MasukBela sampai dikediaman keluarga Arman. Ia masih membawa kebingungannya akan ajakan menikah itu. Dan ketika ia masuk melalui pintu dapur keluarga Armah, ia melihat satu pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Ia melihat Asih-ibunya, duduk sambil menangis di bawah kaki Nyonya Arman.
Bela pun terheran-heran melihat majikannya itu dengan kejam menginjak tangan ibunya dengan hak tinggi sepatunya. Sungguh perlakuan yang sangat tak berprikemanusiaan, dengan semudah itu Nyonya Arman menyakiti ibunya. “Nyonya!” Hal itu membuat Bela dengan cepat menghampiri dan ikut bersujud di hadapan majikannya. Ia pun berusaha melepaskan tangan ibunya dari sepatu majikannya. Namun, wanita kejam itu malah semakin menekan tangan ibu Bela dengan sepatunya hingga ibunya meringis menahan sakit. Entah seperti apa luka yang dirasakan oleh sang ibu. Melihatnya saja membuat Bela ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi, karena ia tak ingin menambah amarah majikannya yang temperament itu, akhirnya ia hanya mampu menyaksikan benda sekeras itu menekan punggung tangan ibunya hingga berdarah. Derai air mata bisa ia lihat begitu jelas dari wajah sang ibu. Dan dengan sangat jelas pula ia melihat bagaimana sang majikan memandang ia serta ibunya. Wanita yang terlampau tua darinya itu menatap sinis dirinya, seakan memang hanya ada kebencian di dalam hatinya. Semakin lama, benda itu semakin menekan punggung ibunya hingga darah mulai mengalir karena tusukannya yang kian dalam. Hal itu tentu saja memancing emosi Bela. “Nyonya! Apa salah ibu Saya, Nyonya! Kenapa ibu Saya Nyonya hukum seperti ini?” Bela menangis sejadi-jadinya karena tak dapat melepas tangan ibunya dari penderitaan yang Nyonya Arman berikan. Kini ia tak lagi dapat menahan tangisannya tatkala melihat sang ibu yang semakin terluka karena perbuatan keji sang majikan. Muak dengan tangisan dua orang pekerja di rumahnya itu, Nyonya Arman menendang ibu Bela begitu saja hingga kepala wanita itu terbentur ubin. “IBU!” jerit Bela panik. Bela sembari terus menangis menghampiri ibunya dan mencoba untuk membantunya berdiri. Tapi, dengan cepat Nyonya Arman tiba-tiba saja menendang Bela hingga terjatuh. Wanita itu benar-benar tak memberi kesempatan kepada Bela untuk menolong ibunya. Asih-ibu Bela, hanya bisa menangis tanpa suara di tempatnya. Wanita tuna rungu dan tuna wicara itu nampak sangat sedih melihat anaknya menahan sakit di pinggang karena terkena hantaman sepatu hak tinggi milik Nyonya Arman. Tak peduli seberapa sakit tangannya yang terluka, baginya melihat anak kesayangannya itu di sakiti membuatnya merasakan sakit yang begitu hebat dalam relung hatinya. “Ibu dan anak sama-sama merepotkan!” sentak Nyonya Arman kemudian melemparkan sebuah pakaian ke wajah Bela. “Jika kalian sudah bosan, berhenti saja bekerja! Lunasi saja hutang kalian di dalam penjara! Dasar brengsek!” Setelah puas meneriaki serta menyakiti Bela maupun Asih, Nyonya Arman pergi begitu saja meninggalkan keduanya. Selepas kepergian majikannya itu, Bela memandangi sebuah pakaian yang dilemparkan padanya. Ketika ia memperhatikan benda di tangannya itu, barulah Bela menyadari kesalahan yang membuat Nyonya Arman marah pada ibunya. Pakaian mahal yang tengah di setrika oleh ibunya itu dalam keadaan tidak baik-baiknya. Pakaian itu berlubang karena terbakar oleh setrika. Bela pun menangis sejadi-jadinya menatap pakaian di tangannya. ‘Seandainya saja...’ gumamnya dalam hati. Sesak ia rasakan dalam batinnya. Merasakan hal sesesak itu membuatnya memukul-mukul dadanya dengan derai air mata yang tak berhenti begitu saja. Tangisan Asih pun semakin menjadi tatkala ia menghampiri anaknya. Ia menatap kedua mata Bela dengan tatapan sedihnya. Kemudian, dengan isyarat jari-jari tangannya, ia mulai berbicara. 