เข้าสู่ระบบ“Jalankan semuanya sesuai perintahku semalam,” ucap Andri dingin.“Baik, Tuan.”Kurang dari sepuluh menit kemudian, berita besar langsung memenuhi media sosial. Beberapa perusahaan milik keluarga siswa elit di sekolah itu mendadak diperiksa aparat pajak secara bersamaan. Nama-nama besar yang selama ini dikenal bersih mulai muncul dalam berita investigasi keuangan.Satu per satu pelanggaran pajak mereka dibongkar. Jumlah uang yang disembunyikan bahkan mencapai miliaran rupiah.Mereka adalah keluarga Shani dan beberapa siswa lain yang semalam ikut mengunci Raiya di kamar mandi sekolah.Saat bel masuk berbunyi, suasana kelas terasa aneh.Beberapa siswa duduk dengan wajah pucat sambil terus menatap ponsel. Ada yang menerima telepon berkali-kali dari rumah, ada pula yang langsung dipanggil wali kelas menuju ruang kepala sekolah bahkan sebelum ujian dimulai.Shani berdiri di dekat mejanya dengan tangan gemetar.“Ayah aku bilang perusahaan lagi diperiksa kantor pajak...” bisik salah satu tem
Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Raiya keluar dengan rambut yang masih sedikit lembap dan seragam sekolah yang sudah rapi menempel di tubuhnya. Langkahnya melambat ketika aroma makanan memenuhi rumah yang sejak tadi terasa sunyi.Andri berdiri di dapur sambil mematikan kompor. Tangannya bergerak mengambil mangkuk dan piring dengan gerakan terbiasa, seperti rumah itu memang tempat tinggalnya sendiri sejak lama. Di atas meja makan sudah tersedia bubur jagung hangat, roti panggang, dan segelas susu yang masih mengepulkan uap tipis.Tadi pagi, setelah menjelaskan secara singkat tentang kejadian dirinya dan Raiya kepada ayah Raiya, Andri akhirnya mendapat izin untuk memasak di rumah itu. Setelah meminta sekretarisnya mengirim bahan makanan, Andri langsung masuk ke dapur tanpa menunggu bantuan siapa pun.Gerakannya berhenti saat melihat Raiya berdiri di depan pintu kamar mandi.“Raiya, sudah selesai?”Raiya mengangguk pelan.“Apa peru
Ayah Raiya sudah menunggu di depan pintu rumah. Begitu melihat mobil Andri berhenti, ia langsung menggerakkan kursi rodanya mendekat dengan tergesa.Andri yang melihatnya segera membuka pintu mobil dengan hati-hati agar tidak membangunkan Raiya.“Paman...”“Andri, di mana Raiya? Bagaimana keadaannya?” tanya ayah Raiya tanpa menahan kekhawatirannya.Kaca mobil Andri yang gelap membuat bagian dalam tidak terlihat sama sekali dari luar. Ayah Raiya tidak bisa memastikan apa pun, selain berharap apa yang ia dengar nanti bukan kabar buruk.Andri mendekat. “Paman, Raiya ada di dalam. Dia sedang tidur. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, tapi yang pasti dia aman. Paman bisa tenang.”Ayah Raiya masih mencoba melihat ke dalam mobil, memastikan dengan matanya sendiri. Setelah beberapa detik, ia kembali menatap Andri dan mengangguk pelan."Aku akan membawanya masuk ke kamarnya, apa boleh? Dia sepertinya tidak tidur sejak sore hari, aku khawatir dia akan tidak nyaman jika dibangunkan sekarang."“
Usai mengucapkan kalimat itu, Andri keluar dari ruang pemantauan CCTV. Ia bergerak menyusuri ruangan yang tidak masuk ke dalam pemantauan. Bawahannya segera mengikuti dan membantu Andri mencari.Gudang sekolah, kantin, dapur, tempat istirahat, halaman, tempat apa pun, Andri terus memanggil nama Raiya.“Raiya...” “Raiya...” “Kamu di mana...”SMA Kota Soro memiliki area yang sangat luas. Itu adalah SMA negeri yang menampung banyak anak keluarga bangsawan. Banyak sumbangan dari keluarga-keluarga besar, sehingga hampir setiap tahun selalu ada perluasan wilayah dan pembangunan gedung baru.Karena itu, untuk menemukan keberadaan Raiya, Andri dan orang-orangnya merasa cukup kesulitan.Saat jam menunjukkan pukul dua pagi, Andri selesai menyusuri semua tempat yang tidak masuk kedalam pemantauan CCTV. Namun, ia masih belum menemukan keberadaan Raiya.“Raiya...” panggilnya lagi.Tetap tidak ada jawaban.Setelah beberapa saat, Andri kembali melangkah menuju halaman terpencil di sekolah. Halaman i
