Sekuat tenaga menahan keinginan untuk mengumpat. Dia tidak tahu apakah aura kekesalannya yang terlalu kuat ataukah Mel yang memiliki kemampuan membaca pikiran, tetapi wanita itu langsung menghentikan langkah dan berbalik ke arahnya. Dengan ekspresi yang selalu tampak di wajah Ibu ketika memperingatinya untuk tidak melakukan hal-hal bodoh. "Tidak ada yang boleh tahu, kalau Anda adalah keturunan antagonis. Ini adalah pesan dari Ibu Asrama yang turun langsung dari perintah Adhyaksa." Ridhika tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia hanya diam, menengadah dan membiarkan Mel mencengkeram salah satu pundaknya sambil berkata, "Kalau informasi ini bocor, akan ada hal buruk yang terjadi pada Anda."Ketika masih dalam perjalanan menuju ruang Adhyaksa, padahal matahari sudah cukup tinggi. Ridhika tidak sempat melihat jam, tetapi dia yakin pastilah sudah sekitar jam 6 pagi hari itu. Namun, pada saat mereka tiba di ruangan Sang Kepala Sekolah Akademi Natyadharma, pemandangan di luar jendela justru kembali menjadi segelap malam."Ruangan ini berada di dimensi yang berbeda dengan sisa ruangan lainnya di Akademi," jelas Mel karena barangkali melihat tatapan bingung Ridhika. Jawaban yang memang gadis itu sudah duga. Di dalam ruangan tersebut, Ridhika dan Adishra berdiri bersebelahan dengan jarak 5 jengkal di antara mereka. Masing-masing tidak bicara maupun melirik pada satu sama lain. Cukup untuk membuktikan bahwa Adishra sepertinya sudah tahu alasan mengapa mereka ada di sana.Mel sudah keluar, sementara Ibu Berlian berdiri di belakang kursi Adhyaksa yang sedang menatap mereka berdua secara bergantian dengan ekspresi serius. Tangan pria tua itu tertaut di depan dada dengan disangga ol
Ridhika kembali menelan ludahnya gugup, entah sudah untuk keberapa kalinya dalam 15 menit itu. Tangannya yang terlipat di belakang tubuh bergerak mengelupasi kulit di sekitar kuku jarinya yang memang sudah terkelupas sejak awal. Jika tidak sedang menjadi pusat perhatian dari dua orang yang tengah duduk di depannya, dia mungkin sudah sekalian mengigiti kuku hingga habis.Laporan hasil uji coba sudah beberapa kali dibaca, hamster dan ramuan pun sudah cukup lama diamati, tetapi Ibu Berlian tidak kunjung mengeluarkan sepatah kata. Justru, wanita itu lebih sering melirik dirinya dengan ekspresi datar dan menilai. Hal yang membuat kecemasan Ridhika semakin meningkat."Akademi Natyadharma menugaskan seorang Dokter khusus untuk merawat siswi-siswi di Griya Nayika. Membawa Dokter dari luar untuk menangani apa yang tergolong sebagai peristiwa pribadi di sini sangat dilarang," ujar Ibu Berlian seraya membetulkan kacamatanya dan memasukkan laporan hasil uji coba kembali ke dalam kotak.Namun, bar
"Kamu tidak bisa langsung melapor kepada Adhyaksa. Ada jenjang kekuasaan yang harus diikuti," jelas Widuri dengan serius.Ridhika sudah memutuskan bahwa dia akan melaporkan apa yang terjadi padanya hari itu juga. Tidak peduli sudah gelap gulita di luar sana. Semua harus sudah selesai sebelum matahari terbit besok. Dia tidak ingin lagi berurusan dengan Adishra."Lalu, bagaimana? Jelaskan aku harus apa," balasnya datar.Dia merasakan tangan Amayra menepuk-nepuk pundaknya pelan. Bahkan gadis itu saja tadi terkejut melihat keadaannya yang sempat linglung. Jika setelah mengalami serentetan peristiwa mengerikan itu dia masih bisa menunggu untuk melakukan sesuatu, maka dia pasti sudah tidak waras."Kita harus membuat janji temu dengan Ibu Berlian melalui Mel. Menunggu hingga Ibu Berlian punya waktu untuk mendengarkan ceritamu dan memutuskan bahwa kasus ini pantas dibawa ke depan Adhyaksa, lalu baru kita bisa melanjutkan."Mata Ridhika membulat. Mendengar penjelasan Widuri, beberapa kali dia
