Home / Romansa / Aku Mencintaimu Dua Kali / Bab 2. Rumah Impian

Share

Bab 2. Rumah Impian

Author: Liani April
last update publish date: 2026-06-03 13:49:40

“Lehermu. Aku bisa melihat bekas ciuman di sana.”

Zian terkesiap. Namun hanya sepersekian detik.

Setelah itu, ia kembali pada ekspresi santainya, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Apa maksudmu?” tanyanya ringan.

Minari tersenyum miring. “Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu semuanya. Termasuk hobimu yang senang bermain wanita.”

Zian tidak tersinggung. Sebaliknya, senyum sinis justru terangkat di bibirnya.

“Kau keberatan?” balasnya santai, nyaris meremehkan. “Papamu yang menginginkan perjodohan ini. Baginya, ini hanya soal bisnis.”

Ia melirik sekilas ke arah Minari.

“Keluargamu butuh suntikan dana. Keluargaku menyediakannya. Jadi, menurutku aku tidak perlu berpura-pura menjadi pria baik.”

Minari terkekeh pelan. Sopan santun yang biasa dikenakan, ia lepaskan sepenuhnya di hadapan pria ini.

“Itu karena Papa belum tahu siapa kamu sebenarnya.” Ia menatap lurus ke depan. “Dia pikir keluarga Ravenshow bersih. Tidak ada pria brengsek sepertimu di dalamnya.”

Senyum Zian menghilang. Kata itu mulai terasa mengusiknya.

Rem diinjak mendadak. Mobil berhenti dengan sentakan keras.

Zian menoleh penuh emosi. Urat di pelipisnya menegang.

“Lalu sekarang maumu apa?” suara Zian berubah. “Kau mau membatalkan pertunangan ini?”

Minari menggeleng pelan. Lalu menatap Zian tanpa gentar.

“Tidak. Aku hanya ingin membuat kesepakatan.”

“Kesepakatan?” Zian mengernyit.

“Selama kita bertunangan, jangan sembarangan tidur dengan wanita lain. Apalagi sampai papaku tahu.”

Minari berhenti sejenak.

“Hanya sampai kita menikah. Setelah itu, terserah padamu.”

Zian terdiam. Menatap Minari, mencoba membaca isi pikirannya.

Wanita ini aneh. Ia tahu keburukannya, tapi tidak ingin membatalkan perjodohan. Jelas ada sesuatu yang ia rencanakan.

“Baiklah. Aku bisa berhenti,” ujar Zian dengan senyum licik. “Tapi sebagai gantinya, kau yang menggantikan mereka.”

Minari tidak berkedip. Tidak terkejut. Tidak juga tersinggung. Ia hanya menatap Zian dengan dingin.

“Kalau kau berani menyentuhku, akan kupastikan kau menyesal seumur hidup.”

Zian tertawa. Ancaman itu terdengar seperti lelucon baginya.

“Kenapa? Bukankah kita akan menikah,” balasnya santai. “Cepat atau lambat, itu akan terjadi juga. Jadi kenapa tidak sekarang saja?”

“Kita hanya menikah di atas kertas,” potong Minari. “Tidak ada kewajiban untuk menjadi pasangan seperti suami istri sungguhan.”

Hening.

Zian menghela napas kasar, mulai kehilangan minat.

“Bagaimana kalau aku tidak setuju?”

Minari tersenyum tipis. Senyum yang jauh lebih berbahaya.

“Kalau begitu, aku tidak keberatan membocorkan kebiasaanmu itu ke seluruh keluargamu. Aku yakin mereka belum tahu,” ucapnya ringan.

Zian menggertakkan gigi. “Kau menyebalkan.”

Minari tersenyum.

“Ketahuilah, kau belum mengenalku sepenuhnya,” balas Minari tenang.

Keputusan sudah dibuat. Tanpa jabat tangan. Tanpa hitam di atas putih. Namun keduanya tahu, kesepakatan itu terjadi.

“Sekarang, jalan! Aku sudah tidak sabar melihat rumah baruku,” ujar Minari santai.

