로그인“Nara, kamu nggak perlu memaksakan diri.”
Suara Ibu Zalina terdengar parau. Perempuan itu berdiri beberapa langkah di belakang Naradhiya, berusaha menahan air mata yang sejak tadi terus menggenang di pelupuk matanya. “Kata dokter peluangnya sangat kecil. Kami sudah ikhlas. Jangan sampai kamu menghabiskan uang untuk sesuatu yang—” “Saya tahu apa yang saya lakukan, Bu.” Naradhiya memotong dengan suara rendah, tetapi tegas. Tatapannya masih tertuju pada pintu ICU yang tertutup rapat di hadapannya. “Selama jantungnya masih berdetak, berarti Zalina masih punya kesempatan untuk hidup. Saya nggak akan menyerah.” Zalina yang berdiri di balik tubuh lelaki itu terdiam. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya ketika mendengar kalimat tersebut. Selama lima tahun menjadi istri Naradhiya, Zalina tidak pernah mendengar Naradhiya berbicara seperti itu. Lelaki itu selalu tenang, terkendali, bahkan dalam keadaan paling sulit sekalipun. Seolah tidak ada sesuatu di dunia ini yang cukup penting untuk membuatnya kehilangan kendali. Namun sekarang, hanya karena dirinya terbaring di dalam ruang ICU, Naradhiya sampai terlihat seperti itu. “Saya pamit sebentar.” Naradhiya akhirnya berbalik. Tatapannya beralih kepada kedua orang tua Zalina. “Saya masih punya beberapa hal yang harus diurus. Kalau ada perkembangan apa pun dari dokter, segera hubungi saya.” Ayah Zalina mengangguk pelan. “Kamu mau ke mana?” “Saya akan mengurus beberapa hal di luar.” Naradhiya tidak menjelaskan lebih jauh. Ia hanya mengambil ponsel yang sejak tadi berada di dalam genggamannya, lalu berjalan meninggalkan lorong ICU. Zalina spontan mengikutinya. Bukan karena ingin mencegah Naradhiya pergi, tetapi karena ia penasaran. Setelah lima tahun bersama, untuk pertama kalinya ia melihat lelaki itu begitu takut kehilangannya. Sebenarnya kenapa? Bukankah selama ini Naradhiya selalu terlihat begitu dingin kepadanya? Zalina berjalan beberapa langkah di belakangnya, memperhatikan punggung lelaki itu yang terus menjauh. Selama lima tahun, ia merasa sudah cukup mengenal Naradhiya Lelaki itu memang tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Ia memberikan nafkah dan memenuhi semua kebutuhan rumah tangga mereka. Namun hanya itu. Naradhiya bahkan tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Tidak pernah memberinya hadiah, apalagi menunjukkan perhatian kecil yang membuat Zalina merasa dirinya istimewa. Lalu kenapa sekarang lelaki itu justru terlihat begitu ingin mempertahankannya? Rasa penasaran membuat Zalina mempercepat langkah. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya ada di balik sikap Naradhiya kali ini. Zalina terus mengikutinya hingga Naradhiya berbelok ke sebuah lorong yang jauh lebih sepi. Tidak ada pasien atau keluarga yang berlalu-lalang di sana. Lelaki itu baru berhenti setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Naradhiya mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu mencari sebuah nama di layar. Begitu sambungan terhubung, ia langsung berkata, “Pak Arman, saya mau membicarakan soal perceraian saya.” Zalina yang berdiri tidak jauh darinya langsung memasang telinga. Zalina yang berdiri tidak jauh darinya langsung memasang telinga. “Perceraian itu,” gumam Zalina lirih dengan senyum getir. Jadi benar. Sikap Naradhiya di depan orang tuanya tadi memang hanya karena ingin terlihat sebagai suami yang bertanggung jawab. Pada akhirnya, lelaki itu tetap ingin mengakhiri pernikahan