Home / Romansa / Aku Hamil Anak Kamu, Mas! / Bab 1. Zola Pingsan. 

Share

Aku Hamil Anak Kamu, Mas!
Aku Hamil Anak Kamu, Mas!
Author: Ucing Ucay

Bab 1. Zola Pingsan. 

Author: Ucing Ucay
last update Last Updated: 2025-10-05 12:46:56

"Apa kamu memang sudah kehilangan marwahmu, Zola?" ucap Evan tajam.

"Apa?" tanya Zola dengan hati teriris mendengar nada suara itu di telinganya.

Evan mengeratkan rahangnya, wajahnya merah padam menahan amarah dengan mata berkaca-kaca.

"Apa benar kamu hamil?" tanya Evan.

Zola tertegun, "Darimana kamu tahu, Mas?" tanyanya bingung. Seharusnya dia senang karena Evan sudah tahu dia sedang mengandung anaknya. Tapi wajah lelaki itu menyiratkan hal lain yang menurut Zola sangat mengerikan.

Evan mendenguskan tawa sinis, dan itu semakin membuat Zola takut.

"Kalau begitu selamat!" kata Evan dengan nada sindiran yang tajam. 

"A-apa maksud kamu, Mas?" tanya Zola lagi dengan tangan mulai gemetar.

Evan menatapnya, "Selamat atas kehamilanmu, anaknya Danar!"

"MAS!" teriak Zola histeris. Tangisnya pecah seketika. Sakit hatinya tak terperi. 

"Teganya kamu menuduhku dengan fitnah kejam seperti ini! Ini anak kita, Mas!" raung Zola terduduk di lantai.

Evan membiarkan air matanya mengalir, "Maaf aku harus melakukan ini, Zola," ucapnya.

Zola tertegun dan menggeleng, mengerti dengan apa yang akan dikatakan oleh Evan. 

"Tidak, Mas! Jangan!" pintanya memohon di kaki Evan, "aku istrimu! Aku tidak pernah membiarkan tubuhku dijamah pria lain! Demi Allah, Mas!"

Evan memejamkan mata, tangannya mengepal erat. 

"Reeda Zola, aku menjatuhkan talak satu padamu!" 

"TIDAK!"

Tangis Zola pun pecah dan dia meraung pilu di kakinya.

===

“Shhh ...!”

Erangan pelan keluar dari mulut Zola, sudah dapat dipastikan dia merasa perubahan signifikan dalam tubuhnya. Meski dalam keadaannya yang lemah, perempuan itu tetap mencoba memaksakan diri. Tetapi, takdir berkata lain. Meski Zola telah berhasil memegang lipstik yang hendak digunakannya, kini kekuatannya seperti yang hilang. Belum sempat menarik tangannya untuk menggunakan lipstik tersebut, genggaman tangan Zola terlepas dengan sendirinya, menyebabkan lipstik tersebut terjatuh. 

“Nghhh ... sebenarnya, apa yang —”

Dalam sisa kesadarannya, Zola dapat melihat dirinya sendiri di kaca yang berada di depannya. Wanita itu hampir terjatuh karena tidak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri. Namun, sebagai wanita yang tidak kenal menyerah, Zola masih berusaha mempertahankan tubuhnya. Ia berusaha memegang apa pun pada benda yang dipikirnya dapat menjadi topangan.

Namun, dalam waktu yang singkat, Zola tidak dapat menemukannya. Hal tersebut menyebabkan tangannya yang lemas menyenggol seluruh make up yang tertata rapi di atas meja langsung berjatuhan hingga menyebabkan suara barang jatuh yang keras.

Saat itulah Evan yang sedang di walking-closed mempersiapkan diri untuk berangkat kerja menangkap suara yang aneh. Spontan dia langsung menoleh ke asal suara tadi, dan mata Evan pun langsung membola , terkejut.

