Share

3. Kehidupan Baru

Author: Ayang Ara
last update Last Updated: 2025-10-25 08:41:53

Delapan tahun telah berlalu, namun keriuhan di lapangan sekolah itu masih terasa sama bagi anak-anak kecil yang sedang mengejar bola. Di antara debu yang beterbangan, terdengar teriakan semangat yang saling bersahutan.

“Ayo! Oper bolanya ke sini!”

“Ian! Kasih ke aku!”

“Arkan! Tendang sini!”

Bugh! Suara benturan keras terdengar, disusul jeritan kesakitan. Arkan, bocah laki-laki berambut crew cut, berdiri terpaku dengan wajah pucat. Tendangannya yang terlalu bertenaga meleset dari sasaran dan justru menghantam telak kaki temannya, Adit. Bocah itu terjatuh sambil meringis, memegangi kakinya yang mulai memerah.

“Woi! Kamu bisa main nggak sih!?” bentak salah satu anak.

“Maaf… tadi katanya aku disuruh tendang,” jawab Arkan gugup. Jemarinya mulai dimainkan pelan-pelan—sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa cemas dan tertekan.

Adit yang masih merintih di tanah menatap Arkan dengan penuh kekesalan. Baginya, Arkan selalu menjadi sosok yang menyebalkan hanya karena anak itu terlalu sempurna di mata orang lain. Arkan tampan, pintar, dan sopan, sehingga selalu dipuji oleh guru dan tetangga. Kekesalan yang terpendam itu kini meledak karena rasa sakit di kakinya.

“Aku aduin ke Mama aku habis kamu!” ancam Adit sambil dibopong menuju kursi taman. Arkan hanya bisa menunduk, matanya berkaca-kaca menahan tangis yang hampir pecah. Permainan bola sore itu akhirnya bubar ketika Pak RT datang membawa tongkat, membubarkan anak-anak karena hari sudah mulai senja.

Di sebuah rumah sederhana tak jauh dari sana, seorang wanita bernama Maya tampak gelisah. Ia mondar-mandir di teras rumahnya, sesekali melirik ke arah jalanan. Rasa khawatir menyelimuti hatinya karena putra semata wayangnya belum juga kembali padahal langit sudah mulai meredup.

“Mamaaaa! Arkan pulang!!”

Suara itu bagaikan embusan angin segar bagi Maya. Ia segera berdiri tegak, melihat Arkan berlari kecil ke arahnya dengan baju yang penuh debu dan noda keringat. Saat Arkan hendak memeluknya, Maya tertawa kecil dan menahannya.

“Eits! Jangan peluk-peluk Mama dulu. Mama sudah wangi, sedangkan kamu bau matahari dan penuh debu. Sana mandi dulu!” ucap Maya lembut sambil mencubit gemas hidung anaknya. Meskipun tegas, tatapan mata Maya memancarkan kasih sayang yang luar biasa besar untuk Arkan.

Di dalam rumah, Indah—wanita paruh baya yang merupakan bibi Maya—keluar dari kamar menggunakan tongkat kayu. Ia tersenyum melihat keponakannya sudah pulang dengan selamat. Maya bercerita dengan semangat bahwa dagangannya hari ini lari manis dan pesanan terus bertambah. Di tengah kesulitan hidup tanpa sosok suami, Maya bertekad memberikan yang terbaik untuk Arkan.

Setelah salat Magrib, suasana hangat menyelimuti dapur kecil mereka. Maya memasak sambil bersenandung pelan, hingga tiba-tiba Arkan mengagetinya dengan teriakan ceria. Maya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah jahil putranya. Namun, keceriaan itu perlahan memudar saat Arkan duduk di kursi kayu dan menanyakan sesuatu dengan suara lirih.

“Mama… lusa kata Bu Guru adalah Hari Ayah. Bakal ada lomba ayah dan anak di sekolah. Tahun ini Arkan nggak bisa ikut lagi, ya?”

Tangan Maya yang sedang memotong bawang mendadak kaku. Pisau di tangannya terhenti. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti dapur itu selama beberapa saat. Maya teringat tahun lalu, Arkan hanya duduk sendirian di tribun, menatap teman-temannya yang tertawa dan berlari bersama ayah mereka. Hati Maya perih, namun ia belum bisa memberikan apa yang diinginkan putranya.

“Maaf, Sayang…” bisik Maya pelan sambil berjongkok di depan Arkan.

