LOGINGuys, simpan energi kalian buat menikmati karma Ardian sama Lila aja ya🙏😭
Pagi-pagi sekali Ferdi sudah tampak rapi. Ia berdiri di depan cermin besar lemari sambil menyisir rambut yang entah sudah dilakukan berapa kali. Ia harus tampil sempurna karena ini pertama kalinya ia bertemu Melan setelah perempuan itu bercerai dengan Ardian."Huh! Rasanya seperti mau kencan," gumamnya yang terdengar menggelikan di telinganya sendiri.Bisa-bisanya ia berpikir seperti itu.Setelah memastikan penampilannya sempurna, gegas Ferdi meraih tas kerjanya dan berjalan ke luar rumah. Ia harus tiba lebih dulu di kantor sebelum Melan. Beruntung karena masih pagi, kendaraan yang berlalu-lalang tidak terlalu padat sehingga perjalanannya lancar. Hanya memerlukan waktu 30 menit lebih, Ferdi sudah tiba di depan calon kantornya.Agenda hari ini adalah mengurus berkas untuk mengesahkan posisi Melan di perusahaan. Ferdi berharap semoga tidak ada hambatan dan tidak lama lagi bisnis ini akan berjalan.Sudah lama sekali ia memimpikan bisa bekerja sama dengan Melan. Meski perempuan itu tidak
"Majelis hakim memutuskan untuk mengabulkan permohonan Penggugat terhadap Tergugat."Tuk, tuk, tuk!Ketukan palu hakim menjadi penanda bahwa kini Melan bukan lagi milik Ardian. Mereka tak lebih dari sekadar orang asing yang pernah membina rumahh tangga tanpa arah selama beberapa tahun ke belakang.Melan berdiri lebih dulu dan membungkuk hormat saat para hakim meninggalkan ruangan. Ardian pun melakukan hal yang sama. Sekarang hanya tersisa keduanya dan pengacara masing-masing di dalam ruangan yang mulai hening.Kedua pengacara tersebut seolah tahu bahwa sepasang manusia yang baru saja melepas status itu perlu waktu bedua untuk berbicara, maka mereka keluar meninggalkan Ardian dan Melan yang masih di sana.Ardian melangkah lebih dulu, berdiri di dekat Melan. Kedua tangannya terbuka dengan senyum yang dipaksakan.Awalnya Melan ragu. Namun, perlahan ia mendekat dan masuk ke dalam pelukan mantan suaminya itu."Maafkan semua kesalahanku selama ini, Mel. Semoga setelah ini kamu akan selalu b
Ardian sangat berharap ketika sang mediator bertanya, Melan akan menjawab bahwa ia ragu umtuk berpisah. Tapi ternyata sebaliknya, perempuan itu justru dengan tegas mengatakan bahwa keputusannya untuk bercerai sudah bulat. Mau tak mau, Ardian pun menjawab hal yang sama meski dalam hati berkata sebaliknya.Kini mediasi sudah lewat dan tidak menghasilkan apa-apa. Ardian hanya tinggal menunggu sidang keputusan, dan setelah itu ia resmi melepas Melan.Tuhan ... membayangkannya saja hati Ardian sangat sakit."Jika ada kehidupan lain, aku mau jadi suamimu lagi, Mel. Dan saat itu aku nggak akan menjadi Ardian yang bodoh seperti sekarang," gumamnya pada diri sndiri.Tangan Ardian mencengkeram kemudi kuat-kuat, sekuat bayangan senyum Melan ketika keluar dari ruang mediasi tadi. Perempuan itu mengulurkan tangan sambil berkata, "Terima kasih atas pengertiannya, Mas."Ardian menjabat tangan halus itu dengan gemetar. Menggenggamnya sebentar sebelum ditarik sang empunya tangan."Aaargh!"Ia tidak ta