Pasalnya, dalam mimpi buruknya sekali pun Evan tidak pernah membayangkan akan menemukan sang istri tercinta akan jatuh tergeletak tak berdaya.

“ZOLA!”

Dengan sigap, Evan langsung berlari dari lemari baju menuju posisi Zola berada. Kali ini, perempuan itu benar-benar kehilangan kesadaran. Ia tidak lagi dapat menggerakkan tubuhnya. 

“Zola! Ada apa denganmu, Sayang. Zola, sadarlah!”

Tangan Evan menahan tubuh lemas Zola dalam dekapan, dia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada sang istri. Pria itu sesekali menepuk pelan pipi Zola dengan tangan kiri, berharap dapat menemukan kesadaran sang istri yang kini masih memejamkan mata erat.

Setelah beberapa detik usahanya membangunkan Zola, saat itulah Evan sadar jika usahanya tidak akan memberikan hasil apa pun. Karenanya, Evan langsung mengangkat tubuh Zola dalam pelukannya.

“Mbok Titi! Cepat kemari!”

Teriakan panik Evan untungnya langsung mendapat respons cepat dari Mbok Titi yang ternyata sedang mengawasi beberapa pelayan dalam membersihkan ruangan. Kepala pelayan itu memasuki kamar Evan dengan tergopoh-gopoh, cemas memikirkan apa yang sedang terjadi hingga Evan berteriak memanggilnya seperti meminta tolong.

“Ada apa—”

“Mbok, cepat minta sopir untuk sediakan mobil secepat mungkin. Kita harus ke rumah sakit sekarang juga!”

Tanpa membiarkan Mbok Titi menyelesaikan pertanyaannya, Evan dalam kegugupannya langsung mengeluarkan titah. Untungnya wanita bertubuh tambun itu juga dapat bersikap cepat. Langsung mengangguk, lalu segera berlari, melakukan apa yang diperintahkan sang majikan. Sedangkan Evan, pria itu menatap ke arah Zola yang kian lama semakin terlihat pucat. Pria itu tahu benar jika wajah Zola yang sekarang bukan karena hasil make up yang berlebih, melainkan karena kondisi tubuh yang dialaminya.

“Tunggulah sebentar lagi, Sayang. Setelah ini kita akan pergi ke rumah sakit, dan kamu akan mendapatkan bantuan yang kamu butuhkan. Bertahanlah untuk sementara waktu,” ucap Evan sembari mendekatkan wajahnya kepada Zola, lalu menanamkan kecupan singkat di keningnya. 

Setelah itu, Evan langsung berlari ke luar dengan menggendong Zola, berharap mobil yang diinginkannya telah tersedia sehingga mereka dapat langsung berangkat.

"Pak Awan, kita ke rumah sakit sekarang, cepat!" titah Evan. 

Wajah Awan gak kalah kagetnya saat melihat majikannya menggendong tubuh nyonya rumah itu dan memasukannya ke dalam mobil.

Awan langsung melajukan mobilnya setelah dia memastikan Evan dan Zola sudah benar-benar di dalam.

***

Setelah berusaha keras melewati keadaan jalan raya yang sangat macet, akhirnya mobil yang membawa Zola berhasil sampai tujuannya, di rumah sakit. 

“Tolong, siapa pun! Istriku sedang membutuhkan bantuan medis secepat mungkin!” teriak Evan dengan suara keras, berusaha menarik perhatian para petugas kesehatan agar Zola dapat menerima perawatan sesegera mungkin.

Untungnya para petugas yang berjaga di sana langsung bergerak cepat. Beberapa pria berpakaian medis langsung membawakan brangkar di hadapan Evan.

“Mohon letakkan istri Anda di sini, Pak! Biar kami bawa dia ke dalam!” ujar salah satu petugas kesehatan kepada Evan.

Tanpa membuang waktu, Evan menurut. Dengan berat hati, ia meletakkan Zola yang lemas di atas brangkar. Setelah itu, dua petugas laki-laki mendorong brangkar tersebut masuk lebih dalam ke rumah sakit, dan diikuti Evan yang senantiasa diselimuti kekhawatiran.

