เข้าสู่ระบบMinari bermimpi lagi.
Masih seperti sebelumnya. Seorang pria berlutut di hadapannya. Bahu pria itu bergetar. Tangisnya terdengar menyayat hati, seolah ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan darinya. “Rooha...” Suara itu kembali memanggil nama yang tidak dikenali Minari. “Rooha...” Pria itu mengangkat wajahnya. Mata hazel. Mata yang entah kenapa membuat dada Minari terasa sesak. Mimpi itu selalu hanya sampai sana. Ia tidak melakukan apa-apa dan langsung terbangun. “Hah!” Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi pelipis hingga leher. Kepala Minari kembali berdenyut. Bahkan lebih sakit dibanding biasanya. Minari memejamkan mata sambil menekan pelipisnya dengan kedua tangan. Belakangan ini mimpi itu datang semakin sering. Dan setiap kali terbangun, rasa sakit di kepalanya juga semakin kuat. Setelah dipikir-pikir, semua itu mulai terjadi sejak ia berhenti meminum obat penenang pemberian Alistair. Papa selalu mengira ia menghabiskan obat tersebut sesuai jadwal. Padahal tidak. Selama bertahun-tahun Minari diam-diam membuangnya. Ia membenci rasa mual yang selalu muncul setelah meminum obat itu. Dan sekarang, sebagai gantinya, ia harus menerima mimpi aneh yang terus menghantuinya. Minari mengembuskan napas panjang. Tidak. Hari ini ia tidak mau memikirkan mimpi itu. Hari ini adalah hari kebebasannya. Hari yang sudah lama ia tunggu. Ia turun dari tempat tidur lalu membuka tirai lebar-lebar. Sinar matahari pagi langsung memenuhi kamar. Cuacanya cerah. Sempurna untuk keluar rumah. Beberapa saat kemudian Minari keluar dari mansion mengenakan pakaian olahraga. Sepatu lari. Jam tangan olahraga. Serta rambut yang diikat sederhana. Ia melambai pada kedua asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang makan. “Aku pergi sebentar!” “Baik, Nona!” Minari tersenyum. Lalu berlari kecil meninggalkan mansion. Perasaan itu kembali muncul. Ringan. Lega. Bebas. Dulu, bahkan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah saja ia harus ditemani beberapa pengawal. Jika ingin pergi lebih jauh, harus ada izin. Harus ada jadwal. Harus ada laporan. Sekarang tidak. Tidak ada yang mengikutinya. Tidak ada yang mengawasinya. Tidak ada yang bertanya sedang pergi ke mana. Kali ini Minari bisa memilih sendiri ke mana kakinya melangkah. Ia berlari menyusuri jalanan kompleks. Udara pagi terasa sejuk. Deretan pepohonan tinggi menaungi jalan. Burung-burung berkicau dari kejauhan. Sungguh sederhana. Namun bagi Minari, semuanya terasa luar biasa. Sesampainya di area danau kecil yang berada di tengah kawasan mansion, Minari memperlambat langkahnya. Pemandangan di sana jauh lebih indah dibanding yang ia bayangkan. Air danau berkilauan diterpa sinar matahari. Hamparan bunga bermekaran di sisi jalan. Bangku-bangku taman berjajar menghadap air. Minari tersenyum lebar. “Indah sekali.” Ia bahkan sengaja berjalan memutar mengelilingi taman. Memotret beberapa bunga menggunakan ponselnya. Duduk sebentar di tepi danau. Mengulurkan tangan untuk menyentuh permukaan air. Hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Namun tidak baginya. Karena selama ini ia tidak pernah benar-benar memiliki kebebasan untuk melakukan semua itu. HUF! Minari menjatuhkan tubuhnya ke bangku taman. Meski keringat membasahi dahi, tapi hatinya terasa jauh lebih ringan. Mungkin beginilah rasanya hidup normal. Mungkin beginilah yang selama ini ia lewatkan. Saat sedang menikmati pemandangan itulah, perhatiannya tertarik pada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. Seseorang berjalan mendekati mobil itu. Tidak butuh waktu lama untuk Minari mengenali orang yang menghampiri mobil itu adalah Evan. Pria itu mengenakan pakaian santai berwarna gelap. Rambutnya masih sedikit basah. Tampak segar. Rapi. Dan menyebalkan sempurna. Karena bahkan saat berpakaian sederhana pun ia tetap terlihat seperti model majalah. Namun Evan tidak sendirian. Ada seorang wanita bersamanya. Wanita