Startseite / Romansa / Aku Menginginkanmu / Budak yang Diinjak

Teilen

Budak yang Diinjak

last update Veröffentlichungsdatum: 05.06.2026 16:13:12

Bela sampai dikediaman keluarga Arman. Ia masih membawa kebingungannya akan ajakan menikah itu. Dan ketika ia masuk melalui pintu dapur keluarga Armah, ia melihat satu pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Ia melihat Asih-ibunya, duduk sambil menangis di bawah kaki Nyonya Arman.

Bela pun terheran-heran melihat majikannya itu dengan kejam menginjak tangan ibunya dengan hak tinggi sepatunya. Sungguh perlakuan yang sangat tak berprikemanusiaan, dengan semudah itu Nyonya Arman menyakiti ibunya.

“Nyonya!”

Hal itu membuat Bela dengan cepat menghampiri dan ikut bersujud di hadapan majikannya. Ia pun berusaha melepaskan tangan ibunya dari sepatu majikannya. Namun, wanita kejam itu malah semakin menekan tangan ibu Bela dengan sepatunya hingga ibunya meringis menahan sakit.

Entah seperti apa luka yang dirasakan oleh sang ibu. Melihatnya saja membuat Bela ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi, karena ia tak ingin menambah amarah majikannya yang temperament itu, akhirnya ia hanya mampu menyaksikan benda sekeras itu menekan punggung tangan ibunya hingga berdarah. Derai air mata bisa ia lihat begitu jelas dari wajah sang ibu. Dan dengan sangat jelas pula ia melihat bagaimana sang majikan memandang ia serta ibunya. Wanita yang terlampau tua darinya itu menatap sinis dirinya, seakan memang hanya ada kebencian di dalam hatinya.

Semakin lama, benda itu semakin menekan punggung ibunya hingga darah mulai mengalir karena tusukannya yang kian dalam. Hal itu tentu saja memancing emosi Bela.

“Nyonya! Apa salah ibu Saya, Nyonya! Kenapa ibu Saya Nyonya hukum seperti ini?”

Bela menangis sejadi-jadinya karena tak dapat melepas tangan ibunya dari penderitaan yang Nyonya Arman berikan. Kini ia tak lagi dapat menahan tangisannya tatkala melihat sang ibu yang semakin terluka karena perbuatan keji sang majikan.

Muak dengan tangisan dua orang pekerja di rumahnya itu, Nyonya Arman menendang ibu Bela begitu saja hingga kepala wanita itu terbentur ubin.

“IBU!” jerit Bela panik.

Bela sembari terus menangis menghampiri ibunya dan mencoba untuk membantunya berdiri. Tapi, dengan cepat Nyonya Arman tiba-tiba saja menendang Bela hingga terjatuh. Wanita itu benar-benar tak memberi kesempatan kepada Bela untuk menolong ibunya. Asih-ibu Bela, hanya bisa menangis tanpa suara di tempatnya. Wanita tuna rungu dan tuna wicara itu nampak sangat sedih melihat anaknya menahan sakit di pinggang karena terkena hantaman sepatu hak tinggi milik Nyonya Arman. Tak peduli seberapa sakit tangannya yang terluka, baginya melihat anak kesayangannya itu di sakiti membuatnya merasakan sakit yang begitu hebat dalam relung hatinya.

“Ibu dan anak sama-sama merepotkan!” sentak Nyonya Arman kemudian melemparkan sebuah pakaian ke wajah Bela.

“Jika kalian sudah bosan, berhenti saja bekerja! Lunasi saja hutang kalian di dalam penjara! Dasar brengsek!”

Setelah puas meneriaki serta menyakiti Bela maupun Asih, Nyonya Arman pergi begitu saja meninggalkan keduanya. Selepas kepergian majikannya itu, Bela memandangi sebuah pakaian yang dilemparkan padanya. Ketika ia memperhatikan benda di tangannya itu, barulah Bela menyadari kesalahan yang membuat Nyonya Arman marah pada ibunya. Pakaian mahal yang tengah di setrika oleh ibunya itu dalam keadaan tidak baik-baiknya. Pakaian itu berlubang karena terbakar oleh setrika. Bela pun menangis sejadi-jadinya menatap pakaian di tangannya.

‘Seandainya saja...’ gumamnya dalam hati.

Sesak ia rasakan dalam batinnya. Merasakan hal sesesak itu membuatnya memukul-mukul dadanya dengan derai air mata yang tak berhenti begitu saja.

Tangisan Asih pun semakin menjadi tatkala ia menghampiri anaknya. Ia menatap kedua mata Bela dengan tatapan sedihnya. Kemudian, dengan isyarat jari-jari tangannya, ia mulai berbicara.

