Home / Romansa / Aku Mencintaimu Dua Kali / Bab 6. Kebebasan Pertama

Share

Bab 6. Kebebasan Pertama

Author: Liani April
last update publish date: 2026-06-03 14:38:22

Minari bermimpi lagi.

Masih seperti sebelumnya.

Seorang pria berlutut di hadapannya. Bahu pria itu bergetar. Tangisnya terdengar menyayat hati, seolah ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan darinya.

“Rooha...”

Suara itu kembali memanggil nama yang tidak dikenali Minari.

“Rooha...”

Pria itu mengangkat wajahnya. Mata hazel. Mata yang entah kenapa membuat dada Minari terasa sesak.

Mimpi itu selalu hanya sampai sana. Ia tidak melakukan apa-apa dan langsung terbangun.

“Hah!”

Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi pelipis hingga leher.

Kepala Minari kembali berdenyut. Bahkan lebih sakit dibanding biasanya.

Minari memejamkan mata sambil menekan pelipisnya dengan kedua tangan.

Belakangan ini mimpi itu datang semakin sering. Dan setiap kali terbangun, rasa sakit di kepalanya juga semakin kuat.

Setelah dipikir-pikir, semua itu mulai terjadi sejak ia berhenti meminum obat penenang pemberian Alistair.

Papa selalu mengira ia menghabiskan obat tersebut sesuai jadwal. Padahal tidak.

Selama bertahun-tahun Minari diam-diam membuangnya. Ia membenci rasa mual yang selalu muncul setelah meminum obat itu.

Dan sekarang, sebagai gantinya, ia harus menerima mimpi aneh yang terus menghantuinya.

Minari mengembuskan napas panjang.

Tidak.

Hari ini ia tidak mau memikirkan mimpi itu.

Hari ini adalah hari kebebasannya. Hari yang sudah lama ia tunggu.

Ia turun dari tempat tidur lalu membuka tirai lebar-lebar.

Sinar matahari pagi langsung memenuhi kamar. Cuacanya cerah. Sempurna untuk keluar rumah.

Beberapa saat kemudian Minari keluar dari mansion mengenakan pakaian olahraga. Sepatu lari. Jam tangan olahraga. Serta rambut yang diikat sederhana.

Ia melambai pada kedua asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang makan.

“Aku pergi sebentar!”

“Baik, Nona!”

Minari tersenyum. Lalu berlari kecil meninggalkan mansion.

Perasaan itu kembali muncul. Ringan. Lega. Bebas.

Dulu, bahkan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah saja ia harus ditemani beberapa pengawal.

Jika ingin pergi lebih jauh, harus ada izin. Harus ada jadwal. Harus ada laporan.

Sekarang tidak.

Tidak ada yang mengikutinya. Tidak ada yang mengawasinya. Tidak ada yang bertanya sedang pergi ke mana.

Kali ini Minari bisa memilih sendiri ke mana kakinya melangkah.

Ia berlari menyusuri jalanan kompleks.

Udara pagi terasa sejuk. Deretan pepohonan tinggi menaungi jalan. Burung-burung berkicau dari kejauhan.

Sungguh sederhana. Namun bagi Minari, semuanya terasa luar biasa.

Sesampainya di area danau kecil yang berada di tengah kawasan mansion, Minari memperlambat langkahnya.

Pemandangan di sana jauh lebih indah dibanding yang ia bayangkan.

Air danau berkilauan diterpa sinar matahari. Hamparan bunga bermekaran di sisi jalan. Bangku-bangku taman berjajar menghadap air.

Minari tersenyum lebar.

“Indah sekali.”

Ia bahkan sengaja berjalan memutar mengelilingi taman. Memotret beberapa bunga menggunakan ponselnya. Duduk sebentar di tepi danau. Mengulurkan tangan untuk menyentuh permukaan air.

Hal-hal kecil yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Namun tidak baginya.

Karena selama ini ia tidak pernah benar-benar memiliki kebebasan untuk melakukan semua itu.

HUF!

Minari menjatuhkan tubuhnya ke bangku taman. Meski keringat membasahi dahi, tapi hatinya terasa jauh lebih ringan.

Mungkin beginilah rasanya hidup normal. Mungkin beginilah yang selama ini ia lewatkan.

Saat sedang menikmati pemandangan itulah, perhatiannya tertarik pada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.