Perjalanan kembali berlanjut.

Beberapa menit kemudian, mobil memasuki kawasan perbukitan.

Mobil berhenti di depan gerbang hitam besar. Gerbang itu terbuka dengan suara mekanis yang halus.

Minari menatapnya dari balik jendela dengan perasaan berdebar hangat.

Mobil melambat di depan bangunan utama. Mansion itu berdiri megah, putih, bersih, dan simetris. Tidak ada satu sudut pun yang terlihat salah.

Minari turun perlahan. Sedangkan Zian mengambil koper dari bagasi dan meletakkannya di dekat Minari.

“Tidak usah mengantarku ke dalam,” ucap Minari sambil menarik koper itu. “Aku yakin kamu masih kesal padaku.”

Zian hanya berdecak. Jelas ia masih terlihat kesal.

“Oh, ya,” lanjut Minari lagi. “Jangan terlalu sering datang ke sini. Aku tidak suka diganggu saat sedang menikmati waktu sendiri.”

Minari tidak menunggu reaksi Zian, tahu-tahu ia sudah berbalik menuju pintu.

Zian pun pergi tanpa pamit.

Minari sudah di depan pintu. Ia membuka kunci dan melangkah masuk.

Interiornya tak jauh berbeda dari luar. Langit-langit tinggi membuat suaranya sendiri terasa asing saat sepatu haknya menyentuh lantai marmer.

Ia melanjutkan langkah, tapi kali ini lebih pelan. Matanya menyapu setiap sudut. Semuanya indah. Semuanya sempurna.

“Akhirnya, tidak ada Papa. Tidak ada para pelayan. Aku sendirian. Aku bebas.”

Suara itu menggema di seluruh ruangan.

Ia berputar, membuka kedua tangannya, seolah ingin merangkul seluruh ruangan.

Minari berjalan cepat ke kamar, melempar kopernya begitu saja ke sudut ruangan. Lalu, ia menjatuhkan diri ke atas kasur empuk.

Sekarang tidak ada lagi yang menyuruhnya ini itu.

Mau ia berguling, berlarian, atau melompat-lompat sekalipun. Ia sendirian.

Minari bebas.

Dalam kebahagiaan itu, tanpa terasa Minari menutup kedua mata. Menikmati waktu-waktu berharganya, sampai-sampai ia terlelap. Dan bermimpi.

Di mimpinya, Minari menyaksikan seorang pria menangis sambil berlutut di hadapan.

Itu mimpi yang terus berulang selama beberapa tahun ke belakang.

Biasanya Minari akan terbangun begitu mimpi itu makin jelas. Namun kali ini, ia menyadari sesuatu.

Pria di mimpinya itu memiliki sepasang bola mata berwarna hazel.

Mirip seperti pria yang ia temui di pesta pertunangan kemarin.

Dan pria itu memanggil sebuah nama...

“Rooha.”

.

.

Minari terbangun.

Ia duduk di atas kasur sambil memegangi kepalanya yang terasa berat tiap kali mimpi itu datang.

Beberapa menit Minari terpaku. Sayup-sayup terdengar suara burung berkicau serta sinar mentari menyorot ke jendela yang lupa ia tutup semalam.

Oh, rupanya sudah pagi.

Karena terlalu senang, ia tidak ingat sudah tertidur dalam kondisi pintu dan jendela masih terbuka, koper masih berdiri di sudut ruangan, serta dirinya bahkan belum menghapus riasan semalam.

Minari tersenyum.

Kalau di rumah Papa, mungkin ia akan dimarahi. Kali ini ia tinggal di rumahnya sendiri. Ia bebas melakukan apa pun. Termasuk semua kekacauan pagi ini.

Kemudian, untuk pertama kalinya bel rumah itu berbunyi nyaring.

TING! TONG!

Minari mengerutkan kening.

Siapa?

Asisten rumah tangga seharusnya datang nanti siang.

Mungkinkah Zian?

Bukankah ia sudah melarang Zian datang terlalu sering.

Bel itu berbunyi lagi.

