LOGINLayar televisi di ruang tamu menampilkan berita hiburan yang sedang memanas. Sosok aktris papan atas, Arabella Jolie, dikabarkan tertangkap kamera sedang berkencan di sebuah restoran mewah dengan seorang pria misterius yang mengenakan masker dan kacamata hitam. Spekulasi liar bermunculan, menyebutkan bahwa pria itu adalah Narendra Arvanka, aktor berbakat sekaligus lawan main Arabella yang tengah naik daun. Namun, hingga detik ini, agensi Eunoia Entertainment masih memilih untuk bungkam.
Arkan, yang pagi itu terpaksa absen sekolah karena kondisi tubuhnya yang belum pulih total, bersandar lesu di sofa. Ia menatap layar dengan bosan sebelum akhirnya mematikan televisi tersebut. Baginya, gosip orang dewasa tidak ada apa-apanya dibandingkan petualangan di film kartun. Di rumah yang sunyi itu, ia hanya ditemani neneknya yang sedang terlelap di kamar, sementara Maya pergi mengantar pesanan dagangan ke desa tetangga. Arkan menatap keluar jendela, membayangkan kehidupan di balik gedung-gedung tinggi yang sering ia lihat di televisi. "Kayaknya seru deh di kota... bisa lihat mall dan ketemu orang-orang hebat," gumamnya dalam khayalan polos seorang bocah tujuh tahun. Namun, kenyataan di kota besar tidak seindah bayangan Arkan. Di sebuah studio pemotretan yang megah, Narendra Arvanka—pria yang akrab disapa Rendra—sedang berdiri di bawah sorot lampu yang menyengat. Dengan kemeja putih yang sedikit terbuka dan lengan yang digulung, ia memancarkan aura maskulin yang sangat kuat. Di hadapannya, Devika, seorang model ternama, tampak gugup meski mereka berdua dituntut untuk berpose mesra. Sesi foto itu berlangsung intens selama dua jam. Begitu selesai, Rendra langsung menyendiri di sofa studio, mengabaikan tawaran asistennya. Ia membuka ponsel dan mendapati namanya memenuhi akun-akun gosip. Foto dirinya dan Arabella di restoran kemarin malam telah menjadi konsumsi publik. "Siapa yang berani memotret kami?" geramnya pelan. Raut wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan layaknya seorang bintang, melainkan kelelahan yang mendalam. Malam harinya di desa, suasana hangat kembali menyelimuti kediaman Maya. Arkan bercerita dengan antusias tentang berita yang ia lihat tadi pagi, meski ia lebih banyak mengeluhkan betapa membosankannya gosip tersebut. "Mama... Arkan pengen banget ke kota. Kata Kiano, di sana ada mall besar, lampu warna-warni, dan air mancur yang bisa menyala!" ucap Arkan dengan mata berbinar-binar saat mereka sedang makan malam. Maya tersenyum, menyisihkan rasa lelah setelah seharian bekerja. "Kalau Arkan rajin belajar dan jadi peringkat satu lagi, Mama janji akan ajak kamu ke kota," jawabnya lembut. Janji itu disambut sorak sorai gembira dari Arkan. Setelah membantu Arkan belajar untuk ujian akhir semester, Maya menggendong putranya yang mulai mengantuk ke dalam kamar. Sambil mengusap punggung anaknya, Maya mendengar gumaman pelan Arkan sebelum terlelap, "Mama... janji ya ke kota..." Begitu Arkan tertidur pulas, Maya terdiam memandangi wajah putranya. Setiap lekuk wajah Arkan adalah cerminan dari pria di masa lalunya. Mata itu, hidung itu, bahkan senyumnya begitu identik dengan sosok yang kini hanya bisa ia lihat dari kejauhan melalui layar kaca. Maya menghela napas panjang, berusaha mengubur rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Baginya, kebahagiaan Arkan adalah segalanya, dan ia memilih untuk tidak mengusik hidup pria yang mungkin sudah bahagia dengan dunianya sendiri. Di sisi lain, di sebuah klub malam yang bising di jantung kota, Rendra duduk menyendiri di sudut sofa. Ia tak menghiraukan