Seseorang berjalan mendekati mobil itu.

Tidak butuh waktu lama untuk Minari mengenali orang yang menghampiri mobil itu adalah Evan.

Pria itu mengenakan pakaian santai berwarna gelap. Rambutnya masih sedikit basah. Tampak segar. Rapi. Dan menyebalkan sempurna.

Karena bahkan saat berpakaian sederhana pun ia tetap terlihat seperti model majalah.

Namun Evan tidak sendirian. Ada seorang wanita bersamanya.

Wanita itu berjalan di samping Evan sambil berbicara mengenai sesuatu. Keduanya tampak cukup akrab.

Evan membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut.

Wanita itu masuk. Lalu Evan menyusul dari sisi yang lain.

Minari mengamati dari kejauhan.

“Apa itu pacarnya?” Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Minari langsung menggeleng.

Kenapa ia malah memikirkan hal seperti itu?

Tentu saja pria seperti Evan pasti punya pasangan. Justru akan aneh jika tidak.

“Tentu saja.” Minari menyandarkan tubuhnya pada bangku. “Tidak masuk akal kalau orang sesempurna dia masih sendiri.”

Mobil itu belum bergerak.

Namun sebelum Minari sempat melihat lebih lama, sebuah bayangan tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya menghalangi pandangan.

Minari mendongak. Dan langsung mendecak pelan.

“Zian.”

“Wah, ternyata benar.” Zian menyeringai. “Kau memang ada di sini.”

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku yang seharusnya bertanya.” Zian melipat kedua tangan. “Kenapa calon istriku berkeliaran sendirian sejak pagi?”

Minari memutar bola matanya. “Aku lari pagi.”

“Di luar?”

“Iya.”

“Bukannya di mansionmu ada treadmill?”

“Aku sedang menikmati kebebasanku. Apa menariknya hanya lari di rumah saja.”

Jawaban itu membuat Zian terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk kecil.

“Baiklah. Itu masuk akal.”

Minari mengangkat alis. “Lalu kau sendiri sedang apa di sini?”

“Aku mengikutimu.”

“Apa?”

“Jangan salah paham.” Zian cepat-cepat mengangkat tangan. “Aku cuma memastikan kau tidak tersesat.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Benar.” Zian mengangguk. “Tapi kau juga orang yang baru tinggal beberapa hari di sini.”

“Dan?”

“Dan kalau kau hilang, papamu akan menyalahkanku.”

Minari mendengus. “Ternyata itu alasannya.”

Zian menyeringai. “Aku tidak mau dicap sebagai tunangan yang membiarkan calon istrinya ditemukan satpam sedang menangis karena tersesat.”

“Kau menyebalkan.”

Anehnya, Minari malah tertawa kecil.

Zian terlihat puas karena berhasil membuatnya bereaksi.

Pria itu lalu duduk di sampingnya.

“Ngomong-ngomong.” Ia mengeluarkan sesuatu dari belakang punggung. “Kurasa kau lupa membawa ini.”

Sebuah botol minuman dingin.

Minari langsung menyambarnya. Karena memang sejak tadi ia mulai merasa haus.

“Terima kasih.”

“Tidak perlu berterima kasih.”

“Kenapa?”

“Karena aku membelinya untuk diriku sendiri.”

“Lalu kenapa diberikan padaku?”

“Aku kasihan melihatmu seperti orang yang hampir pingsan.”

“Dasar menyebalkan.”

“Terima kasih.”

Mereka saling melotot beberapa detik. Lalu sama-sama tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak pertunangan mereka, suasana di antara keduanya terasa tidak terlalu buruk.

Setelah menghabiskan setengah botol minuman, Minari berdiri.

“Aku pulang.”

“Hah?”

“Aku sudah selesai olahraga.”

“Serius? Padahal aku baru datang.”

Minari mengabaikannya.

Ia mulai berjalan menuju arah mansion. Dan seperti yang sudah diduga, Zian ikut berjalan di sampingnya sambil terus mengoceh.

Mereka bahkan sempat berdebat soal siapa yang lebih keras kepala. Sampai tidak menyadari sebuah mobil melintas perlahan di samping mereka.

Hanya Minari yang sempat menoleh.

Itu mobil Evan.

Mobil itu terus bergerak menuju gerbang keluar kawasan mansion.