'Bela, maafkan Ibu.' ucap Asih dalam bahasa isyaratnya, dan Bela memperhatikan dengan cermat hal-hal yang diucapkan oleh ibunya itu melalui gerak tangannya.

'Maaf karena tak pernah memberikan kehidupan yang menyenangkan untukmu. Maaf, karena selalu membuatmu terbawa dalam masalah yang seharusnya hanya ibu yang menghadapinya!'

Bela terdiam, ia memandangi ibunya dengan derai air mata yang terus membasahi pipinya. Lelah yang dirasakan, sesaat membuatnya nampak berputus asa.

“Aku sungguh membenci keadaan kita, Bu! Aku sungguh benci menjadi orang miskin!”

Bela meluapkan kekesalannya. Ia berucap dengan diiringi isyarat tangan agar ibunya mengerti ucapannya.

“Seharusnya, aku tak dilahirkan seperti ini!” tambahnya.

Sang ibu kembali menggerak-gerakkan jemari tangannya dan mulai menanggapi perkataan anaknya.

'Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bermaksud membuatmu menderita seperti ini.'

Bela memejamkan kedua matanya sejenak. Ia ingin membuang semua rasa kesal di benaknya. Setelah ia berhasil berdamai dengan dirinya sendiri, ia menghampiri sang ibu dan memeluknya. Ia menyesal karena mengatakan hal-hal kasar kepada ibunya yang sejatinya juga merasakan luka yang sama seperti dirinya.

“Maafkan Bela, Ibu!”

Detik itu, Bela menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. Dalam tangisnya, ia mengingat bagaimana perlakuan majikannya itu selama ini. Khususnya pada hari yang ia lewati seperti hari ini. Hari-hari yang tidak pernah berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Entah berapa banyak luka dan cacian yang diterimanya, hanya sakit dalam hatinya lah yang susah ia sembuhkan. Meski luka-luka di wajahnya kian membaik, namun luka-luka di hatinya masih terus bertambah dan semakin memburuk. Apalagi, sosok yang dicintainya, akhir-akhir ini tak begitu peduli dengannya. Arya nyaris selalu lupa untuk mengabarinya. Bahkan lelaki itu pun tak pernah menyadari luka lebam yang selalu menghiasi pipi putih bak salju milik Bela. Lelaki yang seharusnya bisa menjadi sandaran terbaik tempatnya menumpahkan segala kesedihannya, kini seakan mulai mengabaikannya.

“Ibu, aku lelah seperti ini...”

Hanya memeluk sang ibu yang bisa Bitna lakukan untuk melampiaskan segala rasa sakit dibenaknya. Keduanya pun menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala asa yang dirasakannya seharian ini.

TIN!’

Hingga tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil milik salah seorang majikannya yang baru saja pulang. Seperti biasa, di jam seperti ini anak terkecil dari Nyonya Arman baru pulang dari kegiatannya di sekolah. Bela yang sudah biasa dengan kebiasaannya untuk menyambut tuan mudanya tersebut pun dengan tangkas ingin segera melayaninya seperti biasa.

Bela menghapus air matanya, ia pun melepas pelukannya. Sambil tersenyum, Bela menghapus air mata yang tertanggal di kedua mata cantik milik ibunya. Di kecupnya pipi sang ibu dan mengangguk pelan, seakan memberi pertanda bahwa sudah saatnya mereka menghentikan tangisannya meski luka-luka itu masih kian menyakitkan.

“Biar Bela saja, Ibu tunggu Bela di kamar.” pinta Bela dengan jari-jarinya yang terus mengaturkan isyarat demi isyarat agar sang ibu memahami perkataannya.

Asih menggelengkan kepalanya. Ia yang juga mengerti bahwa anak semata wayangnya itu juga kelelahan. Ia pun enggan mengiyakan permintaan anaknya yang berusaha membiarkan dirinya untuk menikmati waktu beristirahat meski hanya sejena. Namun apa daya, perlahan Bela mendorong ibunya ke arah dimana mereka seharusnya beristirahat agar menuruti permintaannya. Kemudian, dengan beberapa isyarat tangannya pun Baram berucap kepada anaknya.

'Ibu tunggu di kamar, ya!' ujarnya dalam gerak jari jemari lentik miliknya.

“Iya, Bu.” Bela mengiyakan. “Pergilah dan beristirahatlah!” ujar Bela seraya membelai lembut rambut ibunya yang sudah kian memutih.

Setelah melihat kepergian ibunya, Bela segera berlari menuju ke halaman megah kediaman keluarga Arman. Ketika ia tiba di sana, ia melihat tuan mudanya keluar dari mobil mewahnya. Remaja berusia 17 tahun itu tersenyum licik saat melihat keberadaan Bela yang selalu menyambut kedatangannya untuk membantu membawa tas sekolah miliknya.

