LOGINEnam minggu terasa singkat ketika setiap harinya diisi keputusan yang bukan milik Seraphine.
Pagi-pagi Ravenshade dipenuhi suara langkah pelayan, kain-kain mahal, dan daftar nama tamu yang tidak pernah ia hafal. Siang hari dihabiskan untuk fitting gaun, malam untuk undangan dan protokol.
Seraphine menjalani semuanya seperti menjalani rapat perang.
Tenang. Rapi. Tidak memberi celah.
“Nona, Anda harus memilih mahkota rambut,” kata Mira, menahan dua kotak beludru.
Seraphine menatap sekilas. “Yang lebih ringan.”
“Yang ini dihiasi berlian—”
“Yang lebih ringan,” ulang Seraphine.
Mira mengangguk cepat.
Bukan karena takut—Mira hanya paham. Seraphine tidak suka hal yang tidak berguna, termasuk perhiasan yang dibuat untuk membuat orang lain kagum.
Dua hari sebelum keberangkatan Seraphine ke istana untuk rangkaian upacara pranikah, undangan terakhir ditandatangani di ruang kerja Duke Henri.
Ayahnya menggeser daftar tamu ke arah Seraphine.
“Keluarga Aubigny meminta tambahan kursi.”
Seraphine membaca nama itu tanpa ekspresi.
“Tidak.”
Duke Henri mengangkat alis tipis. “Mereka punya kedekatan dengan Montclair.”
“Itu alasan yang lebih kuat untuk menolak.”
Duchess Célestine, yang duduk di dekat perapian, menghela napas kecil.
“Seraphine…”
Seraphine menutup daftar itu.
“Aku tidak akan mengundang masalah masuk ke dalam rumahku sendiri.”
Hening.
Lalu Duke Henri berkata singkat, “Baik.”
Itu saja. Tidak ada perdebatan panjang. Duke Henri mungkin dingin, namun ia paham nilai dari keputusan cepat.
Mira menahan senyum kecil di belakang Seraphine.
Istana Montreval mengirim rombongan kecil pada sore hari berikutnya.
Bukan untuk bunga atau kain.
Untuk aturan.
Tiga pastor gereja. Dua penasihat protokol. Dan seorang wanita tua yang dikenal sebagai Madame Roux, pengawas adat pernikahan kerajaan.
Madame Roux menatap Seraphine dari ujung rambut hingga ujung sepatu.
“Wajah Anda terlalu tenang untuk seorang calon pengantin.”
Seraphine membalas tatapan itu datar.
“Saya tidak dibayar untuk terlihat gugup.”
Madame Roux tersenyum tipis, seperti baru saja menemukan sesuatu yang menarik.
“Anda akan menjadi Marchioness. Anda akan berdiri di samping seorang pahlawan perang. Orang-orang ingin melihat cinta.”
Seraphine mengangkat alis.
“Biarkan mereka menonton panggung lain.”
Madame Roux tertawa pelan, lalu mengeluarkan daftar.
“Kita mulai dari sumpah.”
Sumpah.
Seraphine menatap kertas itu seperti menatap kontrak.
“Ada bagian yang bisa saya ubah?”
Madame Roux tampak terkejut.
“Tidak.”
“Kalau begitu, saya akan menghafalnya. Itu lebih cepat.”
Pastor tertua berdehem, sedikit tak nyaman.
Namun Seraphine tidak peduli. Ia tidak memiliki kebiasaan menyenangkan orang hanya karena mereka memakai jubah suci.
Malam sebelum Seraphine berangkat ke istana untuk menginap di sayap khusus calon Marchioness, Luc datang lagi.
Kali ini tanpa kereta besar. Hanya dua pengawal. Dan wajah yang terlihat lebih lelah daripada biasanya.
Seraphine menemuinya di aula depan Ravenshade.
“Jenderal,” sapa Seraphine.
Luc mengembuskan napas pelan.
