공유

AIP 63

last update 게시일: 2026-10-28 12:45:49

"Mel ...."

Tubuh Melan membeku saat Ferdi berhasil menemukannya. Kakinya seolah tertahan, tak bisa berlari lagi. Hingga ...

Grep!

Tubuhnya masih diam saat Ferdi memeluknya erat. Hanya air mata yang mengalir deras mewakili rasa bersalah dan takutnya saat ini.

"Tolong jangan Ferdi, Mel. Sebentar ... saja," bisik Ferdi parau.

Melan berdiri bagai patung dengan kedua tangan yang masih setia di samping tubuhnya. Hingga perlahan tangannya terangkat membalas pelukan laki-laki itu. Semakin lama, semakin
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Aku Ingin Pisah   AIP 72

    Ardian berdecak kesal saat kruknya hampir saja mengenai pembatas jalan. Ia benar-benar kesusahan dan muak dengan kondisi kakinya yang tak kunjung sembuh.Akibat kondisi kakinya yang seperti ini, ia tidak bisa menyetir dan ke mana-mana harus menggunakan taksi. Sialnya, taksi yang ditumpangi Ardian hari ini malah mogok di tengah perjalanan. Padahal, hanya sebentar lagi untuk tiba di tempat tujuan.Laki-laki itu melangkah dengan susah payah karena malas memberhentikan taksi lagi, sebab gedung restoran yang ia tuju sudah terlihat di depan sana. Rasanya Ardian sudah tidak sabar bertemu orang itu.Ya, orang yang beberapa hari lalu mengirim pesan ancaman pada Lila.Nampaknya orang itu sungguh-sungguh ingin membongkar sesuatu tentang Lila sehingga tiba-tiba mengajak bertemu tanpa Ardian minta. Suatu kesempatan yang tidak boleh Ardian lewatkan. Laki-laki itu sudah berhasil menyeberangi jalan ketika ekor matanya tak sengaja menangkap keberadaan Lila di belakang. Perempuan itu berdiri di sebera

  • Aku Ingin Pisah   AIP 71

    Melan tengah bersantai di kamarnya ketika tiba-tiba tercium aroma aneh. Merasa penasaran, ia bangkit dari ranjang dan berjalan pelan ke dekat jendela. Disingkapnya tirai di jendela, hanya sedikit hingga membuat celah. Lewat celah itulah Melan mengintip. Dan betapa terkejutnya ia melhat seseorang berpakaian serba hitam tengah menaburkan suatu cairan ke seluruh bagian depan rumahnya. Tubuh Melan seketika bergetar. Apalagi saat ia menyaksikan dengan matanya sendiri ketika orang itu melempar korek api. Dan seketika api kecil dari korek api itu merembet, berubah menjadi api-api ganas. Melan segera mundur dari jendela. Ia meraih ponselnya untuk meminta bantuan, tapi urung karena pasti api akan lebih dulu melahapnya sebelum bantuan datang. Maka perempuan itu mencari cara lain. Hingga ia teringat pada halaman belakang kontrakan. Segera ia menyelamatkan diri lewat sana sambil terus memeluk ponselnya, sebab hanya benda itu yang kemungkinan bisa Melan selamatkan. Namun, ketika sampai di bela

  • Aku Ingin Pisah   AIP 70

    Melan mengerjapkan matanya pelan saat merasakan cahaya yang menyilaukan. Sesuatu terasa masuk ke hidungnya ketika ia sadar. Perlahan ia mengangkat tangan dan meraba wajah, barulah paham jika kini selang oksigen sedang terpasang di hidungnya. Tapi, tunggu! Apa Melan sedang berada di rumah sakit? Perempuan itu segera mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar saja, ia sedang berada di sebuah ruangan serba putih. Tubuhnya tebaring di ranjang pesakitan. Bahkan kini jarum infus sudah tertancap di tangannya, entah sejak kapan. Melan sendiri tidak ingat apa-apa lagi setelah terakhir kali melihat wajah Ferdi dan tenggelam di pelukan laki-laki itu. "Ferdi?" Melan baru ingat pada laki-laki itu. "Di mana dia?" Tidak mungkin Melan dibawa ke rumah sakit ini sendirian, sebab ia ingat betul Ferdi pun ikut terjebak. "Apa jangan-jangan ... Ferdi berhasil bawa aku ke sini?" gumamnya pelan. Suaranya masih terdengar lemah. Perempuan itu memutuskan untuk mengubah posisi menjadi duduk. Ia

  • Aku Ingin Pisah   AIP 69

    Kening Ferdi mengkerut saat melihat orang-orang yang berbondong tadi berjalan ke arah gang kontrakan Melan. Mobil-mobil di jalan sampai kesulitan lewat karena sebagian orang-orang itu membuat jalur kendaraan terhalang.Termasuk mobil taksi yang ditumpangi Ferdi. Karena itu ia memutuskan untuk berhenti beberapa ratus meter sebelum gang, dan memilih untuk melanjutkan dengan berjalan kaki. Sementara sang sopir sudah ia minta untuk menunggu di sana.Laki-laki itu berjalan sambil menenteng paper bag dari kafe tadi. Saat langkahnya sejajar dengan salah satu warga, gegas ia bertanya, "Ada apa, Pak? Kenapa orang-orang kumpul ke sini?""Itu, lho, Mas ... kontrakan di ujung sana kebakaran!"Degh!Langkah Ferdi seketika terhenti. Lututnya lemas setengah mati."Ko-kontrakan ujung?"Tuhan ... itulah kontrakan yang ditempati Melan!Butuh beberapa saat untuk Ferdi mengembalikan kesadaran sampai seorang warga tadi menepuk pundaknya."Mas! Masnya nggak apa-apa?"Seketika Ferdi langsung melempar paper

  • Aku Ingin Pisah   AIP 68

    Sejak membaca pesan mencurigakan di ponsel Lila, isi kepala Ardian seketika penuh dengan pertanyaan. Siapa laki-laki itu? Apa hubungannya dengan Lila? Dan apa yang mereka lakukan di belakangnya?Beruntung Ardian sempat menyalin nomor tersebut sebelum menghapus pesan itu dari ponsel Lila. Ia bahkan sudah berusaha menghubungi lewat pesan, tetapi belum kunnjung mendapat balasan. Padahal ia sudah sangat penasaran.Akhrnyaa Ardian harus bersabar dan bersikap seolah tak ada apa-apa di depan Lila.Seperti saat ini. Ia diantar perempuan itu untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Diam-diam ia meneliti setiap ekspresi Lila, tapi tidak ada yang mencurigakan. Perempuan itu tampak tenang.Namun, seprtinya hal ini bagus untuk Ardian jadikan kesempatan."Aduh ... aku kebelet pipis, Mas. Aku tinggal ke toilet sebentar nggak apa-apa?"Ardian hanya mengangguk saja, membiarkan Lila bangkit dari kursi tunggu dan berjalan cepat hingga menghilang di koridor. Sementara ia sendiri kembali membawa pandan

  • Aku Ingin Pisah   AIP 67

    Senyuman indah terus terukir di wajah tampan Ferdi. Ia masih teringat bagaimana Melan memberinya salam perpisahan di bandara tadi.Saat ia kembali dari toilet dan berjalan tergesa menuju area keberangkatan, tiba-tiba saja ia melihat Melan tengah berdiri kebingungan. Tanpa pikir panjang, Ferdi menghampiri perempuan itu."Melan?"Perempuan itu berbalik. Lalu ...Grep!Tiba-tiba sepasang tangan ramping melingkar di leher Ferdi. Tubuhnya sampai membeku karena terkejut dengan apa yang terjadi. Untuk beberapa saat ia hanya diam tanpa membalas pelukan Melan."Ke-kenapa, Mel?" Laki-laki itu baru tersadar dan perlahan membalas pelukan perempuan di depannya."Ada apa?" bisiknya.Namun, Melan malah menggeleng dalam pelukannya.Entah berapa lama mereka berpelukan, sampai Ferdi mendengar pengumuman bahwa penumpang maskapai yang akan ia tumpangi, diminta untuk segera bersiap-siap.Melan yang juga mendengar, perlahan melepaskan pelukannya."Sorry. Aku cuma mau kasih salam perpisahan," kata perempua

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 7

    "Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 6

    "Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 5

    Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 4

    Ketukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu."Mas Ardian?"Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi b

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status