Minari bangkit. Langkahnya pelan saat ia mendekati pintu.

Tangannya menyentuh gagang. Sedikit ragu.

Pintu terbuka, lalu ia terbelalak kaget melihat tamunya yang datang.

“Loh, kamu kan—“

BERSAMBUNG

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Epilog

    Berita tentang pernikahan Minari dan Evan akhirnya tersiar di berbagai stasiun televisi internasional.Pernikahan itu menjadi salah satu pernikahan paling fenomenal tahun itu. Bukan hanya karena kemegahannya, tetapi juga karena tamu-tamu yang hadir berasal dari berbagai kalangan penting dan keluarga bisnis ternama dari seluruh dunia.Nama Evan Alaric Veyron kembali menjadi sorotan.Namun, yang paling banyak diberitakan justru wanita yang berdiri di sampingnya.Minari.Setelah menikah dengan Evan, Minari bergabung dengan Veyron Group. Kemampuan ingatannya yang luar biasa perlahan diketahui oleh banyak orang di dunia bisnis. Alih-alih menganggapnya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan, Evan justru membantu Minari memanfaatkannya.Ingatan yang dahulu dianggap sebagai kelemahan kini menjadi salah satu kekuatan terbesarnya.Minari mampu mengingat data, angka, nama, bahkan berbagai detail dalam pertemuan bisnis yang hanya berlangsung se

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 91. Bersama Evan

    “Kau selamat? Kau baik-baik saja?”Begitu mereka berada di dalam mobil, Minari langsung menatap Evan dengan cemas. Matanya memeriksa wajah pria itu, lalu turun ke lengannya, seolah mencari luka yang mungkin disembunyikannya.Evan justru tersenyum.“Jangan cemaskan aku. Aku baik-baik saja.”“Tapi aku melihat keadaanmu waktu itu...” Minari terdiam sejenak. Bayangan Evan yang tidak berdaya di tangan anak buah Alistair kembali melintas di kepalanya. “Aku takut sesuatu terjadi padamu.”“Aku sudah melewati banyak hal lebih buruk dari itu.”Evan meraih tangan Minari dan menggenggamnya erat. “Sekarang, bagaimana denganmu?”Minari menarik napas panjang.“Aku tidak apa-apa. Hanya saja...” Ia menatap Evan dengan sorot serius. “Papa menyuntikkan sesuatu padaku semalam. Aku yakin itu obat yang bisa membuatku kehilangan ingatan lagi.”Evan

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 90. Pelarian

    “Saya datang untuk menjemput Anda.”Minari terdiam.Untuk beberapa detik, ia hanya menatap pria di hadapannya seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.“Evan mengirimmu?”Pria itu mengangguk. “Benar, Nona.”Minari segera melangkah mendekat. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.“Apa Evan baik-baik saja?”“Pak Evan baik-baik saja.”Minari mengembuskan napas panjang. “Syukurlah.”Sejak dibawa paksa oleh Alistair, satu-satunya hal yang terus menghantuinya adalah keadaan Evan. Ia tidak tahu apakah pria itu selamat. Tidak tahu apa yang dilakukan Alistair kepadanya.Mendengar bahwa Evan masih baik-baik saja membuat dadanya sedikit lebih lega.“Di mana dia sekarang?”“Beliau menunggu Anda di tempat yang sudah disiapkan.”Minari mengangguk. “Aku ingin pergi sekarang.”Pria itu mengamati pintu ruangan.“Kalau begitu,

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 89. Hari Pernikahan

    Minari membuka mata perlahan.Cahaya pagi yang menerobos celah tirai membuatnya menyipitkan mata. Kepalanya terasa berat dan berdenyut. Tubuhnya pun seperti kehilangan tenaga setelah melewati malam yang panjang.Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Beberapa pelayan berdiri mengelilingi tempat tidurnya.“Nona, bagaimana perasaan Anda?”Minari memandangi mereka dengan wajah bingung.“Kepalaku sakit.”Salah seorang pelayan segera mengambil segelas air dan menyerahkannya. “Minumlah, Nona.”Minari menerimanya. Tangannya sedikit gemetar ketika membawa gelas itu ke bibir.“Apa yang terjadi?” Pertanyaan sederhana itu membuat para pelayan saling bertatapan.Tidak ada satu pun yang langsung menjawab. Minari memperhatikan perubahan wajah mereka.“Ada apa?”“Tidak ada apa-apa, Nona.” Pelayan itu tersenyum kaku. “Kami hanya ingin memastikan kondisi Nona baik-baik saja.”Minari mengangguk pelan.Ia kemudian

