Share

5. Mantan Istri

Author: Ayang Ara
last update Last Updated: 2025-10-25 08:49:47

Bayang-Bayang di Balik Layar

Gedung Eunoia Entertainment dikepung oleh puluhan wartawan yang haus akan klarifikasi. Di tengah kilatan lampu kamera, Arabella Jolie, aktris cantik berusia dua puluh tujuh tahun, baru saja turun dari mobil mewah. Pertanyaan bertubi-tubi mengenai kedekatannya dengan Rendra—terutama foto kencan yang viral belakangan ini—terus dilemparkan padanya.

"Ka, apa benar pria itu Narendra? Apa kalian HTS atau sudah tunangan?" seru salah satu wartawan.

Arabella hanya tersenyum tipis, menutupi rasa lelahnya dengan ketenangan profesional. "Maaf, saya tidak bisa menjawab sekarang. Silakan tanyakan langsung pada aktor yang bersangkutan," ucapnya tegas sebelum melangkah masuk ke dalam gedung di bawah pengawalan ketat bodyguard.

Di ruang pribadinya, Arabella menghela napas panjang. Mira, sang manajer, segera mengingatkannya tentang jadwal syuting sore ini untuk film The Winter Love. Arabella hanya mengangguk; ia tahu emosinya harus tetap terjaga karena adegan yang akan diambil cukup berat.

Pukul lima sore, Erigo Park sudah dipenuhi kru film. Langit senja memberikan pencahayaan alami yang dramatis. "Scene 21, take 1! Action!" teriak sutradara.

Rendra, dalam karakternya sebagai Aryan, mengejar Arabella yang berperan sebagai Nia. Langkah kaki mereka memecah kesunyian taman. Saat Rendra berhasil meraih pergelangan tangan Arabella dan menariknya ke dalam pelukan, atmosfer di set seolah membeku.

"Nia, dengerin aku! Aku nggak pernah bohongin kamu! Cintaku cuma buat kamu," ucap Rendra dengan suara bergetar yang terdengar sangat tulus.

Kamera mendekat, menangkap setiap detail emosi di wajah mereka. Dalam naskah, ini adalah momen puncak saat kebohongan terbongkar dan cinta dipaksakan untuk memilih. Jarak di antara mereka terkikis. Rendra memiringkan wajahnya, lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Arabella dalam sebuah ciuman yang mendalam.

"CUT!"

Hanya dalam satu take, adegan itu dinyatakan sempurna. Setelah kamera mati, Rendra tidak langsung menjauh. Ia justru memeluk Arabella, menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu. "Maaf, lipstikmu kena aku," bisik Arabella pelan sambil mengusap punggung lebar Rendra. Rendra hanya bergumam ringan, sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan setelah adegan intim untuk menenangkan diri sendiri.

Setelah syuting berakhir pukul sembilan malam, Rendra kembali ke apartemennya yang sunyi. Ia tidak pernah lagi menempati rumah lamanya sejak perceraian delapan tahun lalu. Di dalam kamar, ia membuka laci meja samping tempat tidur dan mengeluarkan selembar kertas usang serta sebuah cincin berlian putih.

Itu adalah surat terakhir dari Maya. Surat yang ditinggalkan wanita itu saat ia pergi dari rumah yang diberikan Rendra sebagai harta gono-gini.

"Bodoh banget... kenapa kamu malah pergi? Harusnya kamu jual rumah itu dan bawa uangnya supaya aku nggak merasa bersalah," lirih Rendra sambil menatap tulisan tangan Maya yang mulai pudar.

Rendra mengira dirinya hanya menyesal dua puluh persen. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Maya pasti sudah bahagia di luar sana dengan pria lain yang lebih baik. Namun, setiap kali membayangkan Maya menikah lagi atau membangun keluarga baru, dadanya terasa panas terbakar api cemburu yang tak seharusnya ada. Ia benci pada ketidaktahuannya tentang di mana Maya berada sekarang.

Kenyataannya, dunia Maya jauh berbeda dari bayangan Rendra. Di rumah sederhananya di desa, Maya baru saja selesai membacakan dongeng untuk putranya. Tidak ada pria lain di hidupnya. Bukannya tidak ada yang mendekati, namun Maya selalu menutup hati karena ia tahu para pria itu hanya menginginkan dirinya, bukan menerima kehadiran anaknya.

