Share

Pembatalan

Author: Mumtaza wafa
last update publish date: 2026-06-11 14:39:08

“Nara, kamu nggak perlu memaksakan diri.”

Suara Ibu Zalina parau, nyaris pecah. Wanita paruh baya itu berdiri beberapa langkah di belakang Naradhiya, menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya. 

“Kata dokter peluangnya sangat kecil. Kami sudah ikhlas. Jangan sampai kamu menghabiskan uang untuk sesuatu yang—”

“Saya tahu apa yang saya lakukan, Bu.” Naradhiya memotong dengan suara rendah tetapi tegas. Matanya masih terpaku pada pintu ICU yang tertutup rapat di hadapannya. “Selama jantungnya masih berdetak, berarti Zalina masih punya kesempatan untuk hidup. Saya nggak akan menyerah.”

Zalina yang berdiri di belakangnya terdiam. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, hangat sekaligus asing, karena setelah lima tahun menjadi istrinya, baru kali ini dia mendengar Naradhiya berbicara seolah kehilangan dirinya adalah sesuatu yang benar-benar tidak sanggup diterima lelaki itu.

Naradhiya selalu tenang dan terkendali, bahkan ketika keadaan sedang buruk sekalipun. Namun sekarang, hanya karena dirinya terbaring di ruang ICU, ketenangan itu seolah perlahan runtuh.

“Saya pamit sebentar.” Naradhiya berbalik menatap kedua mertuanya. “Saya masih ada beberapa hal yang harus diurus. Kalau ada perkembangan dari dokter, langsung hubungi saya.”

Ayah Zalina mengangguk pelan. “Kamu mau ke mana?”

“Ada yang perlu saya urus di luar.”

Tanpa menjelaskan lebih jauh, Naradhiya mengambil ponselnya lalu meninggalkan lorong ICU.

Zalina spontan mengikuti. Bukan karena ingin mencegahnya pergi, melainkan karena rasa penasaran yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya. Setelah lima tahun, baru kali ini dia melihat Naradhiya seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu yang berharga.

Bukankah selama ini lelaki itu selalu dingin kepadanya?

Nafkah selalu diberikan, kebutuhan rumah tangga selalu tercukupi, tetapi hanya sampai di situ. Tidak pernah ada ucapan selamat ulang tahun, hadiah kecil, atau perhatian sederhana yang membuatnya merasa benar-benar diingat sebagai seorang istri.

Jadi, mengapa sekarang Naradhiya terlihat begitu ingin mempertahankannya?

Zalina mempercepat langkah, terus mengikuti sampai Naradhiya berbelok ke lorong yang lebih sepi. Lelaki itu baru berhenti setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitarnya, lalu mengeluarkan ponsel dan mencari sebuah nama di layar.

Begitu sambungan tersambung, dia langsung berkata, “Pak Arman, saya mau bicara soal perceraian saya.”

Zalina yang berdiri tak jauh darinya langsung memasang telinga. Senyum getir perlahan muncul di wajahnya.

“Perceraian itu …”

Jadi, benar dugaannya. Semua sikap Naradhiya di depan orang tuanya tadi hanya sandiwara agar terlihat seperti suami yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, lelaki itu tetap ingin mengakhiri pernikahan mereka.

Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dada Zalina, meski dia sendiri tidak tahu mengapa masih terasa sakit. Bukankah seharusnya setelah semua yang terjadi, dia sudah tidak punya alasan untuk berharap?

Namun, detik berikutnya, suara Naradhiya membuatnya kembali mengangkat kepala.

“Saya mau membatalkannya.”

Mata Zalina melebar.

Naradhiya terdiam sesaat, mendengarkan suara di seberang telepon sebelum kembali berkata, “Nggak perlu tunggu sidang berikutnya. Urus pencabutan gugatan itu secepatnya.”

Zalina hanya mampu menatapnya. Bukankah selama ini Naradhiya tidak pernah keberatan ketika dia meminta berpisah?

Bahkan sampai sidang terakhir yang seharusnya berlangsung hari ini, lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk mempertahankan pernikahan mereka.

“Kalau ada dokumen yang perlu saya tanda tangani, kirim ke saya.” Suara Naradhiya tetap tenang, tetapi tegas. “Pokoknya, saya nggak mau perceraian ini dilanjutkan.”

Naradhiya hanya berdiri diam dengan ponsel masih menempel di telinganya. Tatapannya kosong ke arah lorong, seolah sedang memikirkan sesuatu yang bahkan tidak sanggup dia ucapkan. 

Zalina membeku. Ada rasa lega yang seharusnya membuatnya bahagia, tetapi justru bercampur dengan kebingungan yang semakin besar.

Lima tahun dia menunggu Naradhiya melakukan sesuatu untuk mempertahankan pernikahan mereka, tetapi lelaki itu tidak pernah melakukannya.

Lalu sekarang, ketika dirinya sudah terbaring di ICU dan bahkan tidak tahu apakah masih memiliki kesempatan untuk kembali, Naradhiya justru memutuskan membatalkan perceraian itu.

“Apa karena aku sekarat, kamu jadi kasihan, Mas?” gumam Zalina, hampir seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Belum sempat dia menemukan jawabannya, ponsel Naradhiya kembali berdering. Layar yang sempat menggelap menampilkan nama ayah Zalina, dan Naradhiya langsung mengangkatnya.

“Nara, cepat ke ICU. Kondisi Zalina tiba-tiba drop. Dokter mau melakukan tindakan darurat, butuh persetujuanmu sekarang.”

Wajah Naradhiya seketika menegang.

“Saya segera ke sana.”

Panggilan terputus. Tanpa membuang waktu, dia langsung berlari menuju ICU.

Zalina hanya berdiri diam, menatap punggung suaminya yang semakin menjauh dengan langkah tergesa. Kali ini, dia tidak lagi mengejarnya.

Ada terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya, terlalu banyak pertanyaan yang tidak mampu dia jawab sendiri.

Sebenarnya, apa yang sedang berkecamuk di kepala suaminya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
kata orang bahkan batu sekalipun jika tergerus air terus menerus akan hancur jua
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Pasar Malam Kedua

    “Hai.”Arash tersenyum lebar, memberikan bungkus plastik permen kapas pada Zalina.“Ingat nggak, Mbak? Kamu pernah minta ini pas koma, tapi kamu nggak bisa makan jadi kamu minta aku kasih ke ibumu,” kata Arash berusaha mengingatkan kembali pada saat Zalina koma dan tentu saja kenangan itu hanya miliknya dan wanita itu.Zalina hanya tersenyum tipis, menerima uluran permen itu dan menyimpannya di sebelahnya lalu menoleh pada Arash yang duduk di sebelahnya. Pagi tadi, Zalina mengirimnya pesan dan meminta untuk bertemu, tentu saja setelah mendapatkan izin dari Naradhiya.Ia merasa harus menyelesaikan ini. Selain karena Arash yang terus mengatakan dirinya memiliki hutang, juga tentang ingatan Zalina yang muncul tiba-tiba. Wajah Arash pernah ia lihat sebelumnya, entah di mana, tapi jelas bukan dalam mimpinya ketika dirinya mengalami tidur panjang di rumah sakit.“Suamimu nggak cemburu, Mbak?” tanya Arash menatap Zalina yang fokus ke depan.Cantik.Wanita itu memakai riasan tipis, wajah cera

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Wajah Familiar

    “Za.”Naradhiya mendesah berat begitu melihat Zalina yang masuk begitu saja ke dalam kamar begitu sampai di rumah. Pertanyaan di mobil tadi bahkan belum sempat ia jawab, tapi sepertinya Zalina sudah menyimpulkan sendiri jawabannya.Naradhiya membuka pintu kamar, rasanya ikut sakit melihat Zalina yang berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong. Bahunya merosot, ia mendekat, lalu berdoro tepat di belakang Zalina. Dadanya menempel pada punggung wanita itu.Sesaat ia sadar kalau Zalina tengah menangis.“Za, aku sudah bilang ….”“Mas kenapa dulu aku memutuskan untuk menunda kehamilan?” tanya Zalina, padahal ia sudah tahu jawabannya karena ia sudah mengingatnya.“Maafkan aku, Za.”Zalina membalikkan badan, ia tidak menatap Naradhiya. Kepalanya menunduk, menatap kakinya yang berada di antara kedua kaki lelaki di depannya.“Kamu belum jawab, Mas.”“Soal?” tanya Naradhiya.“Apa kalau aku nggak bisa hamil, kamu akan menceraikanku?” Zalina mengulang pertanyaannya di mobil tadi.Naradhiya men