Hari-hari penat yang ia jalani selama di sekolah, kini seolah-olah ia lupakan tatkala melihat wajah cantik anak pembantunya itu. Matanya yang nakal pun mulai menjelajahi setiap titik indah yang ada pada tubuh Bela di balik baju kumalnya. Ada pikiran picik yang terlintas di benaknya saat melihat sosok ayu itu berdiri di hadapannya.

“Bawa ini!” pintanya seraya melemparkan tas ransel miliknya setelah ia mengambilnya dari dalam mobil sport mewah kesayangannya.

Dengan sangat cepat Bela menangkap sebuah tas ransel milik Rio-majikan mudanya. Ia menangkap benda berat itu hingga nyaris terjatuh. Kemudian dengan langkah terburu-buru ia mengikuti langkah tuannya yang berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sambil tersenyum licik Rio menyusuri lorong kecil di lantai dua yang membawanya ke tempat dimana kamar pribadinya itu berada. Ia sesekali melirik ke arah Bela yang terus mengikuti langkahnya.

Hingga kemudian keduanya berdiri di depan sebuah kamar. Rio memberi isyarat kepada Bela untuk membukakan pintu kamarnya tanpa peduli gadis itu tengah membantunya membawa tas ransel berat miliknya. Bela pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan perintah sederhana dari anak majikannya.

‘CKLEK!’

Perlahan Bela membukakan pintu untuk tuannya. Kemudian, dengan langkah yang sangat hati-hati, Bela meletakkan tas ransel milik Rio di atas meja belajarnya. Namun betapa terkejutnya ia ketika ia membalikkan badannya. Remaja yang usianya dua tahun lebih muda darinya itu sudah ada di hadapannya dengan senyum licik yang tersungging di bibirnya.

Rio menatap lekat-lekat dua bola mata indah milik Bela. Satu tangan Rio memainkan ujung rambut ikal milik Bela dengan senyum licik yang tak henti-hentinya ia perlihatkan kepada Bela tanpa peduli hal itu membuat anak pembantunya semakin takut.

“Ma-maaf Tuan, Saya harus...”

“Sssssttt!” Rio menempelkan ujung jari telunjuknya pada bibir Bela.

Bela terdiam. Ia juga semakin ketakutan. Ini benar-benar situasi yang dengan sangat jelas dapat ia bayangkan hal buruk apa yang akan terjadi padanya. Apalagi melihat sorot mata nakal itu yang setiap hari selalu mengawasi dirinya.

“Maafkan Sa-saya T-tuan Rio, Saya harus menyelesaikan..”

“Ayolah! Mainlah sebentar denganku!”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Aku Menginginkanmu   Serakah

    “SIAL! APA URUSANMU!” sentak Rio geram. Virgo masih nampak sangat santai seperti biasanya. Usai meletakkan pelindung kepalanya di atas motornya, Virgo melepas dua buah sarung tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaket kulitnya. Ia menoleh ke arah Bela sejenak. Wanita itu menunjukkan binar matanya yang seakan berucap memohon perlindungannya. Sejenak ia memandangi Bela yang kala itu nampak sangat berantakan. Matanya sembab, rambutnya berantakan, dan beberapa kancing baju yang dikenakannya terlepas, bahkan ada beberapa bagian baju yang dikenakannya dalam kondisi robek. Entah mengapa tiba-tiba saja dapat melihat sosok Mika-mendiang istrinya yang berusia 18 tahun dalam diri gadis itu. Ia melihat sosok Mika yang kala itu tengah bersedih karena perlakuan biadab yang ia lakukan saat di Belanda. Melihat sosok itu pada Bela yang kini nampak sama lemahnya seperti Mika saat itu, membuat Virgo mengepalkan tangannya. Dengan perasaan marah ia melangkah mendekati Rio yang terus memandang sini

  • Aku Menginginkanmu   Diperlakukan seperti Kotoran

    Bela menggelengkan kepalanya. Ia sungguh menolak keras ajakan yang Rio maksudkan itu. “M-maaf Tuan, Saya harus...” Belum sempat Bela berpamitan, pemuda itu sudah menariknya, lalu melemparnya ke atas ranjang. Bela yang menyadari situasi tak mengenakan itu, dengan cepat beranjak dari tempatnya karena ingin segera berlari. Tapi, laki-laki itu dengan cepat pula menarik kembali tangannya dan melemparnya kembali ke atas ranjangnya lalu menindih tubuh mungil Bela. Kini, Bela berada dalam kuasa Rio. Lelaki itu tersenyum puas melihat mangsanya yang kini ada dalam kendali tubuhnya. Satu jarinya menjelajahi setiap inci wajah Bela yang indah sehingga membuat Bela gemetaran karenanya. Bela memejamkan kedua matanya, ia sungguh tak ingin melihat wajah buas Rio yang baginya sangat menakutkan meski remaja itu jauh lebih muda darinya. “Tuan..” dengan mata terpejam Bela mulai menitikkan air matanya. Ia sungguh takut dengan situasi yang belum lama ini juga dialaminya. Masih teringat jelas di m

