LOGIN“APA?”
Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak. ‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati. Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terombang-ambing dalam dasar laut yang gelap. Debaran tak terkendali itu benar-benar menyesakkan dadanya. “Me-menikah T-Tuan?” Kedua mata Bela terbelalak lebar setelah mendengar hal yang baginya sangat aneh. Benar-benar sangat aneh, karena tiba-tiba saja, lelaki berperawakan tampan itu menyatakan maksud hatinya untuk menikahi Bela. Virgo memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. Wajahnya mendekat, hingga kini keduanya berjarak sekitar 5 sentimeter dari hidung ke hidung. Sungguh jelas napas demi napas yang Virgo dan Bela hirup dan hembuskan. Bahkan tiba-tiba saja hal itu membuat jantung Bela kembali berdebar semakin hebat. Takut Virgo mendengar debaran dalam batinnya, secepat kilat Bela memundurkan langkahnya. Dan tak ada hal lain yang dilakukan oleh pria berusia 35 tahun itu selain menatap Bela yang mungkin kini semakin takut dengannya. “Aku akan membelimu dari keluarga Arman.” lanjut Virgo. “Akan aku lunasi semua hutang keluargamu.” “Ma-maksud Tuan?” Keduanya saling menatap. Bela masih saja berkutat dengan kebingungannya yang kian membesar. Ia tak pernah berpikir bahwa sosok berhati dingin seperti Virgo akan mengajaknya menikah. Karena seperti yang ia ketahui selama ini, lelaki itu tak pernah sekalipun membuka hatinya untuk wanita lain semenjak kematian istrinya. Dan kini, dengan tiba-tiba Virgo mengutarakan maksudnya untuk membeli Bitna dari keluarga Arman yang berperilaku buruk padanya. “Bukankah sudah jelas, aku ingin membelimu dari keluarga Arman.” “Tapi mengapa tiba-tiba Tuan...” “Aku sama sepertimu.” potong Virgo sebelum Bela menyelesaikan ucapannya. “Aku membutuhkanmu untuk anakku, dan kamu membutuhkanku agar dapat terbebas dari belenggu keluarga Arman yang kejam.” “Tapi mengapa harus aku, Tuan? Bukankah masih banyak wanita yang lebih layak bersanding dengan Tuan, bila dibandingkan dengan anak seorang pembantu sepertiku?” Satu alis Virgo terangkat memandangi Bela. Nampaknya, lelaki itu bisa membaca apa yang wanita muda itu pikirkan. “Fani anak dari Nyonya Arman maksudmu?” tanggap Virgo. Bitna mengangguk pelan. Seperti yang ia ketahui, selama ini Fani tak berhenti mengejar Virgo sejak kedatangannya dari Indonesia. Wanita yang berusia 4 tahun lebih tua darinya itu dengan sangat jelas mengutarakan ketertarikannya pada Virgo. Ia bahkan dengan sangat terang-terangan menunjukkan rasa sukanya itu di hadapan kedua orang tuanya tanpa peduli dengan sang ibu yang terlampau kesal dengan ucapan kasar Virgo setiap berjumpa dengannya. Pikir Bela, Fani adalah jodoh yang sepadan untuk Virgo jika melihat berapa banyak harta yang dimiliki oleh keluarganya. Apalagi, keduanya sama-sama berasal dari keluarga terpandang. Oleh karenanya, ia merasa sangat aneh saat dengan secara tiba-tiba Virgo mengajaknya untuk menikah. Ia merasa sangat heran karena tiba-tiba saja Virgo memilih dirinya yang hanya putri seorang pembantu di rumah keluarga Arman. “Kenapa kau menyangka bahwa aku akan sudi memilih anak dari keluarga Arman dari pada dirimu?” tanya Virgo. “Karena...” “Karena kekayaan mereka?” tebak Virgo cepat. Bela menganggukkan kepalanya. Seperti apa yang Bela pelajari selama ini, status sosial menjadi sangat penting di dunia ini. Sosok miskin seperti dirinya, tentu saja tak layak untuk bersanding dengan seseorang seperti Virgo. Tak peduli secantik apa wajah yang dimilikinya, bagi Bela, di dunia yang keras ini tak ada yang lebih baik bila dibandingkan dengan kekuasaan di atas kekayaan yang melimpah. “Bukankah akan memalukan jika Tuan menikahi anak seorang pembantu seperti aku?” tanpa ragu Bela mengutarakan tanda tanya yang terus berkutat dalam benaknya. Virgo tersenyum smirk. Ia memasukkan kedua tangannya di saku celananya dan menatap Bela dengan tatapan matanya yang dingin hingga membuat gadis itu gugup. “Aku tidak pernah percaya dengan orang kaya, apalagi untuk menyerahkan anakku.” “Tapi Tuan...” “Bukankah kau sendiri sedang berkencan dengan anak pengusaha sepatu itu?” potong Virgo kemudian. Bela mengernyitkan dahinya. Ia masih bingung dangan apa yang diucapkan Virgo padanya. Ia mencoba menerka-nerka seseorang yang Virgo maksudkan. “Anak pengusaha sepatu?” tanyanya bingung. Virgo hanya tersenyum, sementara Bela masih perlu berpikir dengan apa yang Virgo ucapkan padanya. Sejenak Virgo menganggukkan kepalanya sembari memikirkan sesuatu tentang Bela yang nampak jelas bahwa wanita itu tak mengerti sepatah kata pun maksud dari ucapannya. “Pikirkan apa yang aku tawarkan padamu baik-baik di rumah!” ujar Virgo kemudian. “Datanglah ke kantorku jika kamu sudah memiliki jawaban untuk tawaranku ini!” Virgo melangkah pergi meninggalkan Bela yang masih kebingungan. Ia memandangi lelaki itu dari belakang. Lelaki yang terlampau lebih dewasa dari dirinya itu melangkah pergi dengan senyuman dibibirnya yang tentunya tak bisa Bela lihat. Ia masuk ke dalam sebuah mobil sport setelah sebelumnya seorang sopir pribadi membukakan pintu mobil untuknya. “Anak pengusaha sepatu?” gumam Bila seraya berpikir. “Kak Arya?” hingga kemudian satu nama keluar di kepalanya. Ia memikirkan kebenaran yang tengah ia telaah dalam kepalanya. Lalu ia menggelengkan kepalanya mengingat bagaimana sosok kekasihnya itu. “Mana mungkin Kak Arya yang kesehariannya hanya makan mie instan itu anak pengusaha sepatu? Bahkan membeli kopi saja dia pakai uangku! Bahkan setahun lalu dengan bangga ia memamerkan dirinya masuk ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi!” gumamnya kemudian. “Lalu, bagaimana hubunganku dengan Kak Arya?” Kebingungan silih berganti terus menghampiri pikirannya. Ia sungguh tak yakin jika sosok anak pengusaha yang Virgo maksud adalah sosok Arya yang selama ini dikencaninya. Sembari berjalan, tepatnya setelah ia memasukkan buku-buku tebal ke dalam tas ranselnya, ia mengeluarkan sebuah dompet dari dalam saku celananya. Dibukanya dompet berwarna kuning itu. Bela memandangi potret dirinya bersama kekasihnya-Arya yang sudah lama menjalin hubungan sedari mereka bersekolah di sekolah yang sama. Kini, ia dilema. Ingin hati ia mempertahankan hubungan yang sudah lama itu dengan Arya, namun di sisi lain, ia ingin terbebas dari belenggu keluarga Arman yang terus menjeratnya. “Aku harus bagaimana Tuhan?” Bela berjalan dengan perasaan gunda dalam benaknya. Hingga kemudian, butir-butir rintik hujan yang turun dan mengalihkan pandangannya. Bela menengadahkan kepalanya. Ia menatap rintik-rintik hujan yang kini mendarat di tangan kanannya. “Hujan pertama di bulan ini turun setelah ajakan menikah?” gumamnya. “Andai itu dikatakan atas dasar cinta, hubungan itu bisa menjadi abadi setelah hujan pertama turun...” Bela masih berkutat dengan butiran rintik hujandalam genggamannya. Tak ada senyum di bibirnya. Rintik hujan pertama selama penantiannya, kini menjadi suatu saksi kebimbangan hatinya. Dan tiba-tiba saja, ia memikirkan sesuatu. Sesuatu yang datang dari masa lalunya. Sesuatu yang hingga kini menyakiti ia dan juga ibunya. “Ayah, berapa lama lagi kamu bersembunyi?” Ini adalah tahun ketiga Bela tak mendengar keberadaan ayahnya. Setelah berhutang kepada Tuan Arman, lelaki itu pun menghilang begitu saja. Ia menghilang dengan uang pinjaman yang di dapatnya serta tabungan Bela yang selama ini dikumpulkannya untuk berkuliah. Entah dimana lelaki itu sekarang. Entah bagaimana hidupnya setelah meninggalkan keluarganya dalam belenggu hutang yang hari demi hari menyiksa keduanya. Tanpa sadar, lamunan Bela membawanya di depan sebuah universitas impiannya. Sejenak ia tersenyum membayangkan dirinya masuk bersama beberapa orang ke dalam universitas itu dengan beberapa buku dalam genggamannya. “Haruskah aku menerima tawaran gila Tuan Virgo?” gumamnya. ‘BRAKK!’ Tiba-tiba seseorang menabraknya, dan buku-buku yang di bawa orang itu pun berserakan di kaki Bela. Sejenak Bela memandangi buku-buku yang beberapa mirip dengan buku yang dimilikinya. Kemudian, ia menengadahkan kepalanya memandangi si pemilik buku yang ternyata tengah tersenyum di hadapannya. “Kak Arya?” Wajah Bela memerah melihat kekasih yang teramat dicintainya itu berdiri di hadapannya. Lelaki bertubuh atletis itu melambaikan tangannya dengan senyumnya yang riang dan membuat dua lesung pipinya semakin menambah pesona dirinya. “Kenapa sampai melamun?” tanya Arya seraya memunguti buku-buku miliknya dengan cepat. “Kak...” “Arya!” Belum selesai Bela berkata, seorang wanita seusianya tengah melambaikan tangannya dari kejauhan. Dia adalah Aoki, salah seorang sahabat yang juga mengenal baik dirinya. “Ah, maaf Bela! Nanti aku telepon ya!” “Tapi Kak...” “Nanti aku telepon kamu ya! Aku dan Aoki harus presentasi! Dadah!” seru Arya kemudian berlari menghampiri Aoki yang kemudian juga melambaikan tangannya ke arah Bela yang masih terdiam karena kekasihnya pergi begitu saja. Bela melihat keduanya yang nampak sangat akrab seperti biasanya. “Seminggu yang lalu kau juga berjanji akan menelponku, Kak...”gumamnya kemudian bergegas melangkah pergi dengan perasaan kesal.Bela bergegas pergi dari kamarnya setelah sebelumnya ia meraih sebuah jaket tebal miliknya. Musim hujan yang begitu dingin di Jakarta mengharuskannya mengenakan pakaian tebal sebelum kemudian menutupinya dengan sebuah jaket tebal yang dimilikinya. Yah, ibukota dalam seminggu sedang dilanda hujan ektrem. Ia memberhentikan sebuah taxi saat sudah berada dipinggir jalan. Dengan rasa optimis ia ingin segera menjumpai kekasihnya itu. Ia juga ingin mengetahui kabar Arya yang sudah sangat lama tidak menghubunginya. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Bela untuk pergi ke apartement Arya. Letak yang lumayan dekat itu bisa ia capai dengan taxi yang dinaikinya hanya selama 20 menit saja. Ketika taxi itu berhenti di sebuah gedung apartement tempat dimana Arya tinggal, ia segera turun setelah sebelumnya membayar taxi yang ditumpanginya. Dengan langkah ceria ia masuk ke dalam apertement itu. Ia menyusuri lorong apartement dengan langkah riang bak seorang gadis kecil yang baru saja menerima hadi
