공유

Aku Kembali Sebelum Bercerai
Aku Kembali Sebelum Bercerai
작가: Mumtaza wafa

ICU

작가: Mumtaza wafa
last update 게시일: 2026-06-11 12:21:01

“Pasien di ruang tiga belas ... jantungnya sempat berhenti dua kali malam tadi.”

Suara bisik-bisik dua perawat menjadi hal pertama yang didengar Zalina ketika kesadarannya perlahan kembali. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan serba putih yang terasa begitu asing.

Zalina menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari sumber suara. Namun, begitu pandangannya jatuh pada ranjang di tengah ruangan, tubuhnya seketika membeku.

Di atas ranjang itu, terbaring seorang wanita dengan wajah pucat, bibir kering dan pecah-pecah, selang oksigen terpasang di hidung, serta rambut panjang yang berantakan di atas bantal.

Itu wajahnya sendiri.

Zalina berdiri mematung di sudut ruang ICU. Entah bagaimana, dia bisa melihat tubuhnya sendiri dari luar sana.

“Sudah hubungi keluarganya?” tanya dokter itu kepada perawat yang ada di sebelahnya.

Perawat itu menggelengkan kepalanya. “Sudah, kata suaminya nanti akan datang setelah pekerjaannya selesai.”

Dokter itu hanya menghela napas. Sementara itu, Zalina yang masih sedikit kebingungan akhirnya bisa sedikit menangkap apa yang terjadi padanya.

Beberapa jam yang lalu, Zalina masih berada di dalam mobil. Dia sedang dalam perjalanan menuju pengadilan untuk menghadiri sidang putusan perceraiannya dengan Naradhiya, suaminya.

Lima tahun pernikahan membuat Zalina terbiasa dengan satu kenyataan pahit. Naradhiya tidak pernah benar-benar menganggap dirinya ada.

Pria itu selalu sibuk dengan pekerjaan. Rapat, perjalanan bisnis, urusan perusahaan, dan berbagai hal lain selalu lebih penting daripada dirinya. Bahkan untuk sekadar mengingat ulang tahun istrinya sendiri, Naradhiya tidak pernah merasa perlu melakukannya.

Zalina sudah berkali-kali mencoba memahami. Berkali-kali pula dia meyakinkan dirinya bahwa Naradhiya hanya terlalu sibuk.

Namun, lama-kelamaan, dia sadar bahwa masalahnya bukan karena Naradhiya tidak punya waktu.

Pria itu memang tidak pernah menyisakan waktu untuknya.

Dan sekarang, dalam kondisi Zalina yang di ujung kematian pun pria itu masih lebih mementingkan pekerjaannya.

“Hubungi keluarganya yang lain, dengan kondisinya yang seperti ini, khawatirnya perlu tindakan mendadak yang perlu persetujuan wali terlebih dahulu,” ujar sang dokter lagi.

“Baik, Dok.”

Zalina bergeming. Setelah semua yang terjadi, sayangnya dia bahkan tidak sempat melihat akhir dari pernikahan itu.

Dalam perjalanan menuju pengadilan, mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Setelah itu, Zalina tidak lagi mengingat apa pun.

Dan sekarang, dia berdiri di sini. Menatap tubuhnya sendiri yang terbaring tak berdaya.

Zalina perlahan berjalan mendekati ranjang. Tangannya terulur, berniat menyentuh jemari yang terkulai lemas di atas selimut biru rumah sakit.

Namun, tangannya justru menembus begitu saja.

Zalina terdiam. “Apa aku sudah mati?”

Monitor di samping ranjang terus berbunyi teratur, memperlihatkan garis hijau yang naik turun. Satu-satunya tanda bahwa tubuhnya masih bertahan.

Zalina menatap tubuhnya sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak tahu apakah dirinya sudah mati atau masih hidup. Yang jelas, dia tidak lagi berada di dalam tubuh itu.

“Halo?” Zalina mencoba memanggil seseorang. “Ada yang bisa dengar aku?”

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Dulu, Zalinya tak pernah dianggap ada oleh suaminya ketika berada di rumah, dan sekarang semakin nyata terjadi di dunia luar.

Zalina akhirnya duduk di kursi yang berada tak jauh dari ranjangnya sendiri. Entah sudah berapa lama dia berada di sana. Waktu terasa berjalan begitu lambat ketika tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan.

Sesekali, Zalina menatap tubuhnya sendiri yang masih terbaring di atas ranjang. Rasanya sagat aneh.

Dia seharusnya takut. Seharusnya panik karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Namun, setelah memikirkan semuanya, Zalina justru merasa lelah.