"Akh!" Melan memekik karena terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Ia memegangi sebelah pipinya yang terasa panas akibat tamparan Tante Hera. Ya, entah apa maksud wanita paruh baya itu melakukan ini pada Melan."Jangan kamu pikir karena Ferdi sudah keluar dari rumah, terus kamu bisa bebas dekati dia!" bentak Tante Hera yang membuat Melan kini paham alasan wanta itu mengamuk sepagi ini."Tante ... berita itu nggak benar. Aku dan Ferdi cuma kerja sama. Kami nggak ada hubungan apa-apa." Melan mencoba menjelaskan.Namun, seperti biasa Tante Hera tidak pernah percaya padanya."Pembohong!" teriaknya. "Kamu pikir saya percaya, hah?! Itu pasti cuma akal-akalan kamu supaya bisa manfaatkan anak saya!"Melan menggeleng cepat. Ia hendak kembali menjelaskan agar Tante Hera tidak salah paham, tapi wanita itu sudah lebih dulu menunjuk wajah Melan sambil berkata, "Sekali lagi saya lihat kamu dekat-dekat dengan Ferdi, saya nggak akan segan-segan untuk berbuaat nekat sama kamu, Melan!"Wanita itu berb
Benar saja. Baru empat hari lalu berita perselingkuhan Ardian dan Lila menghebohkan jagat maya dan masih berlanjut sampai sekarang, kini berita terbaru yang tak kalah panasnya naik juga ke permukaan.Masih Dalam Proses Perceraian, Istri Presdir Wijaya Corp Tampak Sudah Menyiapkan Pengganti Sang Suami.Ini gila! Benar-benar gila! Berita itu benar-benar merendahkan harga diri Melan sebagi perempuan baik-baik. Dan jelas Ferdi tak terima. Maka pagi-pagi sekali ia menghubungi Melan lewat panggilan.Namun, panggilan pertama dan kedua tak mendapat jawaban. Mungkin perempuan itu masih tertidur sebab jam dinding masih menujukkan pukul 6 pagi. Beruntung ketika Ferdi mencoba panggilan ketiga, suara Melan akhirnya terdengar juga."Ada apa, Fer?" tanya perempuan itu dari seberang panggilan. Sepertinya bingung karena Ferdi menelpon terlalu pagi."Kamu udah baca berita terbaru, Mel?"Hening beberapa saat setelah Ferdi melontarkan pertanyaan itu. Melan tiba-tiba terdiam, membuat ia seketika khawatir.
Usai dari pengadilan, Ferdi membawa Melan ke sebuah tampat di mana nantinya perusahaan impiannya akan berdiri. Memang bukan gedung megah seperti milik Wijaya Corp, tapi cukup bagus dan luas untuk ukuran perusahan yang baru merintis."Sementara kita memang cuma ngontrak di gedung ini. Tapi aku yakin beberapa tahun setelahnya, gedung ini bisa kita miliki," jelas Ferdi.Melan hanya mengangguk sembari melangkah santai di samping laki-laki itu. Matanya menatap ke sekeliling, tampak takjub melihat ornamen juga meja-meja kerja sudah terpasang rapi di sana."Sejak kapan kamu siapkan semua ini?" tanya Melan penasaran.Ferdi menoleh pada perempuan di sampingnya, lantas tersenyum. "Sejak aku ribut sama Mama," katanya. "Sejak itu aku merasa perlu melepas keluarga Wijaya.""Tapi, Fer, Tante Hera pasti sedih. Gimanapun kamu itu anak satu-satunya. Apalagi, kamu tahu sendiri kalau keluarga besar Wijaya selalu mengucilkan mamamu.""Mungkin karena sifat Mama sendiri mereka menjauh," cetus Ferdi. Matany
Ketukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu."Mas Ardian?"Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi b
"Melan, tunggu!"Suara Ardian berhasil menghentikan langkah kaki Melan yang hendak menaiki anak tangga. Perempuan itu menoleh sedikit pada sang suami. "Apa?" tanyanya datar."Apa yang Ferdi bilang sama kamu?"Kening Melan jelas mengkerut mendengar pertanyaan itu. "Maksudnya?"Ardian maju selangkah
"Kamu yang harus menggugat cerai dia." Melan terpaku beberapa saat. Kemudian, ia mengubah posisi duduk dengan benar sambil menatap laki-laki di sampingnya. Saran Ferdi terdengar gila, tapi cukup menarik untuk dicoba. "Jadi, apa yang harus—" "Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?" Suara it
"Aku mau kita pisah!"Satu kalimat itu berhasil membuat tatapan Ardian menajam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh hingga urat-uratnya terlihat."Bisa ulangi sekali lagi?""Aku mau kita pisah, Mas Ardian!"Brak!Teriakan Melan terdengar bersamaan dengan suara gebrakan meja yang sangat k