Pagi hari di kediaman keluarga Arman... “Nyonya, apakah Saya boleh keluar sebentar pagi ini?” Pagi hari, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Bela mencoba mendapatkan kemurahan hati majikannya untuk pergi menemui Arya hari ini. Tak mendapat kabar sama sekali dari lelaki yang teramat dicintainya itu membuat Bela ingin menemuinya langsung di apartementnya. Oleh karenanya, ia mengumpulkan keberaniannya untuk meminta ijin sang majikan. Pagi itu Nyonya Arman sedang santai di atas kursi goyangnya sembari membaca sebuah majalah di tangannya. Bela memainkan jari-jarinya, menunggu dengan perasaan tak tenang akan jawaban dari majikannya. “Mau kemana?” tanya Nyonya Arman sembari terus membaca majalah di tangannya. “Ke rumah teman, Nyonya.” Nyonya Arman menutup majalahnya, lalu memandangi wajah Bela dengan tatapan sinisnya. “Oke, pergilah!” jawabnya. “Kebetulan aku tak ingin melihat wajahmu yang menjengkelkan hari ini! Haiiiissshhh! Memikirkan peristiwa semalam saja membuatku muak.” “Jadi,
Jalanan kota Jakarta yang begitu padat tak menghalangi Virgo yang berkendara dengan motornya. Ia membelah jalanan kota besar itu sambil menikmati sebuah alunan musik dari earphone di telinganya. Sebuah musik rock mengalun dan membuat perjalanannya menyenangkan. Di sela ia menikmati musik di telinganya, sejenak ia tersenyum saat mengingat satu wajah yang dijumpainya.“Bela...” gumamnya dengan senyum ceria di wajahnya.Virgo juga belum terlalu memahami perasaan yang tengah melandanya saat ini. Karena pada awalnya, ia ingin menikahi Bela karena ia berpikir bahwa sosok sederhana itu bisa menjadi teman baik untuk anaknya. Hidup berdua saja dengan kesibukan yang tak menentu, membuatnya selalu meninggalkan sang buah hati. Ia kerap kali merasa berdosa saat melihat gadis mungil itu menunggu kepulangannya dari kantor dengan tidur di sofa ruang tamu. Meski ada banyak sekali pembantu bahkan beberapa pengasuh yang menjaganya, bagi Virgo sosok semungil Sera masih membutuhkan peran ibu dalam kesehar
Setelah keluar dari kamar pembantu keluarga Arman, Virgo bergegas pulang. Ketika ia berjalan santai di sekitar halaman rumah keluarga Arman untuk mengambil motor sportnya, Bela setengah berlari mengejarnya. “Tuan...” panggilnya dengan satu kaki yang ia seret guna mempercepat langkahnya. Demi mengejar Virgo, Bela sanggup menahan rasa sakit di pergelangan kakinya. Ia membawa sebuah kotak makan yang ingin ia berikan kepada Virgo sesuai dengan amanah sang ibu kepadanya.“Kenapa kau tidak menemani ibumu saja di kamar?” tanggap Virgo yang kemudian menghentikan langkahnya.Bela menggelengkan kepalanya sembari tersenyum ramah pada sosok baik yang sudah dua kali menolong dirinya itu. Lalu diberikannya sebuah kotak makan berukuran kecil kepada Virgo.“Maaf, Saya hanya punya ini untuk Tuan!” ucapnya setelah memberikan benda berbentuk balok itu kepada Virgo.Virgo mengamati benda itu sejenak dengan wajah tampannya yang menampakkan rasa penasarannya.“Apa ini?” tanyanya sembari membolak-balik ko