itu berjalan di samping Evan sambil berbicara mengenai sesuatu. Keduanya tampak cukup akrab. Evan membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut. Wanita itu masuk. Lalu Evan menyusul dari sisi yang lain. Minari mengamati dari kejauhan. “Apa itu pacarnya?” Pertanyaan itu muncul begitu saja. Minari langsung menggeleng. Kenapa ia malah memikirkan hal seperti itu? Tentu saja pria seperti Evan pasti punya pasangan. Justru akan aneh jika tidak. “Tentu saja.” Minari menyandarkan tubuhnya pada bangku. “Tidak masuk akal kalau orang sesempurna dia masih sendiri.” Mobil itu belum bergerak. Namun sebelum Minari sempat melihat lebih lama, sebuah bayangan tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya menghalangi pandangan. Minari mendongak. Dan langsung mendecak pelan. “Zian.” “Wah, ternyata benar.” Zian menyeringai. “Kau memang ada di sini.” “Apa yang kau lakukan?” “Aku yang seharusnya bertanya.” Zian melipat kedua tangan. “Kenapa calon istriku berkeliaran sendirian sejak pagi?” Minari memutar bola matanya. “Aku lari pagi.” “Di luar?” “Iya.” “Bukannya di mansionmu ada treadmill?” “Aku sedang menikmati kebebasanku. Apa menariknya hanya lari di rumah saja.” Jawaban itu membuat Zian terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk kecil. “Baiklah. Itu masuk akal.” Minari mengangkat alis. “Lalu kau sendiri sedang apa di sini?” “Aku mengikutimu.” “Apa?” “Jangan salah paham.” Zian cepat-cepat mengangkat tangan. “Aku cuma memastikan kau tidak tersesat.” “Aku bukan anak kecil.” “Benar.” Zian mengangguk. “Tapi kau juga orang yang baru tinggal beberapa hari di sini.” “Dan?” “Dan kalau kau hilang, papamu akan menyalahkanku.” Minari mendengus. “Ternyata itu alasannya.” Zian menyeringai. “Aku tidak mau dicap sebagai tunangan yang membiarkan calon istrinya ditemukan satpam sedang menangis karena tersesat.” “Kau menyebalkan.” Anehnya, Minari malah tertawa kecil. Zian terlihat puas karena berhasil membuatnya bereaksi. Pria itu lalu duduk di sampingnya. “Ngomong-ngomong.” Ia mengeluarkan sesuatu dari belakang punggung. “Kurasa kau lupa membawa ini.” Sebuah botol minuman dingin. Minari langsung menyambarnya. Karena memang sejak tadi ia mulai merasa haus. “Terima kasih.” “Tidak perlu berterima kasih.” “Kenapa?” “Karena aku membelinya untuk diriku sendiri.” “Lalu kenapa diberikan padaku?” “Aku kasihan melihatmu seperti orang yang hampir pingsan.” “Dasar menyebalkan.” “Terima kasih.” Mereka saling melotot beberapa detik. Lalu sama-sama tertawa. Untuk pertama kalinya sejak pertunangan mereka, suasana di antara keduanya terasa tidak terlalu buruk. Setelah menghabiskan setengah botol minuman, Minari berdiri. “Aku pulang.” “Hah?” “Aku sudah selesai olahraga.” “Serius? Padahal aku baru datang.” Minari mengabaikannya. Ia mulai berjalan menuju arah mansion. Dan seperti yang sudah diduga, Zian ikut berjalan di sampingnya sambil terus mengoceh. Mereka bahkan sempat berdebat soal siapa yang lebih keras kepala. Sampai tidak menyadari sebuah mobil melintas perlahan di samping mereka. Hanya Minari yang sempat menoleh. Itu mobil Evan. Mobil itu terus bergerak menuju gerbang keluar kawasan mansion. Lalu menghilang. *** Di dalam mobil. Wanita di kursi sebelah sedang meneliti sesuatu pada tablet yang berada di pangkuannya. Beberapa menit kemudian ia menutup perangkat itu. “Persiapan acaranya sudah selesai, Pak Evan.” Evan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada spion. Di sana, beberapa saat yang lalu, ia sempat melihat Minari berjalan bersama Zian. Kini jalanan itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa. “Pak Evan?” Evan akhirnya mengalihkan pandangan. “Persiapan acara sudah selesai,” ulang wanita itu. Evan mengangguk pelan. “Bagus.” “Apakah Anda yakin dia akan datang?” Senyum tipis muncul di bibir Evan. Senyum yang sulit diartikan. “Aku mengenalnya.” Lalu ia menoleh ke luar jendela. “Dia pasti datang.” BERSAMBUNG ***Minari tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur.Tubuhnya terasa berat, seolah seluruh tenaganya terkuras habis. Kepalanya masih berdenyut pelan, sementara kedua matanya terasa bengkak akibat terlalu banyak menangis.Perlahan ia membuka kelopak mata. Langit-langit kamar yang asing menyambut pandangannya.Butuh beberapa detik hingga ingatannya kembali.Hotel. Kamar VIP. Tempat yang pernah diberikan Evan untuknya. Ingatan itu membuat dadanya kembali sesak.Perlahan ia mengembuskan napas, mencoba bangkit. Namun sebelum sempat bergerak, ia merasakan sesuatu.Seseorang sedang membelai rambutnya. Sentuhan itu begitu lembut. Begitu hangat. Begitu akrab.Minari menoleh perlahan. Tubuhnya seketika membeku.Di samping tempat tidur, duduk seorang pria yang sejak tadi menatapnya dengan sorot mata penuh kerinduan.Mata hazel itu. Senyum kecil itu. Dan jemari yang sejak tadi mengusap rambutnya."Evan." Suara
Ingatan itu kembali bergerak. Bukan lagi tentang Ethan. Bukan lagi tentang padang rumput. Melainkan jauh lebih lama dari itu.Saat Rooha masih berusia lima tahun.Rumah mereka kala itu selalu dipenuhi tawa.Jane gemar memainkan piano setiap sore, sementara Rooha akan duduk di sampingnya sambil membaca buku yang jauh lebih tebal dibanding anak seusianya."Rooha, jangan membaca terus. Nanti matamu lelah."Jane menutup buku di pangkuan putrinya dengan lembut.Rooha hanya tersenyum kecil. "Aku belum selesai, Mama."Jane terkekeh pelan. Ia mengusap rambut putrinya penuh kasih sayang."Kamu memang berbeda.""Berbeda itu buruk?""Tidak."Jane mencium kening Rooha. "Berbeda itu istimewa."Kalimat itu selalu diingat Rooha. Sampai akhirnya, semua berubah.Hari itu Jane mengajak Rooha pergi berbelanja. Pusat perbelanjaan sedang ramai. Jane hanya melepaskan genggaman tangan Rooha beberapa detik untuk membayar sesuatu.Saat kembali menoleh, Rooha sudah tidak ada."Rooha?" Jane memanggil sambil ter
Minari memesan taksi untuk menuju ke hotel bintang tujuh. Tempat ia dan Evan bertemu.Sepanjang perjalanan menuju hotel bintang tujuh itu, Minari tidak berhenti menangis.Jendela taksi memperlihatkan jalanan kota yang ramai, tetapi semua itu terasa kabur di matanya. Air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung. Dadanya sesak hingga setiap tarikan napas terasa menyakitkan.Kini semuanya sudah kembali. Semua kenangan. Semua janji. Semua rasa yang pernah ia miliki untuk Ethan, yang sekarang hidup sebagai Evan.Ia memejamkan mata sejenak. Bayangan padang rumput itu muncul lagi. Angin sore yang berembus lembut. Tawa Ethan. Suara pria itu yang selalu berkata agar ia mendengarkan angin saat telinganya berdenging."Selama kamu masih bisa mendengar angin, berarti semuanya baik-baik saja."Air mata Minari kembali jatuh."Tidak baik-baik saja," lirihnya pelan. "Aku terlambat."Tak lama kemudian taksi berhenti tepat di depan hotel.Begitu turun, langkah Minari terasa berat. Gedung megah itu sam
Kegelapan perlahan memudar. Kelopak mata Minari bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka.Napasnya memburu. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin.Dadanya naik turun begitu cepat seolah ia baru saja tenggelam dan berhasil muncul kembali ke permukaan.Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit ruangan laboratorium itu. Lalu air matanya jatuh.Bukan setetes. Melainkan mengalir deras tanpa bisa dihentikan."Ethan..." Suara itu pecah bersama isak tangisnya.Ia memejamkan mata erat. Seluruh kenangan yang selama ini hilang kini kembali utuh.Padang rumput. Kuda. Macaron. Semanggi berdaun empat. Pengakuan cinta. Gudang yang terbakar. Tatapan Ethan yang terus memanggil namanya. Sampai kecelakaan yang merenggut seluruh ingatannya.Semuanya kembali. Tidak ada lagi bagian yang hilang."Ah..." Minari memegangi kepalanya. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Rasa sakit itu jauh lebih menyiksa dibanding saat proses penyuntikan tadi.Bukan lagi rasa sakit di kepala. Melainkan di hati.
