LOGIN"Kamu pakai baju siapa, Mel?"Ferdi menatap heran saat Melan keluar dari kamar. Perempuan itu mengenakan gaun selutut yang sangat pas di tubuhnya, dengan lengan berbentuk balon sederhana. Tentu Ferdi bingung karena sebelumnya mereka memang belum sempat mampir di toko pakaian. Ia pikir, yang akan dipinjamkan di rumah ini adalah pakaian Bi Ani.Sejujurnya Melan sedikit tidak nyaman. Ia meremas setiap sisi gaunnya. "Ini ... ini gaun istrinya Pak Raka.""Oh ...." Kali ini Ferdi mengangguk-angguk mengerti. "Ternyata istrinya tahu juga kalau kita mau—""Istrinya sudah meninggal, Fer.""Apa?!"Mata Ferdi membelalak lebar. Mulutnya sedkit menganga, terkejut dengan ucapan Melan. Ia lihat perempuan itu mengangguk seolah menguatkan jawabannya."Jadi ... selama ini dia duda?"Lagi, Melan hanya mengangguk.Sontak saja Ferdi berdecak kesal. Ia menarik lembut pinggang Melan dan merapatkan tubuhnya. "Kalau gitu, sekarang kita pergi ke mall," katanya sambil menatap lurus mata perempuan itu."Ck! Ini s
Ardian berdecak kesal saat kruknya hampir saja mengenai pembatas jalan. Ia benar-benar kesusahan dan muak dengan kondisi kakinya yang tak kunjung sembuh.Akibat kondisi kakinya yang seperti ini, ia tidak bisa menyetir dan ke mana-mana harus menggunakan taksi. Sialnya, taksi yang ditumpangi Ardian hari ini malah mogok di tengah perjalanan. Padahal, hanya sebentar lagi untuk tiba di tempat tujuan.Laki-laki itu melangkah dengan susah payah karena malas memberhentikan taksi lagi, sebab gedung restoran yang ia tuju sudah terlihat di depan sana. Rasanya Ardian sudah tidak sabar bertemu orang itu.Ya, orang yang beberapa hari lalu mengirim pesan ancaman pada Lila.Nampaknya orang itu sungguh-sungguh ingin membongkar sesuatu tentang Lila sehingga tiba-tiba mengajak bertemu tanpa Ardian minta. Suatu kesempatan yang tidak boleh Ardian lewatkan. Laki-laki itu sudah berhasil menyeberangi jalan ketika ekor matanya tak sengaja menangkap keberadaan Lila di belakang. Perempuan itu berdiri di sebera
Melan tengah bersantai di kamarnya ketika tiba-tiba tercium aroma aneh. Merasa penasaran, ia bangkit dari ranjang dan berjalan pelan ke dekat jendela. Disingkapnya tirai di jendela, hanya sedikit hingga membuat celah. Lewat celah itulah Melan mengintip. Dan betapa terkejutnya ia melhat seseorang berpakaian serba hitam tengah menaburkan suatu cairan ke seluruh bagian depan rumahnya. Tubuh Melan seketika bergetar. Apalagi saat ia menyaksikan dengan matanya sendiri ketika orang itu melempar korek api. Dan seketika api kecil dari korek api itu merembet, berubah menjadi api-api ganas. Melan segera mundur dari jendela. Ia meraih ponselnya untuk meminta bantuan, tapi urung karena pasti api akan lebih dulu melahapnya sebelum bantuan datang. Maka perempuan itu mencari cara lain. Hingga ia teringat pada halaman belakang kontrakan. Segera ia menyelamatkan diri lewat sana sambil terus memeluk ponselnya, sebab hanya benda itu yang kemungkinan bisa Melan selamatkan. Namun, ketika sampai di bela
Melan mengerjapkan matanya pelan saat merasakan cahaya yang menyilaukan. Sesuatu terasa masuk ke hidungnya ketika ia sadar. Perlahan ia mengangkat tangan dan meraba wajah, barulah paham jika kini selang oksigen sedang terpasang di hidungnya. Tapi, tunggu! Apa Melan sedang berada di rumah sakit? Perempuan itu segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar saja, ia sedang berada di sebuah ruangan serba putih. Tubuhnya tebaring di ranjang pesakitan. Bahkan kini jarum infus sudah tertancap di tangannya, entah sejak kapan. Melan sendiri tidak ingat apa-apa lagi setelah terakhir kali melihat wajah Ferdi dan tenggelam di pelukan laki-laki itu. "Ferdi?" Melan baru ingat pada laki-laki itu. "Di mana dia?" Tidak mungkin Melan dibawa ke rumah sakit ini sendirian, sebab ia ingat betul Ferdi pun ikut terjebak. "Apa jangan-jangan ... Ferdi berhasil bawa aku ke sini?" gumamnya pelan. Suaranya masih terdengar lemah. Perempuan itu memutuskan untuk mengubah posisi menjadi duduk. Ia
Kening Ferdi mengkerut saat melihat orang-orang yang berbondong tadi berjalan ke arah gang kontrakan Melan. Mobil-mobil di jalan sampai kesulitan lewat karena sebagian orang-orang itu membuat jalur kendaraan terhalang.Termasuk mobil taksi yang ditumpangi Ferdi. Karena itu ia memutuskan untuk berhenti beberapa ratus meter sebelum gang, dan memilih untuk melanjutkan dengan berjalan kaki. Sementara sang sopir sudah ia minta untuk menunggu di sana.Laki-laki itu berjalan sambil menenteng paper bag dari kafe tadi. Saat langkahnya sejajar dengan salah satu warga, gegas ia bertanya, "Ada apa, Pak? Kenapa orang-orang kumpul ke sini?""Itu, lho, Mas ... kontrakan di ujung sana kebakaran!"Degh!Langkah Ferdi seketika terhenti. Lututnya lemas setengah mati."Ko-kontrakan ujung?"Tuhan ... itulah kontrakan yang ditempati Melan!Butuh beberapa saat untuk Ferdi mengembalikan kesadaran sampai seorang warga tadi menepuk pundaknya."Mas! Masnya nggak apa-apa?"Seketika Ferdi langsung melempar paper
Sejak membaca pesan mencurigakan di ponsel Lila, isi kepala Ardian seketika penuh dengan pertanyaan. Siapa laki-laki itu? Apa hubungannya dengan Lila? Dan apa yang mereka lakukan di belakangnya?Beruntung Ardian sempat menyalin nomor tersebut sebelum menghapus pesan itu dari ponsel Lila. Ia bahkan sudah berusaha menghubungi lewat pesan, tetapi belum kunnjung mendapat balasan. Padahal ia sudah sangat penasaran.Akhrnyaa Ardian harus bersabar dan bersikap seolah tak ada apa-apa di depan Lila.Seperti saat ini. Ia diantar perempuan itu untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Diam-diam ia meneliti setiap ekspresi Lila, tapi tidak ada yang mencurigakan. Perempuan itu tampak tenang.Namun, seprtinya hal ini bagus untuk Ardian jadikan kesempatan."Aduh ... aku kebelet pipis, Mas. Aku tinggal ke toilet sebentar nggak apa-apa?"Ardian hanya mengangguk saja, membiarkan Lila bangkit dari kursi tunggu dan berjalan cepat hingga menghilang di koridor. Sementara ia sendiri kembali membawa pandan
"Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.
"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang
Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m
Ketukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu."Mas Ardian?"Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi b