Maya menatap Arkan yang sudah terlelap. Wajah polos bocah itu benar-benar jiplakan dari ayahnya—Rendra. Dari helai rambut hingga bentuk bibir, Arkan adalah pengingat hidup akan masa lalu yang pahit namun sekaligus anugerah terindah baginya.

Maya menunduk, mencium kening Arkan dengan penuh kasih sayang. "Tidur yang nyenyak, pangeran gantengku," bisiknya lembut.

Bagi Maya, kebahagiaan tidak lagi diukur dari kemewahan kota atau pengakuan dari seorang pria. Kebahagiaannya sudah lengkap setiap kali ia melihat Arkan bernapas dengan damai di sampingnya. Ia telah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama: darah dagingnya sendiri, buah cinta dari pernikahan singkat yang kini hanya menyisakan bayangan di kejauhan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   7. Mengunjungi kota Angsana

    Pertemuan di Ambang Takdir Libur semester akhirnya tiba, membawa janji yang ditepati. Sebagai hadiah atas prestasi gemilangnya, Maya membawa putranya, Arkan kecil, menuju kota besar. Di dalam gerbong kereta yang melaju, bocah itu tak henti-hentinya bertanya tentang hotel, kolam renang, dan kemegahan kota. Maya hanya terkekeh, mencubit gemas hidung putranya, meski di dalam hati ada debar kecemasan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Setelah tiga jam perjalanan, mereka tiba di Stasiun Angsana Raya. Maya tertegun sejenak; stasiun ini telah banyak berubah. Delapan tahun lalu, ia meninggalkan tempat ini dengan air mata dan luka yang menganga, duduk di bangku kayu yang kini telah berganti kursi besi modern. Ia tersentak saat tangan kecil Arkan menggoyang lengannya, membawanya kembali ke realita. Karena lapar, mereka singgah di sebuah warung sederhana dekat terminal. Di sana, seorang gadis penjual es teh tampak histeris menatap layar ponselnya. Gadis itu berteriak kegirangan menonton adegan r

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   6. Berdansa bersama

    Prestasi dan Perayaan yang Berbeda Dunia “Dan... peringkat pertama diraih oleh... Rafandra Arelio!” Tepuk tangan meriah membahana di aula sekolah. Hari itu adalah momen istimewa—acara kenaikan kelas sekaligus perpisahan siswa kelas enam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bocah yang akrab disapa Rafa itu kembali membuktikan kecerdasannya dengan meraih gelar juara umum. Maya, ibunya, berjalan menuju panggung dengan perasaan haru yang membuncah. Di atas panggung, ia tersenyum lebar ke arah kamera, sementara Rafa memamerkan medali emasnya dengan bangga. “Mama, Rafa peringkat satu lagi!” seru bocah itu kegirangan saat mereka turun dari panggung. “Anak Mama memang hebat,” puji Maya sambil mengelus rambut putranya. “Mama janji, ya, bawa Rafa ke kota,” tagih Rafa dengan mata berbinar. Maya terkekeh pelan, mengiyakan janji yang sudah ia ucapkan berulang kali. Namun, di tengah kebahagiaan itu, telinga Maya menangkap bisik-bisik dari barisan belakang. Para orang tua murid sedang membicarakanny

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   5. Mantan Istri

    Bayang-Bayang di Balik Layar Gedung Eunoia Entertainment dikepung oleh puluhan wartawan yang haus akan klarifikasi. Di tengah kilatan lampu kamera, Arabella Jolie, aktris cantik berusia dua puluh tujuh tahun, baru saja turun dari mobil mewah. Pertanyaan bertubi-tubi mengenai kedekatannya dengan Rendra—terutama foto kencan yang viral belakangan ini—terus dilemparkan padanya. "Ka, apa benar pria itu Narendra? Apa kalian HTS atau sudah tunangan?" seru salah satu wartawan. Arabella hanya tersenyum tipis, menutupi rasa lelahnya dengan ketenangan profesional. "Maaf, saya tidak bisa menjawab sekarang. Silakan tanyakan langsung pada aktor yang bersangkutan," ucapnya tegas sebelum melangkah masuk ke dalam gedung di bawah pengawalan ketat bodyguard. Di ruang pribadinya, Arabella menghela napas panjang. Mira, sang manajer, segera mengingatkannya tentang jadwal syuting sore ini untuk film The Winter Love. Arabella hanya mengangguk; ia tahu emosinya harus tetap terjaga karena adegan yang akan d

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   4.

