LOGIN"Kael, hancurin jalurnya! Sekarang!" Braelyn menjerit sekencang-kencangnya, menahan bobot tubuhnya sendiri yang kian terasa asing dan berat saat kristal statis mulai merambat naik hingga ke batas dadanya. Sisa-sisa gaun safir birunya kini sepenuhnya melarut, berubah menjadi barisan deret matriks digital yang membelenggu kakinya ke ubin marmer lobi. Di depannya, Adrian Wilson atau raga yang kini sepenuhnya menjadi boneka Lucien—mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Jemari pria itu me
"Pegang erat tanganku, kalau lu lepas sekarang, keberadaan lu bakal terhapus tanpa sisa!" teriak Braelyn di tengah badai data merah yang menyayat udara.Tubuh mereka melesat bebas menembus lorong piksel yang berputar liar dengan kecepatan kilat. Suara dengung frekuensi tinggi menghantam gendang telinga bagai ribuan jarum tajam. Braelyn mengerahkan seluruh sisa pendaran emas di telapak tangannya untuk menepis serpihan kode biner yang beterbangan. Cahaya merah dari mata raksasa di bawah sana semakin membesar, menelan seluruh ruang pandang mereka dalam sekejap."Aku tidak bisa merasakan jemariku lagi, rasanya seperti tubuhku tercabut dari tulang!" balas Kael tersengal-sengal di sampingnya.Peretas muda itu memejamkan mata rapat-rapat saat gelombang panas membakar kulit wajahnya. Tarikan gravitasi mendadak berbalik arah menjadi dorongan mahadahsyat yang melemparkan mereka keluar dari pusaran. Benturan keras menghantam lantai logam tipis yang bergetar hebat di bawah
"Kalian mengira air palung itu akan membawa pada kebebasan, padahal itu hanya saluran pembuangan akhir dari sejarah," suara dingin itu memecah keheningan ruangan.Sosok wanita berambut perak tersebut perlahan membalikkan badannya menghadap ke arah dua buronan yang basah kuyup. Tatapan matanya yang keperakan memantulkan kilau api dari kehancuran galaksi di balik jendela kaca raksasa. Jubah putih panjangnya berkibar lembut tertiup angin hampa yang merembes dari celah dinding yang retak. Di tangannya, sebuah bola kristal berdenyut memancarkan frekuensi yang sama persis dengan yang mereka temui di kuil purba."Siapa kau sebenarnya, kenapa semua hal di tempat ini selalu berpusat pada garis keturunan kami?" bentak Kael, suaranya bergetar menahan amarah dan sisa rasa takut yang mencekam.Wanita itu tersenyum tipis tanpa menyisakan kehangatan sedikit pun di garis wajahnya yang pucat. Langkah kakinya mendekat perlahan dengan irama yang tenang di atas ubin logam yang berg
"Jangan biarkan cairan itu menyedot lututmu, tarik kakimu sekarang, Kael!" bentak Braelyn, suaranya tersengat rasa panik yang membakar dada.Cairan hitam legam itu mendidih hebat di sekeliling pergelangan kaki mereka, menarik tubuh ke bawah bak pasir hisap bercampur logam cair. Braelyn menghantamkan kedua telapak tangannya ke permukaan pasir yang mengeras, berusaha memecah cengkeraman sebelum menenggelamkan mereka sepenuhnya. Sosok bersayap logam menjulang tinggi di hadapan, menatap tajam tanpa secercah emosi di dalam bola mata ungu terang. Setiap detik yang terbuang di tempat terkutuk itu terasa bagai bilah pisau yang perlahan menembus leher."Kakiku sudah mati rasa, rasanya seperti membeku di dalam balok baja!" seru Kael terengah-engah, memukul-mukul tanah berpasir yang kini berubah sekeras semenPeretas muda itu mengerahkan seluruh sisa tenaga ototnya untuk mencabut tungkai kanannya dari cengkeraman lumpur pekat tersebut. Butiran pasir hitam menempel tebal di
"Jangan mundur selangkah pun atau kita akan terhapus dari sejarah selamanya!" teriak Eryx, suaranya parau menembus desing plasma yang membakar udara."Aku tidak bisa menahan mereka lebih lama, perisai ini mulai retak!" sahut Braelyn, napasnya tersengal di antara pendaran energi keemasan yang kian meredup di telapak tangannya.Eryx mengayunkan batangan besinya dengan pola liar, memukul mundur dua prajurit berzirah yang mencoba menyudutkan mereka. Ubin lantai hitam bergetar hebat di bawah pijakannya, mengeluarkan percikan listrik statis yang menusuk kulit. Setiap benturan senjata menghasilkan dentuman logam yang merambat ke seluruh sudut kubah. Di hadapan mereka, sang leluhur berdiri tenang, mengamati perlawanan sia-sia itu dengan senyum meremehkan."Kalian sungguh naif jika mengira sisa energi simulasi itu bisa menandingi otoritas pencipta sistem," ujar sang leluhur dingin sambil mengangkat pedang plasmannya tinggi-tinggi
Cahaya putih menyilaukan mata perlahan meredup, menyisakan dengung frekuensi rendah yang menggetarkan tulang belakang. Gravitasi lenyap sepenuhnya, membuat tubuh mereka melayang bebas di tengah hamparan ruang hampa tanpa batas. Puing-puing benteng berterbangan berputar liar di sekeliling, hancur menjadi debu kosmik dalam hitungan detik. Udara terasa hampa tanpa oksigen, memaksa paru-paru membakar sisa energi terakhir untuk bertahan hidup."Kael! Tangkap tanganku sebelum pusaran ini memisahkan kita!" teriak Eryx histeris, merentangkan lengan di tengah badai partikel yang berputar kencang.Pria itu mengayunkan tubuhnya melawan arus gravitasi buatan yang menarik mereka ke dalam lorong gelap. Serpihan logam tajam melesat nyaris menggores lehernya tanpa ampun. Napasnya memburu di balik bibir yang mulai membiru akibat suhu ekstrem ruang hampa. Cengkeraman tangannya mengeras pada batangan besi yang kini kehilangan pendaran birunya."Aku tidak bisa melihat apa-apa, tari
"Tutup jalur evakuasi sektor tiga sekarang juga sebelum gelombang pertama plasma menembus kubah pelindung!" bentak Eryx sambil mengempaskan batangan besinya ke lantai baja.Percikan api berpijar terang setiap kali hantaman senjata itu berbenturan dengan puing beton yang runtuh. Asap belerang mengepul pekat dari koridor utama yang membara akibat hantaman rudal udara. Suara sirene meraung memekakkan telinga, bersahutan dengan deru mesin pesawat tempur musuh di luar dinding benteng. Para pejuang koloni berlarian mengambil posisi di balik tembok pertahanan darurat."Sistem hidrolik gerbang utama sudah lumpuh total akibat korsleting listrik," balas Kael terengah-engah, mengetik cepat di atas konsol darurat yang berkedip merah. Rembesan darah segar menetes dari pelipis peretas muda itu akibat terjangan gelombang kejut sebelumnya. Jemarinya menari liar memindahkan sisa daya baterai ke menara meriam plasma otomatis. "Kita harus menahan mereka manual dari sini!"Braelyn
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn
“Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening







