LOGINWanita terlahir sebagai tulang rusuk. Tapi kenapa aku harus bernasib sial dengan menikahi lelaki payah yang sama sekali tidak mau menafkahi keluarga?
View MoreMy ankles crossed under the table in the student union as I placed another deliciously salty fry in my mouth. It wasn't every day that one could get a free show with their meal, but there I was, enjoying both. Don't misunderstand me, I know that the amusement I was feeling from watching it was wrong. Yet, I continued to munch on chunks of oil-crisped potatoes like it was popcorn with wide eyes, unable to do anything but stare at the couple that was fighting only a few tables down.
There wasn't much other conversation in the crowded room, and I contemplated telling them that their discussion was not private, but my ass stayed glued to my seat as I ate. If they wanted to make this everyone's business, that was their choice. The last thing that I wanted was to be pulled into the drama.
As one of the only girls in the school who wasn't completely in love with the beautiful cheerleader and quarterback's storybook romance, I was highly entertained.
"Four years, Diana! Four years, and now you want to break up so you can get the 'full college experience'?" My eyes followed his hands as he used air quotes and even as heartbroken as he looked, the motion brought a small smile of amusement to my face. "All that means is that you want to fuck other people! If that's why then just say it."
Diana quickly looked around the room, and her face turned a bright crimson as blood rushed to the surface. My eyes met hers briefly as she scanned the area, and realized that they had a rather large audience. I took that moment to plop the quickly cooling fry into my mouth before I broke eye contact. I grabbed the paper cup in front of me to take a sip as she ducked her face behind a curtain of her platinum blonde hair.
The lightweight object in my hand made me frown, and I shook it slightly to feel a small amount of pop left inside. As my lips wrapped around the straw to take the last sip, it echoed loudly to indicate that I had run out of my drink. I winced as my roommate, Chloe, kicked my shin from the loud gargle, and I pursed my lips at her with an unamused stare as I set the cup back on the table. She was horrified by the attention I drew from the noise, as the table next to us also turned to glare at my interruption to their dinner theater. I sent a small shrug her way in a 'what can you do' manner before we both turned back to the subject of everyone's fascination.
"That's not what I mean, and you know it!" Diana said harshly as she picked up her fork and began to push around the horrid spaghetti our university served. "I just think that we need to experience different things, and I don't want to continue this conversation here! You're making a scene!" I couldn't help but roll my eyes at that. There was no doubt in my mind that he was right in his assumption, but I'm sure that wasn't something she wanted publically announced.
To some, it may have been a good idea to have that type of conversation in a public place in order to control and limit the person's reaction as most people don't want to draw attention from emotional outbursts. Unfortunately for her, it seemed that he didn't care if he made a scene.
"Like what?" He snapped. "The only thing that you can't experience when you're in a relationship is someone else!" His black hair slid between his fingers as he ran his hand through it in frustration and left a tussled, 'just rolled out of bed' look.
Even I had to admit that it was a good look for him.
I let out an involuntary snort at his comment. She could very well experience another person while she was still in a relationship. He was lucky that she was at least breaking up with him first.
"I said I don't want to do this here. Let's go back to your place and talk about this." She begged quietly as she leaned forward on the table and barely avoided her hair from becoming a part of her meal.
My hand automatically went back to the paper boat my snack had sat in, and I blindly felt around for another, my eyes still on the couple. It was like a horrendous car accident, and I was thankful that I was not the only one openly staring. At this point, almost the entire dining room was.
When I came up empty, I pulled my eyes away once more to find I had finished my fries and had nothing else to munch on.
The sound of a chair scraping against the ground made me look up so fast, I almost snapped my neck.
Standing in his full glory, Caleb Briggs glared down at the skinny cheerleader in front of him with his deep green eyes full of anger. "No. I'm done talking about this. You want to be single so you can fuck other guys? Fine. You win. You're single."
The way his jeans hugged his thighs as he turned to storm out of the dining hall drew my attention in, and I couldn't help the slight tilt in my head as I noticed how sculpted his backside was. The pants hugged his butt just right, and I almost drooled when I watched the muscles in his back flex under his white cotton t-shirt as he pulled the door open and left.
The closing of the door was like a mic drop. As soon as the glass panel fully separated the student union from the man, the room had erupted in loud conversation about the events that had just transpired. No one seemed to care that Diana had still been sitting there. Tears silently fell from her eyes as she stared in the direction of her ex-boyfriend before she stumbled to her feet and raced out of the building, the disgusting pasta left behind on the table.