Mungkin karena selama lima tahun terakhir, dia memang sudah terlalu terbiasa merasa sendirian.

Hingga malam semakin larut.

Zalina masih duduk di sana ketika jarum jam hampir menunjukkan tengah malam.

Suara langkah kaki terdengar dari lorong rumah sakit.

Zalina mengangkat kepalanya.

Seorang pria berjalan mendekat dari ujung koridor. Langkahnya tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti terlalu lama di rumah sakit ini.

Naradhiya.

Pria itu masih mengenakan pakaian kerja yang sama. Kemeja putihnya tampak sedikit kusut, jas gelap tersampir di salah satu lengannya, sementara sebuah tas kerja tergantung di tangan yang lain. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian bekerja, tetapi ekspresinya tetap dingin seperti biasa.

Naradhiya berhenti tepat di depan kaca ruang ICU.

Zalina spontan berdiri dan mendekati pria itu. Entah mengapa, rasanya ada harapan kecil yang muncul di dalam hatinya. Mungkin Naradhiya akan panik setelah melihat kondisinya. Mungkin setidaknya, pria itu akan menunjukkan sedikit kekhawatiran.

Namun nyatanya, tidak ada apa pun.

Naradhiya hanya berdiri di sana dan menatap tubuh Zalina yang terbaring di ranjang ICU. Tanpa ekspresi apapun.

Zalina ikut menatap wajah suaminya dari sisi lain kaca. Sampai akhirnya, satu senyum tipis yang terasa getir muncul di wajahnya.

“Sepertinya... aku memang tidak pernah penting bagimu.”

Zalina masih tersenyum getir ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.

Ayah dan ibunya datang dengan wajah penuh kesedihan. Sang ibu bahkan sudah menangis begitu melihat kondisi putrinya dari balik kaca ICU.

“Zalina... kalau kamu sudah lelah, Mama dan Papa ikhlas. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bertahan. Maafkan kami, Nak. Pergilah dengan tenang.”

Zalina terdiam. Senyum getir kembali muncul di wajahnya.

Ternyata bukan hanya dirinya yang sudah bersiap untuk kehilangan nyawa. Orang tuanya pun sudah bersiap untuk melepaskannya.

Zalina menoleh pada Naradhiya. Dia yakin, pria itu juga akan melakukan hal yang sama.

Namun, suara Naradhiya tiba-tiba terdengar.

“Saya tidak akan melepaskan Zalina.”

Zalina langsung membeku.

Naradhiya menatap kedua orang tua Zalina dengan ekspresi dingin.

“Saya akan mencari pengobatan terbaik untuknya. Kalau perlu, bawa dia ke luar negeri. Berapapun biayanya, saya akan tanggung. Selama masih ada kesempatan untuk menyelamatkannya, saya tidak akan menyerah.”

Zalina menatap suaminya tanpa berkedip. Dia benar-benar tidak mengerti.

Bukankah selama ini Naradhiya tidak pernah peduli padanya?

Lalu kenapa sekarang pria itu justru menjadi orang yang paling tidak ingin melepaskannya?

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Sebelum Ikrar Talak

    Beberapa minggu setelah Nara menadatangani surat cerai dan lelaki itu pergi dari rumah, kehidupan Alena benar-benar berubah seperti mayat hidup. Berkali-kali ia bangun kesiangan karena biasanya Nara akan menbangunkannya. Ia bahkan sudah tidak pernah sarapan karena tidak ada yang memasak untuknya. Rumah berantakan dan beberapa pakaian berserakan.Alena benar-benar sedang masa terburuknya. Ia pikir bercerai dengan Nara akan membuat hidupnya lebih tenang, minimal ia tidak lagi merasa diabaikan. Tapi Alena salah, ia benar-benar merasa kesepian. Beberapa kali ibunya datang untuk menjenguknya, memastikan ia baik-baik saja, dan lagi-lagi Alena memasang topengnya."Seminggu lagi sidang talak. Kamu beneran nggak mau berubah pikiran?" tanya Dailah memastikan. "Ibu tau kamu masih sayang sekali dengan Nara. Ibu nggak paham kenapa kalian cerai hanya soal Nara yang nggak pernah menunjukkan cintanya sama kamu. Berumah tangga itu, bukan lagi ....""Ibu," potong Alena. "Bagiku, cinta di dalam rumah ta