Lalu menghilang.

***

Di dalam mobil.

Wanita di kursi sebelah sedang meneliti sesuatu pada tablet yang berada di pangkuannya.

Beberapa menit kemudian ia menutup perangkat itu.

“Persiapan acaranya sudah selesai, Pak Evan.”

Evan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada spion.

Di sana, beberapa saat yang lalu, ia sempat melihat Minari berjalan bersama Zian.

Kini jalanan itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa.

“Pak Evan?”

Evan akhirnya mengalihkan pandangan.

“Persiapan acara sudah selesai,” ulang wanita itu.

Evan mengangguk pelan. “Bagus.”

“Apakah Anda yakin dia akan datang?”

Senyum tipis muncul di bibir Evan. Senyum yang sulit diartikan.

“Aku mengenalnya.” Lalu ia menoleh ke luar jendela. “Dia pasti datang.”

BERSAMBUNG

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Epilog

    Berita tentang pernikahan Minari dan Evan akhirnya tersiar di berbagai stasiun televisi internasional.Pernikahan itu menjadi salah satu pernikahan paling fenomenal tahun itu. Bukan hanya karena kemegahannya, tetapi juga karena tamu-tamu yang hadir berasal dari berbagai kalangan penting dan keluarga bisnis ternama dari seluruh dunia.Nama Evan Alaric Veyron kembali menjadi sorotan.Namun, yang paling banyak diberitakan justru wanita yang berdiri di sampingnya.Minari.Setelah menikah dengan Evan, Minari bergabung dengan Veyron Group. Kemampuan ingatannya yang luar biasa perlahan diketahui oleh banyak orang di dunia bisnis. Alih-alih menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan, Evan justru membantu Minari memanfaatkannya.Ingatan yang dahulu dianggap sebagai kelemahan kini menjadi salah satu kekuatan terbesarnya.Minari mampu mengingat data, angka, nama, bahkan berbagai detail dalam pertemuan bisnis yang hanya berlangsung se

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 91. Bersama Evan

    “Kau selamat? Kau baik-baik saja?”Begitu mereka berada di dalam mobil, Minari langsung menatap Evan dengan cemas. Matanya memeriksa wajah pria itu, lalu turun ke lengannya, seolah mencari luka yang mungkin disembunyikannya.Evan justru tersenyum.“Jangan cemaskan aku. Aku baik-baik saja.”“Tapi aku melihat keadaanmu waktu itu...” Minari terdiam sejenak. Bayangan Evan yang tidak berdaya di tangan anak buah Alistair kembali melintas di kepalanya. “Aku takut sesuatu terjadi padamu.”“Aku sudah melewati banyak hal lebih buruk dari itu.”Evan meraih tangan Minari dan menggenggamnya erat. “Sekarang, bagaimana denganmu?”Minari menarik napas panjang.“Aku tidak apa-apa. Hanya saja...” Ia menatap Evan dengan sorot serius. “Papa menyuntikkan sesuatu padaku semalam. Aku yakin itu obat yang bisa membuatku kehilangan ingatan lagi.”Evan

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 90. Pelarian

    “Saya datang untuk menjemput Anda.”Minari terdiam.Untuk beberapa detik, ia hanya menatap pria di hadapannya seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.“Evan mengirimmu?”Pria itu mengangguk. “Benar, Nona.”Minari segera melangkah mendekat. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.“Apa Evan baik-baik saja?”“Pak Evan baik-baik saja.”Minari mengembuskan napas panjang. “Syukurlah.”Sejak dibawa paksa oleh Alistair, satu-satunya hal yang terus menghantuinya adalah keadaan Evan. Ia tidak tahu apakah pria itu selamat. Tidak tahu apa yang dilakukan Alistair kepadanya.Mendengar bahwa Evan masih baik-baik saja membuat dadanya sedikit lebih lega.“Di mana dia sekarang?”“Beliau menunggu Anda di tempat yang sudah disiapkan.”Minari mengangguk. “Aku ingin pergi sekarang.”Pria itu mengamati pintu ruangan.“Kalau begitu,

