LOGINTiga minggu setelah keberangkatan pasukan, kehidupan di Istana Montreval kembali berjalan seperti biasa.
Pesta tetap berlangsung.
Musik tetap dimainkan. Para bangsawan tetap sibuk berpura-pura peduli pada kerajaan sambil menusuk satu sama lain lewat senyum sopan.Seolah perang hanyalah cerita jauh yang tidak akan pernah menyentuh mereka.
Seraphine membenci itu.
“Nona, Anda tidak menyentuh teh Anda.”
Mira berdiri di samping meja baca sambil memperhatikan wanita itu hati-hati.
Seraphine duduk tenang di dekat jendela perpustakaan keluarga Nocteviel, gaun biru gelapnya jatuh rapi menyentuh lantai marmer. Sebuah buku terbuka di tangannya, meski sejak tadi ia tidak benar-benar membalik halaman.
''Aku sedang membaca,” jawabnya datar.
“Sudah lima menit Anda membaca halaman yang sama.”
Tatapan abu-abu Seraphine langsung terangkat.
Mira langsung menunduk cepat. “Maaf, Nona.”
Hening.
Lalu tanpa menatap pelayannya, Seraphine bertanya,
“Ada kabar dari utara?”
Mira terlihat sedikit terkejut.
“Belum ada laporan resmi dari kerajaan.”
“Begitu.”
Nada suaranya tetap tenang.
Namun jemarinya akhirnya membalik halaman buku itu juga.
Dua hari kemudian, suasana istana berubah.
Seorang utusan kerajaan tiba menjelang malam dengan pakaian penuh lumpur dan darah kering. Para pelayan langsung berlarian membuka aula utama, sementara para bangsawan mulai berkumpul dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Perang selalu menjadi hiburan paling mahal bagi kaum aristokrat.
“Katanya pasukan utara diserang mendadak…”
“Aku mendengar korban cukup banyak.”
“Jenderal Montclair ada di garis depan, bukan?”
Bisikan-bisikan itu memenuhi aula saat Seraphine melangkah masuk bersama Mira.
Gaun hitamnya membuat sosoknya terlihat semakin dingin malam itu.
Raja Théobald berdiri di depan aula dengan ekspresi serius.
“Apa laporan dari utara?” tanyanya tajam.
Utusan itu berlutut cepat.
“Pasukan Montreval berhasil memenangkan pertempuran, Yang Mulia.”
Ruangan langsung sedikit tenang.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Lieutenant General Luc Bastien de Montclair terluka saat memimpin serangan terakhir.”
Hening jatuh begitu cepat.
Beberapa bangsawan wanita langsung menutup mulut kaget.
Sementara Seraphine
tetap berdiri tenang.
Hanya Mira yang menyadari jemari wanita itu sedikit berhenti bergerak.
“Lukanya?” tanya Raja.
“Pedang musuh mengenai bahu kirinya. Namun tabib memastikan nyawanya tidak dalam bahaya.”
Baru setelah itu suasana aula perlahan kembali bernapas.
“Untunglah…”
“Jenderal Montclair benar-benar sulit mati.”
“Sudah kubilang dia monster perang.”
Seraphine muak mendengarnya.
Orang-orang itu berbicara tentang Luc seolah pria itu bukan manusia, melainkan mesin perang milik kerajaan.
Dan yang paling mengganggu—
Luc sendiri mungkin terbiasa diperlakukan seperti itu.
“Nona…” bisik Mira pelan saat mereka meninggalkan aula. “Anda baik-baik saja?”
Seraphine mengangkat alis tipis.
“Kenapa aku harus tidak baik-baik saja?”
“Karena—”
“Luc Bastien terlalu keras kepala untuk mati di medan perang.”
Jawaban itu terdengar dingin.
Namun Mira tahu itu adalah cara Seraphine mengatakan bahwa ia sudah memikirkan hal yang sama sejak mendengar kabar tadi.
Malamnya, hujan turun perlahan membasahi jendela kamar Seraphine.
Wanita itu baru selesai melepas anting peraknya saat Mira masuk membawa sebuah amplop hitam.
“Nona… surat dari utara.”
Tatapan Seraphine langsung jatuh pada segel keluarga Montclair.
Hening sesaat.
Lalu ia mengambil surat itu perlahan.
Tulisan tangan Luc tetap sama seperti yang ia bayangkan—rapi, tajam, dan terlalu formal.
Lady Seraphine,
Aku mendengar kabar tentang cederaku sudah sampai lebih cepat daripada kemenangan pasukan kita sendiri. Menarik sekali mengetahui para bangsawan ternyata lebih tertarik pada darahku daripada perang itu sendiri.
Tatapan Seraphine bergerak pelan membaca tiap baris.
Lukanya tidak serius. Sayangnya para tabib memperlakukanku seperti pria tua yang tinggal menunggu surat warisan.
Sudut bibir Seraphine nyaris bergerak.
Nyaris.
Lalu matanya berhenti di kalimat berikutnya.
Cedric mengatakan aku seharusnya menulis surat pada tunanganku agar istana tidak mulai membuat rumor aneh.