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Kekecewaan

    "Wajahmu pucat, Len. Kamu yakin baik-baik aja?" tanya Rania, teman sekantor Alena.Meja mereka saling berhadapan sehingga Rania bisa melihat jelas wajah Alena yang tampak jauh lebih pucat daripada biasanya. Sejak datang pagi tadi, perempuan itu hampir tidak mengangkat kepala dari layar laptopnya. Tangannya memang terus bergerak di atas keyboard, tetapi tatapannya kosong, seolah pikirannya tertinggal di tempat lain.Alena menoleh sekilas, memaksakan senyum tipis. "Aku cuma pusing sedikit."Rania mengernyit. Mereka sudah berteman bertahun-tahun. Alena bahkan orang yang merekomendasikannya bekerja di perusahaan ini. Ia hafal betul kebiasaan sahabatnya. Senyum setipis itu selalu menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan."Kamu berangkat sendiri tadi? Tumben. Mas Nara ke mana?"Pertanyaan itu membuat tangan Alena berhenti mengetik. Napasnya tertahan sesaat.Semalam, Nara kembali mengakhiri pertengkaran mereka dengan pindah tidur ke kamar sebelah. Lalu pagi tadi, seperti tid

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Bertemu Kuasa Hukum

    "Saya nggak akan menuntut apa pun dari Mas Nara. Saya cuma mau cerai," kata Alena pada Brian setelah mereka basa basi sebentar.Toh, mereka belum memiliki anak. Suatu keputusan yang tidak pernah disesali Alena karena memilih untuk menundanya. Bukan apa, Alena hanya ingin benar-benar memiliki anak kalau Naradhiya sudah jatuh cinta padanya. Walaupun kata orang, anak bisa menumbuhkan cinta di antara mereka."Apa tidak ingin dibicarakan lebih dulu? Mungkin Anda melakukan ini karena emosi sesaat," kata Brian berusaha menengahi.Alena menggeleng. "Keputusan saya sudah bulat, Pak."Lelaki yang usianya mungkin sama dengan suaminya itu hanya menghela napas berat, lalu mengangguk paham. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat."Tanda tangan di sini. Sebenarnya kalau tidak ada masalah yang berujung dengan harta gono gini atau masalah hak asuh anak, Anda tidak perlu kuasa hukum. Tapi karena Anda meminta saya mendampingi, jadi saya hanya menjalankan tugas." Brian menatap Alena dengan tatapan kasihan.

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Pembatalan

    “Nara, kamu nggak perlu memaksakan diri.” Suara Ibu Zalina terdengar parau. Perempuan itu berdiri beberapa langkah di belakang Naradhiya, berusaha menahan air mata yang sejak tadi terus menggenang di pelupuk matanya. “Kata dokter peluangnya sangat kecil. Kami sudah ikhlas. Jangan sampai kamu menghabiskan uang untuk sesuatu yang—” “Saya tahu apa yang saya lakukan, Bu.” Naradhiya memotong dengan suara rendah, tetapi tegas. Tatapannya masih tertuju pada pintu ICU yang tertutup rapat di hadapannya. “Selama jantungnya masih berdetak, berarti Zalina masih punya kesempatan untuk hidup. Saya nggak akan menyerah.” Zalina yang berdiri di balik tubuh lelaki itu terdiam. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya ketika mendengar kalimat tersebut. Selama lima tahun menjadi istri Naradhiya, Zalina tidak pernah mendengar Naradhiya berbicara seperti itu. Lelaki itu selalu tenang, terkendali, bahkan dalam keadaan paling sulit sekalipun. Seolah tidak ada sesuatu di dunia ini yang cukup penting un

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    ICU

    “Pasien di ruang tiga belas ... jantungnya sempat berhenti dua kali malam tadi.” Suara bisik-bisik dua perawat menjadi hal pertama yang didengar Zalina ketika kesadarannya perlahan kembali. Ia membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan serba putih yang terasa begitu asing. Zalina menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari sumber suara. Namun, begitu pandangannya jatuh pada ranjang di tengah ruangan, tubuhnya seketika membeku. Di atas ranjang itu, terbaring seorang wanita dengan wajah pucat, bibir kering dan pecah-pecah, selang oksigen terpasang di hidung, serta rambut panjang yang berantakan di atas bantal. Itu wajahnya sendiri. Zalina berdiri mematung di sudut ruang ICU. Entah bagaimana, dia bisa melihat tubuhnya sendiri dari luar sana. “Sudah hubungi keluarganya?” tanya dokter itu kepada perawat yang ada di sebelahnya. Perawat itu menggelengkan kepalanya. “Sudah, kata suaminya nanti akan datang setelah pekerjaannya selesai.” Dokter itu hanya menghela napas

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status