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 89. Hari Pernikahan

    Minari membuka mata perlahan.Cahaya pagi yang menerobos celah tirai membuatnya menyipitkan mata. Kepalanya terasa berat dan berdenyut. Tubuhnya pun seperti kehilangan tenaga setelah melewati malam yang panjang.Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Beberapa pelayan berdiri mengelilingi tempat tidurnya.“Nona, bagaimana perasaan Anda?”Minari memandangi mereka dengan wajah bingung.“Kepalaku sakit.”Salah seorang pelayan segera mengambil segelas air dan menyerahkannya. “Minumlah, Nona.”Minari menerimanya. Tangannya sedikit gemetar ketika membawa gelas itu ke bibir.“Apa yang terjadi?” Pertanyaan sederhana itu membuat para pelayan saling bertatapan.Tidak ada satu pun yang langsung menjawab. Minari memperhatikan perubahan wajah mereka.“Ada apa?”“Tidak ada apa-apa, Nona.” Pelayan itu tersenyum kaku. “Kami hanya ingin memastikan kondisi Nona baik-baik saja.”Minari mengangguk pelan.Ia kemudian

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 88. Bukan Di Pihakku Lagi

    Minari terbangun dengan kepala yang terasa berat.Beberapa detik pertama, ia hanya menatap langit-langit kamar tanpa memahami di mana dirinya berada. Tubuhnya masih lemas akibat suntikan yang diberikan Alistair.Namun begitu ingatannya kembali, ia langsung bangkit.“Evan...” Nama itu keluar dari bibirnya dengan suara lirih.Minari menoleh ke sekeliling. Ini bukan kamar di mansionnya. Ini kamar yang sangat ia kenal. Kamar miliknya di rumah Alistair.Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.Ia turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Tangannya segera memutar gagang pintu.Tidak bergerak.Minari mencobanya sekali lagi. Tetap terkunci.“Buka!” Ia mengetuk pintu keras-keras. “Buka pintunya!”Tidak ada jawaban.Minari berlari menuju jendela. Ia menarik tirainya dan mendapati jendela itu sudah dipasangi teralis besi.Dadanya terasa sesak. Ia benar-benar dikurung

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 87. Deja Vu

    “Evan!”Minari hendak berlari menghampiri, tetapi dua orang anak buah Alistair langsung menghadangnya.“Lepaskan aku!”Minari berusaha melepaskan tangannya, tetapi tenaga kedua pria itu jauh lebih besar. Ia hanya bisa bergerak beberapa langkah sebelum kembali ditahan.Alistair yang sejak tadi berdiri di depan Evan perlahan berbalik.Tatapannya berpindah dari Minari kepada pria yang sedang berlutut dalam keadaan babak belur.Senyum tipis muncul di bibirnya.“Wah... ironis sekali.” Alistair terkekeh pelan. “Aku seperti sedang mengalami deja vu.”Ia menoleh kepada Evan.“Kau merasa begitu juga, kan, Ethan?”Evan mengangkat wajahnya. Ada darah yang masih mengalir dari sudut bibirnya, tetapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.Alistair mengamati wajah itu beberapa detik. Kemudian ia berdecak.“Oh, aku salah.” Ia terse

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 5. Semanggi

    Malam itu, taman utama kawasan mansion berubah menjadi lautan cahaya.Lampu-lampu kristal menggantung di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur suara gelas yang saling beradu dan percakapan orang-orang.Minari datang bersama Zian.Ia me

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 4. Pria yang Sulit Didekati

    “Aku hitung sampai tiga. Keluar dari sini!”Wanita itu langsung panik.Dengan tergesa-gesa ia turun dari tubuh Zian, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya sembarangan.Tak sampai satu menit, wanita itu sudah berlari keluar mansion tanpa berani menoleh lagi.Suasana mendadak

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 3. Tetangga Baru

    Pintu terbuka, Minari terbelalak kaget melihat tamunya yang datang.“Hai, aku tetangga baru. Aku mau memberikan camilan sebagai tanda perkenalan."Minari membeku.Bukan hanya karena kedatangannya yang tiba-tiba, tetapi juga karena pria yang berdiri di depan pintunya adalah sosok bermata hazel yang i

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 2. Rumah Impian

    “Lehermu. Aku bisa melihat bekas ciuman di sana.”Zian terkesiap. Namun hanya sepersekian detik.Setelah itu, ia kembali pada ekspresi santainya, seolah tidak terjadi apa-apa.“Apa maksudmu?” tanyanya ringan.Minari tersenyum miring. “Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semuanya. Termasuk hobimu yang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status