Share

BAB 2

Author: Audyprmth13
last update publish date: 2026-05-11 15:15:19

 

Luc Bastien de Montclair tidak menyukai pesta istana.

Terlalu banyak senyum palsu.

Terlalu banyak tatapan penuh kepentingan.

Karena itu, setelah Seraphine pergi meninggalkan balkon, Luc tetap berdiri diam cukup lama di sana, membiarkan dingin malam meredakan sesuatu yang sejak tadi terasa aneh di dadanya.

“Aku rasa tunanganmu tidak menyukaiku.”

Suara Mireille terdengar pelan di belakangnya.

Luc tidak langsung menoleh.

Lady Mireille d’Aubigny berdiri beberapa langkah darinya dengan gaun merah anggur yang masih sempurna meski malam semakin larut. Wanita itu tersenyum kecil, namun matanya menyimpan sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar candaan.

“Dia tidak terlihat seperti wanita yang mudah menyukai siapa pun,” jawab Luc akhirnya.

Mireille tertawa lirih.

“Termasuk dirimu?”

Luc diam.

Dan diamnya selalu menjadi jawaban paling jujur.

Mireille melangkah mendekat, berdiri di sampingnya menghadap kota yang dipenuhi cahaya obor.

“Aku tidak menyangka Raja benar-benar akan menjodohkanmu secepat ini.”

“Ini keputusan politik.”

“Ya.”

Mireille tersenyum tipis.

“Sayangnya politik selalu datang terlambat.”

Tatapan Luc berubah samar.

Kalimat itu membawa mereka pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar dibicarakan lagi.

Masa lalu.

Sebelum Luc menjadi jenderal paling ditakuti di Montreval.

Sebelum Mireille dijadikan alat negosiasi keluarganya sendiri.

Dulu, saat mereka masih jauh lebih muda, orang-orang istana sering mengira Luc akan menikahi Mireille.

Mereka tumbuh di lingkungan yang sama.

Menghadiri pesta yang sama.

Dan Mireille adalah satu dari sedikit orang yang mampu membuat Luc berbicara lebih dari beberapa kalimat.

Namun perang datang terlalu cepat.

Dan ambisi keluarga datang lebih dulu daripada perasaan apa pun yang belum sempat diberi nama.

“Ayahku dulu sangat menyukaimu,” gumam Mireille pelan. “Dia bahkan pernah berharap aku menjadi Marchioness Montclair.”

“Itu tidak pernah dibicarakan secara resmi.”

“Tapi kita sama-sama tahu itu bukan sekadar rumor.”

Luc tidak membantah.

Karena memang benar.

Ada masa ketika ia berpikir Mireille akan selalu ada di sisinya.

Sampai suatu hari ia pergi ke medan perang… dan saat kembali, semuanya sudah berubah.

“Luc,” panggil Mireille lembut.

Pria itu menoleh.

''Apa kau bahagia dengan pertunangan ini?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun Luc tidak langsung bisa menjawab.

Bayangan Seraphine tiba-tiba muncul begitu saja di pikirannya.

Gaun biru gelap.

Tatapan abu-abu dingin.

Dan cara wanita itu menatapnya tanpa takut sedikit pun.

Luc sudah bertemu banyak wanita bangsawan sepanjang hidupnya.

Namun tidak ada yang pernah membuatnya merasa sedang dibaca seperti itu.

“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.

Mireille menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum kecil.

“Jawaban yang menyebalkan.”

“Kau mengharapkan apa?”

“Setidaknya kebohongan yang lebih manis.”

Luc mengembuskan napas pelan.

“Aku tidak pandai berbohong.”

“Ya.”

Mireille tertawa lirih.

“Itu sebabnya aku dulu menyukaimu.”

Hening.

Untuk pertama kalinya malam itu, Luc benar-benar menatap Mireille.

Wanita itu masih sama cantiknya seperti dulu.

Masih elegan.

Masih memikat.

Namun entah kenapa—

Luc sadar perasaannya sudah tidak lagi berada di tempat yang sama.

Mungkin perang mengubah terlalu banyak hal dalam dirinya.

Atau mungkin… waktu memang membuat beberapa orang tertinggal di belakang.

Mireille tampaknya menyadari perubahan kecil itu.

Dan untuk sesaat, senyum di wajahnya terlihat rapuh.

“Aku terlambat, ya?” tanyanya pelan.

Luc mengernyit kecil.

“Mireille—”

“Aku tahu.”

Ia memotong lembut.

“Tenang saja. Aku tidak akan membuat drama menyedihkan seperti wanita-wanita di novel murahan.”

Namun meski tersenyum, mata Mireille tidak ikut tertawa.

“Aku hanya…”

Ia mengalihkan pandangan ke langit malam.

“…tidak menyangka orang di sisimu nanti bukan aku.”

Hening panjang jatuh di antara mereka.

Luc tidak tahu harus menjawab apa.

Karena sebagian dirinya memang pernah membayangkan hal itu dulu.

Namun bayangan itu terasa sangat jauh sekarang.

Mireille menarik napas pelan sebelum kembali tersenyum anggun seperti biasa.

“Kalau begitu aku penasaran.”

“Apa?”

“Berapa lama Lady Seraphine bisa bertahan dengan pria sepertimu.”

Tatapan Luc langsung berubah dingin.

“Dia bukan wanita lemah.”

“Aku tahu.”

Mireille menatapnya samar.

“Itu justru yang menarik.”

Lalu wanita itu mendekat sedikit dan berbisik pelan—

“Hati-hati, Luc.”

Tatapan matanya perlahan berubah serius.

“Wanita seperti Seraphine de Nocteviel…”

senyumnya tipis, hampir pahit,

“…kalau pergi, biasanya tidak akan kembali lagi.”

Dan anehnya—

untuk pertama kalinya malam itu, kalimat itu membuat Luc merasa tidak nyaman.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 20

    (POV Luc)Tiga bulan di medan perang mengajarkanku satu hal.Manusia bisa terbiasa pada hampir semua hal.Lumpur yang tidak pernah kering.Hujan yang turun berhari-hari.Makanan yang rasanya sama setiap malam.Bahkan suara pertempuran yang datang dan pergi seperti ombak.Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa kubiasakan.Menunggu surat dari Seraphine.Pagi itu, aku baru saja menyelesaikan rapat dengan para perwira ketika seorang kurir memasuki tenda komando."Surat dari Kastil Montclair, Jenderal."Entah kenapa, lelah yang menumpuk sejak pagi terasa sedikit berkurang.Aku menerima amplop itu dan langsung mengenali tulisan tangannya.Rapi.Tegas.Dan sangat Seraphine.Hugo yang masih berada di dalam tenda mengangkat alis."Surat lagi?"Aku memberinya tatapan datar.Ia justru tersenyum."Saya tidak mengatakan apa-apa.""Bagus.""Itu hanya surat keenam bulan ini.""Hugo.""Baik, saya pergi."Ia keluar sebelum aku benar-benar mengusirnya.Begitu tenda kembali sepi, aku memb

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 19

    (POV Luc)Medan perang tidak pernah benar-benar sunyi.Bahkan ketika pertempuran berhenti dan malam turun menyelimuti perkemahan, suara-suara itu tetap ada. Derak api unggun. Langkah penjaga yang berpatroli. Erangan pelan para prajurit yang terluka. Dan angin yang membawa bau tanah basah bercampur besi.Sudah hampir tiga bulan sejak aku meninggalkan Kastil Montclair.Tiga bulan sejak keberangkatanku dari gerbang kastil.Tiga bulan sejak aku meninggalkan seseorang yang menungguku pulang.Pagi itu, kabut menggantung rendah di atas lembah timur. Dari tanah tinggi tempatku berdiri, aku bisa melihat sisa-sisa pertempuran semalam. Bekas roda meriam membelah lumpur, sementara beberapa prajurit masih bekerja memperbaiki barikade yang rusak."Jenderal."Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar.Commander Hugo de Ferrand berjalan mendekat sambil membawa beberapa laporan."Kondisi pasukan?" tanyaku."Masih stabil."Ia menyerahkan dokumen itu."Namun suplai mulai menjadi masalah. Hujan membu

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 18

    Tabib istana datang saat langit hampir gelap.Mira membukakan pintu dengan wajah tegang, sementara Seraphine berdiri di dekat jendela, tangannya terlipat rapi di depan tubuh seolah ia sedang menunggu laporan keuangan, bukan kabar yang mampu mengubah seluruh hidupnya.Tabib itu seorang pria tua dengan jubah abu-abu dan mata tajam yang tak mudah dibohongi.Ia memeriksa Seraphine dalam diam.Terlalu lama.Terlalu tenang.Dan justru karena itulah, detik-detik yang berjalan terasa lebih berat dari biasanya.Akhirnya, tabib meletakkan alatnya perlahan dan menatap Seraphine dengan ekspresi yang sulit dibaca."Yang Mulia..." ucapnya hati-hati.Seraphine sudah tahu sebelum kalimat itu selesai.Namun ia tetap menunggu."Ada kemungkinan besar Anda sedang mengandung."Ruangan menjadi sangat sunyi.Mira menutup mulutnya dengan kedua tangan.Seraphine tidak bergerak.Tidak ada wajah terkejut, tidak ada seruan panik, tidak ada air mata. Hanya tatapan abu-abu yang tetap tenang, nyaris terlalu tenang,