dentuman musik atau wanita-wanita yang mencoba menarik perhatiannya. Kancing kemejanya terbuka hampir setengah, menunjukkan kegundahan yang tak tersembunyi. Di kepalanya, suara-suara dari pihak agensi terus berdenging seperti kutukan. "Kamu harus tutup mulut! Fans bisa kecewa!" "Pikirkan kariermu, lupakan masa lalu!" Rendra mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja. Segelas jus anggur di depannya tak tersentuh sedikit pun. Selama bertahun-tahun ia dipaksa hidup di bawah bayang-bayang tuntutan industri, menjadi sosok sempurna yang dicintai jutaan orang, namun hampa di dalam jiwa. Air mata perlahan jatuh di sudut matanya, sebuah pemandangan yang tak akan pernah dibiarkan terlihat oleh publik. Di balik kemewahan dan nama besar yang ia sandang, Rendra merasa sangat kesepian. Ia merindukan kehangatan yang tulus, masakan yang sederhana, dan kehadiran sosok wanita yang pernah menjadi dunianya sebelum kontrak dan ketenaran merenggut segalanya. "Maafin aku, Maya..." lirihnya dalam suara yang tertelan hiruk-pikuk musik klub. Penyesalan itu terasa jauh lebih berat daripada beban pekerjaan yang ia pikul setiap hari.Pertemuan di Ambang Takdir Libur semester akhirnya tiba, membawa janji yang ditepati. Sebagai hadiah atas prestasi gemilangnya, Maya membawa putranya, Arkan kecil, menuju kota besar. Di dalam gerbong kereta yang melaju, bocah itu tak henti-hentinya bertanya tentang hotel, kolam renang, dan kemegahan kota. Maya hanya terkekeh, mencubit gemas hidung putranya, meski di dalam hati ada debar kecemasan yang ia sembunyikan rapat-rapat. Setelah tiga jam perjalanan, mereka tiba di Stasiun Angsana Raya. Maya tertegun sejenak; stasiun ini telah banyak berubah. Delapan tahun lalu, ia meninggalkan tempat ini dengan air mata dan luka yang menganga, duduk di bangku kayu yang kini telah berganti kursi besi modern. Ia tersentak saat tangan kecil Arkan menggoyang lengannya, membawanya kembali ke realita. Karena lapar, mereka singgah di sebuah warung sederhana dekat terminal. Di sana, seorang gadis penjual es teh tampak histeris menatap layar ponselnya. Gadis itu berteriak kegirangan menonton adegan r
Prestasi dan Perayaan yang Berbeda Dunia “Dan... peringkat pertama diraih oleh... Rafandra Arelio!” Tepuk tangan meriah membahana di aula sekolah. Hari itu adalah momen istimewa—acara kenaikan kelas sekaligus perpisahan siswa kelas enam. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bocah yang akrab disapa Rafa itu kembali membuktikan kecerdasannya dengan meraih gelar juara umum. Maya, ibunya, berjalan menuju panggung dengan perasaan haru yang membuncah. Di atas panggung, ia tersenyum lebar ke arah kamera, sementara Rafa memamerkan medali emasnya dengan bangga. “Mama, Rafa peringkat satu lagi!” seru bocah itu kegirangan saat mereka turun dari panggung. “Anak Mama memang hebat,” puji Maya sambil mengelus rambut putranya. “Mama janji, ya, bawa Rafa ke kota,” tagih Rafa dengan mata berbinar. Maya terkekeh pelan, mengiyakan janji yang sudah ia ucapkan berulang kali. Namun, di tengah kebahagiaan itu, telinga Maya menangkap bisik-bisik dari barisan belakang. Para orang tua murid sedang membicarakanny