"Kupikir, kamu bilang laporannya datang nanti malam!" Keluh Ridhika.Dengan langkah tergesa dia berjalan menjauh dari area aula yang tentu saja masih dipadati oleh para siswa dan siswi. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikan."Kamu pikir, aku tidak kaget?" Balas Widuri dengan ekspresi sebal. "Mereka meneleponku di tengah kegiatan belajar! Untung, Guruku tidak galak."Ridhika berdecak. Kecepatan langkahnya bertambah seiring dengan semakin dekatnya dia dan Widuri di tempat staf Nenek Dokter sedang menunggu mereka. Pagar belakang Akademi yang sudah lama tidak digunakan. Naas bagi kedua gadis tersebut, di tengah jalan, mereka berpapasan dengan seorang Pengawas. Tanpa memiliki kesempatan untuk menghindar, Ridhika terpaksa berpikir cepat untuk mencari-cari alasan."Kenapa kalian berdua di sini?" Tanya si Pengawas, menatap Ridhika dan Widuri dengan ekspresi garang.Widuri menyikut lengan Ridhika, memberi isyarat pada gadis itu untuk memberikan j
Bagastya mengangguk ke arah Ridhika yang baru meletakkan jarinya di atas pengait kotak kayu. Gerakan yang dianggap gadis itu sebagai sebuah persetujuan agar dia segera membuka kotaknya dan memang itulah yang Ridhika lakukan.Kotak itu terbuka dengan bunyi klik, menampakkan alas berwarna hitam dan seuntai kalung perak sederhana di dalamnya. Dengan napas tertahan, Ridhika menarik kalung tersebut pelan-pelan, mengelusnya di atas telapak tangannya dengan sentuhan yang teramat ringan hingga nyaris tidak mencapai kalung itu sendiri."Bagaimana ... kau mendapatkan ini?" Bisiknya, entah bisa didengar oleh Bagastya atau tidak.Matanya hanya tertuju pada bandul hijau berbentuk semanggi berdaun empat yang tergantung pada si kalung. Potongannya tidak terlalu halus, tetapi permukaannya berkilat-kilat indah ketika tertimpa cahaya lampu kristal yang tergantung di langit-langit aula."Aku buat sendiri," jelas Bagastya tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah Ridhika yang tampak sedang sangat takjub
Tidak terasa, sudah beberapa hari berlalu sejak pertandingan tinju yang dihadiri Ridhika di ruang bawah tanah Kelas Antagonis. Sesuai prediksinya, Bagastya menang. Memang sudah jelas terlihat bahwa pria itu adalah tipe yang tidak pernah kalah. Atau setidaknya, demikianlah citra Bagastya di mata Ridhika.Setelah banyak pertimbangan, dia akhirnya memutuskan untuk membuatkan sweater sebagai hadiah untuk sang pasangan. Berhubung karena area Kelas Antagonis ternyata bersuhu dingin sekali, ditambah lagi dia memberikan hoodie pria itu pada Klarisa, Ridhika merasa baju hangat adalah "kompensasi" yang pas untuk Bagastya."Nenek Dokter bilang, malam ini laporan uji ramuannya akan diantarkan ke sini," ujar Widuri setelah setengah jam berdiri di balkon. "Bagaimana hasilnya?" Tanya Amayra penasaran."Beliau bilang, kita akan lebih paham kalau membaca laporannya langsung.""Kan bisa setidaknya bertanya apakah ada ramuan yang positif atau tidak.""Sudahlah, tidak apa, kok!" Potong Ridhika tanpa men
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
Sejak pagi buta, Griya Nayika sudah riuh oleh berbagai macam suara. Mulai dari perbincangan para siswi yang berlalu-lalang, troli pengantaran sarapan, hingga pengumuman berita harian Akademi. Kombinasi semua yang membuat Ridhika sulit untuk tidak segera ikut memulai hari.Keadaan di luar jendela ma
"Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika







