Share

Bimbang

last update publish date: 2026-05-13 15:43:53

“APA?”

Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak.

‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati.

Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terombang-ambing dalam dasar laut yang gelap. Debaran tak terkendali itu benar-benar menyesakkan dadanya.

“Me-menikah T-Tuan?”

Kedua mata Bela terbelalak lebar setelah mendengar hal yang baginya sangat aneh. Benar-benar sangat aneh, karena tiba-tiba saja, lelaki berperawakan tampan itu menyatakan maksud hatinya untuk menikahi Bela.

Virgo memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. Wajahnya mendekat, hingga kini keduanya berjarak sekitar 5 sentimeter dari hidung ke hidung. Sungguh jelas napas demi napas yang Virgo dan Bela hirup dan hembuskan. Bahkan tiba-tiba saja hal itu membuat jantung Bela kembali berdebar semakin hebat.

Takut Virgo mendengar debaran dalam batinnya, secepat kilat Bela memundurkan langkahnya. Dan tak ada hal lain yang dilakukan oleh pria berusia 35 tahun itu selain menatap Bela yang mungkin kini semakin takut dengannya.

“Aku akan membelimu dari keluarga Arman.” lanjut Virgo. “Akan aku lunasi semua hutang keluargamu.”

“Ma-maksud Tuan?”

Keduanya saling menatap. Bela masih saja berkutat dengan kebingungannya yang kian membesar. Ia tak pernah berpikir bahwa sosok berhati dingin seperti Virgo akan mengajaknya menikah. Karena seperti yang ia ketahui selama ini, lelaki itu tak pernah sekalipun membuka hatinya untuk wanita lain semenjak kematian istrinya. Dan kini, dengan tiba-tiba Virgo mengutarakan maksudnya untuk membeli Bitna dari keluarga Arman yang berperilaku buruk padanya.

“Bukankah sudah jelas, aku ingin membelimu dari keluarga Arman.”

“Tapi mengapa tiba-tiba Tuan...”

“Aku sama sepertimu.” potong Virgo sebelum Bela menyelesaikan ucapannya. “Aku membutuhkanmu untuk anakku, dan kamu membutuhkanku agar dapat terbebas dari belenggu keluarga Arman yang kejam.”

“Tapi mengapa harus aku, Tuan? Bukankah masih banyak wanita yang lebih layak bersanding dengan Tuan, bila dibandingkan dengan anak seorang pembantu sepertiku?”

Satu alis Virgo terangkat memandangi Bela. Nampaknya, lelaki itu bisa membaca apa yang wanita muda itu pikirkan.

“Fani anak dari Nyonya Arman maksudmu?” tanggap Virgo.

Bitna mengangguk pelan. Seperti yang ia ketahui, selama ini Fani tak berhenti mengejar Virgo sejak kedatangannya dari Indonesia. Wanita yang berusia 4 tahun lebih tua darinya itu dengan sangat jelas mengutarakan ketertarikannya pada Virgo. Ia bahkan dengan sangat terang-terangan menunjukkan rasa sukanya itu di hadapan kedua orang tuanya tanpa peduli dengan sang ibu yang terlampau kesal dengan ucapan kasar Virgo setiap berjumpa dengannya.

Pikir Bela, Fani adalah jodoh yang sepadan untuk Virgo jika melihat berapa banyak harta yang dimiliki oleh keluarganya. Apalagi, keduanya sama-sama berasal dari keluarga terpandang.

Oleh karenanya, ia merasa sangat aneh saat dengan secara tiba-tiba Virgo mengajaknya untuk menikah. Ia merasa sangat heran karena tiba-tiba saja Virgo memilih dirinya yang hanya putri seorang pembantu di rumah keluarga Arman.

“Kenapa kau menyangka bahwa aku akan sudi memilih anak dari keluarga Arman dari pada dirimu?” tanya Virgo.

“Karena...”

“Karena kekayaan mereka?” tebak Virgo cepat.

Bela menganggukkan kepalanya. Seperti apa yang Bela pelajari selama ini, status sosial menjadi sangat penting di dunia ini. Sosok miskin seperti dirinya, tentu saja tak layak untuk bersanding dengan seseorang seperti Virgo. Tak peduli secantik apa wajah yang dimilikinya, bagi Bela, di dunia yang keras ini tak ada yang lebih baik bila dibandingkan dengan kekuasaan di atas kekayaan yang melimpah.

“Bukankah akan memalukan jika Tuan menikahi anak seorang pembantu seperti aku?” tanpa ragu Bela mengutarakan tanda tanya yang terus berkutat dalam benaknya.

Virgo tersenyum smirk. Ia memasukkan kedua tangannya di saku celananya dan menatap Bela dengan tatapan matanya yang dingin hingga membuat gadis itu gugup.

“Aku tidak pernah percaya dengan orang kaya, apalagi untuk menyerahkan anakku.”

“Tapi Tuan...”

“Bukankah kau sendiri sedang berkencan dengan anak pengusaha sepatu itu?” potong Virgo kemudian.

Bela mengernyitkan dahinya. Ia masih bingung dangan apa yang diucapkan Virgo padanya. Ia mencoba menerka-nerka seseorang yang Virgo maksudkan.

“Anak pengusaha sepatu?” tanyanya bingung.

Virgo hanya tersenyum, sementara Bela masih perlu berpikir dengan apa yang Virgo ucapkan padanya. Sejenak Virgo menganggukkan kepalanya sembari memikirkan sesuatu tentang Bela yang nampak jelas bahwa wanita itu tak mengerti sepatah kata pun maksud dari ucapannya.

“Pikirkan apa yang aku tawarkan padamu baik-baik di rumah!” ujar Virgo kemudian. “Datanglah ke kantorku jika kamu sudah memiliki jawaban untuk tawaranku ini!”

Virgo melangkah pergi meninggalkan Bela yang masih kebingungan. Ia memandangi lelaki itu dari belakang.

Lelaki yang terlampau lebih dewasa dari dirinya itu melangkah pergi dengan senyuman dibibirnya yang tentunya tak bisa Bela lihat. Ia masuk ke dalam sebuah mobil sport setelah sebelumnya seorang sopir pribadi membukakan pintu mobil untuknya.

“Anak pengusaha sepatu?” gumam Bila seraya berpikir. “Kak Arya?” hingga kemudian satu nama keluar di kepalanya.

Ia memikirkan kebenaran yang tengah ia telaah dalam kepalanya. Lalu ia menggelengkan kepalanya mengingat bagaimana sosok kekasihnya itu.

“Mana mungkin Kak Arya yang kesehariannya hanya makan mie instan itu anak pengusaha sepatu? Bahkan membeli kopi saja dia pakai uangku! Bahkan setahun lalu dengan bangga ia memamerkan dirinya masuk ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi!” gumamnya kemudian.

“Lalu, bagaimana hubunganku dengan Kak Arya?”

Kebingungan silih berganti terus menghampiri pikirannya. Ia sungguh tak yakin jika sosok anak pengusaha yang Virgo maksud adalah sosok Arya yang selama ini dikencaninya.

Sembari berjalan, tepatnya setelah ia memasukkan buku-buku tebal ke dalam tas ranselnya, ia mengeluarkan sebuah dompet dari dalam saku celananya. Dibukanya dompet berwarna kuning itu.

Bela memandangi potret dirinya bersama kekasihnya-Arya yang sudah lama menjalin hubungan sedari mereka bersekolah di sekolah yang sama. Kini, ia dilema. Ingin hati ia mempertahankan hubungan yang sudah lama itu dengan Arya, namun di sisi lain, ia ingin terbebas dari belenggu keluarga Arman yang terus menjeratnya.

“Aku harus bagaimana Tuhan?”