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 17

    Awalnya, Seraphine mengira ia hanya kelelahan.Beberapa minggu terakhir berjalan lebih sibuk dari biasanya. Selain mengurus seluruh administrasi Kastil Montclair, ia juga harus memastikan berbagai perubahan yang telah direncanakannya berjalan dengan baik.Maka ketika tubuhnya terasa lebih berat saat bangun pagi, ia tidak terlalu memikirkannya.Ia hanya melanjutkan hari seperti biasa.Namun ternyata rasa lelah itu tidak menghilang.Bahkan setelah tidur cukup.Bahkan setelah mengurangi beberapa pekerjaan.Dan itu mulai mengganggunya.Pagi itu, Seraphine duduk di ruang administrasi bersama Mira ketika secangkir teh hangat diletakkan di hadapannya.Teh melati.Minuman yang hampir selalu menemaninya bekerja.Namun baru satu hirupan aroma masuk ke hidungnya, Seraphine langsung mengernyit."Apa ada yang salah, Nona?" tanya Mira.Seraphine mendorong cangkir itu sedikit menjauh."Aromanya terlalu kuat."Mira berkedip."Ini teh yang sama seperti biasanya.""Aku tahu.""Itu campuran favorit Anda.

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 16

    Kepergian Luc Bastien de Montclair meninggalkan sesuatu yang berbeda di Kastil Montclair.Bukan kesedihan.Bukan pula kekosongan.Melainkan keheningan yang terasa asing.Hari-hari tetap berjalan seperti biasa.Seraphine bangun sebelum matahari terbit, memeriksa laporan keuangan, mengawasi pengelolaan gudang, dan memastikan seluruh kastil berjalan sebagaimana mestinya.Sebagai Marchioness Montclair, ia tidak memiliki kemewahan untuk larut dalam perasaan.Dan sebagai istri seorang jenderal, ia sudah memahami bahwa perang akan selalu menjadi bagian dari hidup mereka."Ada laporan baru dari gudang timur," lapor Mira suatu pagi.Seraphine menerima dokumen itu."Dan?""Pengeluaran turun dua belas persen sejak sistem baru diterapkan."Seraphine mengangguk kecil."Bagus.""Tidak ada komentar lain?""Haruskah aku menangis bahagia?"Mira menghela napas."Terkadang saya lupa Anda tidak pernah merayakan kemenangan kecil.""Aku merayakannya.""Bagaimana?""Dengan mencari masalah berikutnya."Mira

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 15

    Sore itu, halaman utama Kastil Montclair dipenuhi derap kaki kuda dan suara logam yang saling beradu.Panji hitam-perak keluarga Montclair berkibar di bawah langit musim gugur. Para prajurit memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kali, sementara para perwira memastikan barisan telah siap berangkat.Perang tidak pernah menunggu.Dari balkon lantai dua, Seraphine mengamati semuanya dengan tenang.Di sampingnya, Mira berdiri sambil membawa mantel bulu."Nona," panggilnya hati-hati. "Anda baik-baik saja?"Seraphine tidak segera menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada halaman di bawah."Aku baik-baik saja."Mira menahan senyum kecil.Setelah sekian lama melayani Seraphine, ia tahu kapan majikannya berkata jujur dan kapan tidak.Namun kali ini, ia memilih diam.Karena beberapa hal perlu dipahami sendiri.Ketika Seraphine turun ke halaman, Luc sudah menunggu di dekat kudanya.Dengan zirah perang dan mantel hitamnya, ia kembali terlihat seperti sosok yang dikenal seluruh Montreval—Jende

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 7

    Enam minggu terasa singkat ketika setiap harinya diisi keputusan yang bukan milik Seraphine.Pagi-pagi Ravenshade dipenuhi suara langkah pelayan, kain-kain mahal, dan daftar nama tamu yang tidak pernah ia hafal. Siang hari dihabiskan untuk fitting gaun, malam untuk undangan dan protokol.Seraphine m

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 6

    BAB 6 — Tanggal yang Dipilih Orang LainPernikahan selalu terdengar indah di mulut para bangsawan.Padahal bagi Seraphine de Nocteviel, itu hanyalah bentuk lain dari perjanjian—dibungkus sutra, disegel doa, lalu dipamerkan sebagai kebahagiaan. Dua minggu setelah kepulangan pasukan dari utara, Raja

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 5

    BAB 5 — Kepulangan Sang JenderalKepulangan Luc Bastien de Montclair diumumkan tiga hari sebelum pasukannya tiba di ibu kota.Dan seperti biasa, Istana Montreval berubah menjadi panggung besar penuh kemeriahan.Bendera kerajaan dipasang di sepanjang jalan utama. Para bangsawan sibuk mempersiapkan ja

  • Aku Menikah Demi Tahta, Bukan Demi Kamu   BAB 4

    Tiga minggu setelah keberangkatan pasukan, kehidupan di Istana Montreval kembali berjalan seperti biasa.Pesta tetap berlangsung. Musik tetap dimainkan. Para bangsawan tetap sibuk berpura-pura peduli pada kerajaan sambil menusuk satu sama lain lewat senyum sopan.Seolah perang hanyalah cerita jauh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status