Share

BAB 3

Author: Audyprmth13
last update publish date: 2026-05-11 15:15:50

Istana Montreval kembali dipenuhi cahaya.

Namun kali ini bukan untuk pesta pertunangan.

Melainkan perpisahan.

Barisan ksatria dan prajurit memenuhi halaman utama kerajaan dengan zirah perak yang berkilau di bawah matahari pagi. Bendera Montreval berkibar tertiup angin musim gugur, sementara suara derap kuda dan denting senjata memenuhi udara.

Perbatasan utara kembali memanas.

Dan seperti biasa—

Kerajaan mengirim Luc Bastien de Montclair untuk menyelesaikannya.

Para bangsawan memenuhi balkon dan aula istana untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum pasukan berangkat. Musik dimainkan, anggur dituangkan, dan doa-doa dipanjatkan dengan wajah penuh kebanggaan.

Namun semua orang tahu satu hal:

medan perang tidak pernah menjanjikan siapa yang akan kembali hidup.

“Lady Seraphine terlihat sangat tenang.”

Bisikan itu terdengar samar di antara para bangsawan wanita.

Seraphine berdiri di dekat pilar marmer aula utama dengan gaun hitam kebiruan yang elegan. Rambut hitamnya disanggul rapi seperti biasa, sementara ekspresinya tetap sulit dibaca.

“Tunangan Anda akan pergi berperang,” ujar seorang lady muda hati-hati. “Apakah Anda tidak khawatir?”

Seraphine mengangkat gelas tehnya perlahan.

“Jenderal Montclair terkenal tidak pernah kalah.”

“Itu benar, tapi tetap saja—”

“Kalau begitu,” potong Seraphine lembut, “kerajaan tidak perlu khawatir.”

Jawaban itu terlalu tenang.

Terlalu dingin.

Dan justru itulah yang membuat orang-orang sulit memahami wanita itu.

Di sisi lain aula, Luc baru saja selesai berbicara dengan Raja Théobald IV ketika pandangannya tanpa sadar menemukan Seraphine.

Wanita itu berdiri anggun di tengah keramaian.

Namun entah kenapa—

ia terlihat jauh dari semua orang.

Luc memperhatikan bagaimana para bangsawan berusaha mendekatinya, lalu mundur lagi karena tidak mampu membaca ekspresi wajahnya.

Dan anehnya, Luc mulai memahami perasaan itu.

Lady Seraphine de Nocteviel memang sulit dipahami.

“Luc.”

Cedric muncul di sampingnya sambil menyeringai kecil.

“Kau menatap tunanganmu terlalu lama.”

Luc langsung mengalihkan pandangan.

“Aku hanya memastikan dia tidak menimbulkan masalah.”

Cedric tertawa pendek. “Apakah kau meremehkan lady Seraphine ? Dia bahkan sangat berbeda dengan perempuan perempuan lain.”

Luc mengabaikannya.

Namun beberapa saat kemudian, tanpa sadar langkahnya justru bergerak menuju Seraphine.

Para bangsawan langsung memberi jalan begitu Luc mendekat.

Aura pria itu terlalu mendominasi untuk diabaikan.

Seraphine menoleh saat menyadari keberadaannya.

Tatapan abu-abunya tetap tenang.

“Lord Lieutenant General.”

Nada formal itu terdengar seperti jarak.

Luc berhenti di hadapannya.

“Aku akan berangkat satu jam lagi.”

“Aku sudah mendengarnya.”

Hening sesaat.

Luc tidak tahu kenapa ia datang menghampirinya.

Mungkin karena etika.

Mungkin karena mereka bertunangan.

Atau mungkin karena sejak malam itu, pikirannya terlalu sering kembali pada wanita ini.

"Aku datang untuk berpamitan,” katanya akhirnya.

Seraphine tersenyum kecil.

“Saya merasa seharusnya saya mengatakan sesuatu yang dramatis sekarang.”

Luc mengernyit samar.

"Apa?”

“Seperti meminta Anda kembali dengan selamat.”

Ia menyesap tehnya pelan.

“Atau mengatakan bahwa kerajaan membutuhkan Anda.”

Nada suaranya halus.

Namun tetap terasa dingin.

Luc memperhatikannya beberapa detik.

“Dan kau tidak akan mengatakan itu?”

Seraphine menatapnya lurus.

“Anda adalah Jenderal Montclair.”

Hening.

“Semua orang tahu Anda akan kembali hidup-hidup.”

Jawaban itu terdengar seperti pujian.

Namun entah kenapa, Luc merasa wanita itu sedang membangun dinding di antara mereka.

“Aku tidak tahu kau memiliki kepercayaan setinggi itu padaku.”

"Aku hanya percaya pada reputasi Anda.”

Kalimat itu terlalu formal.

Terlalu jauh.

Dan Luc tiba-tiba menyadari sesuatu yang mengganggu—

Seraphine tidak pernah benar-benar menganggapnya dekat sejak awal.

Mereka bertunangan.

Namun wanita itu masih memperlakukannya seperti orang asing.

Luc melangkah sedikit mendekat.

“Dan kalau suatu hari reputasi itu gagal?”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Seraphine berubah samar.

Hanya sepersekian detik.

Namun Luc menangkapnya.

“Kalau begitu,” jawab Seraphine pelan, “Montreval akan kehilangan jenderal terbaiknya.”

Bukan *aku akan kehilangan tunanganku*.

Luc tidak tahu kenapa kalimat itu terasa mengecewakan.

Hening jatuh di antara mereka.

Di kejauhan, suara trompet kerajaan mulai terdengar—tanda keberangkatan pasukan akan segera dimulai.

Luc memandang Seraphine beberapa saat lebih lama.

Angin dari halaman istana menggerakkan beberapa helai rambut hitam wanita itu.

Cantik.

Namun dingin.

Seperti malam pertama mereka bertemu.

“Aku akan kembali,” kata Luc tiba-tiba.

Tatapan Seraphine terangkat perlahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Luc berbicara bukan sebagai jenderal.

Melainkan sebagai pria.

"Aku tidak suka meninggalkan sesuatu dalam keadaan setengah selesai.”

Mata abu-abu Seraphine menatapnya diam.

Sulit dibaca seperti biasa.

Namun kali ini, Luc merasa wanita itu sedikit terkejut.

Hanya sedikit.

Seraphine akhirnya tersenyum tipis.

Elegan.

Dan tetap berbahaya.

“Kalau begitu,” katanya lembut, “pastikan Anda kembali hidup-hidup, Lieutenant General.”

Luc menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

Lalu ia berbalik meninggalkan aula.

Jubah hitam militernya bergerak pelan di belakangnya seiring langkahnya menuju halaman kerajaan.

Sementara Seraphine tetap berdiri di tempatnya, memandangi punggung pria itu tanpa ekspresi.

Namun tanpa disadari—

jemarinya perlahan menggenggam lebih erat cangkir teh hangat di tangannya.

Dan itu adalah pertama kalinya sejak pertunangan mereka diumumkan…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 20

    (POV Luc)Tiga bulan di medan perang mengajarkanku satu hal.Manusia bisa terbiasa pada hampir semua hal.Lumpur yang tidak pernah kering.Hujan yang turun berhari-hari.Makanan yang rasanya sama setiap malam.Bahkan suara pertempuran yang datang dan pergi seperti ombak.Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kubiasakan.Menunggu surat dari Seraphine.Pagi itu, aku baru saja menyelesaikan rapat dengan para perwira ketika seorang kurir memasuki tenda komando."Surat dari Kastil Montclair, Jenderal."Entah kenapa, lelah yang menumpuk sejak pagi terasa sedikit berkurang.Aku menerima amplop itu dan langsung mengenali tulisan tangannya.Rapi.Tegas.Dan sangat Seraphine.Hugo yang masih berada di dalam tenda mengangkat alis."Surat lagi?"Aku memberinya tatapan datar.Ia justru tersenyum."Saya tidak mengatakan apa-apa.""Bagus.""Itu hanya surat keenam bulan ini.""Hugo.""Baik, saya pergi."Ia keluar sebelum aku benar-benar mengusirnya.Begitu tenda kembali sepi, aku memb