Tanpa bersantai, Andri langsung bergerak membuka laptopnya. Ia menyalin kode id ponsel Raiya yang baru. Di masa lalu ia sudah mencuri kode id ponselnya saat Raiya tak sadar.Layar menampilkan rangkaian proses yang berjalan cepat, baris demi baris data muncul dan berganti tanpa henti, sementara pandangannya tetap tertuju pada satu titik yang ia tunggu. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, karena sejak awal ia sudah tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana arah yang harus ia tuju. Dalam hitungan menit, hasil yang ia cari akhirnya muncul, sebuah titik lokasi yang seharusnya memberi jawaban, tetapi justru membuat keningnya mengeras.Ponsel itu terakhir aktif tujuh jam yang lalu.Andri tidak mengatakan apa pun, ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi bawahan miliknya yang pasti akan bergerak tanpa banyak bertanya.“Kirim orang ke sekolah. Cari Raiya. Sekarang.”“Baik, Tuan.”Di sisi lain di seberang telepon, Erwin yang baru saja terbangun langsung duduk tegak, matanya bahkan belum se
Tengah malam tidak pernah terasa sepanjang ini sebelumnya.Di depan rumah kecil yang lampunya masih menyala redup, seorang pria paruh baya duduk di atas kursi rodanya, menghadap ke jalanan yang sudah lama sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk, tapi ia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Tatapannya terus tertuju ke arah jalan, seolah setiap bayangan yang bergerak di kejauhan bisa berubah menjadi sosok yang ia tunggu.Wajahnya tidak lagi menyimpan ketenangan, kekhawatiran itu terpampang jelas di sana, tidak tersisa sedikit pun usaha untuk menyembunyikannya. Garis-garis di wajahnya terlihat lebih dalam malam ini.Ia sudah mencari, juga sudah mencoba semua cara yang dapat ia pikirkan. Toko tempat mereka bekerja sudah ia datangi lebih dulu, berharap Raiya masih ada di sana, mungkin tertahan pekerjaan atau sekadar lupa waktu. Namun yang ia temukan hanya pintu yang sudah terkunci dan lampu yang padam.Pria itu tidak menyerah, ia tidak berhenti bergerak
Sepulang sekolah, Kevin menahan langkah Raiya tepat sebelum gerbang.“Raiya,” panggilnya, sedikit terengah, “ambil juga cokelatku. Kamu bisa makan di rumah. Katanya… mood perempuan bisa jadi lebih baik kalau makan cokelat.”Raiya hendak menolak. Namun Kevin sudah lebih dulu menggenggam tangannya da
Nyatanya, cokelat yang diberikan Andri kepada Raiya… berbeda.Jika tidak punya mata jeli, maka tidak ada yang akan menyadarinya. Kemasan yang sama. Bentuk yang serupa. Bahkan aromanya nyaris tidak bisa dibedakan oleh orang lain.Sekilas… tidak ada yang berbeda, namun saat digigit, cokelat itu akan
Raiya yang menyadari perubahan suasana di sekitarnya terbatuk pelan, berusaha memecah ketegangan yang mulai menekan.“Guru… kita sudah sampai di kelas. Silakan masuk.”Andri mengangkat kepalanya. Tatapannya jatuh pada Raiya, dan dalam sekejap, kegelapan yang tadi sempat mengendap menghilang begitu
"Minta Erwin untuk segera menemuiku." Ucap Andri dengan wajah yang menggelap."Baik tuan."Andri mengerutkan kening saat melihat Wamen tak kunjung pergi, lalu berkata, "Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"Wamen mengangguk, “Tuan, proses pemindahan kendali perusahaan ke Kota Soro telah selesai.