'Bela, maafkan Ibu.' ucap Asih dalam bahasa isyaratnya, dan Bela memperhatikan dengan cermat hal-hal yang diucapkan oleh ibunya itu melalui gerak tangannya. 'Maaf karena tak pernah memberikan kehidupan yang menyenangkan untukmu. Maaf, karena selalu membuatmu terbawa dalam masalah yang seharusnya hanya ibu yang menghadapinya!' Bela terdiam, ia memandangi ibunya dengan derai air mata yang terus membasahi pipinya. Lelah yang dirasakan, sesaat membuatnya nampak berputus asa. “Aku sungguh membenci keadaan kita, Bu! Aku sungguh benci menjadi orang miskin!” Bela meluapkan kekesalannya. Ia berucap dengan diiringi isyarat tangan agar ibunya mengerti ucapannya. “Seharusnya, aku tak dilahirkan seperti ini!” tambahnya. Sang ibu kembali menggerak-gerakkan jemari tangannya dan mulai menanggapi perkataan anaknya. 'Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bermaksud membuatmu menderita seperti ini.' Bela memejamkan kedua matanya sejenak. Ia ingin membuang semua rasa kesal di benaknya. Setelah ia berhasil berdamai dengan dirinya sendiri, ia menghampiri sang ibu dan memeluknya. Ia menyesal karena mengatakan hal-hal kasar kepada ibunya yang sejatinya juga merasakan luka yang sama seperti dirinya. “Maafkan Bela, Ibu!” Detik itu, Bela menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. Dalam tangisnya, ia mengingat bagaimana perlakuan majikannya itu selama ini. Khususnya pada hari yang ia lewati seperti hari ini. Hari-hari yang tidak pernah berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Entah berapa banyak luka dan cacian yang diterimanya, hanya sakit dalam hatinya lah yang susah ia sembuhkan. Meski luka-luka di wajahnya kian membaik, namun luka-luka di hatinya masih terus bertambah dan semakin memburuk. Apalagi, sosok yang dicintainya, akhir-akhir ini tak begitu peduli dengannya. Arya nyaris selalu lupa untuk mengabarinya. Bahkan lelaki itu pun tak pernah menyadari luka lebam yang selalu menghiasi pipi putih bak salju milik Bela. Lelaki yang seharusnya bisa menjadi sandaran terbaik tempatnya menumpahkan segala kesedihannya, kini seakan mulai mengabaikannya. “Ibu, aku lelah seperti ini...” Hanya memeluk sang ibu yang bisa Bitna lakukan untuk melampiaskan segala rasa sakit dibenaknya. Keduanya pun menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala asa yang dirasakannya seharian ini. TIN!’ Hingga tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil milik salah seorang majikannya yang baru saja pulang. Seperti biasa, di jam seperti ini anak terkecil dari Nyonya Arman baru pulang dari kegiatannya di sekolah. Bela yang sudah biasa dengan kebiasaannya untuk menyambut tuan mudanya tersebut pun dengan tangkas ingin segera melayaninya seperti biasa. Bela menghapus air matanya, ia pun melepas pelukannya. Sambil tersenyum, Bela menghapus air mata yang tertanggal di kedua mata cantik milik ibunya. Di kecupnya pipi sang ibu dan mengangguk pelan, seakan memberi pertanda bahwa sudah saatnya mereka menghentikan tangisannya meski luka-luka itu masih kian menyakitkan. “Biar Bela saja, Ibu tunggu Bela di kamar.” pinta Bela dengan jari-jarinya yang terus mengaturkan isyarat demi isyarat agar sang ibu memahami perkataannya. Asih menggelengkan kepalanya. Ia yang juga mengerti bahwa anak semata wayangnya itu juga kelelahan. Ia pun enggan mengiyakan permintaan anaknya yang berusaha membiarkan dirinya untuk menikmati waktu beristirahat meski hanya sejena. Namun apa daya, perlahan Bela mendorong ibunya ke arah dimana mereka seharusnya beristirahat agar menuruti permintaannya. Kemudian, dengan beberapa isyarat tangannya pun Baram berucap kepada anaknya. 'Ibu tunggu di kamar, ya!' ujarnya dalam gerak jari jemari lentik miliknya. “Iya, Bu.” Bela mengiyakan. “Pergilah dan beristirahatlah!” ujar Bela seraya membelai lembut rambut ibunya yang sudah kian memutih. Setelah melihat kepergian ibunya, Bela segera berlari menuju ke halaman megah kediaman keluarga Arman. Ketika ia tiba di sana, ia melihat tuan mudanya keluar dari mobil mewahnya. Remaja berusia 17 tahun itu tersenyum licik saat melihat keberadaan Bela yang selalu menyambut kedatangannya untuk membantu membawa tas sekolah miliknya. Hari-hari penat yang ia jalani selama di sekolah, kini seolah-olah ia lupakan tatkala melihat wajah cantik anak pembantunya itu. Matanya yang nakal pun mulai menjelajahi setiap titik indah yang ada pada tubuh Bela di balik baju kumalnya. Ada pikiran picik yang terlintas di benaknya saat melihat sosok ayu itu berdiri di hadapannya. “Bawa ini!” pintanya seraya melemparkan tas ransel miliknya setelah ia mengambilnya dari dalam mobil sport mewah kesayangannya. Dengan sangat cepat Bela menangkap sebuah tas ransel milik Rio-majikan mudanya. Ia menangkap benda berat itu hingga nyaris terjatuh. Kemudian dengan langkah terburu-buru ia mengikuti langkah tuannya yang berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sambil tersenyum licik Rio menyusuri lorong kecil di lantai dua yang membawanya ke tempat dimana kamar pribadinya itu berada. Ia sesekali melirik ke arah Bela yang terus mengikuti langkahnya. Hingga kemudian keduanya berdiri di depan sebuah kamar. Rio memberi isyarat kepada Bela untuk membukakan pintu kamarnya tanpa peduli gadis itu tengah membantunya membawa tas ransel berat miliknya. Bela pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan perintah sederhana dari anak majikannya. ‘CKLEK!’ Perlahan Bela membukakan pintu untuk tuannya. Kemudian, dengan langkah yang sangat hati-hati, Bela meletakkan tas ransel milik Rio di atas meja belajarnya. Namun betapa terkejutnya ia ketika ia membalikkan badannya. Remaja yang usianya dua tahun lebih muda darinya itu sudah ada di hadapannya dengan senyum licik yang tersungging di bibirnya. Rio menatap lekat-lekat dua bola mata indah milik Bela. Satu tangan Rio memainkan ujung rambut ikal milik Bela dengan senyum licik yang tak henti-hentinya ia perlihatkan kepada Bela tanpa peduli hal itu membuat anak pembantunya semakin takut. “Ma-maaf Tuan, Saya harus...” “Sssssttt!” Rio menempelkan ujung jari telunjuknya pada bibir Bela. Bela terdiam. Ia juga semakin ketakutan. Ini benar-benar situasi yang dengan sangat jelas dapat ia bayangkan hal buruk apa yang akan terjadi padanya. Apalagi melihat sorot mata nakal itu yang setiap hari selalu mengawasi dirinya. “Maafkan Sa-saya T-tuan Rio, Saya harus menyelesaikan..” “Ayolah! Mainlah sebentar denganku!” ‘Keesokan harinya...“Halo Sera, panggil saja aku Kakak jika kau mau! Bagaimana?”Keesokan harinya, Virgo membawa Bela ke rumahnya dan memperkenalkannya dengan Sera-anaknya. Gadis berusia 5 tahun itu nampak tak suka dengan kehadirannya. Semua terlihat jelas di mata Sera saat melihat bagaimana raut wajahnya saat menatap dirinya. Oleh karenanya Bela menawarkan diri agar Sera bisa memanggilnya dengan sebutan Kakak alih-alih memanggilnya Tante yang kelak akan menjadi ibunya.Sera hanya terdiam memandangi Bela dengan dua bola mata besarnya yang menatapnya tajam. Lalu ia menghadap ke ayahnya dan menarik ujung jas yang dikenakan oleh ayahnya agar lelaki berusia 35 tahun itu membungkukkan badannya ketika hendak mendengarnya berbicara. Virgo pun dengan cepat membungkukkan badannya untuk mendengarkan perkataannya kali ini. Sementara Bela hanya dapat memperlihatkan senyum manisnya alih-alih menantikan balasan dari Sera atas sikap ramahnya.“Ada apa Sera?” tanya Virgo pelan.Sera kembali terdiam,
Virgo tertegun setelah tiba-tiba saja Bela meminta dirinya agar ia menikahinya. Sementara wanita itu masih menangis tersedu-sedu di hadapannya. Tentu saja hal itu membuat Virgo bertanya-tanya. “Kamu serius, mau aku menikahimu?” tanya Virgo mencoba memastikan.Bela menganggukkan kepalanya perlahan. Kini sungguh tak ada hal lain dalam hatinya setelah melihat betapa bodoh dirinya selama ini karena terlalu mempercayai kekasihnya- Arya. Ia sungguh tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari sosok kekasih dan juga sosok sahabatnya.Aoki adalah sahabatnya saat mereka sama-sama bersekolah di sekolah menengah. Keduanya bahkan selalu bertemu di kelas yang sama dan duduk bersama-sama. Aoki sering mengajaknya menginap di rumahnya sebelum Bela dan keluarganya terjerat belenggu keluarga Arman. Keduanya selalu bersama-sama layaknya seorang saudari. Bahkan Aoki merupakan saksi perjalanan cintanya dengan Arya. Aoki selalu mempersatukan mereka saat keduanya terlibat perselisihan selama m
Bela bergegas pergi dari kamarnya setelah sebelumnya ia meraih sebuah jaket tebal miliknya. Musim hujan yang begitu dingin di Jakarta mengharuskannya mengenakan pakaian tebal sebelum kemudian menutupinya dengan sebuah jaket tebal yang dimilikinya. Yah, ibukota dalam seminggu sedang dilanda hujan ektrem. Ia memberhentikan sebuah taxi saat sudah berada dipinggir jalan. Dengan rasa optimis ia ingin segera menjumpai kekasihnya itu. Ia juga ingin mengetahui kabar Arya yang sudah sangat lama tidak menghubunginya. Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Bela untuk pergi ke apartement Arya. Letak yang lumayan dekat itu bisa ia capai dengan taxi yang dinaikinya hanya selama 20 menit saja. Ketika taxi itu berhenti di sebuah gedung apartement tempat dimana Arya tinggal, ia segera turun setelah sebelumnya membayar taxi yang ditumpanginya. Dengan langkah ceria ia masuk ke dalam apertement itu. Ia menyusuri lorong apartement dengan langkah riang bak seorang gadis kecil yang baru saja menerima hadi
Pagi hari di kediaman keluarga Arman... “Nyonya, apakah Saya boleh keluar sebentar pagi ini?” Pagi hari, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Bela mencoba mendapatkan kemurahan hati majikannya untuk pergi menemui Arya hari ini. Tak mendapat kabar sama sekali dari lelaki yang teramat dicintainya itu membuat Bela ingin menemuinya langsung di apartementnya. Oleh karenanya, ia mengumpulkan keberaniannya untuk meminta ijin sang majikan. Pagi itu Nyonya Arman sedang santai di atas kursi goyangnya sembari membaca sebuah majalah di tangannya. Bela memainkan jari-jarinya, menunggu dengan perasaan tak tenang akan jawaban dari majikannya. “Mau kemana?” tanya Nyonya Arman sembari terus membaca majalah di tangannya. “Ke rumah teman, Nyonya.” Nyonya Arman menutup majalahnya, lalu memandangi wajah Bela dengan tatapan sinisnya. “Oke, pergilah!” jawabnya. “Kebetulan aku tak ingin melihat wajahmu yang menjengkelkan hari ini! Haiiiissshhh! Memikirkan peristiwa semalam saja membuatku muak.” “Jadi,