Arkan, dengan kedewasaan yang melampaui usianya, langsung memeluk leher ibunya erat. “It’s okay, Mama. Nggak apa-apa kalau Arkan nggak ikut lagi,” katanya mencoba menghibur sang ibu. Arkan percaya pada cerita ibunya bahwa ayahnya hanya sedang pergi jauh dan suatu hari nanti akan pulang. Harapan kecil itu selalu ia simpan di sudut hatinya.

Dua hari kemudian, festival Hari Ayah tetap dilaksanakan. Meski tidak ikut lomba, Arkan bersikeras ingin datang untuk melihat. Di sana, ia berteriak semangat memberi dukungan bagi teman-temannya hingga batuk-batuk karena debu dan udara yang tidak bersahabat. Sialnya, sore itu hujan turun cukup deras, membasahi tubuh kecil Arkan yang memang rentan sakit.

Malamnya, tubuh Arkan mendadak panas tinggi. Maya sangat cemas, ia terus mengganti kompres di dahi putranya sambil menyalahkan dirinya sendiri karena mengizinkan Arkan pergi. Bibi Indah berusaha menenangkan dan menawarkan diri untuk membeli obat di apotek terdekat.

Dalam tidurnya yang gelisah, wajah Arkan memerah dan napasnya terasa berat. Ia menggeliat kecil, lalu sebuah gumaman lirih keluar dari bibirnya yang pucat.

“Papa… main… Pa…”

Mendengar itu, pertahanan Maya runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia tahu betapa besar kerinduan yang disimpan Arkan di balik senyum cerianya. Maya menggenggam tangan mungil putranya yang panas, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya.

“Mama ada di sini, Sayang… Mama selalu ada untukmu,” bisiknya lirih di tengah keheningan malam yang dingin. Di kamar sederhana itu, Maya berjanji akan menjadi segalanya bagi Arkan—menjadi ibu sekaligus pelindung yang takkan pernah membiarkannya merasa sendirian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   7. Mengunjungi kota Angsana

    Pertemuan di Ambang Takdir Libur semester akhirnya tiba, membawa janji yang ditepati. Sebagai hadiah atas prestasi gemilangnya, Maya membawa putranya, Arkan kecil, menuju kota besar. Di dalam gerbong kereta yang melaju, bocah itu tak henti-hentinya bertanya tentang hotel, kolam renang, dan kemegahan kota. Maya hanya terkekeh, mencubit gemas hidung putranya, meski di dalam hati ada debar kecemasan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Setelah tiga jam perjalanan, mereka tiba di Stasiun Angsana Raya. Maya tertegun sejenak; stasiun ini telah banyak berubah. Delapan tahun lalu, ia meninggalkan tempat ini dengan air mata dan luka yang menganga, duduk di bangku kayu yang kini telah berganti kursi besi modern. Ia tersentak saat tangan kecil Arkan menggoyang lengannya, membawanya kembali ke realita. Karena lapar, mereka singgah di sebuah warung sederhana dekat terminal. Di sana, seorang gadis penjual es teh tampak histeris menatap layar ponselnya. Gadis itu berteriak kegirangan menonton adegan r

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   6. Berdansa bersama

    Prestasi dan Perayaan yang Berbeda Dunia “Dan... peringkat pertama diraih oleh... Rafandra Arelio!” Tepuk tangan meriah membahana di aula sekolah. Hari itu adalah momen istimewa—acara kenaikan kelas sekaligus perpisahan siswa kelas enam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bocah yang akrab disapa Rafa itu kembali membuktikan kecerdasannya dengan meraih gelar juara umum. Maya, ibunya, berjalan menuju panggung dengan perasaan haru yang membuncah. Di atas panggung, ia tersenyum lebar ke arah kamera, sementara Rafa memamerkan medali emasnya dengan bangga. “Mama, Rafa peringkat satu lagi!” seru bocah itu kegirangan saat mereka turun dari panggung. “Anak Mama memang hebat,” puji Maya sambil mengelus rambut putranya. “Mama janji, ya, bawa Rafa ke kota,” tagih Rafa dengan mata berbinar. Maya terkekeh pelan, mengiyakan janji yang sudah ia ucapkan berulang kali. Namun, di tengah kebahagiaan itu, telinga Maya menangkap bisik-bisik dari barisan belakang. Para orang tua murid sedang membicarakanny