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 19

    (POV Luc)Medan perang tidak pernah benar-benar sunyi.Bahkan ketika pertempuran berhenti dan malam turun menyelimuti perkemahan, suara-suara itu tetap ada. Derak api unggun. Langkah penjaga yang berpatroli. Erangan pelan para prajurit yang terluka. Dan angin yang membawa bau tanah basah bercampur besi.Sudah hampir tiga bulan sejak aku meninggalkan Kastil Montclair.Tiga bulan sejak keberangkatanku dari gerbang kastil.Tiga bulan sejak aku meninggalkan seseorang yang menungguku pulang.Pagi itu, kabut menggantung rendah di atas lembah timur. Dari tanah tinggi tempatku berdiri, aku bisa melihat sisa-sisa pertempuran semalam. Bekas roda meriam membelah lumpur, sementara beberapa prajurit masih bekerja memperbaiki barikade yang rusak."Jenderal."Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar.Commander Hugo de Ferrand berjalan mendekat sambil membawa beberapa laporan."Kondisi pasukan?" tanyaku."Masih stabil."Ia menyerahkan dokumen itu."Namun suplai mulai menjadi masalah. Hujan membu

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 18

    Tabib istana datang saat langit hampir gelap.Mira membukakan pintu dengan wajah tegang, sementara Seraphine berdiri di dekat jendela, tangannya terlipat rapi di depan tubuh seolah ia sedang menunggu laporan keuangan, bukan kabar yang mampu mengubah seluruh hidupnya.Tabib itu seorang pria tua dengan jubah abu-abu dan mata tajam yang tak mudah dibohongi.Ia memeriksa Seraphine dalam diam.Terlalu lama.Terlalu tenang.Dan justru karena itulah, detik-detik yang berjalan terasa lebih berat dari biasanya.Akhirnya, tabib meletakkan alatnya perlahan dan menatap Seraphine dengan ekspresi yang sulit dibaca."Yang Mulia..." ucapnya hati-hati.Seraphine sudah tahu sebelum kalimat itu selesai.Namun ia tetap menunggu."Ada kemungkinan besar Anda sedang mengandung."Ruangan menjadi sangat sunyi.Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan.Seraphine tidak bergerak.Tidak ada wajah terkejut, tidak ada seruan panik, tidak ada air mata. Hanya tatapan abu-abu yang tetap tenang, nyaris terlalu tenang,

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 17

    Awalnya, Seraphine mengira ia hanya kelelahan.Beberapa minggu terakhir berjalan lebih sibuk dari biasanya. Selain mengurus seluruh administrasi Kastil Montclair, ia juga harus memastikan berbagai perubahan yang telah direncanakannya berjalan dengan baik.Maka ketika tubuhnya terasa lebih berat saat bangun pagi, ia tidak terlalu memikirkannya.Ia hanya melanjutkan hari seperti biasa.Namun ternyata rasa lelah itu tidak menghilang.Bahkan setelah tidur cukup.Bahkan setelah mengurangi beberapa pekerjaan.Dan itu mulai mengganggunya.Pagi itu, Seraphine duduk di ruang administrasi bersama Mira ketika secangkir teh hangat diletakkan di hadapannya.Teh melati.Minuman yang hampir selalu menemaninya bekerja.Namun baru satu hirupan aroma masuk ke hidungnya, Seraphine langsung mengernyit."Apa ada yang salah, Nona?" tanya Mira.Seraphine mendorong cangkir itu sedikit menjauh."Aromanya terlalu kuat."Mira berkedip."Ini teh yang sama seperti biasanya.""Aku tahu.""Itu campuran favorit Anda.

