LOGIN
‘Lima belas tahun aku lewati bersamamu, tak ku sangka untuk pertama kalinya kamu membuatku takut kembali setelah waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Aku sungguh tak menyangka akan berlari seperti ini lagi untukmu setelah waktu bahagia yang kita lewatkan bersama-sama.’
Virgo kala itu baru saja pulang dari Korea ketika ia mendengar kabar tak mengenakan tentang istrinya-Mika. Dengan peluh yang tak berhenti membasahi tubuhnya, ia berlarian menyusuri lorong rumah sakit tempat dimana Mika di rawat setelah kecelakaan yang menimpanya. Kedua matanya pun tak berhenti menitikkan air mata karena kekhawatiran yang ia rasakan. “Mika! Ku mohon...” ujarnya sembari terus berlarian mencari ruang dimana istrinya tengah di operasi. Kekhawatiran yang sungguh menyiksa, apalagi mengingat bahwa saat ini Mika tengah mengandung anak keduanya. Pagi tadi, ia berencana untuk membeli beberapa hadiah untuk menyambut kedatangan suaminya. Tanpa di dampingi siapapun di sampingnya, ia mengoperasikan kursi rodanya untuk menyeberangi jalan saat semua kendaraan berhenti untuk mematuhi dua lampu lalu lintas di sisi jalan. Namun entah bagaimana, tiba-tiba saja sebuah mobil dari arah berlawanan melaju kencang sehingga menabraknya dengan kecepatan tinggi. Alangkah terkejutnya Virgo saat ia mendapati kabar buruk itu ketika ia mulai menginjakkan kakinya di sebuah bandara. Raut wajah sumringah lenyap begitu saja tatkala berita itu menyerangnya. Tubuhnya pun gemetaran dan wajahnya pucat pasi karenanya. Secepat mungkin pun ia berlarian menuju ke tempat istrinya berada. Kini, dengan langkah yang sangat berat ia mencoba berlari meski isak tangis sesekali membuatnya lemah untuk melangkah. Hingga akhirnya ia melihat orang tua satu-satunya yang dimiliki oleh Mika menangis di depan ruang operasi. Melihat kesedihan mertuanya itu, tiba-tiba saja tangannya gemetaran dan kakinya terasa semakin berat untuk melangkah. “Ayah...” panggilnya lirih. Pak Usman-ayah Mika yang tadinya tertunduk, perlahan menoleh ke tempat dimana menantunya itu berdiri dengan raut wajah sedihnya. Melihat menantunya yang masih tertegun menatapnya, Pak Usman berdiri dari posisinya dan berlari memeluk menantunya itu. “Bagaimana ini, Vir! Kita sudah sangat terlambat!” jeritnya dengan derai air mata yang tak berhenti menetes di pipinya. Ketakutan Virgo semakin menjadi-jadi. Ia menggelengkan kepalanya, mencoba menepis segala dugaan buruk tentang kondisi Mika saat ini. Kesedihannya akan perkataan Pak Usman membuatnya tak mampu lagi menahan. “Ayah bohong kan? Mana mungkin Mika...” Virgo masih tak berdaya menerima kenyataan pahit itu dalam dekapan mertuanya. “Maafkan Ayah, Vir...” Perlahan Virgo melepas pelukan itu, kemudian dengan kaki yang berat ia mulai melangkah menuju ruang operasi. Di depan ruangan itu masih berdiri seorang dokter dengan beberapa perawat yang menyambutnya dengan tatapan iba. Virgo sungguh sangat membenci situasi itu. “BAGAIMANA BISA!” Tanpa di duga Virgo menghampiri dokter yang saat itu mengoperasi istrinya. Ia mencengkeram pakaian yang dikenakan dokter itu tanpa peduli dengan beberapa orang yang mencoba mengendalikan emosinya. Setengah menangis ia meluapkan amarahnya. “KAU SEHARUSNYA MENYELAMATKAN