LOGIN"Bangun, Kael! Kalau lu terus terlelap di atas lantai kaca ini, tubuh kita bakal terserap habis ke dalam celah hampa!" seru Eryx tajam, menarik kerah jaket peretas muda itu dengan kasar.
Kael terbatuk keras, memuntahkan cairan bening dari mulutnya saat udara dingin tanpa oksigen menyergap paru-parunya. Pria itu mengerjap cepat, memindai sekeliling area yang membentang luas tanpa batas tepi. Permukaan tempat mereka berpijak memantulkan bayangan langit kelam berbintang merah menyala. Tid
"Cepat masuk sebelum pintu ini tertutup total, pasukan pembersih sudah berada di ujung tebing!" seru pria tua berbalut jubah usang itu, menarik lengan Braelyn dengan sigap ke dalam lorong batu.Eryx dan Kael melompat masuk bersamaan tepat saat rentetan tembakan laser drone menghantam dinding luar tebing dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Pintu batu tebing bergeser menutup rapat secara otomatis, memutus total suara bising di luar dan menyisakan keheningan di dalam terowongan bawah tanah yang temaram. Bau mesiu seketika tergantikan oleh aroma tanah lembap yang bersih.Braelyn mengatur napasnya yang memburu, menatap lekat-lekat sosok pria tua yang berdiri di hadapannya dengan sorot mata penuh wibawa. Obor kuno di tangan pria itu memantulkan pendaran hangat di dinding batu yang dipenuhi ukiran mekanik purba."Lu... bagaimana lu bisa tahu kami akan datang lewat jalur ini?" tanya Kael curiga, meraba saku jaketnya untuk memastikan chip memori data aman di te
"Loncat sekarang sebelum lantai menara ini runtuh total menimbun kita!" seru Eryx tajam, menepis pecahan besi membara dengan batangan besinya.Ledakan susulan menghantam dinding beton menara komunikasi, menciptakan lubang besar yang menganga lebar ke arah jurang bukit. Asap hitam pekat mengepul memenuhi ruangan sempit, mencekat pernapasan tiga buronan tersebut. Kael terbatuk keras sambil menyeret tubuhnya merayap mendekati tepian lubang ledakan."Chip memori datanya sudah di tanganku, kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat!" balas Braelyn tegas, menyembunyikan benda kecil itu ke dalam saku dalam jaketnya.Pesawat tempur tanpa awak di luar menembakkan rentetan sinar laser biru yang membelah udara pagi. Semburan api membakar sisa konsol utama, meruntuhkan langit-langit menara dalam satu kedipan mata. Eryx menarik lengan Braelyn dan Kael secara bersamaan, melompat menerobos lubang dinding menuju lereng bukit curam."Kita meluncur bebas ke arah semak berd
Suara serak itu memantul di dinding besi berkarat, menciptakan gema yang menusuk telinga di tengah kesunyian bukit. Eryx langsung menarik tubuh Braelyn ke belakang, mengarahkan batangan besinya lurus ke lubang speaker menara. Kael merinding hebat, menyapu sekeliling area dengan tatapan siaga penuh."Siapa yang memasang penyadap di tempat terpencil ini, sistemnya bahkan sudah mati ratusan tahun lalu," desis Kael tegang, melangkah mundur perlahan.Layar monitor darurat berkedip liar, memproyeksikan cahaya biru pucat ke wajah Braelyn yang menatap lekat-lekat barisan kode sandi Wilson. Wanita itu melepaskan genggaman Eryx, melangkah pasti melewati ambang pintu baja tanpa ragu sedikit pun. Bau ozon tipis bercampur debu tua langsung menyergap rongga hidungnya saat ia berdiri tepat di depan konsol utama. Tidak ada jebakan digital atau aliran listrik berbahaya yang menyengat kulit telapak tangannya."Jangan mendekati konsol itu sendirian, Braelyn, kita tidak tahu jebaka
"Bangun, Kael! Kalau lu terus terlelap di atas tanah basah ini, paru-paru lu bakal penuh dengan lendir lumpur!" seru Eryx tajam, menepuk keras pipi peretas muda itu.Kael terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air jernih dari mulutnya saat udara lembap beraroma pinus menyergap rongga dadanya. Pria itu mengerjap cepat, memindai sekeliling area hutan lebat yang diselimuti kabut tipis keperakan. Tidak ada lagi lantai kaca abadi ataupun jurang antardimensi yang merobek kesadaran mereka.Braelyn bangkit perlahan dengan bantuan dahan pohon terdekat, merasakan denyut nadi di pergelangannya kembali normal tanpa sengatan sirkuit. Wanita itu mengepalkan telapak tangannya, mendapati pendaran emas di kulitnya telah sepenuhnya lenyap berganti kulit manusia biasa. Inti reaktor dan kristal memori di saku jaketnya kini berubah menjadi batu kerikil biasa yang kehilangan seluruh daya magisnya. Keheningan hutan purba itu terasa begitu nyata, memecah ketegangan sisa pertempuran panjang di ruan
"Makhluk itu bukan sekadar ilusi, ribuan mata merahnya terhubung langsung dengan titik pusat kehancuran realitas!" seru Kael histeris, merangkak menghindari serpihan kaca yang menghujani lantai. Permukaan kaca abadi di bawah mereka bergetar hebat, mengeluarkan bunyi derit bernada tinggi yang menusuk gendang telinga. Peretas muda itu menyapu pandangan ke sekeliling, mendapati dinding jurang merah semakin mendekat dengan kecepatan penuh.Eryx mengayunkan batangan besinya dengan sekuat tenaga, menangkis cakar kegelapan yang menyambar liar dari perut sang entitas raksasa. Percikan api biru berpijar terang, menerangi wajah mereka yang dipenuhi peluh dan sisa darah kering. Makhluk bermata seribu itu mengaum memekakkan telinga, melayangkan hantaman gelombang kejut yang meretakkan lantai kaca abadi.Braelyn berdiri tegak di tengah terpaan angin badai kosmik, mengepalkan tangan kanannya hingga pendaran emas murni menyilaukan mata. Wanita itu menatap tajam ke arah inti dada sang
"Bangun, Kael! Kalau lu terus terlelap di atas lantai kaca ini, tubuh kita bakal terserap habis ke dalam celah hampa!" seru Eryx tajam, menarik kerah jaket peretas muda itu dengan kasar.Kael terbatuk keras, memuntahkan cairan bening dari mulutnya saat udara dingin tanpa oksigen menyergap paru-parunya. Pria itu mengerjap cepat, memindai sekeliling area yang membentang luas tanpa batas tepi. Permukaan tempat mereka berpijak memantulkan bayangan langit kelam berbintang merah menyala. Tidak ada lagi reruntuhan laboratorium besi ataupun bau mesiu yang menyesakkan dada. Suara desir angin berfrekuensi rendah bergema tipis di atas hamparan lantai kaca abadi tersebut."Di mana kita sekarang? Tempat ini tidak punya koordinat di dalam memori gawiku," gumam Kael lirih, meraba saku jaketnya yang kosong melompong.Braelyn bangkit perlahan dengan napas memburu, merasakan denyut hangat yang menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh. Wanita itu mengepalkan jari-jarinya e
“Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at