Evan bisa merasakan kakinya yang semakin lama semakin berat. Hal tersebut dikarenakan hatinya yang gundah, tidak tenang. Kepalanya kacau, pikirannya tidak karuan. Jantungnya berdebar kencang, takut terjadi hal buruk kepada Zola. Fokusnya yang hanya tertuju kepada keadaan Zola, mengabaikan keberadaan Awan yang berusaha mengikuti larinya dengan napas tersengal karena faktor usia. 

Tepat di depan ruangan yang memiliki tanda tulisan IGD, Zola dibawa masuk ke dalam. Kala Evan berniat tetap mengikuti, tubuhnya langsung ditahan oleh perawat pria yang sebelumnya mendorong brangkar Zola.

“Maaf, Pak, tapi pendamping hanya bisa sampai di sini.”

“Tidak, lepaskan saya! Biarkan saya masuk ke dalam menemani istri saya!”

Mendapati perlawanan keras Evan yang memaksa ingin masuk, dua petugas pria lainnya dikerahkan agar Evan tidak masuk ke dalam IGD. Dengan keributan yang terjadi, penanganan Zola pun terhambat, dan Evan tidak menyadari dampak dari keegoisannya itu.

“Tidak! Aku tidak akan membiarkan Zola sendirian di dalam sana. Aku akan menemaninya!”

“Tidak bisa, Pak. Jika Anda memaksa masuk ke dalam, kami tidak dapat melakukan pekerjaan kami. Tolong Anda mengerti, kami akan melakukan usaha yang terbaik untuk menyelamatkan istri Anda.” Seorang dokter mencoba memberi penjelasan pada Evan.

“Tuan, Istighfar.” Tangan Awan menepuk pelan pundak Evan guna menarik perhatian sang pria. 

Evan pun langsung menoleh ke belakang, menatap Awan dengan kerutan menghiasi keningnya.

“Memaksa seperti ini tidak akan memberikan hasil apa pun, Tuan. Sebaliknya, Anda justru mengganggu keberlangsungan perawatan Nyonya Zola. Bukankah Anda ingin beliau mendapatkan penanganan secepat mungkin?” sambungnya

Bak mantra ajaib, ucapan Awan menyadarkan Evan dari pikirannya yang kacau. Terlihat bagaimana pria itu mengerjap beberapa kali, menandakan dirinya yang terkejut dari kekhawatiran tanpa akhirnya.

Mengerti maksud ucapan Awan, akhirnya Evan menarik diri dari ruangan IGD.

“Kumohon ... selamatkan istriku ....”

“Kami akan melakukan yang terbaik, Pak.”

***

Baru beberapa bulan menikah Evan selalu melihat Zola dalam kondisi baik-baik saja, baru kali ini istri tercintanya langsung drop. 

Seorang dokter keluar. Sontak mereka langsung berdiri, mengerti jika dokter tersebut berniat memberi kabar tentang pasiennya.

“Dengan keluarga pasien atas nama Ibu Zola?”

"Sa-saya suaminya, dok. Dan ini ayahnya," sahut Evan.

Dokter mengangguk paham.

"Kami sudah melakukan pemeriksaan, maaf sekali janin dalam kandungan Ibu Zola tidak dapat di selamatkan dan harus di keluarkan, dengan begitu kami meminta persetujuan dari Anda sebagai suaminya," ucap dokter itu. Dan Seorang suster menyusul dengan membawa beberapa berkas kemudian menyerahkan kepada Evan untuk di tanda tangani.

"Ja-janin?" ucap Evan, Surendra dan Awan bersamaan. Berapa juga saling lempar tatapan bingung. Pasalnya tidak seorang pun dari mereka yang tahu soal kehamilan Zola.