ISTRIKU! DIA SEDANG MENUNGGUKU! BAGAIMANA BISA KAU BIARKAN DIA PERGI TANPA BERTEMU DENGANKU!” Perlahan Virgo melepas tangannya yang mencengkeram dengan sangat kasar pakaian dokter itu. Ia jatuh terduduk tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Di depan ruangan itu ia menangis sejadi-jadinya. “Ti-tidak! Ini tidak benar!” Rasa tak percaya akan kepergian istrinya yang terlalu cepat, membuat Virgo sungguh ingin menyangkalnya lagi. Dengan langkah perlahan memasuki ruangan operasi untuk menjumpai istrinya yang sudah tak lagi bernyawa di dalam sana. Dan langkah kaki lelaki yang tengah bersedih itu pun terhenti. Kedua kakinya terhenti saat ia melihat sosok yang tengah terbaring di atas tempat tidur dengan selembar kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Sambil menggelengkan kepalanya, ia mencoba kembali menyangkal kebenaran itu. Hingga kemudian ia benar-benar ada di samping yang sesungguhnya sangat merindukan kedatangannya. Perlahan ia membuka kain penutup itu, dan betapa histeris tangisannya saat melihat wajah cantik yang selalu tersenyum padanya itu kini tersenyum dalam keadaan tak bernyawa. Digenggamnya tangan dingin milik istrinya itu dan menciumnya beberapa kali. Digenggamnya erat tangan itu tanpa ingin melepasnya. “Maafkan aku Mika! Maafkan aku Mika! Maafkan aku!” Di ruangan yang dingin itu, dalam keheningan tangisan Virgo pecah. Lelaki berusia 35 tahun itu sungguh terpukul dengan kepergian istrinya. Dalam tangisnya yang semakin menjadi-jadi ia mengingat bagaimana saat pertama kali ia bertemu dengan Mika di Belanda. Ingatan-ingatan baik dan buruk terus berputar dalam kepalanya. Ia mengingat dengan jelas bagaimana perjalanan cinta yang mereka alami bersama. Perjalanan yang terkadang membuat lelah untuk menjadi diri sendiri. Kini, siapa sangka wanita baik itu pergi meninggalkannya untuk selamanya. Tanpa di duga akan hadir hari semenakutkan ini untuk Virgo yang selama ini hidup dengan penuh kebahagiaan. “Kenapa kau tak menungguku, Mika?” gumamnya dengan isak tangis yang masih sama. “Bukankah kita sudah berjanji untuk melihat anak kita yang tengah berjuang menjadi sosok kuat di dalam sana! Tapi kenapa kalian malah meninggalkan aku di sini dan...” Virgo tak sanggup lagi melanjutkan perkataannya, ia kembali menangis sejadi-jadinya sambil terus menggenggam tangan istrinya. Banyak penyesalan dalam benaknya. Dan terlontarkan semua kesedihan yang dirasakannya.“Sekarang ikutlah denganku, kita akan mengantar ibumu terlebih dahulu.”Pertengkaran yang begitu hebat, membuat Tuan Arman bersedia melepaskan Bela dan ibunya. Ia tak ingin membuat Virgo berlama-lama menyaksikan bagaimana keributan yang ada di rumahnya. Ia bisa membawa Bela dan ibunya keluar dari rumah itu dengan kesepakatan yang sudah ia sepakati bersama dengan Tuan Arman untuk melunasi semua hutang pembantunya itu hari ini. Kini, Bela ada di dalam mobil bersama Virgo dan ibunya. Ia duduk di depan bersama Virgo sesuai dengan permintaan sang ibu. Sementara Asih-ibunya, duduk di kursi belakang bersama beberapa barang yang dibawahnya menuju ke rumah baru. Meski sudah terbebas, Asih hanya ingin kembali ke rumahnya yang dulu. Tempat itu terletak di sebuah pemukiman kecil dengan hamparan pantai yang luas. Tempat dimana dahulu Bela dilahirkan dan menikmati masa kecilnya sebelum kemudian keluarganya pindah ke Jakarta untuk bekerja dengan keluarga Tuan Arman.Di dalam mobil, Bela tampak tak