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 16

    Kepergian Luc Bastien de Montclair meninggalkan sesuatu yang berbeda di Kastil Montclair.Bukan kesedihan.Bukan pula kekosongan.Melainkan keheningan yang terasa asing.Hari-hari tetap berjalan seperti biasa.Seraphine bangun sebelum matahari terbit, memeriksa laporan keuangan, mengawasi pengelolaan gudang, dan memastikan seluruh kastil berjalan sebagaimana mestinya.Sebagai Marchioness Montclair, ia tidak memiliki kemewahan untuk larut dalam perasaan.Dan sebagai istri seorang jenderal, ia sudah memahami bahwa perang akan selalu menjadi bagian dari hidup mereka."Ada laporan baru dari gudang timur," lapor Mira suatu pagi.Seraphine menerima dokumen itu."Dan?""Pengeluaran turun dua belas persen sejak sistem baru diterapkan."Seraphine mengangguk kecil."Bagus.""Tidak ada komentar lain?""Haruskah aku menangis bahagia?"Mira menghela napas."Terkadang saya lupa Anda tidak pernah merayakan kemenangan kecil.""Aku merayakannya.""Bagaimana?""Dengan mencari masalah berikutnya."Mira

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 15

    Sore itu, halaman utama Kastil Montclair dipenuhi derap kaki kuda dan suara logam yang saling beradu.Panji hitam-perak keluarga Montclair berkibar di bawah langit musim gugur. Para prajurit memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kali, sementara para perwira memastikan barisan telah siap berangkat.Perang tidak pernah menunggu.Dari balkon lantai dua, Seraphine mengamati semuanya dengan tenang.Di sampingnya, Mira berdiri sambil membawa mantel bulu."Nona," panggilnya hati-hati. "Anda baik-baik saja?"Seraphine tidak segera menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada halaman di bawah."Aku baik-baik saja."Mira menahan senyum kecil.Setelah sekian lama melayani Seraphine, ia tahu kapan majikannya berkata jujur dan kapan tidak.Namun kali ini, ia memilih diam.Karena beberapa hal perlu dipahami sendiri.Ketika Seraphine turun ke halaman, Luc sudah menunggu di dekat kudanya.Dengan zirah perang dan mantel hitamnya, ia kembali terlihat seperti sosok yang dikenal seluruh Montreval—Jende

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 7

    Enam minggu terasa singkat ketika setiap harinya diisi keputusan yang bukan milik Seraphine.Pagi-pagi Ravenshade dipenuhi suara langkah pelayan, kain-kain mahal, dan daftar nama tamu yang tidak pernah ia hafal. Siang hari dihabiskan untuk fitting gaun, malam untuk undangan dan protokol.Seraphine m

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 6

    BAB 6 — Tanggal yang Dipilih Orang LainPernikahan selalu terdengar indah di mulut para bangsawan.Padahal bagi Seraphine de Nocteviel, itu hanyalah bentuk lain dari perjanjian—dibungkus sutra, disegel doa, lalu dipamerkan sebagai kebahagiaan. Dua minggu setelah kepulangan pasukan dari utara, Raja

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 5

    BAB 5 — Kepulangan Sang JenderalKepulangan Luc Bastien de Montclair diumumkan tiga hari sebelum pasukannya tiba di ibu kota.Dan seperti biasa, Istana Montreval berubah menjadi panggung besar penuh kemeriahan.Bendera kerajaan dipasang di sepanjang jalan utama. Para bangsawan sibuk mempersiapkan ja

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 4

    Tiga minggu setelah keberangkatan pasukan, kehidupan di Istana Montreval kembali berjalan seperti biasa.Pesta tetap berlangsung. Musik tetap dimainkan. Para bangsawan tetap sibuk berpura-pura peduli pada kerajaan sambil menusuk satu sama lain lewat senyum sopan.Seolah perang hanyalah cerita jauh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status