  • Aku Menginginkanmu   Budak yang Diinjak

    Bela sampai dikediaman keluarga Arman. Ia masih membawa kebingungannya akan ajakan menikah itu. Dan ketika ia masuk melalui pintu dapur keluarga Armah, ia melihat satu pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Ia melihat Asih-ibunya, duduk sambil menangis di bawah kaki Nyonya Arman. Bela pun terheran-heran melihat majikannya itu dengan kejam menginjak tangan ibunya dengan hak tinggi sepatunya. Sungguh perlakuan yang sangat tak berprikemanusiaan, dengan semudah itu Nyonya Arman menyakiti ibunya. “Nyonya!” Hal itu membuat Bela dengan cepat menghampiri dan ikut bersujud di hadapan majikannya. Ia pun berusaha melepaskan tangan ibunya dari sepatu majikannya. Namun, wanita kejam itu malah semakin menekan tangan ibu Bela dengan sepatunya hingga ibunya meringis menahan sakit. Entah seperti apa luka yang dirasakan oleh sang ibu. Melihatnya saja membuat Bela ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi, karena ia tak ingin menambah amarah majikannya yang temperament itu, akhirnya ia hanya mampu

  • Aku Menginginkanmu   Bimbang

    “APA?” Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak.‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati.Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terombang-ambing dalam dasar laut yang gelap. Debaran tak terkendali itu benar-benar menyesakkan dadanya. “Me-menikah T-Tuan?”Kedua mata Bela terbelalak lebar setelah mendengar hal yang baginya sangat aneh. Benar-benar sangat aneh, karena tiba-tiba saja, lelaki berperawakan tampan itu menyatakan maksud hatinya untuk menikahi Bela. Virgo memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. Wajahnya mendekat, hingga kini keduanya berjarak sekitar 5 sentimeter dari hidung ke hidung. Sungguh jelas napas demi napas yang Virgo dan Bela hirup dan hembuskan. Bahkan tiba-tiba saja hal itu membuat jantung Bela kembali berdebar semakin hebat. Takut Virgo mendengar debara

  • Aku Menginginkanmu   Ajakan Menikah

    1 tahun kemudian ‘PLAK!’Dia adalah Bela, Adelia Amabella. Gadis berusia 19 tahun itu membantu ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga di keluarga Arman. Gadis itu memiliki perawakan cantik nan putih bak bidadari, sehingga berulang kali orang yang berjumpa dengannya mengira bahwa dirinya adalah anak dari Nyonya Arman majikannya. Gadis berdarah asli Sunda-cina itu tak seberuntung teman-temannya. Ia harus merelakan dirinya membantu kedua orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Arman. Tak di sangka, untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tamparan dari majikannya. Nyonya Arman kesal saat salah seorang penata busana mengira bahwa Bela adalah salah satu anaknya. Oleh karenanya ketika keduanya keluar dari butik yang megah itu, Nyonya Arman tak segan mendaratkan tamparannya di pipi gadis muda itu.“Beraninya kau!” umpat Nyonya Arman.Bela hanya tertunduk karena tak kuasa menahan ketakutannya akan sikap kasar Nyonya Arman padanya. Ini untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tampar

  • Aku Menginginkanmu   Bela

    Di Pemakaman... Sebuah buket bunga lili berwarna putih Virgo letakkan di atas batu nisan istrinya. Tangisnya kembali pecah. Ia sungguh tak mampu menahan air matanya. Teringat olehnya bagaimana senyuman cantik itu menyambutnya saat ia memberikan buket bunga lili kesukaannya. Kini, ia sungguh tak menyangka akan memberikan buket bunga itu di tempat yang membuatnya merasakan sakit hati yang tiada tara. Karena perpisahan yang Tuhan berikan adalah perpisahan yang paling sulit untuk diikhlaskan begitu saja, meski telah mencoba untuk mengikhlaskannya. “Maafkan aku Mika! Aku gagal melindungimu dan anak kita!” ucapnya lirih. Tak peduli berapa banyak ucapan duka yang terdengar di telinganya dari para pengunjung yang datang di pemakaman Mika hari itu. Virgo hanya terdiam di depan batu nisan bertuliskan nama istrinya. Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Ia sungguh berharap bahwa hari ini adalah mimpi buruk yang harus dilewatinya semalam saja. Lalu, di tatapnya pula batu nisan yang sangat famil

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status