Se connecter“SIAL! APA URUSANMU!” sentak Rio geram. Virgo masih nampak sangat santai seperti biasanya. Usai meletakkan pelindung kepalanya di atas motornya, Virgo melepas dua buah sarung tangannya dan memasukkannya ke dalam saku jaket kulitnya. Ia menoleh ke arah Bela sejenak. Wanita itu menunjukkan binar matanya yang seakan berucap memohon perlindungannya. Sejenak ia memandangi Bela yang kala itu nampak sangat berantakan. Matanya sembab, rambutnya berantakan, dan beberapa kancing baju yang dikenakannya terlepas, bahkan ada beberapa bagian baju yang dikenakannya dalam kondisi robek. Entah mengapa tiba-tiba saja dapat melihat sosok Mika-mendiang istrinya yang berusia 18 tahun dalam diri gadis itu. Ia melihat sosok Mika yang kala itu tengah bersedih karena perlakuan biadab yang ia lakukan saat di Belanda. Melihat sosok itu pada Bela yang kini nampak sama lemahnya seperti Mika saat itu, membuat Virgo mengepalkan tangannya. Dengan perasaan marah ia melangkah mendekati Rio yang terus memandang sini
Bela menggelengkan kepalanya. Ia sungguh menolak keras ajakan yang Rio maksudkan itu. “M-maaf Tuan, Saya harus...” Belum sempat Bela berpamitan, pemuda itu sudah menariknya, lalu melemparnya ke atas ranjang. Bela yang menyadari situasi tak mengenakan itu, dengan cepat beranjak dari tempatnya karena ingin segera berlari. Tapi, laki-laki itu dengan cepat pula menarik kembali tangannya dan melemparnya kembali ke atas ranjangnya lalu menindih tubuh mungil Bela. Kini, Bela berada dalam kuasa Rio. Lelaki itu tersenyum puas melihat mangsanya yang kini ada dalam kendali tubuhnya. Satu jarinya menjelajahi setiap inci wajah Bela yang indah sehingga membuat Bela gemetaran karenanya. Bela memejamkan kedua matanya, ia sungguh tak ingin melihat wajah buas Rio yang baginya sangat menakutkan meski remaja itu jauh lebih muda darinya. “Tuan..” dengan mata terpejam Bela mulai menitikkan air matanya. Ia sungguh takut dengan situasi yang belum lama ini juga dialaminya. Masih teringat jelas di m
Bela sampai dikediaman keluarga Arman. Ia masih membawa kebingungannya akan ajakan menikah itu. Dan ketika ia masuk melalui pintu dapur keluarga Armah, ia melihat satu pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Ia melihat Asih-ibunya, duduk sambil menangis di bawah kaki Nyonya Arman. Bela pun terheran-heran melihat majikannya itu dengan kejam menginjak tangan ibunya dengan hak tinggi sepatunya. Sungguh perlakuan yang sangat tak berprikemanusiaan, dengan semudah itu Nyonya Arman menyakiti ibunya. “Nyonya!” Hal itu membuat Bela dengan cepat menghampiri dan ikut bersujud di hadapan majikannya. Ia pun berusaha melepaskan tangan ibunya dari sepatu majikannya. Namun, wanita kejam itu malah semakin menekan tangan ibu Bela dengan sepatunya hingga ibunya meringis menahan sakit. Entah seperti apa luka yang dirasakan oleh sang ibu. Melihatnya saja membuat Bela ingin menangis sejadi-jadinya. Tapi, karena ia tak ingin menambah amarah majikannya yang temperament itu, akhirnya ia hanya mampu
“APA?” Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak.‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati.Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terombang-ambing dalam dasar laut yang gelap. Debaran tak terkendali itu benar-benar menyesakkan dadanya. “Me-menikah T-Tuan?”Kedua mata Bela terbelalak lebar setelah mendengar hal yang baginya sangat aneh. Benar-benar sangat aneh, karena tiba-tiba saja, lelaki berperawakan tampan itu menyatakan maksud hatinya untuk menikahi Bela. Virgo memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. Wajahnya mendekat, hingga kini keduanya berjarak sekitar 5 sentimeter dari hidung ke hidung. Sungguh jelas napas demi napas yang Virgo dan Bela hirup dan hembuskan. Bahkan tiba-tiba saja hal itu membuat jantung Bela kembali berdebar semakin hebat. Takut Virgo mendengar debara
1 tahun kemudian ‘PLAK!’Dia adalah Bela, Adelia Amabella. Gadis berusia 19 tahun itu membantu ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga di keluarga Arman. Gadis itu memiliki perawakan cantik nan putih bak bidadari, sehingga berulang kali orang yang berjumpa dengannya mengira bahwa dirinya adalah anak dari Nyonya Arman majikannya. Gadis berdarah asli Sunda-cina itu tak seberuntung teman-temannya. Ia harus merelakan dirinya membantu kedua orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Arman. Tak di sangka, untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tamparan dari majikannya. Nyonya Arman kesal saat salah seorang penata busana mengira bahwa Bela adalah salah satu anaknya. Oleh karenanya ketika keduanya keluar dari butik yang megah itu, Nyonya Arman tak segan mendaratkan tamparannya di pipi gadis muda itu.“Beraninya kau!” umpat Nyonya Arman.Bela hanya tertunduk karena tak kuasa menahan ketakutannya akan sikap kasar Nyonya Arman padanya. Ini untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tampar
Di Pemakaman... Sebuah buket bunga lili berwarna putih Virgo letakkan di atas batu nisan istrinya. Tangisnya kembali pecah. Ia sungguh tak mampu menahan air matanya. Teringat olehnya bagaimana senyuman cantik itu menyambutnya saat ia memberikan buket bunga lili kesukaannya. Kini, ia sungguh tak menyangka akan memberikan buket bunga itu di tempat yang membuatnya merasakan sakit hati yang tiada tara. Karena perpisahan yang Tuhan berikan adalah perpisahan yang paling sulit untuk diikhlaskan begitu saja, meski telah mencoba untuk mengikhlaskannya. “Maafkan aku Mika! Aku gagal melindungimu dan anak kita!” ucapnya lirih. Tak peduli berapa banyak ucapan duka yang terdengar di telinganya dari para pengunjung yang datang di pemakaman Mika hari itu. Virgo hanya terdiam di depan batu nisan bertuliskan nama istrinya. Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Ia sungguh berharap bahwa hari ini adalah mimpi buruk yang harus dilewatinya semalam saja. Lalu, di tatapnya pula batu nisan yang sangat famil