Bela berjalan dengan perasaan gunda dalam benaknya. Hingga kemudian, butir-butir rintik hujan yang turun dan mengalihkan pandangannya. Bela menengadahkan kepalanya. Ia menatap rintik-rintik hujan yang kini mendarat di tangan kanannya.

“Hujan pertama di bulan ini turun setelah ajakan menikah?” gumamnya. “Andai itu dikatakan atas dasar cinta, hubungan itu bisa menjadi abadi setelah hujan pertama turun...”

Bela masih berkutat dengan butiran rintik hujandalam genggamannya. Tak ada senyum di bibirnya. Rintik hujan pertama selama penantiannya, kini menjadi suatu saksi kebimbangan hatinya. Dan tiba-tiba saja, ia memikirkan sesuatu. Sesuatu yang datang dari masa lalunya. Sesuatu yang hingga kini menyakiti ia dan juga ibunya.

“Ayah, berapa lama lagi kamu bersembunyi?”

Ini adalah tahun ketiga Bela tak mendengar keberadaan ayahnya. Setelah berhutang kepada Tuan Arman, lelaki itu pun menghilang begitu saja. Ia menghilang dengan uang pinjaman yang di dapatnya serta tabungan Bela yang selama ini dikumpulkannya untuk berkuliah.

Entah dimana lelaki itu sekarang. Entah bagaimana hidupnya setelah meninggalkan keluarganya dalam belenggu hutang yang hari demi hari menyiksa keduanya.

Tanpa sadar, lamunan Bela membawanya di depan sebuah universitas impiannya. Sejenak ia tersenyum membayangkan dirinya masuk bersama beberapa orang ke dalam universitas itu dengan beberapa buku dalam genggamannya.

“Haruskah aku menerima tawaran gila Tuan Virgo?” gumamnya.

‘BRAKK!’

Tiba-tiba seseorang menabraknya, dan buku-buku yang di bawa orang itu pun berserakan di kaki Bela. Sejenak Bela memandangi buku-buku yang beberapa mirip dengan buku yang dimilikinya. Kemudian, ia menengadahkan kepalanya memandangi si pemilik buku yang ternyata tengah tersenyum di hadapannya.

“Kak Arya?”

Wajah Bela memerah melihat kekasih yang teramat dicintainya itu berdiri di hadapannya. Lelaki bertubuh atletis itu melambaikan tangannya dengan senyumnya yang riang dan membuat dua lesung pipinya semakin menambah pesona dirinya.

“Kenapa sampai melamun?” tanya Arya seraya memunguti buku-buku miliknya dengan cepat.

“Kak...”

“Arya!”

Belum selesai Bela berkata, seorang wanita seusianya tengah melambaikan tangannya dari kejauhan. Dia adalah Aoki, salah seorang sahabat yang juga mengenal baik dirinya.

“Ah, maaf Bela! Nanti aku telepon ya!”

“Tapi Kak...”

“Nanti aku telepon kamu ya! Aku dan Aoki harus presentasi! Dadah!” seru Arya kemudian berlari menghampiri Aoki yang kemudian juga melambaikan tangannya ke arah Bela yang masih terdiam karena kekasihnya pergi begitu saja.

Bela melihat keduanya yang nampak sangat akrab seperti biasanya.

“Seminggu yang lalu kau juga berjanji akan menelponku, Kak...”gumamnya kemudian bergegas melangkah pergi dengan perasaan kesal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menginginkanmu   Bimbang

    “APA?” Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak.‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati.Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terombang-ambing dalam dasar laut yang gelap. Debaran tak terkendali itu benar-benar menyesakkan dadanya. “Me-menikah T-Tuan?”Kedua mata Bela terbelalak lebar setelah mendengar hal yang baginya sangat aneh. Benar-benar sangat aneh, karena tiba-tiba saja, lelaki berperawakan tampan itu menyatakan maksud hatinya untuk menikahi Bela. Virgo memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. Wajahnya mendekat, hingga kini keduanya berjarak sekitar 5 sentimeter dari hidung ke hidung. Sungguh jelas napas demi napas yang Virgo dan Bela hirup dan hembuskan. Bahkan tiba-tiba saja hal itu membuat jantung Bela kembali berdebar semakin hebat. Takut Virgo mendengar debara

  • Aku Menginginkanmu   Ajakan Menikah

    1 tahun kemudian ‘PLAK!’Dia adalah Bela, Adelia Amabella. Gadis berusia 19 tahun itu membantu ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga di keluarga Arman. Gadis itu memiliki perawakan cantik nan putih bak bidadari, sehingga berulang kali orang yang berjumpa dengannya mengira bahwa dirinya adalah anak dari Nyonya Arman majikannya. Gadis berdarah asli Sunda-cina itu tak seberuntung teman-temannya. Ia harus merelakan dirinya membantu kedua orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Arman. Tak di sangka, untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tamparan dari majikannya. Nyonya Arman kesal saat salah seorang penata busana mengira bahwa Bela adalah salah satu anaknya. Oleh karenanya ketika keduanya keluar dari butik yang megah itu, Nyonya Arman tak segan mendaratkan tamparannya di pipi gadis muda itu.“Beraninya kau!” umpat Nyonya Arman.Bela hanya tertunduk karena tak kuasa menahan ketakutannya akan sikap kasar Nyonya Arman padanya. Ini untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tampar

  • Aku Menginginkanmu   Bela

    Di Pemakaman... Sebuah buket bunga lili berwarna putih Virgo letakkan di atas batu nisan istrinya. Tangisnya kembali pecah. Ia sungguh tak mampu menahan air matanya. Teringat olehnya bagaimana senyuman cantik itu menyambutnya saat ia memberikan buket bunga lili kesukaannya. Kini, ia sungguh tak menyangka akan memberikan buket bunga itu di tempat yang membuatnya merasakan sakit hati yang tiada tara. Karena perpisahan yang Tuhan berikan adalah perpisahan yang paling sulit untuk diikhlaskan begitu saja, meski telah mencoba untuk mengikhlaskannya. “Maafkan aku Mika! Aku gagal melindungimu dan anak kita!” ucapnya lirih. Tak peduli berapa banyak ucapan duka yang terdengar di telinganya dari para pengunjung yang datang di pemakaman Mika hari itu. Virgo hanya terdiam di depan batu nisan bertuliskan nama istrinya. Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Ia sungguh berharap bahwa hari ini adalah mimpi buruk yang harus dilewatinya semalam saja. Lalu, di tatapnya pula batu nisan yang sangat famil

  • Aku Menginginkanmu   Prolog

    ‘Lima belas tahun aku lewati bersamamu, tak ku sangka untuk pertama kalinya kamu membuatku takut kembali setelah waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Aku sungguh tak menyangka akan berlari seperti ini lagi untukmu setelah waktu bahagia yang kita lewatkan bersama-sama.’ Virgo kala itu baru saja pulang dari Korea ketika ia mendengar kabar tak mengenakan tentang istrinya-Mika. Dengan peluh yang tak berhenti membasahi tubuhnya, ia berlarian menyusuri lorong rumah sakit tempat dimana Mika di rawat setelah kecelakaan yang menimpanya. Kedua matanya pun tak berhenti menitikkan air mata karena kekhawatiran yang ia rasakan. “Mika! Ku mohon...” ujarnya sembari terus berlarian mencari ruang dimana istrinya tengah di operasi. Kekhawatiran yang sungguh menyiksa, apalagi mengingat bahwa saat ini Mika tengah mengandung anak keduanya. Pagi tadi, ia berencana untuk membeli beberapa hadiah untuk menyambut kedatangan suaminya. Tanpa di dampingi siapapun di sampingnya, ia mengoperasikan kursi rodanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status