Seraphine mendecakkan lidah pelan.
“Jadi ini bukan idenya sendiri,” gumamnya kecil.
Mira menatap penasaran. “Apa isi suratnya?”
“Cedric ternyata terlalu banyak bicara.”
“Hm?”
“Tidak penting.”
Seraphine kembali membaca bagian terakhir.
Aku akan kembali ke Montreval setelah situasi perbatasan stabil.
Singkat.
Formal.
Sangat Luc.
Tidak ada kalimat manis.
Tidak ada kerinduan murahan.
Dan anehnya, Seraphine lebih menyukai itu.
Ia menutup surat tersebut perlahan lalu meletakkannya begitu saja di atas meja.
“Nona tidak ingin membalas?”
“Aku tidak punya kebiasaan mengirim surat emosional ke medan perang.”
“Setidaknya Anda bisa mengatakan semoga cepat sembuh.”
Seraphine menatap Mira datar.
“Dia tertusuk pedang, bukan flu.”
Mira langsung terdiam.
Hening memenuhi ruangan beberapa detik sebelum Seraphine kembali duduk di dekat jendela.
Tatapannya jatuh pada hujan di luar sana.
Tenang.
Sulit dibaca.
Namun kali ini pikirannya tidak dipenuhi pesta istana ataupun politik kerajaan.
Melainkan seorang pria dengan mata biru dingin yang tetap sempat menulis surat bahkan setelah terluka di medan perang.
Menyebalkan.
Dan tanpa sadar, jemarinya mengetuk pelan sandaran kursi.
Kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia sedang memikirkan sesuatu terlalu dalam.
(POV Luc)Tiga bulan di medan perang mengajarkanku satu hal.Manusia bisa terbiasa pada hampir semua hal.Lumpur yang tidak pernah kering.Hujan yang turun berhari-hari.Makanan yang rasanya sama setiap malam.Bahkan suara pertempuran yang datang dan pergi seperti ombak.Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kubiasakan.Menunggu surat dari Seraphine.Pagi itu, aku baru saja menyelesaikan rapat dengan para perwira ketika seorang kurir memasuki tenda komando."Surat dari Kastil Montclair, Jenderal."Entah kenapa, lelah yang menumpuk sejak pagi terasa sedikit berkurang.Aku menerima amplop itu dan langsung mengenali tulisan tangannya.Rapi.Tegas.Dan sangat Seraphine.Hugo yang masih berada di dalam tenda mengangkat alis."Surat lagi?"Aku memberinya tatapan datar.Ia justru tersenyum."Saya tidak mengatakan apa-apa.""Bagus.""Itu hanya surat keenam bulan ini.""Hugo.""Baik, saya pergi."Ia keluar sebelum aku benar-benar mengusirnya.Begitu tenda kembali sepi, aku memb
(POV Luc)Medan perang tidak pernah benar-benar sunyi.Bahkan ketika pertempuran berhenti dan malam turun menyelimuti perkemahan, suara-suara itu tetap ada. Derak api unggun. Langkah penjaga yang berpatroli. Erangan pelan para prajurit yang terluka. Dan angin yang membawa bau tanah basah bercampur besi.Sudah hampir tiga bulan sejak aku meninggalkan Kastil Montclair.Tiga bulan sejak keberangkatanku dari gerbang kastil.Tiga bulan sejak aku meninggalkan seseorang yang menungguku pulang.Pagi itu, kabut menggantung rendah di atas lembah timur. Dari tanah tinggi tempatku berdiri, aku bisa melihat sisa-sisa pertempuran semalam. Bekas roda meriam membelah lumpur, sementara beberapa prajurit masih bekerja memperbaiki barikade yang rusak."Jenderal."Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar.Commander Hugo de Ferrand berjalan mendekat sambil membawa beberapa laporan."Kondisi pasukan?" tanyaku."Masih stabil."Ia menyerahkan dokumen itu."Namun suplai mulai menjadi masalah. Hujan membu
Tabib istana datang saat langit hampir gelap.Mira membukakan pintu dengan wajah tegang, sementara Seraphine berdiri di dekat jendela, tangannya terlipat rapi di depan tubuh seolah ia sedang menunggu laporan keuangan, bukan kabar yang mampu mengubah seluruh hidupnya.Tabib itu seorang pria tua dengan jubah abu-abu dan mata tajam yang tak mudah dibohongi.Ia memeriksa Seraphine dalam diam.Terlalu lama.Terlalu tenang.Dan justru karena itulah, detik-detik yang berjalan terasa lebih berat dari biasanya.Akhirnya, tabib meletakkan alatnya perlahan dan menatap Seraphine dengan ekspresi yang sulit dibaca."Yang Mulia..." ucapnya hati-hati.Seraphine sudah tahu sebelum kalimat itu selesai.Namun ia tetap menunggu."Ada kemungkinan besar Anda sedang mengandung."Ruangan menjadi sangat sunyi.Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan.Seraphine tidak bergerak.Tidak ada wajah terkejut, tidak ada seruan panik, tidak ada air mata. Hanya tatapan abu-abu yang tetap tenang, nyaris terlalu tenang,
Awalnya, Seraphine mengira ia hanya kelelahan.Beberapa minggu terakhir berjalan lebih sibuk dari biasanya. Selain mengurus seluruh administrasi Kastil Montclair, ia juga harus memastikan berbagai perubahan yang telah direncanakannya berjalan dengan baik.Maka ketika tubuhnya terasa lebih berat saat bangun pagi, ia tidak terlalu memikirkannya.Ia hanya melanjutkan hari seperti biasa.Namun ternyata rasa lelah itu tidak menghilang.Bahkan setelah tidur cukup.Bahkan setelah mengurangi beberapa pekerjaan.Dan itu mulai mengganggunya.Pagi itu, Seraphine duduk di ruang administrasi bersama Mira ketika secangkir teh hangat diletakkan di hadapannya.Teh melati.Minuman yang hampir selalu menemaninya bekerja.Namun baru satu hirupan aroma masuk ke hidungnya, Seraphine langsung mengernyit."Apa ada yang salah, Nona?" tanya Mira.Seraphine mendorong cangkir itu sedikit menjauh."Aromanya terlalu kuat."Mira berkedip."Ini teh yang sama seperti biasanya.""Aku tahu.""Itu campuran favorit Anda.
Kepergian Luc Bastien de Montclair meninggalkan sesuatu yang berbeda di Kastil Montclair.Bukan kesedihan.Bukan pula kekosongan.Melainkan keheningan yang terasa asing.Hari-hari tetap berjalan seperti biasa.Seraphine bangun sebelum matahari terbit, memeriksa laporan keuangan, mengawasi pengelolaan gudang, dan memastikan seluruh kastil berjalan sebagaimana mestinya.Sebagai Marchioness Montclair, ia tidak memiliki kemewahan untuk larut dalam perasaan.Dan sebagai istri seorang jenderal, ia sudah memahami bahwa perang akan selalu menjadi bagian dari hidup mereka."Ada laporan baru dari gudang timur," lapor Mira suatu pagi.Seraphine menerima dokumen itu."Dan?""Pengeluaran turun dua belas persen sejak sistem baru diterapkan."Seraphine mengangguk kecil."Bagus.""Tidak ada komentar lain?""Haruskah aku menangis bahagia?"Mira menghela napas."Terkadang saya lupa Anda tidak pernah merayakan kemenangan kecil.""Aku merayakannya.""Bagaimana?""Dengan mencari masalah berikutnya."Mira
Sore itu, halaman utama Kastil Montclair dipenuhi derap kaki kuda dan suara logam yang saling beradu.Panji hitam-perak keluarga Montclair berkibar di bawah langit musim gugur. Para prajurit memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kali, sementara para perwira memastikan barisan telah siap berangkat.Perang tidak pernah menunggu.Dari balkon lantai dua, Seraphine mengamati semuanya dengan tenang.Di sampingnya, Mira berdiri sambil membawa mantel bulu."Nona," panggilnya hati-hati. "Anda baik-baik saja?"Seraphine tidak segera menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada halaman di bawah."Aku baik-baik saja."Mira menahan senyum kecil.Setelah sekian lama melayani Seraphine, ia tahu kapan majikannya berkata jujur dan kapan tidak.Namun kali ini, ia memilih diam.Karena beberapa hal perlu dipahami sendiri.Ketika Seraphine turun ke halaman, Luc sudah menunggu di dekat kudanya.Dengan zirah perang dan mantel hitamnya, ia kembali terlihat seperti sosok yang dikenal seluruh Montreval—Jende
Luc Bastien de Montclair tidak menyukai pesta istana.Terlalu banyak senyum palsu. Terlalu banyak tatapan penuh kepentingan.Karena itu, setelah Seraphine pergi meninggalkan balkon, Luc tetap berdiri diam cukup lama di sana, membiarkan dingin malam meredakan sesuatu yang sejak tadi terasa aneh di d
Di Kerajaan Montreval, perempuan bangsawan tidak diberi kebebasan untuk memilih. Mereka hanya diajarkan cara tersenyum saat hidupnya diputuskan orang lain. “Yang Mulia Duke memanggil Anda ke ruang kerja.” Seraphine de Nocteviel menatap pantulannya di cermin sesaat sebelum berbalik. Gaun beludru
Enam minggu terasa singkat ketika setiap harinya diisi keputusan yang bukan milik Seraphine.Pagi-pagi Ravenshade dipenuhi suara langkah pelayan, kain-kain mahal, dan daftar nama tamu yang tidak pernah ia hafal. Siang hari dihabiskan untuk fitting gaun, malam untuk undangan dan protokol.Seraphine m
BAB 6 — Tanggal yang Dipilih Orang LainPernikahan selalu terdengar indah di mulut para bangsawan.Padahal bagi Seraphine de Nocteviel, itu hanyalah bentuk lain dari perjanjian—dibungkus sutra, disegel doa, lalu dipamerkan sebagai kebahagiaan. Dua minggu setelah kepulangan pasukan dari utara, Raja