    Layar televisi di ruang tamu menampilkan berita hiburan yang sedang memanas. Sosok aktris papan atas, Arabella Jolie, dikabarkan tertangkap kamera sedang berkencan di sebuah restoran mewah dengan seorang pria misterius yang mengenakan masker dan kacamata hitam. Spekulasi liar bermunculan, menyebutkan bahwa pria itu adalah Narendra Arvanka, aktor berbakat sekaligus lawan main Arabella yang tengah naik daun. Namun, hingga detik ini, agensi Eunoia Entertainment masih memilih untuk bungkam. Arkan, yang pagi itu terpaksa absen sekolah karena kondisi tubuhnya yang belum pulih total, bersandar lesu di sofa. Ia menatap layar dengan bosan sebelum akhirnya mematikan televisi tersebut. Baginya, gosip orang dewasa tidak ada apa-apanya dibandingkan petualangan di film kartun. Di rumah yang sunyi itu, ia hanya ditemani neneknya yang sedang terlelap di kamar, sementara Maya pergi mengantar pesanan dagangan ke desa tetangga. Arkan menatap keluar jendela, membayangkan kehidupan di balik gedung-gedung

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   3. Kehidupan Baru

    Delapan tahun telah berlalu, namun keriuhan di lapangan sekolah itu masih terasa sama bagi anak-anak kecil yang sedang mengejar bola. Di antara debu yang beterbangan, terdengar teriakan semangat yang saling bersahutan. “Ayo! Oper bolanya ke sini!” “Ian! Kasih ke aku!” “Arkan! Tendang sini!” Bugh! Suara benturan keras terdengar, disusul jeritan kesakitan. Arkan, bocah laki-laki berambut crew cut, berdiri terpaku dengan wajah pucat. Tendangannya yang terlalu bertenaga meleset dari sasaran dan justru menghantam telak kaki temannya, Adit. Bocah itu terjatuh sambil meringis, memegangi kakinya yang mulai memerah. “Woi! Kamu bisa main nggak sih!?” bentak salah satu anak. “Maaf… tadi katanya aku disuruh tendang,” jawab Arkan gugup. Jemarinya mulai dimainkan pelan-pelan—sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa cemas dan tertekan. Adit yang masih merintih di tanah menatap Arkan dengan penuh kekesalan. Baginya, Arkan selalu menjadi sosok yang menyebalkan hanya karena anak itu ter

  • Aktor Panas itu Mantan Suamiku   2. Resmi Bercerai

    Suara ketukan palu hakim bergema di ruang sidang yang dingin, memutus ikatan suci yang pernah Maya agungkan. Detik itu juga, napas Maya terasa terhenti. Statusnya kini berubah—bukan lagi istri sang bintang besar, melainkan seorang wanita yang dibuang dalam kesunyian. Di lobi pengadilan, Maya berpapasan dengan Herman dan Santi, orang tua Arkan. Santi menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh kemenangan. “Akhirnya drama ini selesai juga,” sindir Santi tajam. “Sudah kubilang sejak awal, Arkan itu berlian. Dia butuh wadah emas, bukan tanah liat sepertimu. Sekarang dia bebas terbang tinggi tanpa beban.” “Ma, sudah,” tegur Herman pelan, meski ia juga tak melakukan apa pun untuk membela Maya. “Aku bicara kenyataan, Pa. Arkan pantas mendapatkan wanita yang setara dengannya, seperti Clara, bukan perempuan tanpa latar belakang ini.” Maya hanya bisa menunduk, meremas jemarinya yang gemetar. Ia lalu melirik ke arah Arkan yang berdiri agak jauh. Pria itu tampak sibu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status