Malam ini, malam terakhir aku menjanda. Besok harinya aku sudah akan berganti status menjadi istri seorang Rendi Prayoga. "Sudah siap, Dek menjadi istri kembali?" ucap Bang Radi mengatakan dengan penuh kasih saat aku sedang menidurkan Azka di kamar."Abang belum tidur?" tanyaku."Mana bisa tidur kalau begini, Abang merasa sedang jadi orangtua yang akan menikahkan anaknya. Pusing mikirin acara besok," ucap Bang Radi."Apa sih yang dipikirkan? Sudah, istirahat saja. Kan ada WO yang mengurusi pernikahan Vita, Abang dan MBak Nuri hanya duduk manis dan melihat adiknya yang comel ini berbahagia. Orang Vita yang nikah aja biasa aja, kenapa Abang yang deg-degan. Aneh," ucapku."Namanya juga orang tua, Vit. Terlebih suamimu itu bukan orang sembarangan, Abang hanya sedikit minder saja.""Kok minder? Kaya dan miskin sama saja. Lagian, keluarga Rendi itu baik-baik. Bahkan, keluarga yang dari Jakarta juga sudah hadir tiga hari yang lalu," ucapku mengabarkan kehadiran keluarga besar Bella yang men
"Mam, kita mau kemana?" tanya Azka saat di sadar jika ini bukan arah ke rumah Mbak Nuri."Coba tanya Ayah, mau kemana?" ucapku melirik Rendi."Kemana, Yah?" "Kemana yah? Azka maunya kemana?" tanya Rendi sengaja membuat Azka penasaran."Kita mau ke butik, Sayang.""Butik itu apa, Mam?" "Tempat memilih baju-baju bagus, nanti Azka juga bisa milih baju di sana. Ya kan, Yah?" Rendi mengangguk dan ia tersenyum. Kedekatan kami bahkan sudah lama, tapi aku tak menyangka jika jodohku bisa berubah dalam jangka waktu yang singkat. Aku dan Mas Joko menikah enam tahun lamanya, dan baru tiga bulan menikah aku dianugerahi anak. Tadinya bahagia namun semakin ke sini semakin kacau rumah tanggaku akibat campur tangan ipar dan mertuaku.Kini aku sedikit prihatin dengan keadaan Mas Joko, bahkan tadi pagi saat bertemu dengannya wajahnya amatlah murung. Pernah bersama pasti tahu, baik dan buruknya lelaki itu. Cinta? Bukan masalah cinta yang aku bicarakan. Aku hanya kasihan dan sedikit bersimpati. Aku hany
Mobil yang ditumpangi melewati Mas Joko begitu saja. Rendi tampak melirikku seakan takut aku berpaling darinya."Habis bicara apa?" "Hah?" tanyaku kaget. "Kamu! Habis ngobrolin apa sama mantan suami kamu?" tanya Rendi lembut."Nggak terlalu penting, hanya seputar pernikahanku saja. Dia nggak percaya aku nikah lagi, dia malah curhat bininya lebih parah sekarang!" "Kenapa emang bininya?""Aib, nggak usah di umbar. Bikin dosa, aku menyela pembicaraannya dan akhirnya memilih mengundang dia ke acara resepsi pernikahan kita bersama Arum istrinya. Nggak apa kan?" "Terserah kamu, sudah hak kamu mengundang siapapun. Yang penting jangan bikin rusuh saja, dan mungkin nanti acaranya di gedung Alazka punya Omku."Aku kaget saat Rendi akan menggelar resepsi di gedung, tadinya aku pikir hanya akan ada hajatan kecil-kecilan di rumah."Kok nggak tanya sama Vita?" tanyaku."Mana aku tahu? Ini pembicaraan orangtua dan kakakmu, aku manut saja Yang penting bagiku sah denganmu. Wes, nggak usah pake em
"Vit, hari ini jadi imunisasi calon pengantin?" tanya Mbak Nuri padaku."Jadi Mbak, nanti jam delapan. Nunggu Rendi jemput Vita," sahutku dari dalam kamar. Aku sedang memakaikan seragam sekolah Azka. Ya, bulan ini Azka sudah aku masukkan TK. Ia meminta masuk tahun ini karena semua temannya sudah masuk dari tahun yang lalu. Menyedihkan memang, tapi sekarang aku sudah sedikit lebih baik setelah berpisah dari Joko."Anak Mamam udah ganteng, sekolahnya yang semangat ya!" "Siap, Ma!" Azka tersenyum penuh energik saat sudah aku siapkan keperluan dari tas, sepatu hingga alat tulis. Tentu saja, ia yang membelinya bersama Rendi bulan lalu saat ia mengajakku malam mingguan ke alun-alun. Tahun ini, Azka masuk tahun ajaran pertengahan karena jika menunggu tahun depan ia tak mau. Malu katanya semua temannya sudah masuk duluan. Jika di TK desaku, masuk tidak harus di awal ajaran baru. Masuk pertengahan pun tak apa. Entah sistemnya nitip atau gimana aku juga nggak begitu paham, yang jelas aku sena
"Mas Rendi, silahkan diminum tehnya. Maaf ya ada sedikit gangguan tadi di depan." Mbak Nuri menyuguhkan teh dan juga camilan di depan Rendi dan Anggi."Makasih, Mbak!" Mbak Nuri ke belakang meninggalkanku dengan Rendi dan Anggi."Vit, tadi mantan suamimu?" tanya Rendi penasaran."Iya!" jawabku tak enak
Aku sedang menyirami bunga di depan rumah Bang Radi. Sekarang aku memilih tinggal di rumah abangku karena rumahku sudah aku jual seperti saran Bang Radi. Kulihat bunga yang bermekaran sangat indah, membuat suasana pagi ini juga indah."Mam, Aka mau itu siram bunga!" "Azka mau bunga?" Anakku mengangg
Hari ini jadwalku servis motor. Walau usang, aku usahakan merawatnya agar tak rusak. Bukan hanya motor, suami pun jika ia tak rusak berat aku akan merawatnya. "Nggak ikut liburan, Mbak Vita?" tanya Mang Oding, tukang servis motor langgananku."Liburan kemana, Bang?" tanyaku sambil makan kuaci bersama
Aku mengeluarkan ponselku dan memutar video rekaman gombalan serta ajakan Mas Joko pada Ibu dan Mas Joko. Mereka berdua melongo melihat video yang kutunjukan ini."Ka_kamu bisa tahu dari mana, Dek?" ucapnya terbata. Mungkin dia grogi dan takut karena sudah ketahuan begini. "Vita tak perlu mengatakan,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews