Share

Bagian 2

Author: Libra
last update publish date: 2026-03-08 04:53:03

"Dia itu pinter banget, Nei! Walaupun sering bolos gitu, tapi posisi ranking 1 gak pernah ada yang bisa rebut dari dia!" Jelas Kara dengan lantang.

Neira mengangguk, "oh gitu ya." Kara menyipitkan kedua matanya, "jangan-jangan lo suka dia!" Tanya Kara dengan lantang membuat Neira terlonjak merasa kaget.

Neira memutar bola matanya malas, "itu dia tadi pd abis! Jauh-jauh deh dari manusia kayak gitu."

"Yeu, pd itu bagus! Gak kayak lo, yang kerjaannya di kelas mulu. Main dek main!"

Luna berjalan kearah meja mereka, sambil tersenyum ceria, "jeng jeng jeng! Ini punya Kara, ini punya Neira, dan ini punya Luna!" Ucapnya sambil duduk di kursi tempatnya.

"Makasih ya, Lun." Ucap Neira dan Kara secara bersamaan membuat mereka bertiga tertawa riang.

"Makan, biar kenyang!" Ucap Luna.

Notifikasi masuk di ponselnya membuat Neira membukanya, pesan dari nomor baru berhasil mengalihkan perhatiannya.

"Save gue masa depan lo." Gumam Neira di dalam hatinya, berani-beraninya orang ini mengirimkan pesan yang sangat alay kepada dirinya?

setelah melihat photo profil yang baru saja memberikan pesan padanya, Pandangan Neira langsung tertuju ke depan. Lelaki itu tersenyum sampai matanya membentuk bulan sabit. Dia adalah Renan.

Renan Luca Kalundra. Kenapa lelaki itu bisa memiliki nomor ponselnya? Dapat dari mana? Selama ini, yang memiliki nomor Neira hanya segelintir orang saja yang dekat dengannya.

Neira memiringkan kepalanya seolah bertanya, "maksud lo?"

Renan memberi isyarat untuk membalas pesannya, laki-laki itu terus menunjuk-nunjuk ponselnya.

Neira lebih memilih untuk mengabaikan pesan dari Renan, toh dia tidak kenal dekat dengan lelaki itu. Lelaki yang baru saja masuk ke dalam hidupnya, menggangu paginya.

Tidak terasa bel pulang berbunyi, di sinilah Neira berdiri, di depan gerbang. Gadis itu menunggu mendapatkan driver gojek online yang ia pesan. Karena bus yang dirinya tunggu tak kunjung datang.

Hari yang Neira tidak suka adalah hari Rabu, hari di mana semua siswi maupun siswa sangat wajib mengikuti ekskul Pramuka. Ekskul yang justru tidak banyak peminatnya.

Pulang di kala sore hari memang menenangkan, dirinya bisa melihat langit senja yang menenangkan hati. Tetapi, sangat sulit untuk Neira mendapatkan gojek. Sedari tadi, Neira bersuara di dalam hatinya, menggerutu, bagaimana bisa hari ini sangat menyebalkan baginya?

Helaan nafas gusar terdengar, di depan sekolahnya sangat sepi, orang lain sudah pulang. Ada yang di jemput orang tuanya, ada yang pulang bersama temannya, dan ada dirinya, yang sangat setia dengan gojek.

Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 17.30 Neira terheran-heran, tidak biasanya selama ini. Ojek pangkalan bahkan tidak ada yang lewat. Benar-benar hari sial baginya, seharusnya Neira tidak usah berangkat sekolah saja tadi.

Neira mulai berjalan sambil menunggu ojek pangkalan lewat, langit senja tergantikan oleh langit malam. Neira menggerutu pelan, bagaimana bisa dirinya bersekolah di sekolah yang jaraknya jauh dengan rumahnya.

Orang di rumah bahkan tidak ada yang bisa di hubungi. Perasaan was-was Neira muncul ketika suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Neira menggenggam ponselnya dengan erah, gadis itu berjalan berusaha lebih cepat.

Ketika sebuah tangan berhasil menggenggam pundaknya, badan Neira luruh ke bawah. Neira benar-benar merasa takut, Neira belum siap untuk mati walaupun kehidupannya tidak jelas.

"Tolong ambil aja uang saya! Jangan bunuh saya!" Teriaknya sambil memejamkan mata, jantung gadis itu seolah berdetak kencang.

Tangan kekar menutup mulutnya membuat Neira melotot, tangannya memukul-mukul sepatu orang yang membekapnya. Tangan kekar itu beralih memegang kedua tangannya.

Neira tersentak berdiri lalu menoleh cepat, berusaha mencari tahu siapa sosok itu. Ternyata Renan. Jantung Neira nyaris copot melihatnya. Tanpa aba-aba, air matanya luruh; dia benar-benar ketakutan, apalagi mengingat maraknya kasus kriminal yang sedang menghantui daerah tempat tinggalnya belakangan ini.

"Eh? Hei maaf-maaf gue gak nyangka reaksi lo bakal kayak gini," Ucap Renan sedikit menunduk untuk melihat raut wajah Neira. Karena, gadis itu sekarang menunduk, isak tangis terdengar mengisi sunyi di antara mereka.

"Eh? Hei, maaf, maaf ... gue enggak nyangka reaksi lo bakal kayak gini," ucap Renan sambil sedikit menunduk untuk melihat raut wajah Neira. Pasalnya, gadis itu kini tertunduk dengan isak tangis yang mulai memecah kesunyian di antara mereka.

Renan ragu-ragu untuk mengulurkan tangan, jemarinya tertahan di udara sebelum akhirnya ia memberanikan diri menepuk pelan bahu Neira yang bergetar. "Gue beneran minta maaf, Ra. Enggak ada maksud buat bikin lo sedih," bisiknya dengan nada suara yang kini jauh lebih lembut dan tulus. Ia menghela napas panjang, ikut merasakan sesak yang terpancar dari punggung rapuh gadis di hadapannya, sembari berharap permintaan maafnya mampu meredam badai yang baru saja ia sulut tanpa sengaja.

Renan tidak berniat untuk menakut-nakuti Neira. Awalnya, ia hanya berpikir untuk mengikuti gadis itu demi melindunginya secara diam-diam. Namun, niat baik tersebut justru memicu kesalahpahaman; Neira telanjur mengira bahwa dirinya adalah orang asing yang berniat jahat.

"Lo kenapa, sih!" teriak Neira sambil mendorong bahu Renan hingga laki-laki itu sedikit menjauh. Isakannya masih terdengar berat.

Entahlah, mungkin karena Neira sudah terlanjur lelah dengan semuanya, ia pun menumpahkan seluruh beban itu di depan Renan. Meski raut merasa bersalah tercetak jelas di wajah Renan, Neira tidak peduli. Saat ini, rasa kesal, sedih, dan takut bercampur aduk menjadi satu, menciptakan badai emosi yang sulit untuk ia jelaskan.

Renan menarik Neira ke dalam pelukannya, membuat bahu gadis itu semakin bergetar hebat. Rasa bersalah semakin kuat dirasakan oleh Renan. "Maaf, Neira, gue enggak sengaja," bisik Renan pelan.

Neira tidak memberontak, tenaganya seolah habis diserap oleh rasa lelah yang bertubi-tubi. Ia hanya menyandarkan keningnya di dada Renan, membiarkan jaket laki-laki itu basah oleh air matanya. Sementara itu, Renan hanya bisa mempererat pelukannya, seolah berusaha menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki untuk menopang Neira yang hampir runtuh.

Keheningan menyelimuti mereka, hanya menyisakan suara deru napas Renan yang tidak beraturan dan isak tangis Neira yang mulai mereda. Neira tidak memberontak; ia justru menyandarkan keningnya di dada Renan, seolah seluruh sisa tenaganya baru saja habis tersedot oleh ledakan emosi tadi.

Wangi parfum Renan yang menenangkan perlahan merayap, mencoba mengusir rasa takut yang sempat membeku di hati Neira. Sementara itu, Renan tetap diam mematung, membiarkan jaketnya basah oleh air mata, sambil terus mengusap punggung gadis itu untuk memastikan bahwa kali ini, ia benar-benar ada di sana untuk melindungi—bukan menakuti.

Kesadaran perlahan kembali menghampiri Neira, membuatnya segera menarik diri dan melepaskan pelukan itu dengan gerakan canggung. Ia menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, menghindari kontak mata langsung dengan Renan.

Suasana yang tadinya penuh haru mendadak berubah menjadi kaku; Neira merapikan rambutnya yang berantakan hanya untuk menutupi rasa salah tingkah, sementara Renan berdeham pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus berkata apa setelah momen seintim tadi.

Neira memutar tubuhnya, berniat pergi secepat mungkin sebelum rona merah di pipinya terlihat jelas oleh Renan. Namun, baru dua langkah kakinya beranjak, sebuah tangan dengan sigap menahan pergelangan tangannya, menghentikan langkah gadis itu seketika.

"Neira, tunggu," cegat Renan, suaranya kini terdengar lebih tegas namun tetap hati-hati. "Udah malam. Bahaya kalau lo jalan sendirian dalam kondisi kayak gini. Ikut gue, gue anter balik naik motor."

Neira sempat ingin menolak, tetapi Renan tidak melepaskan genggamannya. Laki-laki itu menatapnya dengan pandangan memohon yang sulit dibantah, seolah ingin menebus kesalahannya yang tadi dengan memastikan Neira sampai di rumah dengan aman.

Neira berusaha menyentak tangannya, meski genggaman Renan tidak benar-benar menyakiti. Ia memalingkan wajah, enggan menatap binar memohon di mata cowok itu.

"Gak usah, gue bisa balik sendiri. Gak usah sok peduli," cetus Neira ketus, padahal suaranya masih sedikit serak. Ia mencoba melangkah lagi, namun Renan justru menggeser posisi, berdiri tepat di depan jalur jalannya layaknya sebuah barikade hidup.

"Reina, plis. Gue gak bakal tenang kalau lo balik sendiri jam segini. Anggap aja ini cara gue nebus salah yang tadi," sahut Renan tak mau kalah. Ia menyodorkan helm cadangan ke depan wajah Neira, memaksa gadis itu untuk berhenti sejenak.

Neira mendengus, menatap helm itu dan Renan bergantian dengan sorot mata sebal. "Gue bilang gak mau, ya enggak, Renan!"

Renan tidak bergeming, ia justru mengunci pandangannya pada Neira sambil mengangkat sebelah alisnya. "Oke, kalau lo gak mau naik motor, gue bakal ikutin lo jalan kaki dari belakang sampai rumah. Pilih mana?"

Mendengar ancaman konyol itu, pertahanan Neira runtuh juga. Dengan gerutuan pelan yang tertahan di bibir, ia merampas helm dari tangan Renan dengan kasar. "Nyebelin banget sih lo! Awas ya kalau bawa motornya ngebut!"

Renan tersenyum lebar hingga mata bulan sabitnya yang khas terlihat kembali—sebuah pemandangan yang diam-diam selalu ... eh selalu? Hanya menarik sedikit perhatian dari Neira. Tanpa menunggu lama, Neira segera melangkah cepat dan menaiki motor Renan yang terparkir tak jauh dari sana, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah memerah.

Deru mesin motor perlahan mati saat mereka sampai di depan gerbang rumah Neira. Keheningan malam kembali menyergap, namun kali ini terasa jauh lebih tenang. Neira turun dari boncengan dan segera melepas helmnya, menyerahkannya kembali kepada Renan tanpa berani menatap langsung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 5

    Wajah Neira seketika memucat, lebih pucat dari awan mendung yang mungkin sedang menggantung di atas mereka. Suara sobekan itu terdengar begitu nyata di telinganya, mengalahkan deru mesin motor Renan yang masih melaju stabil. Renan, yang belum menyadari drama di jok belakang, sedikit menoleh karena merasakan pegangan Neira pada jaketnya mendadak mengencang—atau lebih tepatnya, mencengkeram. "Nei? Kenapa? Pegangan yang bener, bentar lagi sampai sekolah," ucap Renan setengah berteriak agar suaranya menembus helm. Neira tidak menjawab. Tangannya perlahan meraba ke arah belakang, dan benar saja, jemarinya menyentuh serat kain corduroy yang kini mencuat tak beraturan. Ada celah menganga di sana. Hawa dingin yang menyentuh kulitnya bukan lagi sekadar firasat. Panik mulai mengambil alih. Pikirannya berputar cepat: Pertama: Bagaimana ia bisa turun dari motor tanpa terlihat aneh? Kedua: Ia sedang bersama Renan, cowok yang baru saja membuatnya merasa nyaman, dan sekarang ia harus menghada

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 4

    Sinar matahari mampu menerobos masuk lewat celah-celah gorden, membuat seorang gadis di atas kasurnya menggeliat. Namun, sedetik kemudian, gadis itu terlonjak kaget. Jam berapa sekarang? Apakah dirinya kesiangan lagi? Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menunjukkan angka 07.15. "Gawat!" pekiknya tertahan. Hanya tersisa lima belas menit sebelum gerbang sekolah dikunci rapat. Tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan seperti sarang burung, ia melompat turun dari tempat tidur. Lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Neira berlarian ke sana dan kemari mencari perlengkapan sekolahnya, Neira bahkan berlari sambil memakai kaus kaki, lalu berlari sambil memakai dasi walaupun hasilnya miring, dan gadis itu bahkan memakai sepatu dengan terburu-buru sampai baru menyadari bahwa dirinya memakai kaus kaki yang berbeda. Beginilah gambarannya: "Hah?! Jam 07.22?! Mati aku!" Di tengah kepanikan itu, Neira berlarian ke sana ke

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 3

    "Makasih," gumam Neira singkat, masih dengan nada jual mahal yang tersisa. Renan menerima helm itu sambil memperhatikannya dengan saksama, memastikan gadis di depannya sudah benar-benar tenang. "Masuk sana, langsung istirahat. Jangan dipikirin lagi yang tadi, ya? Maaf udah bikin lo takut." Neira hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju gerbang. Namun, sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh sedikit dan mendapati Renan masih setia menunggu di sana, memastikan dirinya masuk dengan aman ke dalam rumah. Rasa kesal yang tadi membubung kini perlahan terkikis, digantikan oleh kehangatan kecil yang menyusup di hatinya. Begitu Neira memutar kenop dan melangkah masuk, suara debuman pintu yang tertutup di belakangnya seolah menjadi lonceng peringatan. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu temaram, ayahnya sudah duduk menanti dengan rahang mengeras. "Dari mana kamu jam segini baru pulang?" Suara bariton itu menggelegar, memecah sunyi rumah yang mencekam. Neira mematung di ambang

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 2

    "Dia itu pinter banget, Nei! Walaupun sering bolos gitu, tapi posisi ranking 1 gak pernah ada yang bisa rebut dari dia!" Jelas Kara dengan lantang. Neira mengangguk, "oh gitu ya." Kara menyipitkan kedua matanya, "jangan-jangan lo suka dia!" Tanya Kara dengan lantang membuat Neira terlonjak merasa kaget. Neira memutar bola matanya malas, "itu dia tadi pd abis! Jauh-jauh deh dari manusia kayak gitu." "Yeu, pd itu bagus! Gak kayak lo, yang kerjaannya di kelas mulu. Main dek main!" Luna berjalan kearah meja mereka, sambil tersenyum ceria, "jeng jeng jeng! Ini punya Kara, ini punya Neira, dan ini punya Luna!" Ucapnya sambil duduk di kursi tempatnya. "Makasih ya, Lun." Ucap Neira dan Kara secara bersamaan membuat mereka bertiga tertawa riang. "Makan, biar kenyang!" Ucap Luna. Notifikasi masuk di ponselnya membuat Neira membukanya, pesan dari nomor baru berhasil mengalihkan perhatiannya. "Save gue masa depan lo." Gumam Neira di dalam hatinya, berani-beraninya orang ini mengir

  • Aku Baik-baik Saja, Katanya.   Bagian 1

    "Ra? Kamu kenapa gak keluar kamar? Ibu sisain kamu sayap ayam, kesukaan kamu." Ucap wanita paruh baya di depan kamar putrinya. Neira yang sedang duduk di meja belajarnya menoleh menatap kearah pintu, "nanti aku turun." Jawabnya, terdengar langkah kaki Ibunya menuruni tangga. Neira membuka buku hariannya, lalu menuliskan beberapa kata "Neira gak pernah suka sayap ayam, Ibu tidak tahu ya? Neira sukanya paha ayam. Ibu selalu memberikan itu ke Abang." Saat menuruni tangga, samar-samar Neira mendengar percakapan Abangnya dengan sang Ibu. "Lah ini tadi yang Kean makan pahanya tinggal 1 Bu? Adik gimana? Dia kan paling suka paha." "Kamu ini ngaco, Neira kan sukanya sayap ayam." Lalu Neira melihat Ayahnya keluar dari kamar yang tepat di depan tangga, "tidak usah di ambil pusing, makan saja yang ada!" Neira langsung melanjutkan langkahnya menuju meja makan, mengambil bagiannya lalu kembali naik ke atas, ke kamarnya. Gerak-gerik Neira tak luput dari pandangan Kean, lelaki itu meras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status