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 88. Bukan Di Pihakku Lagi

    Minari terbangun dengan kepala yang terasa berat.Beberapa detik pertama, ia hanya menatap langit-langit kamar tanpa memahami di mana dirinya berada. Tubuhnya masih lemas akibat suntikan yang diberikan Alistair.Namun begitu ingatannya kembali, ia langsung bangkit.“Evan...” Nama itu keluar dari bibirnya dengan suara lirih.Minari menoleh ke sekeliling. Ini bukan kamar di mansionnya. Ini kamar yang sangat ia kenal. Kamar miliknya di rumah Alistair.Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.Ia turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu. Tangannya segera memutar gagang pintu.Tidak bergerak.Minari mencobanya sekali lagi. Tetap terkunci.“Buka!” Ia mengetuk pintu keras-keras. “Buka pintunya!”Tidak ada jawaban.Minari berlari menuju jendela. Ia menarik tirainya dan mendapati jendela itu sudah dipasangi teralis besi.Dadanya terasa sesak. Ia benar-benar dikurung

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 87. Deja Vu

    “Evan!”Minari hendak berlari menghampiri, tetapi dua orang anak buah Alistair langsung menghadangnya.“Lepaskan aku!”Minari berusaha melepaskan tangannya, tetapi tenaga kedua pria itu jauh lebih besar. Ia hanya bisa bergerak beberapa langkah sebelum kembali ditahan.Alistair yang sejak tadi berdiri di depan Evan perlahan berbalik.Tatapannya berpindah dari Minari kepada pria yang sedang berlutut dalam keadaan babak belur.Senyum tipis muncul di bibirnya.“Wah... ironis sekali.” Alistair terkekeh pelan. “Aku seperti sedang mengalami deja vu.”Ia menoleh kepada Evan.“Kau merasa begitu juga, kan, Ethan?”Evan mengangkat wajahnya. Ada darah yang masih mengalir dari sudut bibirnya, tetapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.Alistair mengamati wajah itu beberapa detik. Kemudian ia berdecak.“Oh, aku salah.” Ia terse

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 6. Kebebasan Pertama

    Minari bermimpi lagi. Masih seperti sebelumnya. Seorang pria berlutut di hadapannya. Bahu pria itu bergetar. Tangisnya terdengar menyayat hati, seolah ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan darinya. “Rooha...” Suara itu kembali memanggil nama yang tidak dikenali Minari. “Rooha...” Pria

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 5. Semanggi

    Malam itu, taman utama kawasan mansion berubah menjadi lautan cahaya.Lampu-lampu kristal menggantung di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur suara gelas yang saling beradu dan percakapan orang-orang.Minari datang bersama Zian.Ia me

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 4. Pria yang Sulit Didekati

    “Aku hitung sampai tiga. Keluar dari sini!”Wanita itu langsung panik.Dengan tergesa-gesa ia turun dari tubuh Zian, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya sembarangan.Tak sampai satu menit, wanita itu sudah berlari keluar mansion tanpa berani menoleh lagi.Suasana mendadak

  • Aku Mencintaimu Dua Kali   Bab 3. Tetangga Baru

    Pintu terbuka, Minari terbelalak kaget melihat tamunya yang datang.“Hai, aku tetangga baru. Aku mau memberikan camilan sebagai tanda perkenalan."Minari membeku.Bukan hanya karena kedatangannya yang tiba-tiba, tetapi juga karena pria yang berdiri di depan pintunya adalah sosok bermata hazel yang i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status