Suara sirene ambulans memecah keheningan malam.Rooha terbaring di atas brankar dengan kepala berlumuran darah. Napasnya lemah. Matanya tertutup rapat, sementara tubuh kecilnya sesekali bergetar karena syok."Tekanan darah turun!""Siapkan ruang operasi!"Beberapa tenaga medis mendorong brankar itu secepat mungkin menuju ruang bedah.Alistair berjalan mengikuti dari belakang. Raut wajahnya benar-benar kehilangan ketenangan."Selamatkan putriku. Apa pun caranya." Suara Alistair terdengar lirih.Dokter hanya mengangguk sebelum pintu ruang operasi akhirnya tertutup.Lampu merah bertuliskan OPERASI BERLANGSUNG menyala.Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidup Alistair.Operasi berlangsung selama berjam-jam. Alistair tidak beranjak sedikit pun dari depan ruang operasi.Ia tidak duduk. Tidak makan. Tidak minum. Tatapannya terus tertuju pada pintu yang tak kunjung terbuka.Hingga akhirnya lampu operasi padam. Seorang dokter keluar sambil melepas masker."Operasinya berhasil."Alistair
Sejak hari itu, Rooha dan Ethan resmi menjadi sepasang kekasih.Namun hubungan mereka tidak pernah bisa dilakukan secara terang-terangan.Setiap kali laboratorium lengah mengawasi Rooha, gadis itu akan diam-diam menyelinap keluar melalui pintu belakang. Ia berlari melewati jalan setapak menuju padang rumput, tempat Ethan selalu menunggunya.Padang rumput itu menjadi dunia kecil milik mereka.Kadang mereka hanya duduk berdampingan menikmati angin.Kadang Ethan mengajari Rooha berkuda.Kadang mereka berbaring di atas rerumputan sambil memandang langit hingga matahari tenggelam.Hari-hari sederhana itu menjadi kebahagiaan yang belum pernah Rooha rasakan sebelumnya."Kalau nanti semua ini selesai," ujar Ethan suatu sore, "aku ingin membangun rumah kecil di dekat padang rumput ini."Rooha menoleh sambil tersenyum."Rumah?""Iya.""Biar setiap pagi kita bisa melihat matahari terbit."Rooha tertawa kecil. "Lalu?""Kita pelihara beberapa kuda.""Dan?""Satu anjing."Rooha menggeleng geli. "Ke
Malam itu, taman utama kawasan mansion berubah menjadi lautan cahaya.Lampu-lampu kristal menggantung di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur suara gelas yang saling beradu dan percakapan orang-orang.Minari datang bersama Zian.Ia me
“Aku hitung sampai tiga. Keluar dari sini!”Wanita itu langsung panik.Dengan tergesa-gesa ia turun dari tubuh Zian, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya sembarangan.Tak sampai satu menit, wanita itu sudah berlari keluar mansion tanpa berani menoleh lagi.Suasana mendadak
Pintu terbuka, Minari terbelalak kaget melihat tamunya yang datang.“Hai, aku tetangga baru. Aku mau memberikan camilan sebagai tanda perkenalan."Minari membeku.Bukan hanya karena kedatangannya yang tiba-tiba, tetapi juga karena pria yang berdiri di depan pintunya adalah sosok bermata hazel yang i
“Kalau kau ingin keluar dari rumah ini, kau harus mau dijodohkan dengan putra keluarga Ravenshow.”Kalimat itu menjadi alasan Minari Halden berdiri tegap mengikuti acara pertunangan hari ini.Papanya – Alistair Halden, memilih Zian Nathaniel Ravenshow sebagai pasangan hidupnya. Putra satu-satunya ke