Bayang-Bayang di Balik Layar Gedung Eunoia Entertainment dikepung oleh puluhan wartawan yang haus akan klarifikasi. Di tengah kilatan lampu kamera, Arabella Jolie, aktris cantik berusia dua puluh tujuh tahun, baru saja turun dari mobil mewah. Pertanyaan bertubi-tubi mengenai kedekatannya dengan Rendra—terutama foto kencan yang viral belakangan ini—terus dilemparkan padanya. "Ka, apa benar pria itu Narendra? Apa kalian HTS atau sudah tunangan?" seru salah satu wartawan. Arabella hanya tersenyum tipis, menutupi rasa lelahnya dengan ketenangan profesional. "Maaf, saya tidak bisa menjawab sekarang. Silakan tanyakan langsung pada aktor yang bersangkutan," ucapnya tegas sebelum melangkah masuk ke dalam gedung di bawah pengawalan ketat bodyguard. Di ruang pribadinya, Arabella menghela napas panjang. Mira, sang manajer, segera mengingatkannya tentang jadwal syuting sore ini untuk film The Winter Love. Arabella hanya mengangguk; ia tahu emosinya harus tetap terjaga karena adegan yang akan d
Layar televisi di ruang tamu menampilkan berita hiburan yang sedang memanas. Sosok aktris papan atas, Arabella Jolie, dikabarkan tertangkap kamera sedang berkencan di sebuah restoran mewah dengan seorang pria misterius yang mengenakan masker dan kacamata hitam. Spekulasi liar bermunculan, menyebutkan bahwa pria itu adalah Narendra Arvanka, aktor berbakat sekaligus lawan main Arabella yang tengah naik daun. Namun, hingga detik ini, agensi Eunoia Entertainment masih memilih untuk bungkam. Arkan, yang pagi itu terpaksa absen sekolah karena kondisi tubuhnya yang belum pulih total, bersandar lesu di sofa. Ia menatap layar dengan bosan sebelum akhirnya mematikan televisi tersebut. Baginya, gosip orang dewasa tidak ada apa-apanya dibandingkan petualangan di film kartun. Di rumah yang sunyi itu, ia hanya ditemani neneknya yang sedang terlelap di kamar, sementara Maya pergi mengantar pesanan dagangan ke desa tetangga. Arkan menatap keluar jendela, membayangkan kehidupan di balik gedung-gedung
Delapan tahun telah berlalu, namun keriuhan di lapangan sekolah itu masih terasa sama bagi anak-anak kecil yang sedang mengejar bola. Di antara debu yang beterbangan, terdengar teriakan semangat yang saling bersahutan. “Ayo! Oper bolanya ke sini!” “Ian! Kasih ke aku!” “Arkan! Tendang sini!” Bugh! Suara benturan keras terdengar, disusul jeritan kesakitan. Arkan, bocah laki-laki berambut crew cut, berdiri terpaku dengan wajah pucat. Tendangannya yang terlalu bertenaga meleset dari sasaran dan justru menghantam telak kaki temannya, Adit. Bocah itu terjatuh sambil meringis, memegangi kakinya yang mulai memerah. “Woi! Kamu bisa main nggak sih!?” bentak salah satu anak. “Maaf… tadi katanya aku disuruh tendang,” jawab Arkan gugup. Jemarinya mulai dimainkan pelan-pelan—sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa cemas dan tertekan. Adit yang masih merintih di tanah menatap Arkan dengan penuh kekesalan. Baginya, Arkan selalu menjadi sosok yang menyebalkan hanya karena anak itu ter
Suara ketukan palu hakim bergema di ruang sidang yang dingin, memutus ikatan suci yang pernah Maya agungkan. Detik itu juga, napas Maya terasa terhenti. Statusnya kini berubah—bukan lagi istri sang bintang besar, melainkan seorang wanita yang dibuang dalam kesunyian. Di lobi pengadilan, Maya berpapasan dengan Herman dan Santi, orang tua Arkan. Santi menatap Maya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan penuh kemenangan. “Akhirnya drama ini selesai juga,” sindir Santi tajam. “Sudah kubilang sejak awal, Arkan itu berlian. Dia butuh wadah emas, bukan tanah liat sepertimu. Sekarang dia bebas terbang tinggi tanpa beban.” “Ma, sudah,” tegur Herman pelan, meski ia juga tak melakukan apa pun untuk membela Maya. “Aku bicara kenyataan, Pa. Arkan pantas mendapatkan wanita yang setara dengannya, seperti Clara, bukan perempuan tanpa latar belakang ini.” Maya hanya bisa menunduk, meremas jemarinya yang gemetar. Ia lalu melirik ke arah Arkan yang berdiri agak jauh. Pria itu tampak sibu