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   5. Mantan Istri

    Bayang-Bayang di Balik Layar Gedung Eunoia Entertainment dikepung oleh puluhan wartawan yang haus akan klarifikasi. Di tengah kilatan lampu kamera, Arabella Jolie, aktris cantik berusia dua puluh tujuh tahun, baru saja turun dari mobil mewah. Pertanyaan bertubi-tubi mengenai kedekatannya dengan Rendra—terutama foto kencan yang viral belakangan ini—terus dilemparkan padanya. "Ka, apa benar pria itu Narendra? Apa kalian HTS atau sudah tunangan?" seru salah satu wartawan. Arabella hanya tersenyum tipis, menutupi rasa lelahnya dengan ketenangan profesional. "Maaf, saya tidak bisa menjawab sekarang. Silakan tanyakan langsung pada aktor yang bersangkutan," ucapnya tegas sebelum melangkah masuk ke dalam gedung di bawah pengawalan ketat bodyguard. Di ruang pribadinya, Arabella menghela napas panjang. Mira, sang manajer, segera mengingatkannya tentang jadwal syuting sore ini untuk film The Winter Love. Arabella hanya mengangguk; ia tahu emosinya harus tetap terjaga karena adegan yang akan d

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   4.

    Layar televisi di ruang tamu menampilkan berita hiburan yang sedang memanas. Sosok aktris papan atas, Arabella Jolie, dikabarkan tertangkap kamera sedang berkencan di sebuah restoran mewah dengan seorang pria misterius yang mengenakan masker dan kacamata hitam. Spekulasi liar bermunculan, menyebutkan bahwa pria itu adalah Narendra Arvanka, aktor berbakat sekaligus lawan main Arabella yang tengah naik daun. Namun, hingga detik ini, agensi Eunoia Entertainment masih memilih untuk bungkam. Arkan, yang pagi itu terpaksa absen sekolah karena kondisi tubuhnya yang belum pulih total, bersandar lesu di sofa. Ia menatap layar dengan bosan sebelum akhirnya mematikan televisi tersebut. Baginya, gosip orang dewasa tidak ada apa-apanya dibandingkan petualangan di film kartun. Di rumah yang sunyi itu, ia hanya ditemani neneknya yang sedang terlelap di kamar, sementara Maya pergi mengantar pesanan dagangan ke desa tetangga. Arkan menatap keluar jendela, membayangkan kehidupan di balik gedung-gedung

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   3. Kehidupan Baru

    Delapan tahun telah berlalu, namun keriuhan di lapangan sekolah itu masih terasa sama bagi anak-anak kecil yang sedang mengejar bola. Di antara debu yang beterbangan, terdengar teriakan semangat yang saling bersahutan. “Ayo! Oper bolanya ke sini!” “Ian! Kasih ke aku!” “Arkan! Tendang sini!” Bugh! Suara benturan keras terdengar, disusul jeritan kesakitan. Arkan, bocah laki-laki berambut crew cut, berdiri terpaku dengan wajah pucat. Tendangannya yang terlalu bertenaga meleset dari sasaran dan justru menghantam telak kaki temannya, Adit. Bocah itu terjatuh sambil meringis, memegangi kakinya yang mulai memerah. “Woi! Kamu bisa main nggak sih!?” bentak salah satu anak. “Maaf… tadi katanya aku disuruh tendang,” jawab Arkan gugup. Jemarinya mulai dimainkan pelan-pelan—sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa cemas dan tertekan. Adit yang masih merintih di tanah menatap Arkan dengan penuh kekesalan. Baginya, Arkan selalu menjadi sosok yang menyebalkan hanya karena anak itu ter

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   2. Resmi Bercerai

    Suara ketukan palu hakim bergema di ruang sidang yang dingin, memutus ikatan suci yang pernah Maya agungkan. Detik itu juga, napas Maya terasa terhenti. Statusnya kini berubah—bukan lagi istri sang bintang besar, melainkan seorang wanita yang dibuang dalam kesunyian. Di lobi pengadilan, Maya berpapasan dengan Herman dan Santi, orang tua Arkan. Santi menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh kemenangan. “Akhirnya drama ini selesai juga,” sindir Santi tajam. “Sudah kubilang sejak awal, Arkan itu berlian. Dia butuh wadah emas, bukan tanah liat sepertimu. Sekarang dia bebas terbang tinggi tanpa beban.” “Ma, sudah,” tegur Herman pelan, meski ia juga tak melakukan apa pun untuk membela Maya. “Aku bicara kenyataan, Pa. Arkan pantas mendapatkan wanita yang setara dengannya, seperti Clara, bukan perempuan tanpa latar belakang ini.” Maya hanya bisa menunduk, meremas jemarinya yang gemetar. Ia lalu melirik ke arah Arkan yang berdiri agak jauh. Pria itu tampak sibu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status