"Kalian tidak tahu kalau —"

"Tidak, dok, saya rasa istri saya sendiri tidak menyadari kehamilannya," potong Evan cepat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Hamil Anak Kamu, Mas!    Bab 144. Akhir Perjuangan ( End ).

    Evan langsung panik melihat Zola meringis kesakitan memegangi perutnya, sepertinya dia mulai kontraksi."Mas, sakit!" rintih Zola menangis, bulir-bulir keringat mulai bermunculan di dahinya."Bunda!" Nathan yang baru muncul dari dapur membawakan minum untuk Evan dibuat terkejut melihat Zola tampak kesakitan dalam dekapan Evan."Nathan, panggil Pak Awan suruh siapkan mobil!" perintah Evan seraya menyangga tubuh Zola.Nathan yang hendak menghampiri mereka pun mengurungkan niatnya dan memutar langkah, berlari keluar melalui pintu samping."Ayo, Sayang! Kita ke Rumah Sakit sekarang!" kata Evan membantu Zola untuk berdiri.Dengan nafas yang tersengal-sengal, Zola pun bangkit berdiri dengan berpegangan pada lengan Evan. Dia mengerang ketika merasakan desakan yang menyakitkan di bawah rahimnya, sepertinya ini memang sudah waktunya dia melahirkan."Pelan-pelan!" ucap Evan menggandeng Zola untuk berjalan bersamanya.Evan memanggil Mbok Titi untuk menyiapkan segala sesuatunya selagi mereka bera

  • Aku Hamil Anak Kamu, Mas!    Bab 143. Kontraksi.

    Zola akhirnya merasa lega karena bisa menghapus rasa ketakutannya, semua kenangan pahit beberapa tahun silam perlahan hilang seiring dengan hari yang berlalu. Terlebih, Evan dan Surendra selalu berusaha untuk menghiburnya dan menemaninya dalam keseharian.Dan tak terasa bulan demi bulan berlalu, dan kehamilan Zola sudah memasuki melewati trimester terakhir. Dan tinggal menunggu HPL saja dalam 2 minggu ke depan."Bunda, susunya belum diminum?" seru Nathan, dia muncul dari arah dapur sambil membawa nampan dengan segelas susu stroberi di atasnya. Itu susu hamil untuk Zola.Zola yang tengah membawa buku di kursi goyang menoleh dan menghela nafas panjang, dia lupa sudah menyeduh susu tadi. "Astaghfirullah! Maaf Bunda lupa!" keluh Zola sambil meletakkan bukunya dan menerima gelas susu dari tangan Nathan.Nathan hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memang merasa jika Zola akhir-akhir ini sering melewatkan sesuatu yang dilakukannya, contohnya ketika menyeduh susu hamiln

  • Aku Hamil Anak Kamu, Mas!    Bab 142. Makan Malam Berdua.

    Surendra tak jadi masuk ke rumah dan berdiri untuk melihat siapa yang akan turun dari mobil mewah itu. Dan kedua alisnya terangkat tinggi begitu melihat sosok yang keluar dari pintu belakang yang dibuka oleh sopirnya."Ya Allah, Nathan?" serunya gembira.Nathan yang baru saja menginjakkan kakinya pun langsung ceria melihat Surendra, anak yang sudah mulai beranjak remaja itu segera menghambur ke pelukan Surendra."Kakek Surendra!" serunya.Surendra terkekeh sembari menyentuh kepala Nathan, dia lalu berpaling ke arah mobil dan tersenyum lebar melihat Abraham berdiri dan turut tersenyum melihat pertemuan mereka."Assalaamu'alaikum!" sapa Abraham, sosoknya yang sama-sama memegang tongkat ketika berjalan membuat kedua pria tua itu serentak terbahak dengan keadaan mereka."Wa'laikum salaam!" sambut Surendra, "kita sudah tua dan harus memakai tongkat ketika berjalan," tambahnya seraya terkekeh.Abraham pun tertawa, "Ya-ya, memang sudah dimakan usia, dan beginilah kita!" balasnya. Keduanya pu

  • Aku Hamil Anak Kamu, Mas!    Bab 141. Quality Time.

    Evan terduduk lemas di anak tangga, dia baru saja mendengar percakapan Zola dan Surendra. Seharusnya itu menjadi kabar baik dan membahagiakan tentang akan hadirnya anggota baru keluarga mereka, darah dagingnya, buah cintanya dengan Zola. Tapi Evan juga menyadari sesuatu terjadi pada mental Zola, sepertinya kejadian beberapa tahun lalu yang melibatkan Danar meninggalkan trauma di alam bawah sadarnya. Dan itu semua kembali terusik dengan kehamilannya kini."Astaghfirullah!" desah Evan, dia merasa sedih dengan kondisi istrinya itu, dan dia yakin jika Surendra pun menyadarinya."Zola sayangku, kamu tidak perlu takut!" bisiknya sembari mengintip dari balik dinding. Dia menahan diri untuk tidak berlari ke sana dan memeluk istrinya itu, dia ingin memberi Zola waktu untuk menerima keadaannya sendiri, dan mendukungnya secara diam-diam.Dengan berat hati dan mengekang perasaannya, Evan melanjutkan langkahnya menaiki tangga dan menuju ke kamarnya."Aku harus memberinya ruang dan waktu, dan tida

  • Aku Hamil Anak Kamu, Mas!    Bab 140. Kabar tersembunyi.

    Evan meremas setir selagi dia mengemudi dalam perjalanan menuju rumah. Kata-kata Tama terngiang di kepalanya sejak tadi, dan itu tak urung membuatnya merasa masygul sendiri dengan perasaannya yang sudah meragukan Zola.Sejenak dia menoleh ke arah jok belakang, dimana ada sebuah buket bunga dan parsel manis dari toko kue favorit Zola, juga berbagai makanan kesukaaan istrinya itu yang sengaja dia borong sewaktu pulang tadi."Semoga ini cukup!" gumamnya dengan bibir tertarik berlawanan, pipinya memanas dan membuatnya terkekeh geli sendiri. Rasanya seperti mau menemui kekasih pujaan hati untuk pertama kali dan melamarnya."Ah, Zola ... kamu memang tak akan terganti selamanya sebagai istriku dan juga kekasihku!" desahnya membayangkan saat-saat pertama kali mereka bertemu di pesantren.Dari jauh terlihat gerbang pagar rumahnya yang megah, Evan pun melambatkan laju mobil dan membelokkan kemudi dengan lembut ke sana. Satpam penjaga yang tak mengira jika majikannya itu akan pulang lebih awal,

  • Aku Hamil Anak Kamu, Mas!    Bab 139. Keluh Kesah Evan. 

    Evan dibuat terkejut dengan sikap Zola yang ketus dan terkesan sangat kesal terhadapnya malam itu, sampai dia hanya bisa diam dan menggantung rahang dengan kepala penuh berbagai pertanyaan.Apa kesalahannya sampai membuat istrinya semarah itu?"Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan sebelumnya? Zola bahkan menepis tanganku dengan kasar!" gumamnya tak habis-habis sejak semalam, bahkan tidurnya tidak lelap dan hatinya gelisah tak menentu.Pagi itu pun Zola bangun lebih dulu seperti biasa. Evan yang memang sudah terjaga sebelum adzan shubuh berkumandang, hanya saja dia berpura-pura masih tidur dan ingin melihat sikap istrinya itu kali ini."Mas, bangun sudah shubuh!" Evan sejenak merasa tubuhnya tegang manakala merasakan belaian lembut di kepalanya, perlahan dia membuka mata dengan perasaan takut. Dan pemandangan di hadapannya kali ini menyejukkan mata dan membuatnya terjaga.Zola tersenyum lembut dan duduk di sampingnya, dia sepertinya baru bangun karena rambutnya masih tergerai. Hidungn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status