Asih masih tak percaya jika anaknya akan menikah dengan salah seorang pengusaha yang terkenal dengan kesuksessannya. Ia memandangi Asih , yang kini menyeringai di hadapannya, karena tanpa sadar kedatangan Virgo di antara mereka membuat ibunya sangat terkejut. Lalu dengan bahasa isyaratnya pun, Asih mulai menanyakan keheranannya itu kepada Bela-anaknya.“Apa ini sungguh-sungguh Bela? Bagaimana bisa kamu dan Tuan Virgo tiba-tiba saja memutuskan hal ini?”Bela mendekati ibunya yang ada di hadapannya. Ia meraih tangan ibunya dan mendekapnya di depan dada. “Ibu, berjanjilah untuk tak lagi menanyakan mengapa dan bagaimana ini terjadi mulai detik ini juga.” ucapnya pelan. “Hanya satu yang harus ibu ketahui, Bela hanya ingin kita kembali bahagia seperti dulu. Bela hanya ingin melihat senyuman ibu dan amarah ibu kepadaku seorang. Bela hanya ingin penderitaan ini berakhir. Dan Bela berharap, ibu tidak menanyakan lagi tentang apa yang ada di dalam hati ini sesungguhnya. Anggap saja, aku telah b
Sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar Bela. Bela membuka perlahan kedua matanya sembari memegangi pipinya yang kian hari semakin terasa sakitnya. Hari ini ia harus mengantar Nyonya Arman ke salon untuk membawakan barang belanjaannya seperti biasa. Namun ketika ia membuka matanya.“Selamat pagi Nona Bela!”“AAAAAAAAAAAAAAAAA!” Ia berteriak karena terkejut melihat Virgo yang tiba-tiba saja ada di hadapannya. Lelaki itu sejak tadi sepertinya tengah memperhatikan wajahnya ketika tertidur. Melihat Bela yang terkejut, Virgo menatapnya dengan tatapan anehnya. Satu alisnya terangkat menatap wanita muda di hadapannya.Merasa tak nyaman dengan kehadiran sosok Virgo, Bela beranjak dari tidurnya dan menutup dadanya dengan selimut yang masih dipakainya. Kedua matanya terbelalak lebar menatap lelaki yang kini tengah memandanginya dengan ekspresi biasa saja.“Haish, apakah aku sejelek itu sampai kau berteriak?” sindir Virgo yang sudah berdiri dan melipat kedua tangannya di depa
Arya masih tak menyangka bahwa wanita yang pernah singgah di hatinya itu merobek buku rekeningnya begitu saja. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana sorot mata Bela yang menatapnya tajam. Wanita itu tak seperti biasanya. Ia memperlihatkan rasa bencinya terhadap Arya yang baru saja beberapa jam menyakitinya.“Bela, aku bisa mengerti jika kau masih sangat kesal bahkan mungkin membenci diriku.” ucap Arya pelan. “Tapi bagaimanapun juga, uang itu adalah milik kita. Dan sebagian besar adalah milikmu, hasil dari kerja kerasmu selama ini. Seharusnya kamu...”“Maka karena itulah aku harus menghancurkannya.” potong Bela kemudian. “Aku bekerja, mengumpulkan semua itu karena pernah memiliki mimpi yang indah denganmu. Tapi apa gunanya itu sekarang.”“Setidaknya, dengan uang itu kamu bisa menyelesaikan masalahmu dengan keluarga Arman, Bela.”Bela tersenyum smirk. Ia merasa aneh dengan wujud perhatian yang Arya tunjukkan kepadanya. Berminggu-minggu lelaki itu tanpa kabar, bahkan sedetik pun tak pe
Bela masih terperangah menatap Fani-majikannya yang nampak sangat marah padanya. Rasa nyeri yang luar biasa ia rasakan di pipinya. Kini, pipi itu tak hanya memerah, tapi keadaannya sudah semakin parah. Tak hanya sekedar bengkak, pipi yang ditampar oleh Fani sedikit tergores dengan cincin yang dikenakannya.“Dasar anak pembantu gak tau malu! Berani-beraninya kamu merayu lelaki yang ku sukai!”Bela terdiam, ia menundukkan kepalanya karena takut. Tangannya pun gemetaran. Namun, entah mengapa ia teringat dengan perkataan Virgo saat di mobil.‘Terkadang kita harus menunjukkan sikap yang sesungguhnya, alih-alih hanya mampu menerima untuk selalu disakiti.’ Kalimat itu terus menggema dalam pikiran Bela. Perkataan Virgo ada benarnya. Selama ini ia hanya diam saja ketika majikannya itu memaki bahkan memukulnya meski ia tak melakukan kesalahan. Tapi, perkataan Virgo di mobil tadi membuat Bela merasa bahwa sudah saatnya ia berhenti berdiam diri. Ia harus mempertahankan haknya sebagai seorang ma
“Sekarang, aku akan mengantarmu ke rumah keluarga Arman. Aku akan membelimu hari ini juga.” ucap Virgo tegas saat keduanya ada di dalam mobil.“Bisakah Tuan tidak mengatakan hal itu lagi?” Nampaknya Bela tidak menyukai perkataan Virgo. Namun Virgo nampaknya masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh Bela. Ia tak merasa bahwa telah melakukan kesalahan. Baginya, ia hanya mengungkapkan hal yang memang akan dia lakukan.“Apa aku melakukan kesalahan?”Bela menghela napas sejenak. Meski ia tak berhak marah, namun baginya ia tetap harus mempertegas perkataan yang pantas. “Berhentilah berkata bahwa Tuan akan membeliku, meski itu memang kenyataan yang aku hadapi.” jawab Bela. “Setiap Tuan mengatakannya, aku merasa bahwa aku benar-benar manusia yang tidak punya harga diri.”CKIIT!Tiba-tiba saja Virgo menghentikan laju mobilnya. Perkataan Bela membuatnya tertegun. Apa yang dikatakan wanita itu sepenuhnya benar. Tanpa sadar Virgo terjebak dalam sikap angkuhnya. Perlahan ia menoleh ke arah Be
1 tahun kemudian ‘PLAK!’Dia adalah Bela, Adelia Amabella. Gadis berusia 19 tahun itu membantu ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga di keluarga Arman. Gadis itu memiliki perawakan cantik nan putih bak bidadari, sehingga berulang kali orang yang berjumpa dengannya mengira bahwa dirinya adala
Di Pemakaman... Sebuah buket bunga lili berwarna putih Virgo letakkan di atas batu nisan istrinya. Tangisnya kembali pecah. Ia sungguh tak mampu menahan air matanya. Teringat olehnya bagaimana senyuman cantik itu menyambutnya saat ia memberikan buket bunga lili kesukaannya. Kini, ia sungguh tak me
Bela menggelengkan kepalanya. Ia sungguh menolak keras ajakan yang Rio maksudkan itu. “M-maaf Tuan, Saya harus...” Belum sempat Bela berpamitan, pemuda itu sudah menariknya, lalu melemparnya ke atas ranjang. Bela yang menyadari situasi tak mengenakan itu, dengan cepat beranjak dari tempatnya ka
Bela sampai dikediaman keluarga Arman. Ia masih membawa kebingungannya akan ajakan menikah itu. Dan ketika ia masuk melalui pintu dapur keluarga Armah, ia melihat satu pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Ia melihat Asih-ibunya, duduk sambil menangis di bawah kaki Nyonya Arman. Bela pun terh