“Aku sudah bilang—”
“Aku juga sudah jawab. Aku tidak memanggilmu ‘calon suami’ di depan pelayan.”
Luc menatapnya sebentar, lalu menyerah.
“Aku cuma ingin memastikan persiapan tidak membuatmu… kewalahan.”
“Kewalahan?” Seraphine mengulang dengan nada datar. “Mereka hanya meminta aku memilih bunga dan kain. Medan perangmu lebih rumit.”
Luc menahan tatapan.
“Kau selalu menolak terlihat lemah.”
“Aku tidak menolak. Aku hanya tidak memberi mereka akses.”
Luc terdiam beberapa detik.
Kalimat itu terdengar seperti pengakuan yang tidak sengaja.
Luc melangkah sedikit lebih dekat, suaranya turun.
“Dan aku? Apa aku juga tidak punya akses?”
Seraphine menatapnya lama.
Lalu berkata singkat.
“Belum.”
Jawaban itu seharusnya menutup percakapan.
Namun Luc justru terlihat… puas, seolah ia baru saja diberi tantangan.
“Baik,” gumamnya. “Setidaknya kau jujur.”
Seraphine mengangkat alis.
“Anda lebih suka kebohongan?”
“Aku lebih suka kepastian.”
“Dalam hal itu,” Seraphine menatapnya lurus, “Anda memilih wanita yang salah.”
Hening.
Udara terasa lebih padat.
Luc menahan napas kecil, lalu berkata pelan.
“Aku tidak peduli mereka menyebutnya pernikahan. Aku menganggapnya garis batas.”
“Garis batas apa?”
“Garis batas yang membuat orang-orang berhenti mencoba mengganggumu.”
Seraphine tidak langsung menjawab.
Bukan karena tersentuh.
Melainkan karena ia tidak yakin apa yang sebenarnya Luc lindungi—dirinya, atau harga diri seorang pria yang tidak suka kalah.
“Kalau begitu Anda harus mulai dari hal paling dasar,” kata Seraphine akhirnya.
“Apa?”
“Berhenti membiarkan Mireille masuk dalam kehidupan kita nanti.”
Tatapan Luc menegang sesaat.
Sangat singkat.
Namun cukup.
“Aku tidak memberinya hak untuk datang,” jawabnya dingin.
“Tapi Anda memberi ruang,” balas Seraphine.
Luc diam.
Seraphine melanjutkan tanpa emosi berlebihan.
“Aku tidak butuh janji manis. Aku butuh aturan yang jelas.”
Luc menatapnya lama, lalu mengangguk satu kali.
“Baik.”
Tidak ada drama.
Tidak ada pembelaan panjang.
Hanya satu kata yang terasa seperti keputusan.
Seraphine menyukai itu.
Malam itu setelah Luc pergi, Mira masuk membawa mantel perjalanan Seraphine.
“Nona, besok pagi kita berangkat ke istana.”
Seraphine mengangguk.
Di luar jendela, angin musim gugur semakin dingin.
Dan meski Seraphine tidak pernah mengatakan ia takut—
ia paham satu hal:
hari pernikahan akan menjadi hari ketika semua orang akan menatapnya, menilai tiap langkahnya, dan menunggu ia berubah menjadi wanita “yang seharusnya.”
Sayangnya bagi mereka—
Seraphine tidak pernah punya niat untuk berubah.