‘PLAK! PLAK!’ “Sudah berani kurang ajar kamu!” Ketika Bela sampai di rumah majikannya, ia mendapatkan sebuah tamparan hebat karena memergokinya pulang larut malam. Karena memang sesungguhnya seorang pembantu tak diperkenankan keluar kecuali untuk memenuhi tugas dari majikannya. Kini, Bela sungguh harus menerima sikap kasar yang diberikan majikannya karena kesalahan yang dibuatnya. Belum juga tamparan tadi pagi ia sembuhkan, kini ia mendapatkan hukuman keji itu lagi. Bagi Bela, tidak mungkin untuknya menceritakan kejadian yang sebenarnya telah terjadi kepada Nyonya Arman. Ia berpikir, alih-alih mempercayai perkataannya, pasti hanyalah perlakuan kasarlah yang ia terima. Seburuk apapun tingkah Rio, Nyonya Arman tak akan pernah mempercayainya selama hal itu menyangkut dengan kerugian fisik yang di dapat oleh seorang pekerja dirumahnya seperti Bela. “Maafkan Saya, Nyonya!” Bela menundukkan wajahnya, ia menahan air matanya yang hampir saja keluar karena sudah tak tahan dengan tamparan y
“SIAL! APA URUSANMU!” sentak Rio geram. Virgo masih nampak sangat santai seperti biasanya. Usai meletakkan pelindung kepalanya di atas motornya, Virgo melepas dua buah sarung tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaket kulitnya. Ia menoleh ke arah Bela sejenak. Wanita itu menunjukkan binar matanya yang seakan berucap memohon perlindungannya. Sejenak ia memandangi Bela yang kala itu nampak sangat berantakan. Matanya sembab, rambutnya berantakan, dan beberapa kancing baju yang dikenakannya terlepas, bahkan ada beberapa bagian baju yang dikenakannya dalam kondisi robek. Entah mengapa tiba-tiba saja dapat melihat sosok Mika-mendiang istrinya yang berusia 18 tahun dalam diri gadis itu. Ia melihat sosok Mika yang kala itu tengah bersedih karena perlakuan biadab yang ia lakukan saat di Belanda. Melihat sosok itu pada Bela yang kini nampak sama lemahnya seperti Mika saat itu, membuat Virgo mengepalkan tangannya. Dengan perasaan marah ia melangkah mendekati Rio yang terus memandang sini
Bela menggelengkan kepalanya. Ia sungguh menolak keras ajakan yang Rio maksudkan itu. “M-maaf Tuan, Saya harus...” Belum sempat Bela berpamitan, pemuda itu sudah menariknya, lalu melemparnya ke atas ranjang. Bela yang menyadari situasi tak mengenakan itu, dengan cepat beranjak dari tempatnya ka
Bela sampai dikediaman keluarga Arman. Ia masih membawa kebingungannya akan ajakan menikah itu. Dan ketika ia masuk melalui pintu dapur keluarga Armah, ia melihat satu pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Ia melihat Asih-ibunya, duduk sambil menangis di bawah kaki Nyonya Arman. Bela pun terh
1 tahun kemudian ‘PLAK!’Dia adalah Bela, Adelia Amabella. Gadis berusia 19 tahun itu membantu ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga di keluarga Arman. Gadis itu memiliki perawakan cantik nan putih bak bidadari, sehingga berulang kali orang yang berjumpa dengannya mengira bahwa dirinya adala
‘Lima belas tahun aku lewati bersamamu, tak ku sangka untuk pertama kalinya kamu membuatku takut kembali setelah waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Aku sungguh tak menyangka akan berlari seperti ini lagi untukmu setelah waktu bahagia yang kita lewatkan bersama-sama.’ Virgo kala itu baru saja pu