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Harapan yang Pupus

    “Mama dan papa datang?”Zalina menganggukkan kepala seraya mengambil jas dan tas Naradhiya lalu membawanya masuk ke dalam rumah dan menyampirkan di atas sofa ruang tengah. Ia ke dapur, mengambil segelas air, lalu memberikan pada suaminya.“Iya.”“Mereka ada bilang sesuatu?” tanya Naradhiya penasaran.Meski ia yakin kedua orang tuanya tidak akan mengatakan sesuatu yang menyakiti Zalina, tapi tetap saja ada rasa khawatir dalam dadanya. Zalina masih dalam kondisi psikis yang belum benar-benar pulih dan ia takut ada kata-kata dari orang tuanya yang menyakiti Zalina.“Ada, Mas,” jawab Zalina kembali menerima sodoran gelas dari Naradhiya dan meletakkan di atas meja.Wanita itu mendekat, melepas dari suaminya dengan pelan. Naradhiya menunduk, hidungnya menempel pada ujung kepala Zalina. Ia bisa mencium aroma sampo istrinya, sampai akhirnya ia mencium kepala zalina lembut.“Apa?”Zalina menyelipkan tangannya di pinggang Naradhiya. “Cucu, mama dan papa minta cucu.”Naradhiya terdiam sejenak, l

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Rencana Kehamilan

    “Berhenti bertingkah dan ikuti kemauan Papa. Kami sudah menyelamatkanmu, Arash. Kalau bukan karena Papa, kamu sudah mendekam di penjara!”Arash tersenyum sinis. “Kalau itu bisa menebus rasa bersalahku, aku nggak masalah.”“Dan membiarkan mamamu mati? Kamu pikir siapa yang membuat dia sakit jantung sampai dirawat di rumah sakit?”Arash tidak mampu menjawab, jika sudah menyangkut ibunya ia akan kalah telak. Satu-satunya orang yang membuatnya bertahan di dalam rumah itu dan membuatnya menjadi boneka untuk lelaki di depannya ini. Bahkan ada harga yang harus dikorbankan untuk semua yang pria itu lakukan untuknya.Pria itu tersenyum sinis. “Jangan membangkang. Ikuti kemauan papa, kamu akan menjadi penerus keluarga ini, Rash.”“Menjadi penjilat dan pengkhianat?” Arash tampak tidak gentar.“Memangnya apa lagi? Kamu bisa hidup mewah karena ini semua, fasilitas yang kamu nikmati adalah hasil kerja keras papa. Jadi, jangan berisik karena kamu sama saja seperti Papa.”Arash mengepalkan tangannya.

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Kenapa Harus Kamu, Mbak?

    “Jangan bohong, Rash!”“Apa sih?”“Aku peringatkan kamu, jangan deketin Mbak Zalina. Dia sudah menikah, rumah tangganya ….”Nakara menghentikan ucapannya ketika mendengar suara tawa mengejek Arash. Ia sudah curiga sejak ia membawa lelaki itu ke rumah Zalina. Nakara melihat tatapan yang tidak biasa dari temannya itu.Mungkin, kalau kakaknya bukan wanita bersuami, ia akan membiarkan. Tapi yang terjadi sekarang adalah, Naradhiya dan Zalina sedang membangun kembali rumah tangga yang sebelumnya sempat hancur.“Aku tau banyak tentang mereka. Kalau kecelakaan itu nggak terjadi, mungkin kakakmu udah jadi janda,” kata Arash menyeringai licik membuat Nakara menggeram kesal.“Jaga mulutmu!”“Faktanya begitu kan, Ka? Dan saat itu juga kakakmu sedang ke pengadilan agama. Asal kamu tau, dia nggak bahagia dengan pernikahannya, jadi berhenti meminta dia bertahan di sisi suaminya!” seru Arash membuat Nakara terdiam.Apa yang dikatakan Arash tidak sepenuhnya salah. Zalina memang tidak pernah mengatakan

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai   Kejujuran Naradhiya

    “Semua orang membohongiku, Za. Mereka membuatku terus merasa bersalah atas kepergian Azalea. Mobilnya kecelakaan, dan ternyata dia meninggal dalam keadaan hamil. Bukan anakku, tapi anak Ryan, sahabat dekatku sendiri.”Dada Naradhiya terasa begitu lega setelah mengatakan semua itu. Tidak ada lagi kebohongan yang disembunyikan, ia ingin memulai semuanya dari awal, termasuk dengan kejujuran.Beberapa kali bertemu dengan Galang, temannya itu selalu menasehatinya demikian. Masa lalu mereka sudah penuh dengan salah paham, maka buatlah masa depan lebih baik dengan membangun kepercayaan Zalina.Dan kini mereka saling berpelukan di atas ranjang, menyalurkan semua rasa yang telah lama dipendam. Naradhiya meminta maaf atas apa yang dilakukannya di masa lalu, dan Zalina merasa dihargai pertama kalinya selama lebih dari lima tahun menikah.“Za, maaf kalau semuanya kacau gara-gara aku yang masih terbelenggu dalam masa lalu. Tapi aku pastikan kalau kenangan itu sudah nggak ada lagi. Aku sudah mengha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status