(POV Luc)Tiga bulan di medan perang mengajarkanku satu hal.Manusia bisa terbiasa pada hampir semua hal.Lumpur yang tidak pernah kering.Hujan yang turun berhari-hari.Makanan yang rasanya sama setiap malam.Bahkan suara pertempuran yang datang dan pergi seperti ombak.Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kubiasakan.Menunggu surat dari Seraphine.Pagi itu, aku baru saja menyelesaikan rapat dengan para perwira ketika seorang kurir memasuki tenda komando."Surat dari Kastil Montclair, Jenderal."Entah kenapa, lelah yang menumpuk sejak pagi terasa sedikit berkurang.Aku menerima amplop itu dan langsung mengenali tulisan tangannya.Rapi.Tegas.Dan sangat Seraphine.Hugo yang masih berada di dalam tenda mengangkat alis."Surat lagi?"Aku memberinya tatapan datar.Ia justru tersenyum."Saya tidak mengatakan apa-apa.""Bagus.""Itu hanya surat keenam bulan ini.""Hugo.""Baik, saya pergi."Ia keluar sebelum aku benar-benar mengusirnya.Begitu tenda kembali sepi, aku memb
(POV Luc)Medan perang tidak pernah benar-benar sunyi.Bahkan ketika pertempuran berhenti dan malam turun menyelimuti perkemahan, suara-suara itu tetap ada. Derak api unggun. Langkah penjaga yang berpatroli. Erangan pelan para prajurit yang terluka. Dan angin yang membawa bau tanah basah bercampur besi.Sudah hampir tiga bulan sejak aku meninggalkan Kastil Montclair.Tiga bulan sejak keberangkatanku dari gerbang kastil.Tiga bulan sejak aku meninggalkan seseorang yang menungguku pulang.Pagi itu, kabut menggantung rendah di atas lembah timur. Dari tanah tinggi tempatku berdiri, aku bisa melihat sisa-sisa pertempuran semalam. Bekas roda meriam membelah lumpur, sementara beberapa prajurit masih bekerja memperbaiki barikade yang rusak."Jenderal."Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar.Commander Hugo de Ferrand berjalan mendekat sambil membawa beberapa laporan."Kondisi pasukan?" tanyaku."Masih stabil."Ia menyerahkan dokumen itu."Namun suplai mulai menjadi masalah. Hujan membu
Tabib istana datang saat langit hampir gelap.Mira membukakan pintu dengan wajah tegang, sementara Seraphine berdiri di dekat jendela, tangannya terlipat rapi di depan tubuh seolah ia sedang menunggu laporan keuangan, bukan kabar yang mampu mengubah seluruh hidupnya.Tabib itu seorang pria tua dengan jubah abu-abu dan mata tajam yang tak mudah dibohongi.Ia memeriksa Seraphine dalam diam.Terlalu lama.Terlalu tenang.Dan justru karena itulah, detik-detik yang berjalan terasa lebih berat dari biasanya.Akhirnya, tabib meletakkan alatnya perlahan dan menatap Seraphine dengan ekspresi yang sulit dibaca."Yang Mulia..." ucapnya hati-hati.Seraphine sudah tahu sebelum kalimat itu selesai.Namun ia tetap menunggu."Ada kemungkinan besar Anda sedang mengandung."Ruangan menjadi sangat sunyi.Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan.Seraphine tidak bergerak.Tidak ada wajah terkejut, tidak ada seruan panik, tidak ada air mata. Hanya tatapan abu-abu yang tetap tenang, nyaris terlalu tenang,
Awalnya, Seraphine mengira ia hanya kelelahan.Beberapa minggu terakhir berjalan lebih sibuk dari biasanya. Selain mengurus seluruh administrasi Kastil Montclair, ia juga harus memastikan berbagai perubahan yang telah direncanakannya berjalan dengan baik.Maka ketika tubuhnya terasa lebih berat saat bangun pagi, ia tidak terlalu memikirkannya.Ia hanya melanjutkan hari seperti biasa.Namun ternyata rasa lelah itu tidak menghilang.Bahkan setelah tidur cukup.Bahkan setelah mengurangi beberapa pekerjaan.Dan itu mulai mengganggunya.Pagi itu, Seraphine duduk di ruang administrasi bersama Mira ketika secangkir teh hangat diletakkan di hadapannya.Teh melati.Minuman yang hampir selalu menemaninya bekerja.Namun baru satu hirupan aroma masuk ke hidungnya, Seraphine langsung mengernyit."Apa ada yang salah, Nona?" tanya Mira.Seraphine mendorong cangkir itu sedikit menjauh."Aromanya terlalu kuat."Mira berkedip."Ini teh yang sama seperti biasanya.""Aku tahu.""Itu campuran favorit Anda.
Kepergian Luc Bastien de Montclair meninggalkan sesuatu yang berbeda di Kastil Montclair.Bukan kesedihan.Bukan pula kekosongan.Melainkan keheningan yang terasa asing.Hari-hari tetap berjalan seperti biasa.Seraphine bangun sebelum matahari terbit, memeriksa laporan keuangan, mengawasi pengelolaan gudang, dan memastikan seluruh kastil berjalan sebagaimana mestinya.Sebagai Marchioness Montclair, ia tidak memiliki kemewahan untuk larut dalam perasaan.Dan sebagai istri seorang jenderal, ia sudah memahami bahwa perang akan selalu menjadi bagian dari hidup mereka."Ada laporan baru dari gudang timur," lapor Mira suatu pagi.Seraphine menerima dokumen itu."Dan?""Pengeluaran turun dua belas persen sejak sistem baru diterapkan."Seraphine mengangguk kecil."Bagus.""Tidak ada komentar lain?""Haruskah aku menangis bahagia?"Mira menghela napas."Terkadang saya lupa Anda tidak pernah merayakan kemenangan kecil.""Aku merayakannya.""Bagaimana?""Dengan mencari masalah berikutnya."Mira
Sore itu, halaman utama Kastil Montclair dipenuhi derap kaki kuda dan suara logam yang saling beradu.Panji hitam-perak keluarga Montclair berkibar di bawah langit musim gugur. Para prajurit memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kali, sementara para perwira memastikan barisan telah siap berangkat.Perang tidak pernah menunggu.Dari balkon lantai dua, Seraphine mengamati semuanya dengan tenang.Di sampingnya, Mira berdiri sambil membawa mantel bulu."Nona," panggilnya hati-hati. "Anda baik-baik saja?"Seraphine tidak segera menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada halaman di bawah."Aku baik-baik saja."Mira menahan senyum kecil.Setelah sekian lama melayani Seraphine, ia tahu kapan majikannya berkata jujur dan kapan tidak.Namun kali ini, ia memilih diam.Karena beberapa hal perlu dipahami sendiri.Ketika Seraphine turun ke halaman, Luc sudah menunggu di dekat kudanya.Dengan zirah perang dan mantel hitamnya, ia kembali terlihat seperti sosok yang dikenal seluruh Montreval—Jende
BAB 6 — Tanggal yang Dipilih Orang LainPernikahan selalu terdengar indah di mulut para bangsawan.Padahal bagi Seraphine de Nocteviel, itu hanyalah bentuk lain dari perjanjian—dibungkus sutra, disegel doa, lalu dipamerkan sebagai kebahagiaan. Dua minggu setelah kepulangan pasukan dari utara, Raja
BAB 5 — Kepulangan Sang JenderalKepulangan Luc Bastien de Montclair diumumkan tiga hari sebelum pasukannya tiba di ibu kota.Dan seperti biasa, Istana Montreval berubah menjadi panggung besar penuh kemeriahan.Bendera kerajaan dipasang di sepanjang jalan utama. Para bangsawan sibuk mempersiapkan ja
Tiga minggu setelah keberangkatan pasukan, kehidupan di Istana Montreval kembali berjalan seperti biasa.Pesta tetap berlangsung. Musik tetap dimainkan. Para bangsawan tetap sibuk berpura-pura peduli pada kerajaan sambil menusuk satu sama lain lewat senyum sopan.Seolah perang hanyalah cerita jauh
Istana Montreval kembali dipenuhi cahaya. Namun kali ini bukan untuk pesta pertunangan. Melainkan perpisahan. Barisan ksatria dan prajurit memenuhi halaman utama kerajaan dengan zirah perak yang berkilau di bawah matahari pagi. Bendera Montreval berkibar tertiup angin musim gugur, sementara suara