mereka. Zalina menundukkan kepala. Ada rasa perih yang kembali menyelusup ke dadanya, meski ia sendiri sudah tidak seharusnya merasakan apa pun. Namun, detik berikutnya, suara Naradhiya membuatnya kembali mengangkat kepala. “Saya mau membatalkannya.” Mata Zalina melebar. Naradhiya terdiam sejenak, mendengarkan suara pengacaranya di seberang telepon. “Tidak perlu menunggu sidang berikutnya. Urus pencabutan gugatan itu secepatnya.” Zalina hanya bisa menatapnya. Bukankah selama ini Naradhiya tidak pernah menunjukkan keberatan sedikit pun ketika Zalina meminta perpisahan? “Kalau ada dokumen yang perlu saya tanda tangani, kirimkan ke saya.” Nada bicara Naradhiya tetap tenang, tetapi terdengar jauh lebih tegas daripada biasanya. “Pokoknya, saya tidak mau perceraian ini dilanjutkan.” Zalina membeku. Ia tidak tahu harus merasa senang atau justru semakin bingung. Selama lima tahun, ia menunggu Naradhiya melakukan sesuatu untuk mempertahankan pernikahan mereka. Namun lelaki itu tidak pernah melakukannya. Bahkan, sampai sidang perceraian terakhir yang seharusnya tadi dilaksanakan, Naradhiya sama sekali tidak pernah terlihat keberatan. Tapi sekarang …. “Apa karena aku sekarat, kamu jadi kasian, Mas?” gumam Zalina sekali lagi, seolah masih tak percaya. Belum sempat Zalina memikirkan kalimat lain yang akan keluar lagi dari mulut suaminya, ponsel Naradhiya kembali berdering. Naradhiya langsung mengangkat panggilan itu. Kali ini panggilan dari ayah Zalina. “Nara, cepat ke ICU. Kondisi Zalina tiba-tiba drop. Dokter mau melakukan tindakan darurat dan butuh persetujuanmu.” Naradhiya langsung terlihat menegang. “Aku segera ke sana.” Panggilan terputus. Tanpa membuang waktu, Naradhiya langsung berlari menuju ruang ICU. Zalina hanya berdiri diam, menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Ia tidak lagi mengejar. Sebenarnya apa yang ada di kepala lelaki itu?Beberapa minggu setelah Nara menadatangani surat cerai dan lelaki itu pergi dari rumah, kehidupan Alena benar-benar berubah seperti mayat hidup. Berkali-kali ia bangun kesiangan karena biasanya Nara akan menbangunkannya. Ia bahkan sudah tidak pernah sarapan karena tidak ada yang memasak untuknya. Rumah berantakan dan beberapa pakaian berserakan.Alena benar-benar sedang masa terburuknya. Ia pikir bercerai dengan Nara akan membuat hidupnya lebih tenang, minimal ia tidak lagi merasa diabaikan. Tapi Alena salah, ia benar-benar merasa kesepian. Beberapa kali ibunya datang untuk menjenguknya, memastikan ia baik-baik saja, dan lagi-lagi Alena memasang topengnya."Seminggu lagi sidang talak. Kamu beneran nggak mau berubah pikiran?" tanya Dailah memastikan. "Ibu tau kamu masih sayang sekali dengan Nara. Ibu nggak paham kenapa kalian cerai hanya soal Nara yang nggak pernah menunjukkan cintanya sama kamu. Berumah tangga itu, bukan lagi ....""Ibu," potong Alena. "Bagiku, cinta di dalam rumah ta
"Wajahmu pucat, Len. Kamu yakin baik-baik aja?" tanya Rania, teman sekantor Alena.Meja mereka saling berhadapan sehingga Rania bisa melihat jelas wajah Alena yang tampak jauh lebih pucat daripada biasanya. Sejak datang pagi tadi, perempuan itu hampir tidak mengangkat kepala dari layar laptopnya. Tangannya memang terus bergerak di atas keyboard, tetapi tatapannya kosong, seolah pikirannya tertinggal di tempat lain.Alena menoleh sekilas, memaksakan senyum tipis. "Aku cuma pusing sedikit."Rania mengernyit. Mereka sudah berteman bertahun-tahun. Alena bahkan orang yang merekomendasikannya bekerja di perusahaan ini. Ia hafal betul kebiasaan sahabatnya. Senyum setipis itu selalu menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan."Kamu berangkat sendiri tadi? Tumben. Mas Nara ke mana?"Pertanyaan itu membuat tangan Alena berhenti mengetik. Napasnya tertahan sesaat.Semalam, Nara kembali mengakhiri pertengkaran mereka dengan pindah tidur ke kamar sebelah. Lalu pagi tadi, seperti tid
"Saya nggak akan menuntut apa pun dari Mas Nara. Saya cuma mau cerai," kata Alena pada Brian setelah mereka basa basi sebentar.Toh, mereka belum memiliki anak. Suatu keputusan yang tidak pernah disesali Alena karena memilih untuk menundanya. Bukan apa, Alena hanya ingin benar-benar memiliki anak kalau Naradhiya sudah jatuh cinta padanya. Walaupun kata orang, anak bisa menumbuhkan cinta di antara mereka."Apa tidak ingin dibicarakan lebih dulu? Mungkin Anda melakukan ini karena emosi sesaat," kata Brian berusaha menengahi.Alena menggeleng. "Keputusan saya sudah bulat, Pak."Lelaki yang usianya mungkin sama dengan suaminya itu hanya menghela napas berat, lalu mengangguk paham. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat."Tanda tangan di sini. Sebenarnya kalau tidak ada masalah yang berujung dengan harta gono gini atau masalah hak asuh anak, Anda tidak perlu kuasa hukum. Tapi karena Anda meminta saya mendampingi, jadi saya hanya menjalankan tugas." Brian menatap Alena dengan tatapan kasihan.
“Nara, kamu nggak perlu memaksakan diri.” Suara Ibu Zalina terdengar parau. Perempuan itu berdiri beberapa langkah di belakang Naradhiya, berusaha menahan air mata yang sejak tadi terus menggenang di pelupuk matanya. “Kata dokter peluangnya sangat kecil. Kami sudah ikhlas. Jangan sampai kamu menghabiskan uang untuk sesuatu yang—” “Saya tahu apa yang saya lakukan, Bu.” Naradhiya memotong dengan suara rendah, tetapi tegas. Tatapannya masih tertuju pada pintu ICU yang tertutup rapat di hadapannya. “Selama jantungnya masih berdetak, berarti Zalina masih punya kesempatan untuk hidup. Saya nggak akan menyerah.” Zalina yang berdiri di balik tubuh lelaki itu terdiam. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya ketika mendengar kalimat tersebut. Selama lima tahun menjadi istri Naradhiya, Zalina tidak pernah mendengar Naradhiya berbicara seperti itu. Lelaki itu selalu tenang, terkendali, bahkan dalam keadaan paling sulit sekalipun. Seolah tidak ada sesuatu di dunia ini yang cukup penting un
“Pasien di ruang tiga belas ... jantungnya sempat berhenti dua kali malam tadi.” Suara bisik-bisik dua perawat menjadi hal pertama yang didengar Zalina ketika kesadarannya perlahan kembali. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan serba putih yang terasa begitu asing. Zalina menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari sumber suara. Namun, begitu pandangannya jatuh pada ranjang di tengah ruangan, tubuhnya seketika membeku. Di atas ranjang itu, terbaring seorang wanita dengan wajah pucat, bibir kering dan pecah-pecah, selang oksigen terpasang di hidung, serta rambut panjang yang berantakan di atas bantal. Itu wajahnya sendiri. Zalina berdiri mematung di sudut ruang ICU. Entah bagaimana, dia bisa melihat tubuhnya sendiri dari luar sana. “Sudah hubungi keluarganya?” tanya dokter itu kepada perawat yang ada di sebelahnya. Perawat itu menggelengkan kepalanya. “Sudah, kata suaminya nanti akan datang setelah pekerjaannya selesai.” Dokter itu hanya menghela napas







