LOGIN1 tahun kemudian
‘PLAK!’ Dia adalah Bela, Adelia Amabella. Gadis berusia 19 tahun itu membantu ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga di keluarga Arman. Gadis itu memiliki perawakan cantik nan putih bak bidadari, sehingga berulang kali orang yang berjumpa dengannya mengira bahwa dirinya adalah anak dari Nyonya Arman majikannya. Gadis berdarah asli Sunda-cina itu tak seberuntung teman-temannya. Ia harus merelakan dirinya membantu kedua orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Arman. Tak di sangka, untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tamparan dari majikannya. Nyonya Arman kesal saat salah seorang penata busana mengira bahwa Bela adalah salah satu anaknya. Oleh karenanya ketika keduanya keluar dari butik yang megah itu, Nyonya Arman tak segan mendaratkan tamparannya di pipi gadis muda itu. “Beraninya kau!” umpat Nyonya Arman. Bela hanya tertunduk karena tak kuasa menahan ketakutannya akan sikap kasar Nyonya Arman padanya. Ini untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tamparan itu selama perjalanannya membantu Nyonya Arman untuk membawakan barang-barang belanjaannya. Begitu banyak penjaga dan owner pertokoan mewah, bahkan jasa kecantikan yang menyangka bahwa Bela adalah anak dari Nyonya Arman. Dan sebanyak itulah tamparan yang diterimanya. Kecantikan luar biasa yang menjadi beban dalam benaknya. Kecantikan yang tak bisa ia banggakan seperti layaknya kebanyakan gadis seusianya. Pujian hanya mengantarkannya pada ranah yang menyakitkan. Tak ada keberuntungan sedikitpun yang ia dapatkan dengan paras cantik itu. Hinaan, bahkan tipu daya silir berganti menjatuhkan harga dirinya. Baginya, kecantikan hanyalah satu kesalahan yang membuatnya larut dalam banyak masalah seiring perjalanan hidupnya. “Ma-maafkan aku Nyonya, aku...” Wajah mungil itu gemetaran menatap majikannya. Perlakuan kasar bahkan hinaan yang ia terima, benar-benar membuatnya sangat takut untuk melewati hari ini. Sepanjang hari yang ia lewati bersama majikannya, hanyalah ucapan maaf yang ia haturkan. Menjadi cantik tak akan membuat bahagia hidupnya selama ia hanyalah seseorang yang terpuruk dalam kemiskinan. “Diam! Jangan menjawab satu pun perkataanku! Dasar miskin!” hina Nyonya Arman. Bela kembali tertunduk, ia berusaha menahan air matanya. Hingga kemudian seorang owner toko yang sempat di datangi oleh Bela dan Nyonya Arman menghampirinya dengan sebuah buku di tangannya. Owner toko yang nampak ramah itu tersenyum di hadapan keduanya. “Maaf, Nyonya!” sapa owner itu ramah meski Nyonya Arman tak sedikit pun membalas sapaannya dengan senyuman. “Buku anak Anda tertinggal di meja.” tambah owner itu kemudian menyerahkannya pada Nyonya Arman. Lagi dan lagi. Wajah itu hanya membuatnya menjadi orang tersial di dunia. Wajah rupawan, bahkan sangat rupawan yang dimiliki olehnya itu, sering kali membuat majikannya marah. Melihat buku yang dibawa oleh owner itu, Nyonya Arman bergegas menerima buku itu dan menganggukkan kepala dengan wajah dinginnya. Setelah owner itu pergi dari hadapannya, dengan kasar Nyonya Arman melemparkan buku itu ke wajah Bela. ‘PAKK!’ Buku setebal itu sungguh menyakitkan melebihi tamparan yang didapatkannya. Karena harga diri itu seakan tak pernah ada untuk dirinya. Bela yang lagi-lagi terkejut akan sikap kasar majikannya itu, kini hanya diam. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menahan air matanya. Ia pun tak berani menatap mata majikannya yang tengah marah besar padanya. “Dasar sampah!” teriak Nyonya Arman kesal. Tak ada kata yang terucap dari mulut Bela. Ia hanya menundukkan wajahnya karena takut. Ia hanya bisa menerima setiap hinaan Nyonya Arman seperti biasa. Ia pun tak mempedulikan luka di pipinya karena tergores ujung benda berbentuk persegi nan tebal itu saat menghantam wajahnya. Rasa sakit di hatinya benar-benar mengalahkan rasa sakit yang lainnya. “Aku sudah muak dengan hari ini!” teriaknya lagi kemudian masuk ke dalam mobil mewahnya tanpa mengajak Bela untuk ikut dengannya. Bela mematung melihat mobil itu pergi dari hadapannya. Ia menghela napas sejenak, mengatur segala ketakutan dalam benaknya. “Apa salahnya menjadi orang miskin? Apakah Kami seburuk itu?” tanyanya kemudian meneteskan air mata yang sedari tadi hanya ditahannya. Bela kembali terdiam menatap buku-buku kesayangannya berserakan di kakinya. Sambil menangis ia berjongkok dan mengambil buku-buku itu. Buku-buku yang selama ini ia pelajari agar bisa mengikuti ujian masuk fakultas kedokteran, kini bagaikan barang tak berharga yang berserakan dan nampak usang di sekitar kakinya. “Apa orang miskin seperti kami tak layak bahagia?” tanyanya menerawang. Bela memandang buku-buku di tangannya. Teringat olehnya bagaimana ia dengan susah payah bekerja paruh waktu hanya untuk mengumpulkan uang demi membeli buku-buku yang sangat diimpikannya. Dua tahun berlalu setelah kelulusannya, ia bekerja keras agar dapat mengikuti ujian kedokteran dengan jalur prestasi. Karena ia sadar bahwa mimpinya bukanlah hal yang dapat di dapatnya dengan mudah. Berapa lamapun ia bekerja keras hanya untuk sejumlah uang, takkan mampu membawanya masuk ke universitas yang diimpikannya. Oleh karenanya, ia sangat mendambakan jalur prestasi yang bisa menjamin dirinya masuk ke universitas bergengsi itu. Sejenak ia tertegun pada satu objek yang tiba-tiba saja ada di hadapannya. Ia menatap sepasang sepatu fantofel pria yang entah sejak kapan ada di hadapannya. Ia menengadahkan kepalanya, dan mendapati seorang pria tengah menatapnya dengan tatapan dinginnya. Seorang pria berusia sekitar 35 tahun berdiri di hadapannya dan memandanginya. Bela berdiri dan menatap sosok itu penuh tanya. Lalu ia membelalakkan wajahnya saat menyadari bahwa sosok itu ternyata adalah sosok yang sudah sangat lama dikenalnya. Keringat dingin pun mulai bercucuran menemani rasa gugupnya yang kian menghantui sejak menatap wajah rupawan pria yang terlampau tua darinya itu. “T-Tuan Virgo?” Virgo adalah seorang pengusaha Indonesia yang lama tinggal dengan seorang putrinya di Jakarta sepeninggal istrinya. Lelaki berusia 35 tahun itu adalah sosok tegas yang sangat ditakuti oleh rekan-rekan kerjanya. Lelaki berdarah dingin itu sangat membenci keluarga Arman yang juga merupakan pengusaha sukses dari Indonesia seperti dirinya. Bela mengenal baik lelaki itu, karena sejak keberadaannya di Jakarta, Virgo sering mendatangi kediaman keluarga Arman untuk kerjasama. Dan beberapa kali keduanya berbicara tentang keluarga Arman yang ternyata sangatlah Virgo benci karena ketamakannya dan kesombongannya yang selalu berkata buruk tentang mendiang istrinya. Mereka pun sempat bertemu di Indonesia, saat dimana Virgo mengantarkan sang istri ke tempat peristirahatan istrinya. Pertemuan yang berkesan aneh itu ternyata menjadi awal pertemuan keduanya di Korea. “A-ada apa Tuan?” tanya Bitna berkutat dengan kebingungannya. Perlahan Bela berdiri dengan memeluk buku-buku kesayangannya dengan kedua tangannya. Ia menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya. Entah mengapa, melihat sosok tegas dengan perawakan yang cukup menyita publik di keramaian itu, membuat Bela lagi-lagi gemetaran. Dan Virgo pun menyadari kondisi gadis berusia 19 tahun itu. Ia memandangi tangan Bela yang mencoba merengkuh buku-bukunya dengan sangat kuat meski tangannya gemetaran. Sorot mata itu, berhasil membuat Bela terpaku. Mata sipit dengan rahang yang tegas itu sungguh membuat Bela tak mampu berlama-lama menatapnya. Jangankan hanya sekedar menatap wajahnya, mendengar namanya saja pun membuat ia gemetaran. Hampir semua orang takut padanya, karena semenjak ia kehilangan istrinya, ia menjadi sosok yang kejam. Ia sungguh tak bisa mengampuni kesalahan kecil apapun. Semua rekan pebisnis yang mengenalnya pun kini takut padanya. Tak ragu Virgo bisa bersikap kasar tatkala seseorang mengecewakan apa yang tengah menjadi usahanya. Kini, lelaki dengan julukan serigala emas itu ada di hadapan Bela. Sesaat lelaki itu membuat Bela menelan salivanya. Wanita muda berusia 19 tahun itu tampak sangat ketakutan di hadapannya. Sementara Virgo nampak sangat santai seperti biasanya. “A-ada a-apa Tuan?” tanya Bela terbata. Satu alis Virgo terangkat. Ia memandang aneh ketakutan yang diperlihatkan oleh Bela di hadapannya. Sejenak ia tersenyum smirk mendapati wanita dihadapannya itu layaknya santapan empuk seekor serigala yang tengah lapar. “Menikahlah denganku!” ujarnya tegas dan mengejutkan Bela serta menambah kebingungannya.“Sekarang ikutlah denganku, kita akan mengantar ibumu terlebih dahulu.”Pertengkaran yang begitu hebat, membuat Tuan Arman bersedia melepaskan Bela dan ibunya. Ia tak ingin membuat Virgo berlama-lama menyaksikan bagaimana keributan yang ada di rumahnya. Ia bisa membawa Bela dan ibunya keluar dari rumah itu dengan kesepakatan yang sudah ia sepakati bersama dengan Tuan Arman untuk melunasi semua hutang pembantunya itu hari ini. Kini, Bela ada di dalam mobil bersama Virgo dan ibunya. Ia duduk di depan bersama Virgo sesuai dengan permintaan sang ibu. Sementara Asih-ibunya, duduk di kursi belakang bersama beberapa barang yang dibawahnya menuju ke rumah baru. Meski sudah terbebas, Asih hanya ingin kembali ke rumahnya yang dulu. Tempat itu terletak di sebuah pemukiman kecil dengan hamparan pantai yang luas. Tempat dimana dahulu Bela dilahirkan dan menikmati masa kecilnya sebelum kemudian keluarganya pindah ke Jakarta untuk bekerja dengan keluarga Tuan Arman.Di dalam mobil, Bela tampak tak
Asih masih tak percaya jika anaknya akan menikah dengan salah seorang pengusaha yang terkenal dengan kesuksessannya. Ia memandangi Asih , yang kini menyeringai di hadapannya, karena tanpa sadar kedatangan Virgo di antara mereka membuat ibunya sangat terkejut. Lalu dengan bahasa isyaratnya pun, Asih mulai menanyakan keheranannya itu kepada Bela-anaknya.“Apa ini sungguh-sungguh Bela? Bagaimana bisa kamu dan Tuan Virgo tiba-tiba saja memutuskan hal ini?”Bela mendekati ibunya yang ada di hadapannya. Ia meraih tangan ibunya dan mendekapnya di depan dada. “Ibu, berjanjilah untuk tak lagi menanyakan mengapa dan bagaimana ini terjadi mulai detik ini juga.” ucapnya pelan. “Hanya satu yang harus ibu ketahui, Bela hanya ingin kita kembali bahagia seperti dulu. Bela hanya ingin melihat senyuman ibu dan amarah ibu kepadaku seorang. Bela hanya ingin penderitaan ini berakhir. Dan Bela berharap, ibu tidak menanyakan lagi tentang apa yang ada di dalam hati ini sesungguhnya. Anggap saja, aku telah b
Sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar Bela. Bela membuka perlahan kedua matanya sembari memegangi pipinya yang kian hari semakin terasa sakitnya. Hari ini ia harus mengantar Nyonya Arman ke salon untuk membawakan barang belanjaannya seperti biasa. Namun ketika ia membuka matanya.“Selamat pagi Nona Bela!”“AAAAAAAAAAAAAAAAA!” Ia berteriak karena terkejut melihat Virgo yang tiba-tiba saja ada di hadapannya. Lelaki itu sejak tadi sepertinya tengah memperhatikan wajahnya ketika tertidur. Melihat Bela yang terkejut, Virgo menatapnya dengan tatapan anehnya. Satu alisnya terangkat menatap wanita muda di hadapannya.Merasa tak nyaman dengan kehadiran sosok Virgo, Bela beranjak dari tidurnya dan menutup dadanya dengan selimut yang masih dipakainya. Kedua matanya terbelalak lebar menatap lelaki yang kini tengah memandanginya dengan ekspresi biasa saja.“Haish, apakah aku sejelek itu sampai kau berteriak?” sindir Virgo yang sudah berdiri dan melipat kedua tangannya di depa
Arya masih tak menyangka bahwa wanita yang pernah singgah di hatinya itu merobek buku rekeningnya begitu saja. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana sorot mata Bela yang menatapnya tajam. Wanita itu tak seperti biasanya. Ia memperlihatkan rasa bencinya terhadap Arya yang baru saja beberapa jam menyakitinya.“Bela, aku bisa mengerti jika kau masih sangat kesal bahkan mungkin membenci diriku.” ucap Arya pelan. “Tapi bagaimanapun juga, uang itu adalah milik kita. Dan sebagian besar adalah milikmu, hasil dari kerja kerasmu selama ini. Seharusnya kamu...”“Maka karena itulah aku harus menghancurkannya.” potong Bela kemudian. “Aku bekerja, mengumpulkan semua itu karena pernah memiliki mimpi yang indah denganmu. Tapi apa gunanya itu sekarang.”“Setidaknya, dengan uang itu kamu bisa menyelesaikan masalahmu dengan keluarga Arman, Bela.”Bela tersenyum smirk. Ia merasa aneh dengan wujud perhatian yang Arya tunjukkan kepadanya. Berminggu-minggu lelaki itu tanpa kabar, bahkan sedetik pun tak pe
Bela masih terperangah menatap Fani-majikannya yang nampak sangat marah padanya. Rasa nyeri yang luar biasa ia rasakan di pipinya. Kini, pipi itu tak hanya memerah, tapi keadaannya sudah semakin parah. Tak hanya sekedar bengkak, pipi yang ditampar oleh Fani sedikit tergores dengan cincin yang dikenakannya.“Dasar anak pembantu gak tau malu! Berani-beraninya kamu merayu lelaki yang ku sukai!”Bela terdiam, ia menundukkan kepalanya karena takut. Tangannya pun gemetaran. Namun, entah mengapa ia teringat dengan perkataan Virgo saat di mobil.‘Terkadang kita harus menunjukkan sikap yang sesungguhnya, alih-alih hanya mampu menerima untuk selalu disakiti.’ Kalimat itu terus menggema dalam pikiran Bela. Perkataan Virgo ada benarnya. Selama ini ia hanya diam saja ketika majikannya itu memaki bahkan memukulnya meski ia tak melakukan kesalahan. Tapi, perkataan Virgo di mobil tadi membuat Bela merasa bahwa sudah saatnya ia berhenti berdiam diri. Ia harus mempertahankan haknya sebagai seorang ma
“Sekarang, aku akan mengantarmu ke rumah keluarga Arman. Aku akan membelimu hari ini juga.” ucap Virgo tegas saat keduanya ada di dalam mobil.“Bisakah Tuan tidak mengatakan hal itu lagi?” Nampaknya Bela tidak menyukai perkataan Virgo. Namun Virgo nampaknya masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh Bela. Ia tak merasa bahwa telah melakukan kesalahan. Baginya, ia hanya mengungkapkan hal yang memang akan dia lakukan.“Apa aku melakukan kesalahan?”Bela menghela napas sejenak. Meski ia tak berhak marah, namun baginya ia tetap harus mempertegas perkataan yang pantas. “Berhentilah berkata bahwa Tuan akan membeliku, meski itu memang kenyataan yang aku hadapi.” jawab Bela. “Setiap Tuan mengatakannya, aku merasa bahwa aku benar-benar manusia yang tidak punya harga diri.”CKIIT!Tiba-tiba saja Virgo menghentikan laju mobilnya. Perkataan Bela membuatnya tertegun. Apa yang dikatakan wanita itu sepenuhnya benar. Tanpa sadar Virgo terjebak dalam sikap angkuhnya. Perlahan ia menoleh ke arah Be
‘Lima belas tahun aku lewati bersamamu, tak ku sangka untuk pertama kalinya kamu membuatku takut kembali setelah waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Aku sungguh tak menyangka akan berlari seperti ini lagi untukmu setelah waktu bahagia yang kita lewatkan bersama-sama.’ Virgo kala itu baru saja pu
Bela menggelengkan kepalanya. Ia sungguh menolak keras ajakan yang Rio maksudkan itu. “M-maaf Tuan, Saya harus...” Belum sempat Bela berpamitan, pemuda itu sudah menariknya, lalu melemparnya ke atas ranjang. Bela yang menyadari situasi tak mengenakan itu, dengan cepat beranjak dari tempatnya ka
Bela sampai dikediaman keluarga Arman. Ia masih membawa kebingungannya akan ajakan menikah itu. Dan ketika ia masuk melalui pintu dapur keluarga Armah, ia melihat satu pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Ia melihat Asih-ibunya, duduk sambil menangis di bawah kaki Nyonya Arman. Bela pun terh
“APA?” Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak.‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati.Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terom