Jalanan kota Jakarta yang begitu padat tak menghalangi Virgo yang berkendara dengan motornya. Ia membelah jalanan kota besar itu sambil menikmati sebuah alunan musik dari earphone di telinganya. Sebuah musik rock mengalun dan membuat perjalanannya menyenangkan. Di sela ia menikmati musik di telinganya, sejenak ia tersenyum saat mengingat satu wajah yang dijumpainya.“Bela...” gumamnya dengan senyum ceria di wajahnya.Virgo juga belum terlalu memahami perasaan yang tengah melandanya saat ini. Karena pada awalnya, ia ingin menikahi Bela karena ia berpikir bahwa sosok sederhana itu bisa menjadi teman baik untuk anaknya. Hidup berdua saja dengan kesibukan yang tak menentu, membuatnya selalu meninggalkan sang buah hati. Ia kerap kali merasa berdosa saat melihat gadis mungil itu menunggu kepulangannya dari kantor dengan tidur di sofa ruang tamu. Meski ada banyak sekali pembantu bahkan beberapa pengasuh yang menjaganya, bagi Virgo sosok semungil Sera masih membutuhkan peran ibu dalam kesehar
Setelah keluar dari kamar pembantu keluarga Arman, Virgo bergegas pulang. Ketika ia berjalan santai di sekitar halaman rumah keluarga Arman untuk mengambil motor sportnya, Bela setengah berlari mengejarnya. “Tuan...” panggilnya dengan satu kaki yang ia seret guna mempercepat langkahnya. Demi mengejar Virgo, Bela sanggup menahan rasa sakit di pergelangan kakinya. Ia membawa sebuah kotak makan yang ingin ia berikan kepada Virgo sesuai dengan amanah sang ibu kepadanya.“Kenapa kau tidak menemani ibumu saja di kamar?” tanggap Virgo yang kemudian menghentikan langkahnya.Bela menggelengkan kepalanya sembari tersenyum ramah pada sosok baik yang sudah dua kali menolong dirinya itu. Lalu diberikannya sebuah kotak makan berukuran kecil kepada Virgo.“Maaf, Saya hanya punya ini untuk Tuan!” ucapnya setelah memberikan benda berbentuk balok itu kepada Virgo.Virgo mengamati benda itu sejenak dengan wajah tampannya yang menampakkan rasa penasarannya.“Apa ini?” tanyanya sembari membolak-balik ko
Di Pemakaman... Sebuah buket bunga lili berwarna putih Virgo letakkan di atas batu nisan istrinya. Tangisnya kembali pecah. Ia sungguh tak mampu menahan air matanya. Teringat olehnya bagaimana senyuman cantik itu menyambutnya saat ia memberikan buket bunga lili kesukaannya. Kini, ia sungguh tak me
‘Lima belas tahun aku lewati bersamamu, tak ku sangka untuk pertama kalinya kamu membuatku takut kembali setelah waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Aku sungguh tak menyangka akan berlari seperti ini lagi untukmu setelah waktu bahagia yang kita lewatkan bersama-sama.’ Virgo kala itu baru saja pu
Bela menggelengkan kepalanya. Ia sungguh menolak keras ajakan yang Rio maksudkan itu. “M-maaf Tuan, Saya harus...” Belum sempat Bela berpamitan, pemuda itu sudah menariknya, lalu melemparnya ke atas ranjang. Bela yang menyadari situasi tak mengenakan itu, dengan cepat beranjak dari tempatnya ka
“APA?” Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak.‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati.Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terom







